Formula Baru untuk Pendidikan Indonesia

urip.wordpress.com

Terbuktilah keajaiban itu, keajaiban pada kelulusan UN 2011 ini. Dalam uji coba UN siswa yang “lulus” tidak banyak, namun dalam perhitungan nilai akhir rata-rata lulus 99%. 99% itu ditentukan dari 40% nilai sekolah dan 60% nilai UN. Pendidikan di Indonesia sudah bagus. Hah! Sudah bagus?! Lihatlah aslinya dulu dong. Kesenjangan antara hasil uji coba UN dengan hasil UN saya sendiri belum melihat. Tunggu 16 Mei akan banyak yang bahas soal kesenjangan ini.

Bahkan hari ini seperti yang ditulis di Kompas online pak Mendiknas menyatakan bahwa UN tahun ini sudah kredibel. Menurut saya yang hanya seorang guru biasa, itu masih perlu dipertanyakan, kredibel dari segi apanya? Soal model soal saja masih disangsikan kredibilitasnya, konten soal juga masih banyak yang mempertanyakan. Siapa sih yang membisiki pak Mendiknas kita itu? Tidakkah ia membuka mata, masih banyak kecurangan pada pelaksanaannya? Tidakkah tahu bahwa walaupun dengan model soal yang sama dengan UN pada uji coba UN yang diselenggarakan sekolah hasilnya amburadul?

Oleh karena itu dalam pikiran saya, kita masih harus mencari formula baru, atau tepatnya perlu membuat formula baru terkait pelaksanaan pendidikan di Indonesia.

Perlu dicari atau dibuat formula baru untuk UN. UN dengan model soal multiplechoice syarat spekulasi, dan tidak menunjukkan kemampuan siswa dalam proses penyelesaian soal. Mengingat dan menimbang atas keputusan MK bahwa pemerintah belum layak menyelenggarakan UN seperti sekarang. UN seperti sekarang sudah disorientasi. Guru tak mengajar dengan benar karena pengaruh UN juga.

Perlu dicari atau dibuat formula baru untuk uji kelayakan guru. Guru yang sudah terlanjur mengajar tetap harus diuji kompetensinya lagi, terutama penguasaan materi pelajaran, teknik/metode/strategi pembelajarannya. Tak perduli latar belakangnya apa. Tapi yang pertama harus diuji adalah penguasaan materi pelajaran. Bagaimana bisa membelajarkan dengan baik kalau materi saja tidak dikuasi dengan baik oleh guru. Lewat sertifikasi? Basi!

Perlu dicari atau dibuat sistem pendidikan penyiapan calon guru yang benar-benar layak, tidak sekedar ada. Dosen-dosennya sejak mula sudah harus menanamkan semangat kreatif pada mahasiswa calon guru. Caranya yah dosennya juga harus kreatif juga. Pengajaran di kampus-kampus keguruan harus menghindari perkuliahan yang monoton, misalnya hanya dengan mengajar menggunakan metode ceramah melulu  atau dominan. Akibatnya setelah jadi guru mereka juga malas menggunakan metode selain itu. Setiap materi kuliah keahliannya juga harus diselipi bagaimana mengajarkan materi ini nanti ke siswa. Jadi ada integrasi antara materi keahlian bidang studi dengan strategi/metode penyampaiannya.

Perlu dicari atau dibuat formula baru untuk uji kelayakan kepala sekolah. Apakah kepala sekolah dapat memimpin, mempunyai seni dalam mengelolah sekolah yang jadi tanggung jawabnya, mengerahkan segala dayanya untuk mencapai tujuan pendidikan pada level sekolahnya. Termasuk juga keteguhan untuk tidak melakukan tindak curang dan tercela seperti suap ke atasan untuk mempertahankan jabatannya sebagai kepala sekolah. Perlu dilakukan evaluasi berkala dan berkelanjutan terhadap kinejra kepala sekolah.

Perlu dicari atau dibuat formula baru untuk uji kompetensi pengawas. Pengawas sekolah perlu diuji kelayakannya dalam  hal manajerial persekolahan, harus berpengalaman menjadi kepala sekolah. Pengawas sekarang sudah tidak awas lagi dalam menjalankan tugasnya. Mengingat area kerja yang luas maka diperlukan uji fisik juga, yang sudah uzur dilarang menjadi pengawas. Tidak seperti selama ini, pengawas sekolah banyak yang sudah uzur, dan tidak ada yang bisa dijadikan teladan bagi sekolah yang dalam pengawasannya.

Perlu dibuat formula baru dalam pembinaan guru mata pelajaran. Tidak perlu guru sering meninggalkan tempat tugas hanya untuk pelatihan. Setelah kembali ke tempat tugas tidak ada pengimplementasiannya sama sekali. Selama ini pelatihan yang diikuti guru tidak lebih dari sekedar refreshing untuk tidak mengajar. Karena tidak ada kewajiban setelah ia mengikutinya. Ada fasilitas internet tidak dioptimalkan untuk melakukan pembinaan guru. Mengapa selama ini setiap ada pelatihan harus mendatangi tempat diklat. Pemborosan yang tidak perlu. Menurut saya kini sudah waktunya diperlukan pembina mata pelajaran tiap bidang studi di tiap kabupaten, minimal. Guru yang membina mata pelajaran akan memberikan saran-saran berdasarkan kemampuan yang dimilikinya kepada guru-guru binaannya sehingga bisa mengajar dengan baik dan benar. Selama ini?

Perlu dicari atau dibuat formula baru dalam rekrutmen kepala dinas pendidikan. Harus bebas kepentingan politik. Diperlukan pembinaan yang berkelanjutan untuk bisa jadi kepala dinas pendidikan. Menguasai tujuan pendidikan daerahnya dan tahu mencapai tujuan dengan baik, benar, jujur, adil. Mampu memberi dukungan seluruh komponen untuk kemajuan pendidikan daerah. Selama ini semua kebijakannya tidak menyentuh akar masalah. Jantungnya pendidikan itu pada komptensi guru, mereka malah tidak bisa membuat kebijakan yang bisa meningkatkan komptensi guru yang aslinya loyo ini. Mereka hanya bekerja dan mengambil kebijakan menunggu dari atas, bukan atas keperluan dari bawah.

Perlu dicari atau dibuat formula baru untuk calon mendiknas. Berlatar belakang pendidikan, bukan berlatar belakang non pendidikan. Bebas kepentingan politik, kelompok, pribadi. Teruji dalam pembinaan pendidikan di tingkat propinsi. Sensitif terhadap isu global pendidikan. Mampu memberikan layanan terbaik kepada semua rakyat lewat kebijakannya. Patuh terhadap UU sisdiknas. Peka terhadap aspirasi guru, dan masyarakat. Kalau hanya mengandalkan staf ahli yang tidak peka maka mungkin keadaan seperti sekaranglah akibatnya.

About these ads