Mana Lebih Sederhana Cara Menyetarakan Reaksi Redoks, Metode Biloks atau Metode Setengah Reaksi?

Sederhana atau rumit memang relatif, tetapi secara umum keduanya sangat mudah dibedakan dan dirasakan. Kadang ada yang bilang bahwa dibilang sederhana karena kita lebih menyukai. Baiklah terlepas soal itu saya akan sedikit menulis tentang kerelatifan itu. Cara menyetarakan reaksi redoks dikenal ada dua metode atau cara. Metode bilangan oksidasi (biloks) dan metode setengah reaksi (ion-elektron). Tentu saja dari dua cara itu ada yang lebih disukai dengan berbagai alasan. Seperti saya saat sma dulu, saya lebih suka menggunakan metode kedua. Alasannya prosedur penyelesaian yang runtut dan tidak perlu cross chek berulang-ulang. Itu saja.

Siapapun boleh periksan contoh penyelesaian kedua metode penyetaraan reaksi redoks itu di buku-buku bse (buku sekolah elektronik). Misal pada buku kimia 12 milik teman saya :) Pak Crys Fajar Partana (dosen kimia di Universitas Negeri Yogyakarta) dan Mbak Antuni Wiyarsi, pada halaman 47-51 diberikan cara atau langkah setahap demi setahap dalam menyelesaikan persamaan reaksi redoks metode biloks itu. Cukup rinci dan mudah dipahami. Namun demikian dari banyak langkah yang harus dilalui dan cek dan cek lagi tentu sangat menguras tenaga, apalagi bagi siswa yang baru mengenal langkah itu. Bahkan yang sering terjadi karena keteledoran sedikit saja siswa harus cek lagi dari awal. Misalnya pada saat menentukan bilok dan ingin menyetarakan antara penurunan dan penaikan biloks, ternyata unsur belum disetarakan, begitu dan seterusnya.

Metode biloks ini memang sangat bagus dalam melatih menentukan biloks masing-masing atom dalam suatu senyawa atau ion. Tetapi kelemahannya adalah menjadi cukup rumit bagi pembelajar mula. Memang sih ini soal pembiasaan dan kecekatan dalam berlogika matematis saja.

Seperti pada awal tulisan ini bahwa dengan menggunakan metode setengah reaksi tanpa tau biloks-pun kita bisa menyelesaikan penyetaraan reaksi redoks itu. Cukup cek unsur yang menjadi “alibi” dalam reaksi itu, sudah sama atau belum, kalau belum yah disamakan dengan mengubah angka koefisiennya, berikutnya setarakan atom O dengan menambahkan H2O pada sisi yang kekurangan O, setarakan atom H dengan menambakah ion H+ pada sisi yang kekurangan H, samakan jumlah muatan dengan menambahkan elektron, samakan elektron yang dilepas pada reaksi oksidasi dengan elektron yang diterima di sisi kiri pada reaksi reduksi. Selanjutnya jumlahkan kedua setengah reaksi, singkronkan jumlah spesi yang ada di sisi kiri dan kanan. DAN… SELESAI.

Oh ya ada lagi dalam hal kesederhanaan penulisan penyelesaian reaksi redoks dengan metode setengah reaksi ini. Begitu melihat soal, kita langsung bisa membagi setengah reaksi dan dalam sekali tulis kita bisa mendapatkan hasil setara tinggal menjumlahkan hasil yang setara serta mengeliminir spesi yang hadir di kedua sisi.

Memang ada soal penyetaraan reaksi redoks yang simpel, yang bisa diselesaikan dengan metode biloks jauh lebih cepat, terutama pada soal-soal yang berbentuk pilihan berganda (multiplechoice). Tapi apapun soalnya silahkan menggunakan metode yang paling mudah menurut masing-masing. Untuk diketahui bahwa semua itu hanya akal-akalan para sesepuh dahulu, namun masuk akal dan logis akhirnya kita pelajari dan seolah menjadi rutinitas belajar tentang reaksi redoks harus begini atau begitu. Dalam kimia kalau tidak kasad mata pasti kasad logika, begitu kata Prof. M. Utoro Yahya guru besar kimia fisika UGM.

Tulisan terkait dengan penyetaraan reaksi redoks:

urip.wordpress.com

About these ads

2 thoughts on “Mana Lebih Sederhana Cara Menyetarakan Reaksi Redoks, Metode Biloks atau Metode Setengah Reaksi?

  1. Metode ion-elektron (setengah redoks) sebenarnya lebih cocok untuk reaksi-reaksi ionik, atau dapat diuraikan persamaannya menjadi reaksi ion-ion, sehingga terlihat jelas perbedaan mauatan kation atau anionnya sebelum dan sesudah reaksi. Sebaliknya, untuk metode biloks lebih tepat untuk menyetarakan reaksi redoks yang bukan reaksi ionik. Di buku General Chemistry – Braddy hal ini menjadi fokus pembahasan. Tapi di buku-buku kita malah dua-duanya seolah harus digunakan .. itu tentu bikin pusing siswa …untuk memilih cara yg sesuai dg konteks persoalannya …

Komentar ditutup.