Sertifikasi Guru Akal-akalan

Beberapa bulan terakhir ramai kalangan guru menyoal sertifikasi diri-nya. Ada yang merasa tidak mendapat keadilan soal kesempatan disertifikasi. Bagi saya itu lumrah… di Indonesia. Tapi bukan itu yang akan saya tulis kali ini. Ada yang lebih dari itu.

Asumsi saya setelah guru dapat sertifikasi maka ia dijamin layak mengajar, ternyata itu bukan jaminan. Yang pasti pemahaman saya adalah sertifikasi itu hanya sebatas untuk mendapatkan tambahan gaji ekstra saja. Tidak lebih… Kalau lebih itu dianggap ya memang seharusnya. Faktanya toh tidak.

Sekilas saya simak petunjuk-prosedur-portofolio hanya ditarget setelah guru dinilai mencapai skor 850 oleh tim asesor maka ia dikatakan layak dapat sertifikat… konsekwensinya ia dapat tambahan gaji pokok 2 kali lipat dari sebelumnya. Dari 850 poin itu setelah saya simak ternyata sangat rawan manipulasi. Terutama untuk bukti2 kegiatan yang hanya dibuktikan hanya lewat sertifikat bukti keikutsertaan dalam berbagai kegiatan. Bahkan saya dengar dari sosialisi malah tim asesor memberikan tips yang sangat naif menurut saya. Untuk kegiatan seminar itu bisa “direkayasa” dengan membentuk panitia setingkat kabupaten bahkan kecamatan kemudian peserta dapat sertifikat telah mengikuti seminar. Itupun cukup untuk dapat kredit poin. Demikian pula panitianya yang tidak lain adalah juga guru tentu ada poin tersendiri yg bisa dijadikan modal manipulasi untuk sekedar mengumpulkan poin agar target poin 850 terpenuhi. Bahkan kata mereka sebulan bisa saja berkali-kali diadakan seminar-seminaran yang sekedar bermotif kejar kredit poin demi SERTIFIKASI itu. Ini baru salah satu strategi yang bagi saya tidak lebih dari dagelan yang patut ditertawakan kenorakannya.

Bahkan ada beberapa rekan guru yang spontan rajin membuat modul pembelajaran, yang isinya saja mungkin ia tidak pahami karena asal comot sana sini. Aneh bukan? Ini demi kredit poin…

Apakah ini yang dikehendaki oleh pembuat kebijakan soal sertifikasi itu?

Bagi yang ingin cross check soal sertifikasi silahkan kunjungi website sertisikasi guru di www.sertifikasiguru.org

About these ads

76 gagasan untuk “Sertifikasi Guru Akal-akalan

  1. Selalu bertindak berdasarkan penilaian luar, tanpa mengerti inti permasalahan… Kapan sakit kita ini sembuh pak?

    Kasian guru sejati, yang justru tidak peduli dengan penilaian dan tetek bengek sertifikasi itu. Yang hidup untuk menjadikan kita lebih baik, lebih berbudi, lebih mengerti, tapi justru tidak mendapat hak mereka…

    Bapak ada niat mendirikan Yayasan Pendidikan Swadana? Siap jadi tenaga pengajar neh, he…

  2. ini orang di atas saya kok ngakunya sibuk kerja ya?

    Kalo keadaannya seperti ini, ya ga heran kalo anak sekolahan sekarang jarang yang cita-citanya jadi guru, Pak.

  3. Ide sertifikasi guru sebenarnya bagus menurut saya. Ini semacam grading atas kualitas guru. Dan pada akhirnya bisa digunakan sebagai alat untuk memberikan reward lebih pada guru yang baik dan berkualitas. Namun ternyata kalau pelaksnaannya seperti ini, saya kok jadi pesimis. Tujuan sebenarnya sertifikasi tidak akan tercapai. Komersialisasi sertifikasi lah yang terjadi. Sama kasusnya dengan komersialisasi nilai. Semoga ini bukan gejala umum.

  4. Apapun cara untuk meningkatkan kualitas pendidikan tidak akan berhasil jika masih terdapat kecurangan-kecurangan seperti itu. Lha kalau gurunya curang dan malah diajari/dianjurkan untuk curang secara berjamaah, maka siswanya pasti lebih parah lagi. Saya ngeri membayangkan masa depat bangsa kita kalau sepeti itu kejadiannya.

    Menyoal sertifikasi, yang juga menggelitik saya adalah guru yang sudah berhasil mendapat sertifikat tersebut. Saya kawatir kalau justru berhenti belajar karena sudah merasa sudah hebat. Hal itu sangat mungkin terjadi karena sertifikasinya sepertinya tidak mengenal jenjang. Seandainya sertifikasinya berjenjang ( sekurang-kurangnya 3 level ) , mungkin masih ada motivasi belajar dan berkarya untuk mencapai jenjang yang lebih tinggi lagi. Dengan demikian, guru akan terus termotivasi untuk maju terus menerus. Untuk sertifikat level atas misalnya, yang diperhitungkan hanya angka kredit dari kegiatan-kegiatan ilmiah yang bermutu seperti seminar nasional, lomba karya ilmiah nasional, dsb. Untuk yang level paling tinggi, musti kegiatan yang tingkat regional atau international.

    Terimakasih dan salam eksperimen.

  5. kok guru harus punya sertifikat?
    bukannya yang jadi masalah tuh guru yang jarang digaji?
    apa dengan punya sertifikat, sudah terjamin kelangsungan gajinya?

  6. Tertarik dgn tulisan diatas, saya mencoba mencari besaran skor penilaian utk masing-masing komponen dan didapat sbb:

    a. kegiatan seminar/forum ilmiah: utk tingkat kecamatan hanya diberi skor 2 sedangkan utk tingkat kabupaten mendapat skor 4, dgn total nilai maksimum 62. Jadi bisa dibayangkan berapa kali hrs ikut seminar utk memperoleh nilai max 62.

    b. pembuatan modul pembelajaran mendapat skor 20 utk materi selama 1 semester dgn total nilai maksimum 85.

    Jika kita membaca buku ke 3 (rubrik penilaian portofolio sertifikasi guru dlm jabatan) akan kelihatan betapa beratnya seorang guru (kebanyakan) untuk bisa lolos memperoleh nilai skor minimum 850 dan malah sdh ada yg memperkirakan yg gagal mencapai 50%.

