Tulisan di Blog dan Angka Kredit Guru

Selama ini banyak rekan guru di daerah yang berharap untuk bisa menjebol tembok kenaikan pangkat IV-a ke IV-b. Karena untuk kenaikan pangkat tersebut diharuskan adanya sejumlah angka kredit dari kegiatan pengembangan profesi yang salah satunya dibuktikan dengan menulis karya tulis. Inilah kendala utama yang menghalangi mengapa guru seolah-olah karirnya berhenti di golongan IV-a, karena kebanyakan guru tidak memiliki kemauan dan kemampuan menulis, apalagi sebagai karya tulis ilmiah.

Mungkinkah tulisan di blog bisa dihargai dan mendapatkan penghargaan berupa angka kredit jabatan guru itu?

Tergantung kemauan pengambil kebijakan…

Suatu ketika saya tergelitik dengan khayalan suatu saat kelak tulisan di blog diberikan penghargaan tersendiri dan setara dengan karya tulis itu. Masih dalam khayalan memang, tapi tidak menutup kemuingkinan nanti itu akan benar terjadi… siapa tahu. Saya pun tidak bisa berharap banyak untuk itu. Seperti tujuan saya menulis semula hanya untuk katarsis, menuangkan unek-unek pikiran saja, tidak lebih.

Kembali ke masalah angka kredit jabatan guru itu, saat ini penghargaan angka kredit jabatan guru untuk pengembangan profesi hanya di nilai dari beberapa hal, seperti yg ditulis rekan guru SMA 20 Bandung 2 tahun silam di Pikiran Rakyat.

Tidak mudah memang membuat karya tulis. Menulis di media masapun tidak mudah karena selain harus menyesuaikan tema harus juga sesuai selera media tersebut. Kalau sudah menulis belum tentu bisa diakui, ujung-ujungnya kekecewaan saja yang akan didapat. Oleh karena itu tulisan di blog suatu saat dapat dijadikan media alternatif.

Lalu kira-kira bagaimana tulisan di blog bisa dihargai sebagai karya tulis?

Karena tulisan blog adalah sifatnya terbuka bisa diedit kapan saja dan bisa berisi apa saja, tentu diperlukan penanganan khusus untuk membuat penilaian kelayakan untuk diakui sebagai karya tulis. Sebenarnya tidak sulit, tinggal memberikan URL-nya. Guru bisa saja memilih tulisan mana yg akan diajukan untuk dinilai sebagai karya tulis dalam tenggat waktu tertentu. Selanjutnya tim penilai membaca dan memutuskan kelayakan tulisan di blog itu untuk diberi angka kredit atau tidak. Tidak sulit khan…

Jika ide semacam ini kelak dapat dijadikan media alternatif untuk memenuhi jumlah angka kredit jabatan guru, dijamin guru ( terutama guru PNS) akan berlomba untuk lebih rajin menuliskan ide-gagasan kreatifnya demi perbaikan diri dan pendidikan. Masalah angka kredit tentu tidak akan berarti untuk guru-guru yang bukan sebagai guru PNS. Meskipun demikian saya yakin guru non-PNS biasanya memiliki kreatifitas lebih yg kadang tidak dimiliki guru PNS dengan keterbatasannya itu.

Ini adalah angan-angan saya sebagai guru.

About these ads

18 gagasan untuk “Tulisan di Blog dan Angka Kredit Guru

  1. Senasib.
    Angka kredit di bidang kami, yang rajin ngajukan yang cepet naik, yang rajin kerja malah tidak sempat ngurus saking ruwetnya. Tidak semua begitu, hanya gurauan di kalangan kami (termasuk saya) yang males ngurus aja. Beberapa temen bahkan berhenti jadi pns. Ada lagi kakak kelas saya seorang spesialis malah “krasan” IIId.
    Saya tiap kenaikan pangkat selalu telat, rata-rata 5 tahun. Kesalip terus sama yang lebih muda. Dari IVa ke IVb karya tulis 10 buku, sudah 1 tahun, alhamdulillah tidak ada beritanya.
    Akhirnya saya biarkan, sak karepe wong nduwuran …
    Yang penting tetep nulis dan nulis bukan semata untuk naik pangkat.
    Menurut saya karya tulis di blog bisa aja pak, blog kan hanya media. Mungkin cukup review singkat lalu di link ke url penyimpanan gratis.
    Tapi entah ya, diknas nya mau apa enggak. Biasanya hal baru banyak tantangannya, tetapi layak diperjuangkan. :D

    Helgeduelbek: weh ono kancane… sama saya juga sudah banyak yang nyelip, biarin aja. Kalau yang nyalip emang konsisten dia pasti seneng, merasa lebih proffesional, gak masalah, kalau yg nyalip gak profesional gak masalah juga, paling darahnya kotor. bukan begitu pak dokter?!! Ok… nulis teruuus.

