Mengembangkan Ide Menjadi Tulisan

Ide menulis kadang muncul begitu saja tak perlu dicari-cari. Seperti kebiasaan saya kadang mencari barang yang tersimpan tidak segera ketemu tapi giliran tidak dicari malah ketemu. Saat munculnya ide bisa kapan saja bahkan ketika seseorang sedang buang hajat pun bisa memperoleh ide brilian (saya pernah gak yah? :) ). Ketika mendapat sedikit ide jika tak segera “ditangkap” maka ide itu akan lenyap begitu saja. Nanti kalau mau mengingat-ingatnya akan sulit lagi didapat. Naluri menulis yang tinggi membuat seseorang akan dengan cepat menangkap ide itu dan mengembangkannya menjadi sebuah tulisan.

Nah bagaimana menangkap ide, dan bagaimana mengembangkan hingga menjadi sebuah tulisan. Saya tidak bilang setiap ide itu akan menjadi tulisan yang bagus atau menarik. Tapi ini merupakan aktivitas pembiasaan diri agar refleks menangkap ide dan menuliskannya menjadi suatu kebiasaan. Ini perlu banyak berlatih, dan dilatih. Siapa yang bisa melatih, tidak lain adalah diri kita sendiri. Jangan berharap banyak dari sebuah latihan yang dilakukan oleh pihak lain kalau kita sendiri tak memiliki inisiatif.

Ide yang muncul begitu saja, segera tuliskan setidaknya tema utama atau tentang apa yang menjadi perhatian kita ketika mendapatkan ide. Namun ketika ingin mengembangkan ide itu sering kita malah kehabisan sambungan-sambungan kalimat akibatnya macet dan seolah kering dan lenyap tak berbekas. Inilah yang sering menjangkiti kita sebagai penulis pemula. Mungkin yang bisa membantu adalah kekayaan wacana atau bacaan yang akan menjadikan kita subur dalam menyambungkan kejadian demi kejadian menjadi sebuah alur tulisan yang enak untuk dibaca.

Bagi saya sendiri itu juga seringkali menjadi masalah. Akhirnya saya memilih jalur menulis ngelantur. Tak ada rencana akan menulis apa, tapi semua mengalir begitu saja. Mau coba, cobalah. Intinya kita mesti pandai memainkan kata menjadi kalimat yang mempunyai makna saling terkait namun membuatnya menjadi tema tertentu. Entahlah bagaimana hasilnya yang jelas saya tidak pernah memikirkan apa akhir cerita dari sebuah tulisan yang saya buat. Tapi bagaimanapun kita biasanya memiliki tema tertentu. Yah hanya dengan memainkan kata dan kalimat.

Apa yang kita cari dengan tulisan ngelantur itu. Tidak ada, hanya menyalurkan luapan pikiran yang bisa jadi kepuasan. Tentang apa saja yang patut dilanturkan :), kesenangan, kegalauan, kekecewaan, kebanggaan, kekaguman serta ke-an yang lain sesuai suasana hati. Inilah sisi lain dari gaya menulis dari sekian banyak teknik menulis yang telah ditawarkan selama ini. Kalau tulisan ini sepertinya membingungkan atau tidak fokus niatnya mau ke mana yah seperti itulah keadaan di mana saya yang tidak bisa menulis. Hanya mengelanturkan pikir dan menghentakkan tuts keyboard.

Kadang dari percakapan atau perdebatan singkat dengan seseorang itupun bisa jadi ide yang bagus untuk melatih naluri menulis kita. Saya contohkan tulisan saya yang ini. Itu saya buat sekejab sesaat saya berdebat soal tulisan aktual atau tidak aktual. Bagi saya itu berkah untuk dijadikan tulisan. Kalau itu saya diamkan jelas akan menguap tak berbekas tanpa makna. Sementara temen saya itu, ia hanya puas dengan argumennya, ia merasa argumennya menang atas argumen saya. Tapi dia tak menuliskannya. Tak menulis tapi sudah merasa menang, akibatnya analisisnya sangat subyektif. Mengapa karena dia tidak melihat sisi-sisi lain atas hal yang sedang dibahasnya. Seolah ia menutup diri untuk melihat sisi positif itu.

Semakin luas wawasan kita maka ide-ide yang muncul begitu akan semakin cepat dikembangkan. Oleh karena itu suplai atau asupan gizi, vitamin, dan mineral dari berbagai bacaan sangat mendukung kemampuan mengembangkan ide tulisan. Tapi ini teori, coba saja tuliskan ide yang muncul, terus pertanyakan “what next?”. Mungkin dari situlah kita bisa mulai beranjak untuk melanjutkannya menjadi sebuah tulisan. Ini yang saya biasa lakukan, meskipun anda sendiri tahu tulisan saya masih amburadul. TAPI SAYA SUDAH MENULIS!

Punya ide tapi macet untuk bisa melanjutkan, alasannya sedang tidak mood. Mood itu ada di mana, bukannya itu kita sendiri yang menciptakan, lantas mengapa harus ditunggu mood itu hadir?! Saya curiga itu hanya dalih bagi kita yang belum mendapatkan cara menulis, karena kita memang malas, lebih suka menghayal. Kenapa tidak segera mendapatkan cara untuk bisa menulis? Jawabannya hanya 1, karena kita tidak segera mau menulis, tapi hanya memikirkannya saja. Ya sampai kapanpun kita tak akan bisa menciptakan mood untuk segera menulis. Gak percaya?! Teruslah menunggu, maka ia tidak akan pernah hadir, kita tak akan segera mempunyai tulisan, walau hanya satu paragraf, walau hanya satu kalimat, walau hanya satu kata. Hanya mikir saja terus…

Jadi menunggu ide serta mengembangkannya tidak ada hubungan saling ketergantungan dengan mood. Sekarang tinggal niat itu mau dilaksanakan atau tidak saja. Mau produktif atau mau pasif. Pesan saya jangan sering-sering memasifkan pikiran, sering-seringlah menyalurkan pikiran itu dan wujudkanlah menjadi tulisan lewat jemari indah pemberian Sang Pencipta. Jangan sia-siakanlah agar tidak merugi.

Wassalam.

About these ads

2 thoughts on “Mengembangkan Ide Menjadi Tulisan

  1. Ping balik: Bumi Citra Fajar Golf Sidoarjo | Foredi Sidoarjo :: Great Golf Swing Tips

Komentar ditutup.