  7. Oooooi. Ada yang aneh dan sangat aneh. Sudah sertifikasi itu akal-akalan, di madrasah daftar urut prioritasnya aneh lagi. Dasar pengurutannya adalah beban mengajar, masa kerja, latar akademik, dan …. Pangkat dan golongan tidak jadi dasar. Akhirnya guru yang baru dua tahun jadi PNS karena beban mengajarnya banyak ya ikut sertifikasi. Yang udah 4 tahun saja belum tentu dapat 850 portofolionya, apalagi yang baru 2 tahun.
    Kepal sekolah dan waka ya nggak dapat prioritas wong jam mengajarnya paling cuma 6 atau 9 jam mengajar.
    Udah akal-akalan. Saya menduga nantinya akan pakai uang juga. Ini sempat saya sindirkan sama guru PNS yang juga pengusaha. USul PAK dan naik pangkat aja bisa pakai uang. Apalagi ini menyangkut 1,5 juta per bulan.

  8. Bravo bagi penulis dengan keberaniannya! Selama ini saya selalu menyimpan kereteg di dalam hati yang tak pernah bisa tersampaikan. karena saya merasa masih menjadi setengah guru.he..he.. Pertanyaan besar: APA SEBETULNYA TUJUAN UTAMA DIADAKANNYA SERTIFIKASI BAGI PARA PAHLAWAN YANG SEKARANG FULL TANDA JASA INI???????????? Apa tujuan yang seidealis-idealisnya sang sertifiktor.SEBAB fakta yang didapat hanya soal penambahan duit,duit dan duit. Kapan Perbaikan mutu di utamakan? Betapa akan bersedihnya Bapak Ki Hajar Dewantoro melihat semua ini.. Tak ada lagi idealisme tergantikan oleh sifat materialisme. Maafkan kami pahlawan yang tak bisa meneruskan perjuanganmu………

  9. Jangan melihat “Sertifikasi”-nya, permasalahan dunia pendidikan di Indonesia umumnya terletak pada mentalitas pendidik-nya (Guru). Jika semua pendidik (guru) mau berpikir positif, maka hal-hal yang negatif pasti akan tersingkirkan dengan sendirinya. Untuk itu apapun label-nya kalau kita masih berpikir negatif, maka hanya hal-hal yang negatif saja yang akan terkuak ke permukaan. Mari kita beri informasi yang positif, agar semangat guru-guru yang pantang menyerah tetap dan bertambah semangat. Sekali lagi mari kita jaga mentalitas pendidik khususnya guru dengan memberikan informasi yang bermanfaat.

    Guru Sejarah
    http://smun4-ptk.sch.id

  10. ingat!!! Niat mulia guru sebagai pendidik adalah yang utama, tapi dimana ada kesempatan meningkatkan kesejahteraan tetap diperhatikan, namun bukan merupakan priotas.

    Semoga anak didik kita dpt merasakan niat baik kita sebagai guru.

  11. Sertifikasi…?????? why not
    tapi jangan kayak di tempat ku mengajar bang…..
    sertifikasi guru dijadikan sebagai alat untuk mem PHK guru-guru honor yang dianggap pembangkang yang sebenarnya hanya mempertanyakan hak-haknya karena merasa kewajiban udah dipenuhi…
    modelnya dirancang sedemikian rupa dengan tujuan (katanya) kiat menghadapi sertifikasi guru…. aneh memang… ternyata jaman sekarang masih ada pengelola pendidikan yang diktator ya…

  12. Rancangan sebelumnya tentang sertifikasi guru melalui uji kompetensi sebenarnya sudah baik dimana dapat menyaring apakah yang bersangkutan sudah memiliki kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional. Akan tetapi karena Masalah sertifikasi ini terlalu banyak di politisir untuk kepentingan tertentu, jadiliah yang seperti ini.
    Tidak terlalu susah untuk mendapatkan sertifikat seminar, karena sekarang dalam waktu satu bulan dapat diadakan belasan kali seminar untuk guru, coba perhatikan spanduk-spanduk di pinggir dan perempatan jalan, semua memuat seminar ini dan itu.
    Kemudian untuk pembuatan bahan ajar, Di era teknologi informasi sekarang ini dengan di dukung fasilitas internet bukan merupakan hal yang sulit, dalam beberapa jam tinggal “copy and paste” jadilah sebuah bahan ajar.
    Kalau dengan uji kompetensi semua guru akan berlomba-lomba meningkatkan kompetensinya yang tentu akan berdampak terhadap peningkatan mutu pembelajaran.
    Sekarang Guru akan berlomba-lomba mengejar sertifikat dan membuat bahan ajar sehingga mungkin (mereka akan lupa mengajar).
    Tidak bisa dipungkiri memang bahwa menjadi “Guru” adalah pekerjaan yang mulia. Tapi apakah sebagian besar guru yang ada sekarang benar-benar memang “ingin menjadi guru” atau “kebetulan menjadi guru”.
    Mudah-mudahan masih banyak guru yang “benar-benar omar bakri” di negeri ini…….

  13. gue turut prihatin klo tanggapan negatif atas sertifikasi guru seperti yang telah disebutkan diatas memang terjadi dan bertujuan seperti itu

    tetapi gue tetap optimis pasti ada aja orang yang akan bakal memberikan sumbangsih yang baik tentang hal ini

    Gue pikir mungkin dulunya ide sertifikasi guru ini memang untuk peningkatan mutu pendidikan indonesia, tetapi klo pelaksanaanya di lapangan kurang baik itu berarti yang perlu dibenahi adalah SDM operasionalnya atau mungkin petunjuk teknis pelaksanaannya

    semoga kita berjalan ke arah indonesia yang lebih baik

  14. sertifikasi kok harus diurut dari senioritas….harusnya kan melalui prestasi nggak peduli dia guru senior atau yunior iya nggak… Indonesia…Indonesia…

  15. Sebenarnya tujuan sertifikasi sih mulia banget, meningkatkan kualitas guru n juga untuk memperbaiki income guru,,,,tapi karena sudah masuk ke orang senayan yang memiliki banyak kepentingan, jadi deh sertifikasi guru seperti di terapkan sekarang ini.
    Sebaiknya memang untuk guru yang berprestasi yang layak mendapatkannya, karena biar bagaimanapun bukan urusan senioritas yang lebih utama. Kalau kita mau jujur sih, seperti saat ini masih banyak portofolio dibuat baru karena alasan klise ” gimana ngumpulin berkas yang udah 20 tahun lalu tak kami gunakan, hingga kami buang “…kalau bukan karya sendiri lantas mau jadi guru yang bersertifikasi kan lucu he he 1000 x

