Bertanya

Bertanya kadang dimaknai tidak tahu. Oleh karena itu, banyak orang tidak mau bertanya karena takut dianggap tidak tahu atau takut dianggap bodoh. Namun sebenarnya orang bertanya biasanya adalah orang yang telah tahu dan ia ingin melengkapi pengetahuannya.

Pengalaman saya ketika mengajarkan materi-meteri kimia kebanyakan dari siswa saya enggan untuk bertanya. Saya tidak tahu pasti apa sebabnya. Banyak hal yang mungkin menyebabkan siswa enggan bertanya. Saya menakutkan baginya, tapi nyatanya tidak juga, mungkin saya pemarah begitu di tanya, tapi faktanya tidak juga. Kemungkinan terakhir adalah mereka tidak tahu sedang mempelajari apa saat itu, untuk apa pelajaran itu, sehingga selalu menunggu dan menunggu hingga pelajaran berakhir. Dan Kemungkinan besar adalah tidak adanya modal pengetahuan yg cukup dalam mengikuti pelajaran yg berlangsung.

Jika siswa ditanya apakah mengerti atau tidak mengerti jawabannya adalah sama… diam. Ini ibarat orang yg seolah-olah tidak tahu sedang berada di mana dan mau kemana, seperti orang linglung. Kondisi semacam ini sering/banyak terjadi hampir di seluruh jenjang pendidikan baik di kota maupun di pelosok daerah. Sepertinya kebiasaan bertanya memang bukan-lah budaya orang Indonesia. Kita bisa mengamati kegiatan pembelajaran mulai dari TK, SD, SMP, SMA, Perguruan Tinggi pun sangat jarang yang mengajukan pertanyaan selama proses pembelajaran.

Kalau siswa malas bertanya maka peran gurulah yang semestinya lebih. Ia mesti merangsang agar siswa selalu berpikir dan selalu bertanya tentang hal yg tidak ia mengerti. Karena dengan bertanya maka pelajaran akan lebih berkesan. Seperti lanyaknya dokter tidak akan mungkin bisa memberikan obat yg tepat kepada pasien jika pasien sendiri tidak mau mengungkapkan keluhan-keluhannya. Dan pasienpun berhak tahu apa yg sebenarnya terjadi dalam dirinya. Seperti itulah hubungan guru dan siswa.

Ada memang tipe guru/pengajar yang justru ‘gerah’ jika ada siswa yang bertanya, malah memarahinya, atau mengejeknya. Itu bisa diartikan bahwa guru sedang tidak siap mengajar atau tidak bisa mengajar. Oleh karena itu guru tidak boleh berhenti untuk selalu menambah wawasannya dengan mempelajari berbagai hal terkait pola interaksi dengan siswa.

Tetapi suatu ketika untuk pertama kalinya saya mengajarkan pelajaran TIK dimana siswa langsung menghadapi komputer, ternyata banyak yang bertanya. Bagaimana untuk ini itu dan sebagainya. Pikir saya saat itu siswa akan saya biarkan jika mereka tidak bertanya. Saya coba biarkan untuk melihat saja apa yg hendak dilakukan siswa pada saat pertama kali menghadapi komputer. Begitu pelajaran mulai berlangsung saya selalu menugaskan mengerjakan sesuatu dengan tanpa memberikan petunjuk yg detail harapan saya mereka mau bertanya sehingga lebih terbiasa untuk bertanya.

Dalam pengajaran TIK karena bersifat praktik langsung maka mau-tidak mau memaksa siswa untuk bertanya. Karena tujuannya jelas, misalnya mengetik teks dengan berbagai format, jika ia tidak pernah melakukannya dipastikan ia akan bertanya. Dari perilaku diam yang tidak mau bertanya itu untuk pelajaran lain ternyata tidak berlaku untuk pelajaran TIK. Semestinya pembiasaan bertanya pada pelajaran TIK ini juga diberkukan untuk pelajaran lain.

Menurut pengalaman, siswa pasti akan bertanya jika kita sebagai guru juga pandai “memaksa” agar siswa bertanya. Memaksa bukan dalam artian memaksa yg sesungguhnya dengan membentak atau dengan kata2 kasar lain, atau merayu agar siswa bertanya. Kalau saya sodorkan tugas mengetik dengan pola/format tertentu sementara hal itu belum saya ajarkan maka pasti siswa akan mengajukan pertanyaan, bagaimana caranya. Dalam hal ini siswa berusaha untuk bisa mengerjakan apa yg menjadi tugasnya (ada tujuan yang jelas).

