Haruskah Guru Memperjuangkan Dirinya Sendiri?

Saya tidak tahu persis pola gerakan yang bisa digunakan untuk mendobrak tradisi. Ikut organisasi keguruan juga tidak pernah. Suatu ketika membaca bahwa ada suatu organisasi terkait guru yang mengklaim bahwa keberhasilan x adalah berkat perjuangannya. Persatuan y suaranya tidak pernah didengar oleh pemerintah. Lalu beberapa daerah mulai ramai-ramai membuat ini itu untuk maksud memperjuangkan nasibnya sendiri. Hasilnya belum terdengar gaungnya (atau saya saja yang tuli tentang hal ini?). Masih adakah arti memperjuangkan nasib itu. Sebegitu kokohnya-kah tembok arogansi penguasa tidak memperdulikan keluhan para guru?

Pantaskah masalah gaji, guru harus mengemis ke pembuat kebijakan di negeri ini agar bisa lebih baik? Adakah arti penting guru sekarang? Benerkah guru itu guru? Sedemikian hancurkah pendidikan sehingga guru tidak dipandang, tidak diperlukan lagi?

Seperti yang ditulis Ersis di blog-nya, bahwa jumlah guru itu 2,6 juta tersebar di seluruh pelosok negeri. Telah menghasilkan puluhan juta anak didik yang juga sebagian berkuasa dan punya wewenang untuk meningkatkan atau setidaknya memperjuangkan nasib guru. Apakah ada yang salah selama proses pendidikan itu sehingga anak hasil didikannya engan memperjuangkan nasib gurunya. Kalau kita renungkan belasan tahun kita belajar di sekolah diajari guru dengan berbagai romantika, guru dengan sabar mengajari kita. Memang tidak secara langsung keberhasilan mereka yang sudah jadi penguasa itu dari guru, tapi adakah penguasa pengambil keputusan penentu nasib guru itu yang tidak pernah didik seorang guru sama sekali?

Kalaupun ada sesuatu yang salah selama proses pendidikan yang dilakukan guru, bukankah tidak semua guru melakukan kesalahan? Apakah hanya dendam yang menyebabkan mereka tidak memperdulikan guru? Ataukah nurani mereka mati, lupa akan sang guru? Begitu bodohnyakah mereka bahwa keberhasilan yang diperoleh itu seolah bukan “hasil sedikit jerih payah guru”? Demikian pula perong-rong hak-hak guru dan pendidikan, buta-kah mata meraka bahwa nasib bangsa ditentukan lewat pendidikan yang baik dan bermutu? Tidak sadarkah mereka bahwa semua keturunan-nya juga akan sekolah yang pasti juga diajari oleh guru?

Janji-janji manis pengalokasian dana pendidikan 20% APBN/APBD siap meraka nanti untuk mereka gerogoti. Euforia dana besar membuat mabuk kepayang, selalu membuat rencana/program yang tidak tepat sasaran, yang penting asal ada kegiatan. Dengan dalih peningkatan kualitas guru, sertifikasi pun dilakukan, yang dijanjikan dengan imbalan gaji berlipat. Benarkah tujuan sertifikasi itu untuk meningkatkan kualitas guru? Atau hanya membuat proyek baru untuk mengrogoti dana yang juga belum sampai 20% APBN/APBD itu? Perlukah para guru turun ke jalan untuk berteriak-teriak memperjuangkan nasibnya?

Rekan guru indonesia, mari bersatu jika kita ingin lebih baik. Monggo sama-sama belajar lagi. Para manusia berpendidikan di Indonesia, tidakkah saudara tergerak untuk turut serta memperjuangkan nasib guru, nasib pendidikan demi keturunan saudara? Tidak yakinkah saudara bahwa pendidikan bisa mengubah wajah negeri ini? Bukan satu-satunya faktor memang masalah kesejahteraan guru, tapi itu tetep berpengaruh bukan?

About these ads

36 gagasan untuk “Haruskah Guru Memperjuangkan Dirinya Sendiri?

  1. pak, jika ingin merubah nasib, harus berjuang sendiri. Alloh tidak akan merubah nasib suatu kaum kecuali mereka berusaha.tapi bukan berarti anda akan berjuang sendiri. di belakang anda banyak yang akan membela.

    kalo soal org X atau Y, saya gak percaya pak (ibu dan bapak saya yang gak percaya). mereka lebih banyak memprjuangkan nasib mereka sendiri daripada anggotanya (gak semua lho). lebih baik lagi jika semua guru bersatu, satukan tekad (gak usah pake org segala).
    ada satu cerita menarik.