  16. Program sertifikasi guru bagus kok, siapa bilang jelek. Para pejabat saja yang lebih banyak gelarnya ternyata mendukung 100 %. Sertifikasi guru mempunyai manfaat yang lumayan besar. Tukang fotocopy pun ketiban rezeki. Para penyelenggara kegiatan seminar dan penataran senang karena kebanjiran peserta dadakan. Pemilik rental komputer sibuk menyelesaikan ketikan para guru yang sedang mengejar sertifikasi. Pejabat menjadi panitia sertifikasi juga kebagian uang transport. Dosen yang menjadi assesor mendadak menjadi orang yang dikenal ratusan orang, terus banyak juga sawerannya. Kepala sekolah berlomba menandatangani legalisir macam-macam persyaratan. Guru yang akan mendapatkan sertifikat tersenyum penuh harap. Mereka bahagia setelah kebagian rezeki dari sertifikasi.
    Apa hak kita untuk menggerutu melihat orang lain menikmati kue kebahagiaan?
    Siswalah yang seharusnya bertanya, benarkah gurunya adalah guru yang berkualitas sebagaimana tercantum dalam sertifikat ?
    Mari bersatu hapus sistem portofolio, gunakan persaingan yang sehat dengan tes akademik, TOEFL, wawancara, psikotest, tes fisik, tes urine atau berbagai macam tes yang mampu membedakan mana guru yang berkualitas dengan guru yang asal ngajar.

  17. Saya setuju dgn bung urip, sbagai seorang pengajar saya juga merasakan hal demikian..Semua ini hanya akal-akalan gak bermutu..Aturan yang dibuat sangat tidak masuk akal,masak guru disuruh mengajar 24 jam seminggu…Padahal kurikulumnya justru tiap mata pelajaran jamnya malah dikurangi..Sehingga guru tidak mungkin dan sangat tidak mungkin bisa mengejar jam itu kecuali guru SD..dan juga aturan ttg lama mengajar yg tidak jelas…dan hanya guru2 tua saja yang bisa memenuhi..PERATURAN YANG ANEH…

  18. apapun nama peraturan, persyaratan atau apapun namanya yang dibuat oleh Pemerintah sebenarnya bertujuan baik dan mulya, cuma permasalahannya adalah orang2 yang melaksanakan peraturan tsb yang selalu mencari celah demi keuntungan pribadi. Orang2 ini yg bisa disebut orang gila yg masih dibiarkan berkeliaran di bumi iNdonesia ini. Mungkin sudah seharusnya pemerintah mengelandang orang gila ini kembali kehabitat asalnya, yaitu hutan nusakambangan.

  19. Kayaknya ini sebuah fenomena yang perlu kita sikapi secara matang dan dewasa. Guru memang dianggap sebagai ujung tombak dalam aktivitasnya. tetapi guru juga perlu memikirkan keluarganya. Kalo pemerintah benar2 menyikapi masalah ini tentunya tidak setengah2 dalam mengambil kebijakannya. Masalahnya sekarang kalo semua guru sudah mendapat sertifikasi, apakah pemerintah mampu untuk melaksanakan kebijakan tersebut (dalam hal ini menggaji/membayar guru). Kami berpendapat, ini mungkin terkait dengan politik ekonomi. Di satu sisi ingin mempertinggi pendapatan guru agar menjadi sejahtera di sisi lain pemerintah tidak sanggup untuk membayarnya. Dengan alasan itulah maka yang dipilih hanya guru2 yang mencapai nilai sertifikasi 850. Agaknya ini ironis memang, padahal kita tau bahwa gurulah orang pertama yang mendidik anak2 bangsa untuk maju dan berkembang. Sayangnya, pemerintah hanya setengah2 dalam memperlakukan nasib guru. Hal ini sesuai dengan ungkapan “guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa”. Pahlawan artinya hanya sanjungan dalam kata2 sedangkan tanpa tanda jasa artinya memang tidak layak untuk diberi gaji yang tinggi.

  20. Malang benar nasib bangsa ini…
    Negara yang udah sekarat gini masih aja ada yang tega ngibulin dengan dalih yang dibuat2.

    Apa mereka buta dengan kualitas anak bangsa yang notabene ancur?
    Bukankah ini hasil karya besar dari para pendidik bangsa ini?
    Inikah jasa mereka sehingga harus dihargai? Jasa yang mana lagi untuk dimakluminya sertifikasi itu?

    Jerih payah seperti apa lagi sehingga guru dianggap lebih berjasa daripada komponen bangsa yang lain!

    Kita ini bagaikan rantai… ingat itu, tidak ada komponen yang satu lebih berjasa dari yang lain.

  21. Sebenarnya saya sangat senang dengan perhatian yang begitu besar dari pemerintah dengan adanya sertifikasi ini. Bahkan sebelum adanya kebijakan sertifikasi ini gaji kami para guru sudah lumayan. Bayangkan saja, tetangga saya yang bekerja di sektor swasta hanya sebesar UMR, itupun kalau kita tahu, masih banyak yang dibayar dibawah UMR. Anda para teman guru mungkin tahu, UMR itu tidak lebih besar dari gaji seorang tukang kebun sekolah SD. Belum lagi bagi mereka yang bergelut di bidang informal, para petani, para nelayan.

    Saya senang, tapi tidak cukup bahagia dengan sertifikasi ini, apalagi pada tahap pelaksanaannya memang terkesan kalau tidak dikatakan hanya semata mata duit, duit dan duit.

  22. Seberapa cermat sih para pejabat itu mikirnya. Saya percaya, mereka tuh banyak yang sadar bahwa sistem sertifikasi yang berlangsung sekarang bakal kacau balau.
    Kalau Mendiknas punya malu dan mau evaluasi diri, seharusnya beliau tuh mau mengundurkan diri, karena sudah terbukti gagal dan bikin tambah kacau.
    Dari banyak kali saya ikut seminar di Australia, saya memang tidak pernah tahu tuh guru-gurunya ngejar2 sertifikat.
    Mereka tidak minta sertifikat.
    Tapi kan di Indo, ngejar sertifikat itu terlalu umum.

