Revolusi Pendidikan, Mungkinkah?

Sudah saatnya memangkas jumlah mata pelajaran yang ada di sma. Terlalu banyak ‘pesan sponsor’ menjadikan pelajaran-pelajaran menjadi bias, tidak fokus, isi pelajaran dangkal, siswa terlalu terbebani variasi pelajaran yang banyak. Pelajaran terkait seni dan ketrampilan hendaknya dijadikan ekskul diluar jam sekolah. Atau dibuat saja sekalian tambahan program seni, selain ipa, ips, bahasa, dan keagamaan di madrasah aliyah.

Pesan sponsor yang terkait kebangsaan, kewarganegaraan, kewirausahaan, budi pekerti, pengembangan diri, budaya lokal, seni, bolehnya dikompres menjadi suatu pelajaran tetapi tidak masuk dalam ranah penilaian. Sebab selama ini angka yang diberikan toh sekedar formalitas. Seperti pelajaran penjaskes, semestinya tidak masuk dalam pelajaran yang turut mempengaruhi kemampuan kognitif siswa. Toh setiap orang memang harus sehat jasmani dan rohani.

Akhir-akhir ini muncul kurikulum pelajaran dengan embel-embel berkarakter. Saya khawatir itu juga sekedar aksesoris. Yang justru semakin membiaskan konten pelajaran yang sesungguhnya. Tidak malah mengintegrasikan seolah bagus, hebat, tapi tidak meberikan pemahaman yang utuh tentang keilmuan itu. Memang terkesan mendikotomikan tapi ini untuk tujuan fokus dan mendalam. Kita bisa bercermin pada dunia keilmuan, kalau memang kita akan melihat ilmu yang benar-benar ilmu. Urusan keutuhan manusia ya harus utuh. Tapi memang pendidikan di negeri ini tak punya fokus semua ingin didapat sementara kemampuan siswa dan juga tenaga pendidiknya jauh dari mumpuni. Akibatnya lihatlah semua ditunjukkan hanya formalitas belaka.

Banyak ketidakberesan dalam dunia pengajaran selama ini, contoh bahasa asing diajarkan sejak smp hingga sma tak banyak memberikan arti bagi siswa, siswa tidak kunjung bisa berkomunikasi dengan bahasa asing tersebut. Bahkan pelajaran bahasa Indonesia yang diberikan sejak sd, ditilik hanya dari hasil-hasil UN tetap saja payah. Apalagi ilmu lainnya. Petinggi negeri ini hanya tahu laporan ABS tentang pendidikan dan besaran perolehannya sebab dana anggaran paling besar. Kondisi guru yang payah juga tak banyak tersentuh.

Sepertinya sudah layak untuk revolusi dunia pendidikan di negeri ini. Terlalu parah jika hanya reformasi. Saya bukan pakar pendidikan tapi sudah merasakan gejala tak beres yang merasuk dan merusak sistem pendidikan kita. Tidakkah saudara merasakan hal yang sama?! Mulai dari perencanaan hingga pelaporan hasil pendidikan banyak borok yang membobrokan tubuh pendidikan. Jangankan diperbandingkan dengan negara tetangga secara internal saja saya selaku guru sangat merasakannya. Pelatihan dengan maksud peningkatan mutu guru e dilaksanakan dengan mental proyek. Apalah jadinya, kita sudah bisa menduga kan?!

Sebagai rakyat yang tak terwakili aspirasi ini, facebook atau blog adalah wadah curahan segala rasa atas ketidakberesan yang saya rasakan. Tak perduli, ada yang perduli atau tidak yang penting menulis. Tulisan bernada positif seolah sopan namun tak menawan. Meskipun tidak dipungkiri ada keberhasilan-keberhasilan walau tak banyak dan kadang justru itu semu. Kepalsuan akan kenyataan pendidikan bangsa kita membuat banyak cemar akan kebiasaan anak negeri dengan pembohongan diri hanya demi gengsi. Anehnya yang lain mengamini dan mengkiblati kepalsuan itu. Itu sah-sah saja asal sesuai prosedur. Prosedur yang palsu pula.

Tentang isi kurikulum ada pakar pendidikan yang mengatakan bahwa kurikulum di Indonesia sudah bagus. Yah bagus, tapi buruk dipelaksanaan, kurangnya guru yang berkompeten meskipun sudah tersertifikasi, masih ada guru yang ngajar tanpa persiapan, guru malas baca dan lain-lain. Dukungan sarana yang minimalis, anggaran banyak menguap hanya untuk urusan prosedural, masuk kantong pejabat yang penjahat. Manajemen yang rapuh, dan lain-lain. Kurikulum sih mungkin 100% ok.

Ibarat terlanjur beli komputer dengan speks rendah, di-upgrade juga tak banyak meningkatkan performa, hanya buang biaya, maka pada saat beli komputer baru mestinya tidak lagi beli komputer dengan speks yang sama dengan sebelumnya. Kita lihat rekrutmen guru dari tahun ke tahun tidak ada perubahan, akibatnya asal ada guru. Sepertinya para penghasil guru tidak juga mengadaptasi diri untuk lebih maju, menyiapkan guru dengan speks tinggi. Pokoknya yang penting dapat mahasiswa, soal kualitas nomor tiga. Karena itu juga politik kepentingan untuk membawa keuntungan bagi kampus-kampus pencetak guru. Mengenaskan!

Sebagai salah satu produk hasil pendidikan guru belasan tahun lalu jelas ketinggalan jaman kalau tidak adaptif. Penempaan pengalaman seharusnya membuat guru matang. Itu kalau mau belajar setiap saat tentang materi, teknik-metode-strategi mengajar, manajemen pendidikan. Lihatlah kenyataan guru saat ini. Pantas saja pendidikan tidak maju-maju. Tiap sekolah hanya beberapa guru saja yang berupaya maju, dan itu tidak cukup untuk mendongkrak keadaan yang rapuh dan payah. Kata kunci penyelesaiannya mungkin hanya dengan revolusi, revolusi terencana, mengubah hal mendasar untuk dapat membuat loncatan besar kemajuan pendidikan. Resiko? Sudah pasti ada. Dengarlah beliau-beliau pakar pendidikan yang punya nurani. Jangan dengarkan para pakar pendidikan yang bermental sekedar cari untung dan memperkaya diri. Saya yakin ada kok!

Wassalam.

About these ads

One thought on “Revolusi Pendidikan, Mungkinkah?

Komentar ditutup.