    +- 5 bulan lalu, semua guru di ponorogo mengembalikan gaji mereka dan menolak menerima gaji untuk bulan berikutnya karena mereka menolak gaji ke 13 yang tidak proporsional antara pegawai di bawah dan di atas. mereka juga menolak segala macampotingan tidak masuk akal yang dikenakan pada mereka. mereka juga menuntut kenaikan gaji. (bapak ibu saya juga 2 bulan gak nerima gaji, untung saya udah kerja sendiri, jadi gak ngerepotin mereka). tetapi mereka tetap mengajar selama aksi itu. mereka ingin membuktikan bahwa mereka profesional dan mempunyai hak yang sama dalam hal gaji secara proporsional dengan pegawai negeri lain. dan mereka melakukan aksi itu tanpa dikomando org apapun, hanya dari mulut ke mulut.

    saya tidak tahu apkah aksi itu sekarang membuahkan hasil apa tidak (saya belum pulang dan menghubngi keluarga selama 6 bulan, duh anak kok gak perhatian ma ortu ya, maklum sini juga sibuk), tapi yang jelas karena aksi tersebut masayarakat akhirnya memilih untuk berada di belakang guru untuk mendukung mereka. (saya gak tau aksi itu diliput di koran apa ga)


    Helgeduelbek:
    Mungkin tidak patut kalau hal semacam itu saja guru mesti turun ke jalan. Tapi sedemikian buruknya kinerja pemerintahan dalam memperhatikan kondisi guru/pendidikan, semua dipandang ada untung apa gak terus. Apakah pendidikan bener-bener tergadaikan

  2. wahh berat nih..
    kelihatannya perjuangan tetap perlu sampai pemerintah bertindak realistis dalam memberikan kesejahteraan bagi guru dan dunia pendidikan umumnya. anggaran 20% itu baru wacana kan? entah kapan benar-benar terwujud. berprasangka baik saja : semoga itu terwujud dan penggunaannya sesuai dengan aturan mainnya. Yang jadi masalah adalah aturan mainnya sendiri yang mengakibatkan banyak dana tidak tepat sasaran atau sekedar menghabiskan anggaran, karena LPJ sudah dibuat sebelum dana benar-benar dikeluarkan. Kalau ini kelihatannya soal budaya ya..? loh kok? kata orang : kebanyakan kita masih berparadigma “kelangkaan” dalam mensikapi kehidupan, mestinya “kelimpahan” kan?
    sehingga kita tidak mengandalkan “aji mumpung”, karena pada dasarnya rejeki sudah diatur olehNya, nggak akan tertukar.. kalau ndak jatahnya, dikejar sampai apapun nggak bakalan jatuh ke kita.
    Apalagi kalau sampai merong-rong hak orang..! wah beraat banget! hasil rong-rongan itu.. kalau ndak dikembalikan dan bertobat akan menghinakannya di akhirat sampai sehina-hinanya. Ingat itu sajalah biar ndak main rong-rong dan rampas sana-sini. (sambil tangan menunjuk muka sendiri.. :))

    Helgeduelbek:
    Berat memang, tapi tetep harus khan?!

  3. Ya pak, guru harus di perjuangkan, tanpa guru kita semua ga akan jd seperti sekarang, mustinya kesejahteraan guru dan keluarganya di jamin, asuransi kesehatan, gaji yg layak, perumahan dsb. Aku ikut dukung pak…

    Helgeduelbek: Yah gak minta terlalu muluk-muluk sih, pokoknya bisa hidup layak saja lah. masak pingin punya motor untuk transportasi ngajar saja, harus menggadaikan SK di bank selama 3-4 tahun sambil menekan banyak kebutuhan yang seharusnya dipenuhi.

  4. kayaknya yang harus dibikin melek memang para pembuat kebijakan, pak. saya juga bingung, kok kayaknya berat bener mereka mengalokasikan 20 % untuk dana pendidikan ya?

    sedih…secara ibu saya juga seorang guru SD di desa pesisir :(

    Helgeduelbek: Hati nuraninya tertutup seolah-olah ia bisa seperti itu tanpa pernah diajar guru.