    Lalu mau pakai sertifikat sebagai salah satu bukti tingkat keprofesionalan.
    Sebelum ada aturan ini pun, siapa sih yang jamin bahwa guru yang hadir itu belajar dengan baik lewat seminar. Belum tentuuuuuuu! Ada saja yang mungkin ngantuk! ada yang mungkin ikut karena suruhan?
    Duh, frustrasi kan.
    Pemerintah tuh pada umumnya tidak ngerti proses belajar guru. Bagaimana sih sebenarnya guru itu belajar?????? bagaimana proses yang baik untuk mengubah guru?????
    Jangan dibikin stress dong guru kita. Mereka tambah tidak bisa belajar?????????
    Tuh, saya saksikan sendiri tuh, berhari-hari saudara saya stres nyusun portfolio. Stresssssssss deh.
    Duh, negara kita habisin duittttttt baaaaaaanayak sekali untuk hal-hal palsu.

    Sosialisasi? sosialisasi??????? habis duit, yang sosialisasi pun juga banyak yang tidak ngerti, apaalagi sebagian mereka tuh tidak pengalaman di kelas?????
    Minta ampun kan??????

    By the way, saya juga kali stres nih ya. Baca sana-sini tentang konsep pendidikan Indo, bagusssss secara tertulis, tapi pelaksanaannya?????
    Saya baru saja senyum-senyum, download materi dari website Depdiknas ttg CTL, astaga???? kacau balau deh. Siapa bilang CTL terdiri dari 3, model pembelajaran langsung, kooperatif, PBI???? inilah. comot sana-sini walau tidak ngerti. Saya pun baca buku CTL, natarin CTL, masih juga harus belajar memaknai secara dalam! lalu sebagian orang sudah ngira paham betul ttg CTL.
    Maaf jika ada yang tak berkenang ya?

  23. sertifkasi sangat didambakan setiap guru namun cara pemerintah unutk mensejahtrakan sangat klurang akurat alias membuat guru banyak berbohong, dalam hal pengumpulan berkas portofolio demi meningkatkan taraf kehidupannya, akhirnya mendapatkan uang haram dehhhh oh kasian

  24. ternyata sertifikasi guru menjadi ladang baru (cari duit)bagi orang2 pinter, ini terbukti di DIKNAS kab.Ngawi setiap guru yang diberangkatkan sertifikasi kena bea Rp. 100.000,-(tanpa rincian penggunaan dana). Banyangkan aja jika guru yang di sertifikasi ada 400 guru udah berapa dana yang masuk ke kantong mereka? Weleh2……….

  25. ITULAH ENAKNYA JADI GURU. dAPAT GAJI POKOK, 1 KALI GAJI POKOK TUNJANGAN PROFESI, TUNJANGAN FUNGSIONAL, TUNJANGAN KEHADIRAN DLL, TOTAL BISA 3 KALI GAJI POKOK. SATU ORANG PNS GURU = 3 ORANG PNS BIASA.

    JADILAH GURUUUUUUU, BIAR SERUUUUUU, APBN ???

  26. Salam,
    Semula saya optimis dengan adanya program sertifikasi guru (karena saya memang guru). Berarti ada pengakuan lebih oleh pemerintah terhadap para guru profesional (termasuk tambahan tunjangannya)
    Namun, demikian saya menjadi kecewa ternyata pelaksanaannya di luar harapan saya. Evaluasi terhadap para guru tidak ketat, sehingga banyak sertifikat ‘tembakan’ alias aspal, main fotokopi milik orang lain. Sementara itu team asesor tahu itupun dibiarkan saja.
    Yang tidak habis mengerti, mengapa mereka yang tidak lulus harus dipaksakan menjadi lulus dengan mengikuti diklat beberapa waktu tertentu. “Profesional koq dipaksakan”.
    Saya justru melihat beberapa orang yang memang tidak profesional, ternyata lolos. Apakah sertifikasi guru tidak menyimpang dari arah semula yaitu profesionalisme guru? Atau hanya ajang proyek bagi-bagi anggaran yang sudah turun, para para pimpro, assesor, dll. (Apakah anggaran sudah terlanjur turun dan tinggal menghabiskannya?)

    “Koq gak ada sense of crisisnya ya?” Negara ini masih prihatin ….

    Salam,
    http://www.smart-unas.blogspot.com

  27. Yang Pasti.. masuk jadi guru pns pakai uang…sertifikasinya juga pasti pakai uang dong….
    kachian deh guru honor..udah gaji kecil..pengeluaran banyak..
    mana sempat mo mikirin atawa dipikirin pemerintah soal sertifikasi…
    yang jelas gue setuju banget..dengan “sertifikasi akal-akalan”
    Pemerintah harus jantang woi, kalo emang mo naikin taraf kesejahteraan guru ya.. langsung aja. ga usah pake. sipikat ini.. sipikat itu…
    kita mah uda tau permainan orang-orang diatas.

  28. Kalau ingin mensejahterakan guru alangkah bainya
    naikanlah secarah merata walaupun hanya sedikit2 tapi semua senang, bair tidak terjadi hal yang tidak baik terhadap almamater Guru {PGRI)
    Salam Kenal untuk semua teman2 guru di indonesia
    semoga tanggung jawab kita terhadap anak bangsa selalu dikedepankan pemerintah
    wassalam

  29. Ada fenomena lain lagi. Di Batam, sertifikasi tidak begitu ngetrend. Yang ngetren tuh, guru-guru sibuk buat les private. Dan kalo muridnya les ditempat kursus atau sama orang lain maka nilai murid tsb akan rendah.Jual soal yang mau diujikan juga ada.
    Soo memang benar klo guru sekarang = Pahlawan full jasa.
    *Money Oriented sih” Sekarang orang berlomba-lomba sekolah keluar negri, bagi yang mampu. Trus yang tak mampu, harus puas di ajar sama guru yang seperti diatas.

  30. Menurut saya, sertifikasi guru bukan akal-akalan namun ini memang adalah salah satu bentuk komitmen pemerintah dalam meningkatkan harkat, derajat dan martabat guru yang telah lama terpuruk memudar sinarnya. Saya berpikir dengan sertifikasi ini guru akan berlomba-lomba menaikkan kualitasnya. Kita patut lho berterimakasih kepada pemerintah, namun pelaksanaannya perlu peningkatan dan pembenahan. Saya maklum, pelaksanaan sertifikasi dua periode ini masih belum tertib alias acak-acakan, tetapi saya optimis ke depannya akan lebih baik. Yaa walaupun saya termasuk guru yang namanya tidak tercantum di pengumuman hasil sertifikasi untuk periode tahun 2006 n tidak pula ada nama saya di pengumuman guru yang harus mengikuti diklat dan pelatihan, namun saya tetap yakin … yakin … dan yakin …. ke depannya pasti ada perbaikan dan saya berharap ada yang berkenan mengulurkan tangan untuk membantu saya menelusuri berkas sertifikasi saya yang hilang di Rayon 9 (UNJ) karena pihak Dinas Kabupaten sudah berupaya maksimal……… Salam Tuti JR (SMPN 1 POndok Aren – Tangerang) E-mail : tuti300756@yahoo.com.

