Petuah Goro-goro dalam Pewayangan

Saya iseng googling tentang dunia pewayangan, dan mendapati contoh bait-bait yang biasa diucapkan Ki Dalang pada saat “goro-goro”. Goro-goro ini merupakan babak dalam pagelaran wayang yang biasanya ditandai dengan kemunculan para punakawan. Isinya merupakan petuah/pitutur/wejangan yang diselingi kisah humor segar oleh para punakawan. Satu bait yang menarik buat saya, saya kutip berikut:

Goro-goro......  
Goro-goro jaman kala bendu,
Wulangane agama ora digugu,
Sing bener dianggep kliru sing salah malah ditiru,
Bocah sekolah ora gelem sinau,
Yen dituturi malah nesu bareng ora lulus ngantemi guru,
Pancen prawan saiki ayu-ayu,
Ana sing duwur tor kuru,ana sing cendek tor lemu,
Sayang sethitek senengane mung pamer pupu.

Dikutip dari id.wikipedia tentang wayang

Artinya kurang lebih sebagai berikut:

1- Goro-goro......(Suatu Ketika ... bener gak yah)
2- Suatu ketika di jaman kala bendu
3- Ajaran agama tidak lagi dituruti/dipercaya,
4- Yang benar dianggap keliru yang salah malah ditiru,
5- Anak sekolah tidak lagi mau belajar,
6- Kalau dinasehati malah marah begitu tidak lulus
   memukuli guru,
7- Memang perawan sekarang ayu-ayu,
8- Ada yang tinggi dan kurus,ada yang pendek dan gemuk,
9- Sayangnya kesenangannya hanya memamerkan paha.

Yang menarik perhatian saya adalah baris 3, 4, 5, dan 6 yang memang cerminan nyata saat ini. Pesan-pesan dengan rangkain kata lugas seperti itu semestinya lebih sering didengungkan sehingga membantu menyadarkan orang, mulai dari pejabat pemerintahan, pengusaha-kaum konglomerat, aparat, hingga pegawai kroco, dan rakyat yang terpinggirkan.

Meskipun saya orang Jawa tapi tidak tahu banyak tentang dunia pewayangan, hanya saja senang mendengarkannya. Sewaktu tinggal di Yogyakarta lewat radio hampir tiap malam selalu ada pagelaran wayang kulit semalam suntuk, sebagai hiburan sambil begadang atau sewaktu nglilir tidur. Sayang sekarang (di Kalimantan) sulit untuk bisa mendengarkan cerita pewayangan dengan petuah2 segar dengan memadukan antara masa lampau dengan kekinian yang di olah oleh Ki Dalang.

*Rindu Yogya*

About these ads

13 thoughts on “Petuah Goro-goro dalam Pewayangan

  1. Goro-goro dan punokawan.
    Walaupun punokawan itu gambaran rakyat jelata, suaranya perlu didengar. Itu kalo gak salah yang pernah diceritakan alm bapak saya. Pimpinan yang baik, digambarkan poro Pandowo, tidak segan meminta nasihat kepada punokawan, bahkan diajak keliling blusukan kemana-mana sebagai teman seperjalanan dan tempat curhatnya poro satriyo.
    Weladalah …terusannya, sekarang lupa dulu gak ngerti. hehehe.

  2. No3. emang ga layak dipercaya lagi, itu karena ulah salesnya juga yang barbar:P
    No4. iya, ideologi tidak manusiawi dan doyan pecah belah malah dipercaya. parah.
    No5. soale guru-gurunya juga ga mau belajar, sibuk mikir gaji yang selalu kurang. disuruh belajar komputer aja gak mau.
    No6. halah, saya malah dipukuli guru, lulus sih. Masih dendam nih, gimana ya biar bisa memaafkan?
    No7. kalo gak ayu namanya nenek-nenek, bukan perawan:))
    No9. modal daya tarik seks untuk memburu kesejahteraan? maria eva? laki-laki tidak berperan ya?

    Coba baca Wedhatama juga pak, asli mantabh. Kalo ga terbukti, silahkan potong kuping guru yang suka mukuli saya itu.

  3. Masukkan eskul wae Pak Guru. Tapi gurune sopo ya? Pak lek ku iso sa’jane. Piye? Tak tanyain dulu ya? hehe

    Helgeduelbek: Yakin gak ada yang minat sebab keturunan jawa hanya beberapa orang saja.