  5. Bisa, harus diperjuangkan, guru harus berjuang sendiri. Jangan sampai 20% digerogoti orang-orang yang gak ikut mendidik. Kalau perlu turun ke jalan. Kalau perlu bikin banner. “Tingkatkan Kesejahteraan Guru”
    Hidup Guru Indonesia.

    Helgeduelbek: Kalau harus berjuang sendiri, ngajarnya gimana Cak?

  6. Tambahan: Link untuk anggaran Pendidikan di Kutai Timur 2007 sebesar 20% belum termasuk Gaji. Silahkan baca:
    http://www.kaltimpost.web.id/berita/index.asp?Berita=Kutai&id=198936
    Jika ternyata digerogoti, siapa tahu perut yang nggrogoti bisa berisi karbon, kapur, penghapus, papan tulis, dll sampai mbledhos !!!

    Helgeduelbek: Saya denger di Kaltim banyak hal yang lebih bagus dibanding di daerah lain. Termasuk komitmen pemerintah dan juga komitmen gurunya. Saya jadi pingin pindah nih ke sekolah saya dulu… :)

  7. Yah, salah faktor terpenting bagi masa depan bangsa dan negara diabaikan (atau bahkan disia-siakan)! Syukur (juga dari pengalaman saya sendiri sebagai murid di Indonesia dulu, masih banyak guru yang bagus dan berdedikasi tinggi.
    Saya hanya bisa bilang dari jauh: terima kasih!!!!
    Dan mengharapkan, agar yang berwenang (terutama SBY dan J. Kalla) lebih memperhatikan hal ini, karena ya itu: ini masalah masa depan bangsa dan negara!

    Helgeduelbek: Sayang pendidikan hanya dijadikan retorika politik saat pemilu, begitu waktunya realisasi janji kok yah alot banget.

  8. nah kan cermin pemerintahan tambah buram…(jadi inget bu lek saya yang tenaga bantu)
    mereka itu muka badak atau memang sudah terkunci mati mata, hati dan telingganya :( (sengaja ngomennya week end biar g sepi)

    Helgeduelbek: Apakah menunggu peringatan dari Yang Maha Kuasa?

  9. Bagaimana ya menyelesaikan masalah2 di negeri ini? pendidikannya saja begini complicated kasusnya. Guru tidak berjuang sendiri pak, kami dukung sepenuhnya. Real actionnya? Bagaimana ya? Kalau masih saja manipulasi dana terjadi seperti yang sudah-sudah, rasanya tali masalah terus melingkar-lingkar…

    Helgeduelbek: Kapan yah genderang memperjuangkan diri guru demi perbaikan semua itu ditabuh

  10. Selamat Berjuang Pak Guru, anda tidak hanya melawan arogansi kekuasaan yang sangat kokoh dan sulit ditembus, mending kalo perjuangan seperti itu melawan negara lain lha wong ini melawan saudara sendiri, yang geblek, dan tak tau diri.

    Entah apa yang salah di negeri ini, sistem pendidikan atau mereka aja yang nggak tau terima kasih, atau kurangnya pendidikan agama dan moral dalam sistem pendidikan kita.

    Helgeduelbek: Mungkin salah kawitane kali. Tapi masak kita harus diem.

  11. sabar pak.. saya masih meyakini bahwa hari esok masih ada harapan untuk pendidikan di negri kita akan lebih baik dari hari ini..
    soale bapak ku juga seorang guru SDN..

    Helgeduelbek: Harus menunggu terus demi keyakinan itu hehehhe

  12. Jia You Pak !!
    Saya jadi teringat waktu prajab PNS 1,5 yang lalu
    ada seorang guru SMP berumur 40th baru menjadi PNS setelah bertahun-tahun menjadi guru bantu
    meski begitu dia semangat sekali menyatakan idealisnya sebagai guru
    saya jadi malu yang tidak bersemangat padahal usia saya masih 23 tahun

    Helgeduelbek: Kok malu sih?

  13. Pak guru, tanya:
    1)Berapa persen kah orang yang mengambil profesi menjadi guru karena dorongan nurani/cita-cita masa kecilnya ?
    Saya tidak tahu juga, apakah ada riset tentang ini?