  2. Karya tulis. Seingat saya dulu waktu kuliah ada dosen senior yang menjiplak habis-habisan karya tulis orang lain. Tapi sempat ada mahasiswa yang ketrucut ngomong dn terdengar olehnya. Akibatnya si mahasiswi nggak lulus-lulus di mata kuliahnya.
    Saya lebih tertarik dengan tulisan Pak Urip mengenai jaringan blog guru. Seperti juga yang ditulis oleh Dedi Supriadi, bahwa di Amerika ada yang namanya Jaringan Pita Biru. Di sana, guru bisa akses internet gratis dan jaringan digunakan untuk saling berkomunikasi dan pengimbasan kepada guru-guru yang tidak atau kurang mampu dan agak sulit berinternet. Ada juga ya di Amerika sana.
    Masalah angka kredit, biarkan saja apa adanya. Toh pangkat tinggi kalau ompong juga, seperti kata pak dokter juga, yang cuma geli saja kalau digigit orang ompong. Anak-anak juga tentu akan kegelian kalau digigit guru ompong.

    Helgeduelbek: Sebenarnya pangkat emang gak perlu ada untuk guru, bikin prilaku tidak terpuji saja. Toh sudah dapat gelar/pangkat pahlawan yg tanpa jasa… :D Penggajian semestinya tidak didasarkan pangkat/golongan tapi didasarkan profesionalitas (halah malah bingung nyari standar lagi nih), sehingga semua guru tidak lagi ngejar pangkat, tapi ngejer profesionalitas diri.

  3. Walah.. ide2 aneh itu bakal mengubah sejarah. Pak Urip Gilaw!!!

    Helgeduelbek: Iya kalo pengambil kebijakan tentang hal itu membaca tulisan ini. Lah wong di luar sono yg jadi kiblat internet/blog tulisan di blog dihargai bener je. Bukti portofolio

  4. He…he… guru itu, profesi yang berkenaan dengan objeknya. Salah satu objeknya utamanya adalah murid. Menurut agor, keberhasilan profesi itu ditetapkan atas dasar kemampuannya mengelola pasiennya. Yang menilai boleh pasiennya, boleh keluarga pasien, dan organisasi profesinya.
    Menulis adalah bagian dari kompetensi seorang tenaga guru entah profesional atau tidak.
    Namun, tidak ada salahnya sama sekali sih untuk menjadikan guru punya atau meningkatkan daya komunikasinya dengan monitor komputer, itu juga bagian dari kematangan yang harus diasah tak pernah putus.
    Karya tulis, rasanya beda dengan menulis. Tapi bagaimanapun, itu bagian dari proses komunikasi.
    Waktu saya masih mengajar, sebelum tergiur yang lain. Saya membuat ukuran dari berapa banyak murid yang bertanya dan bisa dijawab oleh murid lainnya, sehingga sang guru bisa lebih banyak duduk ongkang-ongkang.

    Helgeduelbek: Sekarang keprofesionalan guru akan dilihat dari uji sertifikasi, saya sendiri kurang tahu macam apa uji sertifikasi itu nantinya. Apakah pengujinya juga sudah disertifikasi dan mendapatkan sertifikat penguji sertifikasi. Malah ribet. Sistem sudah rusak mau dipakai terus, hasilnya yoh mboh… piye. Yang penting kayuh terus sepeda diblog…

  5. Walah, teknis perpangkatan.
    Mau njebol pangkat koq pakai kreditan to Pak … hehehe.
    Samping rumah saya ada KepSek SD, senior, orangnya sangat rajin, ngalahan, … pernah mengeluh tentang kenaikan pangkat, terutama ya Karya Tulis Ilmiah itu. Bukan masalah bisa tidaknya. Beliau sudah bikin, tetapi bilangnya tersendat-sendat.
    Mungkin tersendatnya karena “ngalahan” seperti pak Urip. :)

    Helgeduelbek: Tersendat karena sabun atau oli-nya kurang sehingga kurang licin :D Tulisan yang bagaimana yang bisa dihargai ini masalahnya. Ketentuannya tidak jelas. Eh malah… saya pernah denger lo… bahwa ada kampus sebagai agen pembuat karya tulis kemudian si peminat tinggal bayar sekian jt, malah bisa langsung diuruskan sampai kelar. Wahhh yg mau termasuk keblinger… padahal kalau dilihat dari kenaikan gaji tak seberapa. Mungkin ada hal lain yg dikejar kali yah…

  6. Wah, nek sido ngunu, mesakke guru sing ra iso ngenet nu, Pak Guru. Mengko malah ngernet he..he.. (iki komen gak mutu yg ke 5 hari ini)

    Helgeduelbek: Ini salah satu alternatif…pengandaian saja. Alternatif lain seperti yg sudah2 tetep diperkenankan kok. Yo paling gak konsekuensinya pemerintah harus ngasih fasilitas internet di setiap sekolah… pengandaian

  7. Inilah kendala utama yang menghalangi mengapa guru seolah-olah karirnya berhenti di golongan IV-a, karena kebanyakan guru tidak memiliki kemauan dan kemampuan menulis, apalagi sebagai karya tulis ilmiah.