  31. Welleh….3X, ya mbok sudah to anak cucuku….. kasian guru disoal terus……biarlah guru juga menikmati jerih payahnya, walau dengan embel-embel sertifikasi. Bayangin anak cucuku….DPR aja gak perlu sertifikasi gajinya satumpuk, kerjanya molor aja kalau rapat….
    Lha gimana dengan guru kita…..kerja siang malam gajinya ‘hanya cukup tuk 10 hari’. Anak cucuku…..bantulah guru2 kita agar bisa hidup sejahtera dan bisa eksis mencerdaskan kehidupan bangsa….

  32. realistis yah, berdasarkan pengalaman masuk di dunia pendidikan (baca ngajar di SD) selama 1 bulan pada bulan puasa 2007 kemaren. Guru banyak meninggalkan kegiatan mengajar untuk kuliah lagi sebagai syarat mendapat sertifikasi, PGSD namanya. walau masuk kuliah jumat-minggu setelah pelajaran selesai, tapi tetap aja mereka tidak masuk pagi harinya. dan kepala sekolah diam aja, jika seharunya ada 6 kelas dan minimal ada 6 guru dan 1 kepala sekolah, nyatanya hanya ada 3 guru dan 1 kepala sekolah!! siapa yang salah?? truz ketika diberikan tugas-tugas dari kampus. siapa yang yang mengerjakan?? bisa anaknya, minta tolong orang dengan membayar, saling nyontek. alasan bisa macam2. sudah tua, capek ngajar, dll. kalo dah gitu siapa yang jadi pintar?? Bukan gurunya donk. tapi orang lain.
    jadi buat apa ada sertifikasi yang walaupun katanya menggunakan portofolio tetapi tetap saja tidak objektif dan penuh manipulasi. Memang guru gajinya sedikit, tetapi untuk menaikan harus dengan aturan yang tegas. Memang peran guru penuh jasa bagi negara, tetapi bukankan setiap warga negara mempunyai peran masing-masing. Setiap warga negara bisa memberikan jasa tanpa menjadi guru/pns? Pihak kampus juga harus benar2 bisa menilai siapa saja bisa lolos karena ini menyangkut pendidikan generasi muda.
    Semoga Indonesia menjadi lebih baik. Aminn

  33. Hebat, dengan 9 hari diklat pendidikan guru, sudah layak disebut profesional dan dapat sertifikat. Bagaimana dengan yang 8 tahun di keguruan? 3 tahun SPG; 5 tahun IKP?

  34. Menurut temen saya yang ikut PPLG semacam diklat profesi guru selama 9 hari, kegiatannya ya gitu deh, tak ada keistimewaan apa-apa wong program diklatnya juga ndadak, so disana hanya kongko-kongko aja sambil reuni nostalgia semasa kuliah di IKIP dulu. Eh di ending diklat ternyata dapet sangu (semacam transeprot lah). Kalau begini ceritanya kualitas apa yang akan didapat, oh Indonesia ini selalu begini, semuanya hanya simbolis.

  35. AKAR PERMASALAHAN DARI SEMUA ITU KEMBALI KEPADA BUDAYA DAN MENTAL BANGSA KITA YANG SUDAH BOBROK !!!

    MARI PERBAIKI BERSAMA !!

  36. Berbicara tentang martabat guru, setengahnya adalah kesejahteraannya. Demikian mantan Mendikbud Wardiman Djojonegoro. Konsep sertifikasi bagus, akan lebih bagus lagi kalau pelaksanaannya juga bagus. Mudah-mudahan masalah tersebut didengar oleh para pengambil kebijakan di tingkat pusat dan daerah.
    Salam,
    Suparlan

  37. sekedar tanggapan atau pertanyaan tepatnya…
    saya bukan seorang guru dan bukan pula PNS, tapi cukup tertarik dengan sertifikasi ini, pertanyaan yang mengganggu sedari isu sertifikasi ini diluncurkan adalah apakah sertifikasi ini berlaku seumur hidup.. kalo iya, apa nggak malah hasilnya gak baik tuh.. karena guru yang dah dapat sertifikat, jangan-jangan malah berhenti tuh kemauannya untuk belajar, bikin modul dan melakukan aktivitas lain yang berkaitan dengan peningkatan kapasitas diri. kasihan muridnya dunks.. padahal ilmu kan selalu berkembang. setahu saya sih…tenaga profesional semacam dokter juga pake sertifikasi, tapi ada masa berlakunya, ketika habis ya harus ikut ujian lagi..(padahal untuk lulus kuliah saja sudah susah dan gaji/tunjangan dokter juga gak besar2 amat loh, tapi kalo di luar Jawa ya besar banget he..he…he…) tenaga profesional lain semacam arsitek juga ada sertifikasi profesi (IAI), dan berpengaruh pada nilai jual (bayaran dan kepercayaan dari pemberi pekerjaan) tapi karena status bukan PNS maka kualitas pekerjaan sangat berpengaruh terhadap keberlangsungan hubungan kerja. Bagaimana dengan sertifikasi guru? berhubung adanya status PNS kan kepake terus tuh…terlepas dari masalah kualitas.
    sekian…mohon maaf jika ada yang tidak berkenan.

  38. Nuwun sewu…kepareng matur….
    Sebenarnya masalah sertifikasi ini masih menjadi sebuah rancangan yang belum final, baik dari sistemnya maupun pelaksanaannya apalagi relisasi finansialnya ( “yang sudah lolos juga belum dibayar kaya’nya….he..he…)
    Tujuan diadakannya sertifikasi itu baik….asal sistemnya juga baik.

    Saya seorang guru, tidak mudah untuk mengumpulkan point 850.
    Juga tidak semudah kita hanya ngumpul2 sertifikat seminar….karena juga seminar tidak boleh asal…ada kriterianya…
    Tidak pula semudah copy paste makalah, bahan ajar, etc…etc…karena ada tim pengujinya

    Dalam seleksi penentuan lolos sertifikasi / tidak, juga ada assessor, para pakar di bidang pendidikan dan juga kalangan perguruan tinggi. Dan tidak mudah untuk lolos ( faktanya banyak yang tidak lolos…)

    Inti permasalahan adalah, Guru memang harus professional, karena dituntut untuk memajukan kehidupan bangsa dengan cara mencerdaskan anak didik. Untuk bisa mewujudkan itu, guru harus total dalam menjadi seorang pendidik. Apalagi klo melihat sistematika kurikulum yang sekarang, beban kerja guru itu sangaaaat banyak,rumit dan kompleks. Dan bikin pening kepala.

