Guru Malas Mengajar, di mana Nuranimu?

urip.wordpress.com

Guru di sekolah malas mengajar, siswa cuma diberi tugas, dirinya nyantai di ruang guru. Ada juga yang mengajar separuh jalan sisa waktunya kelas ditinggal begitu saja. Ada guru yang meninggalkan tempat tugas selama berhari-hari. Kalau anda jadi kepala sekolah bagaimana mengatasinya?

Sungguh masuk orang yang tidak bersyukur, kalau jadi orang tidak amanah menjalankan tugas kerja, lebih-lebih seorang guru (apalagi berstatus pns) melalaikan tugas yang dipercayakan padanya. Gaji diterima penuh untuk menghidupi diri dan keluarganya, tetapi kinerja tidak juga membaik. Mari kita berusaha untuk memperbaiki kinerja diri. Tidak lagi mengambil ukuran diri pada orang berkinerja jelek, karena pimpinan tak tegas.

Saya juga guru, suka bandel juga sih, alias bukan guru yang baik, tapi beban tugas mengajar untuk memberikan yang terbaik itu jadi obsesi saya. Wou sok banget yah kedengarannya. Benar siswa adalah segalanya bagi guru. Kasihan mereka kalau sampai tidak kita layani dengan baik. Semua itu bukan karena siapa-siapa tapi kita sudah terlanjur janji untuk mau mengabdi. Halah…

Kebijakan pemerintah (mungkin pejabat daerah) yang tidak bisa mengatur penempatan pegawai (guru) berdampak menumpuknya guru tertentu sehingga seolah guru bidang tertentu seperti tidak ada pekerjaan tapi menerima gaji, akibat selanjutnya guru tersebut tidak kerasan dan ingin sekali pindah ke tempat yang ‘enak’ yang mungkin tenaganya akan jauh tergunakan. Begitu tidak dituruti pindah maka pegawai tersebut mbalelo, sering mangkir tanpa alasan logis. Menurut saya tidak ada alasan kepala sekolah tidak memberikan ijin pindah, toh sesuai SK mengajarnya jelas di suatu sekolah yang surplus guru itu “tidak mendapat” jam mengajar sesuai porsi. Ini berdampak lebih lanjut pada guru lain, yang kebanyakan orang-orang ‘irian’. Siswalah korbannya.

Mental guru buruk yang tak kan pernah memikirkan bagaimana siswa bisa terlayani belajar dengan baik. Melaksanakan tugas hanya sekedarnya, apalagi kalau supervisi tidak pernah ada atau dilakukan pihak terkait. Ujian pun jarang mereka koreksi dengan benar. Ini belum dikaitkan dengan standar kompetensi guru itu loh. Umpan balik dari hasil ujian tidak pernah diambil untuk memperbaiki kinerja diri dan siswanya. Alhasil hancurlah sekolah itu. Terpuruklah siswa yang memiliki berpotensi itu.

Karena mental sudah buruk ada saran positif pun tidak digubris. Memang saran, nasehat dari siapapun kalau sudah tidak suka dengan yang beri nasehat pasti nasehat itu tak berguna. Subyektivitas diri lebih mengemuka, efeknya membuat segalanya tidak akan membaik. Produktivitas diri tak berubah lebih baik, kinerja hancur. Pikiran-pikiran tertutup hanya bisa terbuka kalau mereka dapat hidayah dari Tuhan. Barangkali perlu teguran keras dari Tuhannya.

Jika kondisi sekolah, terutama guru-gurunya tidak kondusif untuk mengajar, sebaiknya perlu dikembalikan ke khitah tugas guru (lihatlah kembali standar yang harus dipenuhi seorang guru itu), disadarkan perlu karena mungkin sedang pingsan. Bila perlu dilakukan ‘pencucian pikiran/otak’, perlu format ulang. Tapi terlalu sadis nadanya. Siapa yang bisa mengubah keadaan dari luar? Sepertinya diperlukan pimpinan bertangan besi tapi berhati lembut. Adakah?!

Jaman sekarang kok ternyata masih ada guru yang malas mengajar tapi rajin menerima gaji. Kalau saya jadi bosnya sudah saya depak kalau memang tidak mau dinasehati. Untung bukan saya (tapi saya tidak akan pernah jadi kepala sekolah jadi santai saja yah, jangan takut :) ). Pemerintah sudah saatnya memberikan kewenangan pimpinan untuk ‘menghadiahi’ guru yang kerjanya tidak beres. Tidak cukup hanya DP3 saja. DP3 selama ini toh formalitas saja.

Taring kepala sekolah kini tidak menakutkan dan memang bukan untuk menakuti, tapi untuk “menggigit daging”. Meskipun punya kewenangan menyetop tunjangan profesi nyatanya dengan kinerja buruk tunjangan itu mengalir begitu saja ke rekening guru tersebut. Sungguh runyam sistem kepegawaian di sini. Dulu sempat didengungkan dibeberapa instansi soal insentif berbasis kinerja, tapi hingga detik ini tidak juga diaplikasi di kalangan pendidik. Sudah saatnya kepala sekolah dijadikan ‘pejabat’ tidak sekedar tugas tambahan bagi seorang guru saja.

Kepala sekolah yang tidak memiliki visi dan misi yang jelas ternyata akan menjadikan sekolah itu berjalan tak terukur (hehehe sudah pastilah itu). Jalan ditempat dan pincang-pincang. Ini adalah tulisan di mana saya yang bukan dan belum tidak akan pernah jadi kepala sekolah (soal tidak mau jangan tanya mengapa!) Apakah mereka tidak pernah diajari manajemen persekolahan? Atau tidak mau melaksanakan?

Di instansi daerah saya bekerja, selama ini belum pernah ada tes calon kepala sekolah, apalagi pelatihan calon kepala sekolah. Yang jadi kepala sekolah adalah mereka-mereka yang mau saja. Atau yang ada kedekatan dengan pihak tertentu. Saya pernah ditawari jadi kepala sekolah begitu saja, tapi saya merasa tak sanggup akhirnya saya tolak. Sepertinya dengan cara itulah kepala sekolah-kepala sekolah direkrut, hasilnya anda bisa memperkirakannya.

Jika pola rekrutmen seenaknya begitu (tidak sesuai aturan yang ada), hasilnya pasti tidak bisa optimal, bahkan cenderung kacau. Suatu ketika ada sekolah karena tidak ada “kader” yang layak untuk diangkat jadi kepala sekolah, maka serampangan mengangkat guru untuk jadi kepala sekolah. Alhasil sekolah itu benar-benar berantakan. Penerimaan siswa tahun berikutnya hanya dapat 3 orang siswa. Itu sekolah negeri. Tidakkah itu cukup jadi pelajaran?!

Sekali lagi manajemen yang kacau di level wilayah sampai level sekolah sangat merugikan siswa. Penyadaran akan tanggung jawab sebagai guru dengan amanah mulya sangat diperlukan. Pelatihan yang menyentuh hati sangat dibutuhkan dan diintensifkan. Bukan hanya pelatihan formal yang sekedarnya. Guru… Di mana nurani-MU? Masih adakah?!

About these ads

2 gagasan untuk “Guru Malas Mengajar, di mana Nuranimu?

Komentar ditutup.