    2)Setuju kah Anda apabila saya berpendapat bahwa sebagian besar orang menjadi guru karena sudah terlanjur kuliah di FKIP (dan sejenisnya)?, daripada dulu waktu lulus SMA ngga kuliah mending kuliah di di jurusan keguruan masuknya gampang.
    Bisa jadi benar pendapat itu, dan inilah mungkin yang menyebabkan guru tidak serius menekuni profesinya. Mungkin perlu dilakukan uji kemauan sebelum masuk FKIP

    3)Pak guru pernah lihat film seri GTO (Great Teacher Onizuka) ngga? kalau pernah kira-kira pak guru termasuk guru jenis mana yang ada di film itu?
    Film yang mana yah, maklum saya jarang nonton film nih, ….( mungkin ada yang mau mengkisahkan buat saya dan yang lain yang belum pernah menontonnya?

    4)Pak guru setuju kah Anda apabila saya berpendapat bahwa apabila orang menjadi guru karena mengincar status pekerjaannya saja, maka jenis orang ini yang akan merusak dunia per-guru-an di Indonesia?
    Setuju. Orang tua saya pedagang yang berkecupan saat itu, tapi saya lebih tertarik untuk berguru untuk jadi guru. Bahkan orang tua saya tidak setuju, tapi saya memaksa.

  14. Guru adalah aset bangsa.. seharusnya prestasi guru dihargai dan kebutuhan guru betul2 didengar.. jangan sampe ada proyek salah sasaran.. euuuggghhh..

    Helgeduelbek: Andai saja mereka mau sadar rela serius memperhatikan itu.

  15. jangan nyalahin pemerintah terus dong…
    kita sebagai pendidik harus mau kembali berkaca….. kerjaan kita udah bener nggak untuk menuntut “kesejahteraan”.?
    ingat, pemerintah yang “hebat” seperti sekarang ini kan juga hasil “jerih payah” para guru.
    jangan kita sebagai pendidik mentang-mentang pahlawan tanpa tanda jasa maunya diberi fasilitas layaknya pahlawan.
    saya sebagai sesama pendidik memang prihatin melihat gaji saya yang …… yah begitulah. Tapi walaupun pemerintah memang “hebat”, kita juga tidak bisa terus-terusan menyalahkan mereka untuk menghibur diri dong. kita juga harus bisa menunjukkan kualitas kita sehingga layak mendapat kesejahteraan. :)

    Helgeduelbek: Yah bagaimana tidak menyalahkan, suara guru kurang begitu didengar, bener guru mesti memperbaiki diri. Yah salah asuhan, apakah nuraninya juga tidak bisa benar? Mungkin ini karena salah sejak awal mulanya. Perbaikan ditengah jalan mungkin-kah?

  16. Guru harus memperjuangkan penindasan oleh MANTAN MURID-MURIDnya yang kemudian berkuasa untuk seluruh proses pemiskinan itu. Saya paham betul karena saya pernah cukup lama bergaul dengan para mantan murid-murid itu. Mereka semua adalah kacang yang lupa pada kulitnya.

    Helgeduelbek: Mungkin bener ada yang salah dalam diri guru

  17. saya pernah membaca buku sejarah tentang keruntuhan jepang akibat peristiwa bom “hirosima” (dibenarkan kalo ejaan salah). menurut penulis dalam buku tersebut, bahwa saat itu pemerintah jepang memerintahkan tentaranya untuk melindungi atau menyelamatkan para guru, karena dinilai gurulah yang kelak bisa mengangkat kembali kejayaan jepang. ini berarti bahwa betapa perlunya guru dilindungi atau diperhatikan nasibnya.

    Helgeduelbek: Mungkin inilah yang membedakan Indonesia sejak awal kebangikitan setelah keruntuhannya. Motivasinya berbeda, hasil berbeda.

  18. Menurut aku sich..
    pemerintah harusnya memikirkan nasip guru atow mempertimbangkan keluhan2 guru, taoh mereka jadi begini sekarang karena jasa seorang guru juga bukan?
    Tapi Om, ada 1 balasan buat seorang guru yang berartiii banget dibanding itu semua, yaitu.. Surga.. amin

    “Yah semoga… amin. BTW ponakan yg satu ini rajin banget ngeblog-nya, gurunya diajak donk…”

  19. Ha ha ha bertahun-tahun saya menyebar virus melalui tulisan agar profesi guru dihargai sebagaimana mestinya. Tapi, ya itu tadi, wong gurunya sendiri juga cuek bebek kog. Sebenarnya gampang saja mengingat ‘kekuatan’ guru, tapi ya itu tadi, guru terkungkung rasa rendah diri, pinginnya diatur orang lain —sekalipun yang mengatur tidak paham dan tidak mengerti prihal keguruan. Akhirnya jadi obyek.