    Jika seorang guru dituntut totalitas dalam pekerjaannya, mestinya ya penghasilan / kompensasi menyesuaikan. ( catatan : jika guru bener2 total dalam bekerja, dan sesuai sistematika kurikulum yang berlaku sekarang, maka seorang guru hanya punya sangat sedikit waktu luang, apalagi untuk mencari tambahan penghasilan….)
    Mestinya tanggung jawab pemerintah untuk menjamin kecukupan hidup layak seorang guru.

    Akan tetapi karena keterbatasan pemerintah dalam memenuhi standar gaji yang semestinya, maka diadakan penyaringan, mungkin tujuannya agar bertahap….tidak serta merta menanggung beban gaji guru ( dimana mayoritas PNS adalah guru ), maka diadakan penyaringan melalui sebuah mekanisme yang dinamakan sertifikasi.

    Sertifikasi guru berlaku 5 tahun, setelah itu harus di verifikasi atau di uji ulang, apakah masih layak atau tidak.

    Masalah proses uji sertifikasi itu fair, profesional atau tidak, Sebenaranya kembali kepada para assessor,penguji,atau lembaga perguruan tinggi sebagai pelaksana uji setifikasi; dan juga kepada guru itu sendiri dalam hal usaha untuk mencapai taraf profesional di bidangnya.

    Minimalnya kita harus mulai belajar untuk memotivasi diri menjadi pendidik yang profesional dan bertanggung jawab terhadap anak didik kita dan masyarakat. Sertifikasi jangan diartikan sempit hanya identik dengan gaji dobel, tapi jadikanlah momentum, motivator dan cambuk bagi kita untuk memacu diri kita menjadi profesional. Dan penghasilan yang layak memang harus dipikirkan pemerintah agar kinerja PNS / bukan hanya guru, memiliki totalitas dan loyalitas yang baik.Juga harus diikuti dengan sistem kontrol yang ketat terhadap kinerja PNS dan sanksi yag tegas pula untuk pelanggaran2 yang ada.

    Nah, secara umum pegawai negeri( bukan hanya guru) –> PNS ( Penghasilan Namung Sedikit)….NIP ( Narimo Ing Pandum )….
    Sertifikasi memang hal baru bagi kita semua….semoga ini adalah awal yang baik untuk perbaikan di salah satu sistem dalam lingkup birokrasi kita…

    Mohon maaf jika banyak yang tidak pas…hanya mencoba ikut matur sedikit apa yang saya tahu dan saya rasakan…
    Tidak semua guru itu bobrok…tidak semua seminar, diklat atau pelatihan itu hanya konkow2…
    Marilah kepada semua guru saya mengajak untuk profesional, disiplin dan memiliki etos kerja yang baik…

  39. ………….INTROSPEKSI DIRI……..Adalah Sesuatu yg langka sekali dimiliki mayoritas orang indonesia…INTELEKTUAL RENDAH,EMOSI TINGGI….Jgn hanya bisa mengkritisi orang lain,padahal diri sendiri..”BODOH”…Sy tau bagaimana pendidikan dan pengajaran di negri ini…tp sy ngak akan pernah men-JUDGE,seseorang yg telah membuat sy tidak tau menjadi tau dan mengerti..(kecuali anda Sudah Merasa Pintar-Tp Blum Khan?>)..Coba anda dengarkan lagu Bang IWAN FALS (Oemar Bakri)…Coba Anda Lihat Perilaku …..AsetNegara Dijual,Pulau Hilang,Lama2 Orang Indonesia Di “gadaikan”…(Anda bekerja di Lembaga Mana,Apakah Sudah Bebas KKN,Anda Sendiri adalah Hanya Orang yg Kecewa,Iri..Jangan Menilai Sebuah Buku Hanya Dari COVER-nya Saja…..

  40. ………….INTROSPEKSI DIRI……..Adalah Sesuatu yg langka sekali dimiliki mayoritas orang indonesia…INTELEKTUAL RENDAH,EMOSI TINGGI….Jgn hanya bisa mengkritisi orang lain,padahal diri sendiri..”BODOH”…Sy tau bagaimana pendidikan dan pengajaran di negri ini…tp sy ngak akan pernah men-JUDGE,seseorang yg telah membuat sy tidak tau menjadi tau dan mengerti..(kecuali anda Sudah Merasa Pintar-Tp Blum Khan?>)..Coba anda dengarkan lagu Bang IWAN FALS (Oemar Bakri)…Coba Anda Lihat Perilaku
    …..AsetNegara Dijual,Pulau Hilang,Lama2 Orang Indonesia Di “gadaikan”…(Anda bekerja di Lembaga Mana,Apakah Sudah Bebas KKN,Anda Sendiri adalah Hanya Orang yg Kecewa,Iri..Jangan Menilai Sebuah Buku Hanya Dari COVER-nya Saja…..

  41. Menurut saya smua calon guru yang disertifikasi diadakan diklat 9-10 hari tertutup, seperti yang dilakukan guru-guru yang tidak lolos sertifikasi sekarang ini. terbukti selama ini ini guru-guru yang mengikuti diklat ini mempunyai tambahan pengalaman dan ilmu yang didapatkan.

    regard
    Panitia PLPG/BPSG Rayon 15 Universitas Negeri Malang

  42. kemaren saya PPL, n di sekolah saya itu, banyak guru yang beli sertifikat seminar supaya bisa di pake untuk menambah nilai mereka. dn kalau mereka ikut seminar pun, mereka tidur atau melamun. ini pengakuan mereka lo… saya tidak mengada-ada.
    PGRI daerah ini juga melakukan aksi menolak program tersebut. itu artinya guru-guru juga merasa keberatan dengan program sertifikasi ini…
    “meningkatkan kualitas haruslah sistemik karena kerusakannya juga sistemik, bukan parsial”
    mohon maaf kalau ada yang tidak sependapat.

