PLPG – Sebuah Mimpi Hasilkan Guru Profesional

PLPG (Pendidikan dan Latihan Profesi Guru) bulan Februari yang barusan saya ikuti serasa hambar. Bukan berarti karena isi dan para instrukturnya gak berkualitas/berkompten, tetapi semuanya yang diberikan hanyalah isapan jempol belaka untuk kemajuan pendidikan di negeri ini. Bagaimana tidak, tuntutan keprofesionalan guru yang semestinya diikuti dengan pemberian hak-hak memutuskan kesuksesan siswa dikebiri lewat Ujian Nasional. Menjadi sia-sialah semua penilaian proses-kinerja siswa selama pembelajaran. Instanisasi dengan latihan soal atau try out menjadi senjata andalan demi kelulusan ujian nasional itu.

Dalam PLPG diajarkan tentang materi keprofesionalan guru, model-model pembelajaran, media pembelajaran, assesmen, PTK, pendalaman materi. Kesemuanya itu seakan-akan dinegasikan begitu saja oleh ujian nasional. Sebab kita tahu dari ujian nasional yg selama ini tidak menunjukkan pengukuran proses tetapi hanya dilihat kemampuan kognisi dalam beberapa menit.

PLPG seolah-olah hanya sekedar untuk memberi “wawasan” soal pendidikan dan pembelajaran kepada guru yang telah mandul. Jika hak-hak guru tidak dikembalikan maka apapun sebutan keprofesionalan tidak akan ada dalam diri guru. Jadi akan mustahil guru indonesia sampai pada profesionalisme. Ujian nasional telah dipolitisir untuk kepentingan penguasa… “demi mendapatkan hutangan yang lebih banyak kali dari negeri yang lebih kaya”.

Hmmmm…

About these ads

9 thoughts on “PLPG – Sebuah Mimpi Hasilkan Guru Profesional

  1. wah, akan lebih “menjerat” lagi kalau judulnya
    PLPG di-KO ujian nasional, bener kan?

    tapi 100% saya setuju pendapat Anda,
    meskipun ngga pake Hmmmm juga

    terimakasih

  2. saya pribadi dari dulu tidak setuju dengan sistem ujian seperti sekarang, status kelulusan hanya ditentukan dalam tiga hari saja, sedangkan proses mereka selama tiga tahun diabaikan… kasihan siswa cerdas namun kurang beruntung … kasihan gurunya yang pontang-panting mengajar namun tidak dihargai ….

  3. pak di plpg atau pelatihan guru semacam itu disinggung ttg teknologi2 pembelajaran (ter)baru nggak sih?
    misal accelerated learning, quantum teaching, brain based teaching, power styles, nlp?

    sepertinya kita memang harus merelakan bahwa penilaian proses kinerja siswa disembelih dengan UAN.

    menurut saya, hasil penilaian proses kinerja siswa itu lebih baik ditransfer balik saja sebagai feed back ke siswa2 itu dalam bentuk motivasi kepada mereka. jadi mereka tahu, hasil belajar mereka itu bagaimana, apa yg telah mereka lakukan dengan ‘benar’, apa lagi yg bisa mereka tingkatkan, dll

    CMIIW

  4. Wah, padahal saya jg pengen jadi guru …
    Repot dah

    dulu jaman saya sekolah kita diajari ‘menemukan’ rumus-rumus turunan dari rumus dasar fisika dll.
    murid sekarang (keponakan saya)
    langsung diberi setumpuk rumus untuk dihafalkan …
    Demi menjaring soal UAN, suskses try out, sukses UAN
    perkara anak nggak ngarti … nggak apa
    yang penting lulus ….

    Quo vadis Pendidikan kita?

  5. yaa itulah gambaran pendidikan kita, tapi kita gak boleh ngeluh terus tanpa berbuat. naah generasi muda yang berkualitas marilah kita singsingkan lengan baju benahi kualitas pendidikan kita sehingga mau diuji dengan cara apapun guru n siswa kita tidak akan gentar

  6. Mungkin lebih baik jika semua ini kita ambil hikmahnya, karena walaupun banyak fihak yang tidak setuju un tetap jalan terussss.
    Sebuah tantangan memang, bagaimana kita sebagai guru mampu mengantarkan anak untuk memahami esensi materi palajaran sekaligus sukses UN. Bagaimana caranya itulah beban super berat yang menghinggapi pundak guru, Bagaimana kita dituntuk seabrek perangkat administrasi pembelajaran, menyiapkan materi, penilaian, analisis, remidi dll, dll, dll,dll …. Mampukah kita mewujudkan semua itu??????

Komentar ditutup.