    Emangnya kalau alokasi dana pendidikan 20% APBN guru bakalan lebih baik nasibnya? Kita lihat saja, pada gemuruh ujian kompetensi, sertifikasi guru, guru itu yang mengambil keuntungan atau pihak lain? Kalau sebagai obyek, apa bedanya dengan berbagai program terdahulu, dari penataran sampai peningkatan kompetensi. Jauh masih jauh, manakala guru tidak sadar diri, peran, dan tingkat perjuangannya.

    Wajar siapa saja mendapatkan apa yang dipersepsikan dan diperjuangkannya, tidak mungkin perjuangan diserahkan kepada orang lain … tidak akan berubah nasib suatu kaum kalau kaum itu sendiri tidak meruhanya … Kalau Sampeyan hadis Nabi Muhammad SAW tentunya.

    Tapi, saya tidak setuju dengan revolusi, banyak jalan elegant menuju perbaikan nasib guru. Selamat berjuang kalau mau.

    “Mungkin banyak yang malu karena mereka sendiri mungkin merasa tidak layak untuk itu pak, makanya terkesan cuek :)

  20. Pak Huel, guru kita banyak tapi menurut saya yang kualitasnya bagus gak sampai 10% dari jumlah yang Pak huel sampaikan, banyakan mau jd guru cuman pengen jadi pegawai negrinya, kualitasnya ya… biasa2 saja

    kayaknya ngajar dan mendidiknya kurang iklas, apa karean gajinya kecil ya? he he

    “Mungkin juga ini sudah saya bikin draf untuk saya angkat jadi bahan tulisan berikutnya, nunggu penyelesaiannya.”

  21. nyanyi mode on
    engkau jadi pintar dibimbing pak guru…
    engkau jadi pandai dibimbing bu guru…
    engkaulah pelita penerang dalam gulita
    deritamu jasamu tiada tara….

    ayo semRangat Bapak Ibu Guru!
    mata-mata bening dari para muridmu masih menunggu uluran ilmu melalui perantaraanmu…
    Kalo ingin protes, demo, marah…
    jangan korbankan murid-muridmu…
    karena mereka bukan musuhmu…

    para pengambil keputusan di negeri ini lupa, kalo mereka bisa sampai seperti mereka sekarang, sedikit banyak juga campur tangan guru

    “Apakah itu juga pertanda bahwa nasib guru mulai tidak begitu diperdulikan atau memang saat ini sudah dirasa cukup, sehingga lagu itu tidak diputar lagi”

  22. Hehehe, maaf Pak, komen saya hanya parodi untuk yang gak peduli terhadap Guru, dan harus ada yang backup :)
    Seperti bidang kesehatan di kota kami, saya bagian teriak-teriak, terutama untuk nasib perawat.

    Di Kaltim, tunjangan guru cukup besar Pak, yang paling besar dan transparan di Kutai Timur. Di sana, program pendidikan menjadi program unggulan, karena Bupatinya memang komitmennya tinggi. Salah seorang Staf ahli beliau adalah seorang profesor wanita mantan rektor STAIN Samarinda. Kalau Samarinda menurut saya masih kecil.
    Kapan-kapan saya nanya jumlahnya kepada teman Guru yang saya kenal.

    “Apa perlu setiap kabupaten nyari staf ahli seperti itu yah pak? Ongkosnya berapa sih?”

  23. Mas, sepertinya saat ini orang pada sibuk dengan urusannya masing-masing. Pejabat sibuk mencari uang tambahan dengan cara korupsi dan lain-2. Presiden sibuk ngurusin pembantunya yang pada ribut.

    Jadi memang kita harus mengurusin diri kita sendiri. Siapa lagi yang mau mengurusi diri kita, kalau bukan diri kita sendiri.

    Selamat berjuang.