  43. Kok rasa-rasanya sertifikasi juga jadi proyek dosen-dosen di PT ya… SERTIFIKASI= SERasa TIdak FIx KArena Serba Irasional…. hehehe Yang sudah lulus juga nggak turun-turun tunjangannya. Yang nggak lulus kok yang diklatnya formalitas… yang belum ikut … kok pada rajin ikut seminar dan diklat.. pokoknya ngisi presensi biar dapat serfikat, sementara MENGAJAR menjadi nomor kesekian. Duh… PAK dan BU GURU… kok suse ye jadi GURU. Hehehe…

  44. Saya mempunyai rental dan settting grafis. setelah membaca sekian komentar diatas saya teringat pernah membuat bebrapa serifikat atas permintaan guru yang tentunya setelah saya ketahui ternyata buat untuk Manipulasi data !

    Inilah kebijakan yang menyebabkan ladang baru tingkah laku curang dan tidak jujur! sampai-sampai saya harus menolak dengan tegas beberapa guru yang mau buat serfikat ASPAL

    Bagaimana bangsa ini mau jujur jika para pendidik sudah seperti ini ….

  45. halo semua, soal sertifikasi guru dalam jabatan itu baik dan benar. Namum saya setuju dengan mbah_guru dan Guru_baru. Metode sertifikasi itu niatnya baik, tapi ada yang melakukan dengan tidak baik atau malah menyalahgunakan, untuk mendapatkan materi saja yang penting dapat tunjangan,uuuuhh. Sya kadang-kadang juga pernah selalu sering kali acapkali beberapa waktu meninggalkan tanggung jawab. Namun saya akan sgera mengganti dan mnyelesaikan tanggung jawab tersebut. Ada sepermepat tetes darah oemar bakri yang mengalir(SETETES ITU SEDIKIT LHO apalagi seperempat tetes). Ada guru yang memanipulasi data atau sertifikat, itu tidak baik….saya kadang kadang bersyukur dengan apa yang telah saya lakukan dan apa yang telah saya dapatkan. [tapi kadang-kadang lho] Sya Setuju dengan Mas Dedi Supriadi yang 8 tahun di keguruan? 3 tahun SPG; 5 tahun IKP? itu jos banget…dari pada yang 9 hari sertifikasi tapi hasil manipulasian data.
    Optimis itu perlu untuk memacu dirikita agar maju dan ditambah dengan pikiran positif maka hasilnya kan lebih jos lagi. Namun kalo tiap program pemerintah yang untuk kebaikan guru di korupsi atau di manipulasi dari atas maupun dari bawah ya pendidikannya majunya tidak maksimal…

  46. masih adakah kepercayaan akan dunia pendidikan di Indonesia?.. saya cukup khawatir, bagaimana mungkin wong yang ngurusnya aja orang politik (semua tahu bahwa menteri pendidikan kita adalah utusan partai.. bahkan para dirjen juga konon katanya jatah-jatahan partai…, di daerah kepala dinas adalah orang terdekat Bupati/Gubernur, kepala sekolah harus link-up dengan kekuasaan…) artinya bagaimana mungkin mikiran rakyat, wong yang terpikir bagaimana nyetor upeti ke yang ngangkatnya…
    Sertifikasi guru hanya satu cara nyari doku untuk nyetor… kalau mau jujur sertfikasi adalah kedhaliman birokrasi atas guru indonesia.
    Saya pernah tanya sama ahli hukum yang ngurus sertfikasi di Jakarta (depdiknas) ujung-2nya gak jelas.. sertifikasi pelanggaran Hukum, namun karena yang terlibat semua orang pendidikan yang melek-2 dan semua kecipratan proyek jadi semua diem… mau bukti.. lihat hasilnya di daerah.. semua kacau beliau.. ada yang jualan sertifikat, ada yang jualan pelatihan … guru di dorong2 suruh ikut seminar, ikut panitia di kecamatan, suruh sekolah lagi dsb-dsb. tujuannya satu untuk sertfikasi.. sementara kelas dibiarin kosong….
    wow..
    Maka, dengan tidak bermaksud menggugat apalagi menyalahkan konsep sertifikasi (karena secara ideal memang selalu benar) tapi wong lihat dulu situasinya.. apa iya harus pakai berlaku surut. sebab selama ini untuk naik pangkat mereka juga sudah ngumpulin nilai kumulatif, sekarang suruh ngulang lagi.. apa tidak berlaku untuk yang baru aja…
    atau coba sedikit kreatif dong dalam cari objekannnya masa bikin kedholiman baru…

  47. Memang sudah jamannya, semua maunya serba instan.
    Siswa maupun guru sama saja, nggak ada bedanya.
    Sertifikasi menjadi isu terhangat, semua guru berlomba bisa mendapatkan sertifikat entah dengan cara bagaimana.
    “Banyak jalan menuju Roma” menjadi prinsip utama.
    Sepanjang sistem portofolio yang digunakan, sertifikat pendidik tidak ada ubahnya dengan sertifikat seminar yang mudah didapat.
    Bagaimana dengan profesionalisme?
    Tentu saja profesional, karena bisa memalsu berbagai dokumen, media atau apapun yang penting lolos sertifikasi.
    Di balik semua itu, sebenarnya tujuan pemerintah itu baik, untuk pemetaan profesionalisme guru, tetapi memang mental guru masih harus diperbaiki.
    Sepanjang mentalnya masih mental yang menghalalkan segala cara, maka masyarakat tidak akan dapat membedakan antara guru yang benar-benar profesional dengan guru yang profesional dadakan.
    Sangat dimungkinkan guru rajin mangkir mengajar mempunyai nilai yang jauh lebih tinggi dibandingkan guru yang benar-benar melaksanakan tugasnya dengan penuh dedikasi.
    Sistem penilaian portofolio harus diimbangi dengan sistem penilaian yang lain, sehingga kelima kompetensi guru benar-benar dapat terukur.
    Selama ini berkembang kekhawatiran tersendiri, bahwa bila diadakan uji kompetensi akademik, maka banyak guru yang tidak lulus, karena banyak guru yang tidak menguasai materi.
    Alasan kesejahteraan menjadi alasan klasik yang digunakan untuk membenarkan diri sendiri.
    Sistem penerimaan guru baik PNS maupun non PNS juga seringkali dikambinghitamkan untuk menutupi ketidakmampuan guru.
    Alasan utama guru tidak dapat berkembang, adalah karena malas. Guru terlalu malas karena merasa sudah mempunyai posisi yang mapan. Beginipun sudah terpakai, mengapa harus belajar lagi. Sehingga banyak pihak yang menilai bahwa pengetahuan guru hanya sebatas tingkat pendidikan yang diajarnya.
    Menjadi pertanyaan tersendiri, apakah dengan tunjangan guru dapat meningkatkan profesionalisme guru? Apakah dengan 2 kali gaji, guru mau mengembangkan potensi dirinya?
    Di balik semuanya itu, masih banyak guru-guru yang masih punya semangat untuk berkembang dan meningkatkan profesionalisme. Dengan penuh dedikasi, memberikan yang terbaik bagi anak negeri ini.
    Bisa jadi mereka belum sarjana, dan bahkan banyak yang masih terlalu muda untuk sertifikasi.
    Pemerintah perlu memikirkan solusi yang terbaik untuk kebaikan bersama.
    Jika sertifikasi memang bertujuan untuk meningkatkan profesionalisme, maka ujilah dengan saringan yang berlapis, sehingga terlihat mana yang benar-benar profesional.
    Jika sertifikasi bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan guru, maka berikanlah pada semua guru, tanpa memandang usia dan golongan.
    Pada akhirnya, guru profesional atau tidak, yang menilai adalah anak didik kita.
    Guru merupakan sosok yang akan selalu dikenang oleh siswa.
    So, let’s be a better teacher.