  4. Hong wilaheng awignyo mastuhu purnomo sidhem….

    Bumi gonjang-ganjing langit kelap-kelip…

    Kenapa disebut sebagai goro-goro? Karena para punokawan, Ki Lurah Semar Bodronoyo, Ki Gareng, Ki Petruk Kantongbolong, dan Bagong, selalu muncul setelah terhjadinya goro-goro. Membawa petuah-petuah yang dikemas dalam humor segar untuk mengingatkan sang bendoronya kembali ke jalan yang benar. Munculnya goro-goro selalu setelah terjadinya perang tanding, dimana masing-masing kesatria dan buto terlibat persaingan pribadi, dimana seringkali kejahatan mampu mengalahkan kebaikan dan menguasai dunia. Setelah mereka muncul, datanglah masa dimana terjadi perang besar antara kebaikan melawan kejahatan, yang diakhiri dengan happy ending, kejahatan sirna dan kebaikan lah yang bertahta. Tancep kayon.

    Tampaknya Indonesia sudah sangat menanti kehadiran keempat punokawan ini untuk mengingatkan kembali para pangembat projo satriyaning nagari yang saat ini terlelap nyaman di atas penderitaan rakyat, untuk selanjutnya bangkit menjadi pandega dan panglima rakyat melawan kezaliman.

    Sekedar romantisme masa lalu, sebagai eks pendengar setianya Ki Hadisugito dan Ki Timbul Cermomanggolo.

    Blekuthuk monyor-monyor…

  5. memang dari wayang kita bisa menarik banyak pelajaran berharga, dan saya baru sadar tentang hal itu setelah 2 tahun kematian kakek saya (kebetulan beliau bisa ndalang dikit-dikit).
    ada sedikit ilmu dari kakek saya tentang wayang, yaitu tokoh Bagong.
    Bagong, salah satu tokoh punakawan yang sempet dicekal keberadaannya di wilayah Surakarta 4 abad lalu yang disaat yang sama malah dielu-elukan di Yogja (mataram islam). Kisah pencekalan itu tidak terlepas dari keaadaan politik saat itu dimana kerajaan mataram sangat demokratis saat itu dan sangan makmur sedang kerajaan mangkunegaraan sedang dilanda banyak kerusuhan. Terus kenapa kok tokoh bagong dicekal?
    Bagong diambil dari kata bagha yang artinya kurang lebih suka bertanya, bertanya-nya si bagong ini tidak sekedar bertanya, tetapi bertanya tentang keadilan dan kejujuran, walaupun tokoh bagong ini digambarkan sebagai tokoh dengan tampilan fisik teramat jelek dan beristri anak raja gendruwo (namanya ni pesek ato aslinya ni endang bagnowati). Itulah sosok rakyat yang sangat kritis terhadap penguasa walaupun kemampuannya hanyalah bertanya, dan peran bagong inilah yang menjadi salah satu pondasi besarnya suatu bangsa. kini saatnya di Indonesia harus lahir bagong-bagong yang kritis terhadap pemerintah agar pemerintah tidak salah jalan.
    semoga kita dapat mengambil pelajaran.
    insya allah artikel dengan tema bagong ini akan segera saya posting di blog saya.
    artikelnya belum selesai saya tulis, masih cari bahan laen.

  6. Saya juga sangat senang dengan kisah dalam pewayangan…banyak nilai hidup yang bisa saya pelajari.
    Salah satu yang masih saya ingat adalah kisah tentang Arjuna yang sowan ke Bathara Guru sebelum Perang Bharatayuda (saya lupa judul buku yang saya baca). Waktu itu Arjuna menanggapi omongan Bathara Guru (saya lupa apa omongan Bathara Guru karena itu bukan inti utamanya…”Bathara, apakah itu artinya anakku Abimanyu akan mati dalam perang nanti”.
    Sang Bathara langsung menjawab “Arjuna berhati2lah dengan ucapanmu karena ucapan adalah doa…”
    Dan akhirnya … Abimanyu pun (kebetulan) mati dalam perang…
    Dari sini yang bisa saya pelajari (dan semoga bisa saya terapkan) adalah berhati2lah dengan ucapan kita karena ucapan tidak hanya doa tapi juga mencerminkan pribadi dan ‘value’ kita seperti kata ungkapan Jawa “Ajining rogo soko busono, ajining diri soko lati”

  7. aduuuuh…

    otak q dedel.. g mudheng aq…

    huh…
    piye iki.. wong jowo kok ra njawani…

    om admin d klimntan ya, sm dunk. saya jg klimntan.

    slm knal….

    klo sempet add ym saya. (nadjieb@yahoo.com)

    matur sembah nuwun…

Komentar ditutup.