    Persis. Ibu Bapakku dengan suka rela menyerah berhenti di 4/a sebelum beliau pensiun. Lha wong guru SD disuruh bikin karya tulis. Waktu tak tanya, kesulitannya dimana, mungkin aku bisa bantu, mereka bilang, lha wong bisa 4/a aja sudah alhamdulillah le, arep ngarah opo maneh to?

    Helgeduelbek: Maksud saya menulis ini yaaaah iseng kali aja ada guru yg tertarik untuk mau nge-blog, sehingga Jaringan Blog Guru bisa semakin besar, bisa berbagi pengalaman tentang pengajaran/pendidikan.

  8. saya ini agak bingung bersikap terhadap yang namanya angka kredit, terutama point B. sebenarnya konsepnya bagus, agar guru/dosen mau berusaha menghasilkan karya tulis. sayangnya banyak yang kemudian menggunakan “shortcut”. sering saya temui seorang dosen yang mengirim paper ke jurnal atas namanya sendiri. padahal penelitiannya hingga paper jadi dilakukan mahasiswa bimbingannya. atau yang berlomba-lomba membuat penelitian, bukan didasari untuk mengembangkan ilmu, melainkan agar dapat poin B sebanyak-banyaknya.

  9. Untuk kredit/Kum mungkin tidak dari blog, tapi dari artikel ilmiah yang dimuat di situs ilmiah. Soalnya kalau dari blog, padahal banyak juga tulisan di blog yang ngalor-ngidul, kredibilitas penulis bisa diragukan.

    Kalau tidak salah sih sudah banyak situs yang memuat jurnal ilmiah. Jadi khusus memuat jurnal ilmiah, tidak dicampur dengan opini/pengalaman pribadi seperti blog.

    (Eh, nyambung ga sih? Yo wis, kabooor lagi…)

  10. Insya Alloh para asessor sertifikasi disertifikasi juga. Kegiatannya kalo gak salah dilaksanakan bulan lalu di UNY. Sekarang para calon assesor sedang menunggu hasilnya. Info ini saya dapat dari salah seorang yg mengikuti kegiatan tersebut.

    Helgeduelbek: Wah jangan-jangan ibu sendiri nih?

  11. P.Urip aku jan salutbetul sama sampean. Banyak betul idenya. Tapi kalau untuk saat ini, aku berfikir jangan dulu. Kenyatannya, dari sekian banyak guru di Indonesia, teutama generasi 40 th ke atas.
    1. Berapa banyak yang punya kemapua menulis.
    2. Berapa banyak yang memiliki kemampuan berkomputer dan internet.
    3. Berapa banyak sekolah yang telah memiliki fasilitas tersebut /
    4. Berapa banyak guru yang memiliki fasilitas tersebut.
    Waaah, tentu hal ini akan membuat para guru makin terbebani. Mengembangkan potensi guru memang peting,tetapi saya sebagai orang tua murid, yang saya harapkan sederhana saja, yaitu :
    1. Guru yang mampu memotivasi murid
    2. Guru yang dapat mengembangkan potensi murid.
    3. Guru yang dapat medidik ahlak murid sekaligus sebagai contoh.
    4. Guru yang dengan tulus mencintai muridnya.
    5. Guru yang percaya dan bisa dipercaya muridnya.
    Guru yang demikian saya tunggu. Anak perlu cinta, semangat, dan kepercayaan. Guru yang kayak begini, biar tidak dapat menulis, goblke entek amek kurang golek, minta naik pangkat? naik gaji? saya OK aja. Yang penting menghasilnya generasi yang bagus moral, mental dan intelektualnya. jadi ke depan masa depan bangsa bisa diperbaiki. Yang jadi pejabat tak korupsi, yang jadi pengusaha mainnya bersih. Pokoknya bagus dech……..! I Wish….. Allah bless our next generation. God bless you too P. Urip. Muga-muga dawa urip sampean uga, ben guru ada leader ing njaba garis.

    “Sederhana dalam pemikiran, rumit dalam pelaksanaannya :)

  12. setuju pak…
    Terus belajar dan belajar…
    semata-mata memang kita butuh belajar..
    saya salut sama sampean…
    jarang guru mau belajar lagi :)
    itulah bedanya guru sama dosen …
    lo udah jadi guru..
    gamau belajar lagi…
    VIVA GURU!!!!

  13. Benar sekali pak kalau guru hanya mengajar 24 jam, pasti cepat naik pangkat, tetapi guru yang jam mengajarnya banyak kapan sempat ngurusi administrasi seperti angka kredit.

  14. Pak, Tolong tayangkan daftar nilai angka kredit yang terbaru. Aku mau batu teman2 di Papua. Matur Nuwun

Komentar ditutup.