    Dari: Guru yang entah kapan akan disertifikasi.

  48. Wahai punggawa pendidikan Indonesia. Bagaimana bisa ketika ribuan guru honorer dan wiyata bakti kelaparan anda malah memberikan dana yang terbatas negara kepada para guru yang sudah cukup bahkan lebih gajinya. Akan dikemanakan guru-guru WB yang selama ini telah mengabdi dengan bayaran 100.000 per bulan. Apakah kami guru WB tidak mempunyai andil dalam pendidikan di Indonesia? Sesungguhnya banyak diantara kami guru WB adalah lulusan berprestasi di banyak perguruan tinggi di Indonesia. Akan tetapi prestasi dan pengabdian kami dalam dunia pendidikan tidak dihargai hanya karena kami WB. Banyak fakta di lapangan. Sepandai apapun WB tetaplah WB yang diperlakukan sebagai cadangan. Inilah ironisitas tenaga kependidikan di Indonesia.

  49. tentang sertifikasi guru … yah kalo menurut saya sebenarnya bagus, cuma mestinya yang tidak sarjanapun perlu disertifikasi karena pengalaman kerja itu sangat menentukan. Jangan2 hanya karena tidak sarjana trus dikira nggak profesional … padahal kenyataan belum tentu yang sarjana tetapi profesional ngajarnya. Maka sebaiknya sertifikasi bukan ajang untuk cari prestise saja tapi ya betul2 memotivasi guru untuk berprestasi … ngeri juga lho orang yang masuk diklat malah kehilangan akal sehat bahkan kehilangan nyawa… yah meski semua bisa dibilang takdir ya, tapi kalo karena sertifikasi khan jadi ngeri …
    Maka langkah pertama sosialisasi pentingnya guru berprestasi sajalah … kalo ingin naikkan tunjangan ya semua saja naik …. gitu lho .

  50. Kekurangan guru kok gak nambah guru, tapi naikkan gaji guru yang sudah cukup banyak. Baiknya dana itu buat ngangkat yang WB

  51. Kasian ya, sama Pak Guru dan Bu Guru yang aktif mengajar di dalam kelas, tetapi gak ada kesempatan untuk ikut seminar, penataran, diklat, dll.dll. di luar kelas.

    Gimana nambah poinnya ya Bang????????????????????

  52. Anda jga guru pak, harusnya mendukung donk,gk usah sok idealis, niy indonesia bung, idealis gk dihargai dsini,mgkn malah diculik n ditembak. sama2 guru jgn mengkritisi gtu donk, guru khan pahlawan tanpa tanda jasa bung, di USA aja gaji guru lebih besar dari wakil rakyat, nah skrg di indonesia mau dinaikin anda pake ngritk2 segala. Mgkn anda salah satu yg tidak lu2s ya, mkanya anda kyk gini. Jgn gtu donk bung, dukung lah rekan guru, toh mereka jg pgn bgt penghidupan yang layak.

  53. mo gmn lg.. kt krisis figur oemar bakrie yg rela berpayah2 mengayuh seped jauh kesekolah hanya untuk mmemberikan bekal ilmu pada anak didiknya. minim pengertian tentang kesejahteraan yg dia tau hanya status dia jadi guru. ada pula seorang kepsek honorer di yayasan yg s/d saat ini msh nyambi jd pemulung. aq rindu seorang guru yg merasa malu karna bila anak didiknya tak lebih baik dari dirinya. selamat berjung saudaraku.

    http://sampukbuku.wordpress.com
    http://cafebukuatiqa.blogspot.com

  54. Alhamdulilah saya sudah tersertifikasi.
    Saya lulus sertifikasi guru tahun ini, meskipun harus di-diklat karena skor saya hanya 530.
    Tapi akhirnya saya mendapatkan sertifikat Guru Profesional. Semoga saya benar-benar profesional dalam profesi saya. Amin. :)

  55. Sertifikasi Untuk Guru Bermasalah ?

    Berdasarkan Keputusan Bersama Mendikbud dan Ka BAKN no. 0433/P/1993 dan no. 25/1993 dalam pasal 17 ayat 1a disebutkan”Guru dibebaskan sementara dari jabatannya apabila dalam jangka waktu 6 (enam) tahun sejak diangkat dalam jabatan terakhir tidak mengumpulkan angka kredit minimal yang disyaratkan untuk kenaikan pangkat/jabatan”.
    Seorang guru yang secara peraturan terkena sanksi administrasi sebaiknya tidak diikutkan dalam sertifikasi. Juga tidak etis menerima uang rakyat dari sertifikasi karena dibebaskan sementara jabatannya sebagai guru. Dan jangan sampai pemerintah kecolongan dengan memberikan setifikasi bagi guru pemalas yang memiliki pangkat abadi atau tidak naik pangkat dalam jangka waktu yang lama.

    M. Faisol E; SMPN 1 Padang

  56. kita ni di Indonesia.
    wajar PSSI

    Pemburu Sertifikat Sejati Indonesia
    Hidup PSSI…..
    Demi harta ‘nipu’ berjama’ah !

  57. menurut saya, sertifikasi bagus sekali, untuk kesejahteraan guru. namun kalau ternyata guru tersebut tidak qualified, it’s nothin’……jam kerja, disiplin, cara mereka ngajar, masih………teteeeeeeep……..ky dulu……

Komentar ditutup.