Sementara kebiasaan yg terjadi dalam pengajaran untuk pelajaran lain tujuan pembelajaran kadang tidak ditunjukkan secara langsung oleh guru atau tidak terisyaratkan dengan jelas. Aneh juga siswa tidak mau menanyakannya materi pelajaran yg ia hadapi itu untuk apa, maka selanjutnya pun ia enggan bertanya tentang banyak hal. Di sinilah peran guru diperlukan untuk sejak awal pandai “memacing” rasa keingintahuan siswa.

Jadi untuk membuat agar siswa mau bertanya diperlukan kejelasan dari tujuan pembelajaran sekaligus kemanfaatan dari apa yg akan dipelajarinya, sebagaimana diberlakukan dalam pengajaran TIK itu. Selain itu perlu diberikan semacam jalan yg terputus sehingga siswa dipaksa untuk mengajukan pertanyaan untuk menelusuri jalan yg diputus itu hingga ia sampai tujuannya.

Bagaimana?

 

 

About these ads

4 thoughts on “Bertanya

  1. Suatu hari anak saya pulang dari sekolah (tinggal di Sidoarjo). “Ayah, mulai hari ini saya tidak mau lagi bertanya sama guru”.
    “kenapa?”. Sahutku terkesima. Guru marah, dan bilang saya adalah biang keributan. “Saya hanya bertanya, apakah blekhol (black hole) itu?”
    Anak saya saat itu kelas 3 SD. Dia tahu lubang hitam dari komik Doraemon. Dia ingin sekolah, di tempat gurunya dahulu di Semarang. Guru ini membahagiakan. Kalau dia tidak tahu, selalu bilang bahwa nanti akan dicari jawabnya. Sekarang Pak Guru tidak tahu… Alangkah arifnya.
    Survey di Amerika (saya lupa sumbernya), 60% pengetahuan guru datang dari pertanyaan muridnya. Kisah ini nyata, 10 tahun yang lalu. Tapi, rasanya selalu baru kemarin terjadi. Cukup banyak waktu dan kehati-hatian bahwa guru bukanlah dewa.

  2. Untuk itulah kenapa guru SD di Indonesia tidak “banyak diperhatikan” syaratnya saja untuk bisa mengajar SD tidak perlu seperti pendidikan di tingkat lebih tinggi.
    Kalao masalah angka semacam itu untuk Indonesia sepertinya belum pernah ada riset yah.
    Saya pun merasakan bahwa ilmu pengetahuan akan bertambah jika siapapun menghadapi pertanyaan dan bisa mendapatkan atas pertanyaan itu. Pertanyaan bisa saja datang dari murid atau dari sekitarnya.
    Seperti pengalaman saya tentang komputer yg tadinya tidak tahu apa-apa karena harus menghadapinya akhirnya terselesaikan dan itu adalah pengetahuan baru buat saya.

  3. saya ingin teliti kebiasaan bertanya pada pembelajaran sains di Sekolah Dasar,tingkat kecerdasan anak dilihat dari seberapa besar bobot pertanyaan yang diajukan dan bukan dilihat seberapa banyak pertanyaan yang diajukan. Dan besar keinginan tahuan dilihat dari banyak pertanyaan yang diajukan. Oleh karena itu penulis berharap dapat membantu saya dalam mencari referensi yang saya maksud dengan situs yang ada diatas.makasih sebelumnya, FASTABIQUL KHAERAT.

  4. Pertama kali saya mengikuti perkuliahan di UNESA mata kuliah saya pada saat itu filsafat ilmu. Dosen menganjurkan untuk senantiasa menanyakan dari apa yang tidak dimengerti. Ternyata memang dari pertanyaan yang diajukan timbul dalam pikiran untuk senantiasa berpikir dan mengembangkan yang belum dimiliki, dan terus mencari dan mencari dari apa yang tidak diketahui. Pesan terakhir dari awal perkuliahan malu bertanya artinya memelihara kebodohan.”Fastabiqul Khaerat” wassalam

Komentar ditutup.