    “Perjuangan sedang menunggu gong saja kali”

  24. Ngilu mau ikutan komen, gimana wong mau ikut berjuang murid ngak ke urus, ngak ikut berjuang juga salah….. Pilihannya berat pak

    “Kata Mbak Murni Ramli bikin partai guru saja yah”

  25. Aku nggak kuat komen Pak Urip. Ngomongin soal guru, sama juga seperti ngomongin soal petani. Ngenes terus. Bapak ibuku guru SD di pelosok mBantul, pensiun golongan IV/B (bayangkan, seandainya mereka bukan guru, tapi PNS di departemen anu, golongan segitu mungkin sudah bisa berkali-kali naik haji, lha ortuku, boro-boro naik haji, TASPENnya aja alhamdulillah cukup buat nambal bolong-bolongnya potongan gaji). sodara-sodaraku kebetulan guru juga semuanya. Tetangga-tetanggaku, dan teman-teman sepermainanku petani semua… dapet anggaran 20%, eh kok ya diakali juga.

    “Kejujuran mungkin milik orang miskin saja barang kali”

  26. Seharusnya semua guru berubah profesi saja menjadi pedagang atau pemain proyek. Biarkan semua kelas di semua sekolah kosong agar pemerintah sadar bahwa kalau tidak ada guru, tidak akan ada yang menjadi pengajar bagi generasi penerus.

    Tapi namanya guru, kakak ipar saya di Sleman (masih honorer) honor gurunya untuk nutup beli bensin motornya saja nggak nutup tapi masih tetep saja jadi guru. Saya pernah bilang, “Mbak, wong bakulan saja hasilnya lebih baik dari mulang kok malah mentingin mulang. Mending beli kios di pasar, lebih menghasilkan dari sisi finansial.”

    Eeehhh…. sampai sekarang tetep saja ndableg jadi guru. Gak rasional blas!

    “Salut dengan kakak ipar sampean kang”

  27. Pak guru…Terima kasih banyak…kalo gak sekolah pasti saya gak bisa nulis di komen ini!!! tapi gimana caranya bisa ngebantuin perjuangan guru??? Pokoke saya selalu ikut mendukungggg!!!

    “Yup mari berterimakasih kebapa guru kita masing-masing yang telah memberikan pelajaran hingga kita seperti sekarang, caranya didik anak lebih baik syukur anaknya mau jadi guru juga hehehehe”

  28. Pak Urip, guru itu kan 2,6 juta jiwa… gimana kalau dikumpulkan jadi satu, trus kita bikin paduan suara. Trus gelar konser amal. Namanya Konser Amal Guru.
    Sapa tau terkenal, nyaingin Guns N Roses.
    Kalau terkenal, CD nya laku. Kan keren. Nggak usah minta gaji ama pemerintah. Wong sudah nyaingin Metallica.

    *mabuurrr sebelum ditimpukin guru-guru*

    “Waduh kalau pakai konser amal segala kok sepertinya guru itu sudah mengenaskan amat yah, idenya kreatif bener tuh, dasar seniman”

  29. #arifkurniawan# entar namanya “Guru n Roses” ya :P

    gimana kalau misalnya nggak ada lagi yang mau jadi guru?
    ada yang masih mau jadi murid nggak ya? :P

    “Apa perlu pemerintah di beri shockterapy?”

  30. Pakde dan budeku guru. 2 sepupuku, aku kagum pada ketulusan mereka dan cuma bisa berdoa untuk kebaikan mereka. Aku lagi seneng pak guru, tiba2 bisa buka WP lagi dari kantor.

    “Mungkin gak ketulusan yang disertai minta imbalan”

  31. Itulah carut-marut manajemen negeri ini. Tidak hanya guru, tetapi juga dosen, pegawai negeri sipil, polisi, dll. Jangan heran jika kesenjangan sosial-ekonomi begitu besar di negeri ini.

    Mari kita terus berjuang dan berdoa. Perubahan itu dimulai dari diri kita sendiri. Salam.

    “Mungkin gak mungkin, mungkin gak mungkin, itu lagunya project pop, apakah demikian keadaan indonesia?”

  32. Siapa lagi yang mau berjuang untuk guru kalau bugan guru itu sendiri. Tetapi tetap Pemerintah punya peran yang penting. Guru harus menjadi profesi yang diharapkan dan dan dibutuhkan, kapan saja dan dimana saja.
    Selamat berjuang cikgu, Anda sangat berjasa bagiku, anak-anakku dan cucuknu dimasa depan.

    Salam sukses selalu.

    smskalit

Komentar ditutup.