Pendidikan Maju Pesat jika Pola Kepemimpinan ala Jokowi dan Ahok

Sumber gambar jakarta.tribunnews.com

Bukan perprasangka buruk atau mengklaim “penampilan” kepemimpinan gubernur dan wakil gubernur DKI sekedar pencitraan. Saya tidak melihat sama sekali itu pencitraan. Tapi ketegasan, keterbukaan, tentu akan menjadikan segalanya akan jauh lebih baik terlepas itu terlalu arogan atau bukan budaya ketimuran. Sudah terlalu parahnya sistem pemerintahan termasuk pengelolaan pendidikan di negeri ini, sehingga kalau ada orang yang pada jalur yang benar akan menjadi sebuah hal aneh. Sistem pendidikan yang kacau ini banyak terjadi mulai dari level kementerian sampai di kepala sekolah.

Menyimak videonya pertemuan Wagub DKI dengan dinas pekerjaan umum DKI saya belajar beberapa hal. Dalam perencanaan pun semua harus logis dan orientasi pada layanan masyarakat. Yang tidak masuk akal, yang selama ini telah mengakar, tidak transparan, akan disikatnya habis. Mereka berdua memakai istilah mau ikut naik kereta yang sama atau ditinggal. Yakin semua orang akan mengidamkan pola kepemimpinan mereka. Mungkin ada juga pemimpinan di tempat lain, di instansi lain yang seperti itu namun tidak terpublikasi. Saya mengambil kesimpulan seperti itu setelah melihat rapat antara Ahok dengan Dinas Pekerjaan Umum DKI.

Simaklah video berikut andai pasti akan bertepuk tangan dan akan mengatakan inilah pemimpin yang saya perlukan. Ini bukan kampanye, tapi sebuah potret keteladanan buat siapapun yang akan jadi pemimpin.

Dunia pendidikan di negeri ini sudah carut marut. Ini terjadi karena semua tidak menerapakan pola yang benar, pada semua lini. Potret kecil adalah remuknya pelakasaan uji kompetensi guru (UKG) baru-baru ini. Kesalahan yang sama terjadi lagi dan lagi. Kalau semua berjalan sesuai dengan tanggung jawabnya masing-masing tentu itu tidak akan terjadi. Barangkali semua itu dilakukan tidak dengan rencana yang matang, ujung-ujungnya amburadul. Meskipun amburadul begitu pihak kemdikbud tetap berkelit dan tidak mengakui hal itu. Alasannya itu terjadi hanya di sebagian tempat, wowkelah kalau begitu dengan alasan manusiawi. Tapi mengapa kesalahan yang sama terjadi lagi dan lagi. Bukankah ini… Ah sudahlah memang sistem rusak mau dibilang apa juga tetap rusak, yang ada hanyalah berdalih, berkelit mencari pembenaran tanpa mau menerima dan mengakui.

Belum lagi kasus ujian nasional (UN) yang terjadi banyak penyimpangan, namun kementerian pendidikan dan kebudayaan mengelak untuk mengakuinya. Alasannya tidak ada bukti. Siapapun yang bergelut di dunia pendidikan akan mencibir pernyataan kemdikbud itu bahwa UN dinyatakan kredibel. Itu jelas laporan ABS. Andai pak menteri setegas, segarang Ahok, yakin UN benar-benar kredibel. Masih adakah hati nuranimu pak mendikbud? Lihatlah betapa banyaknya penyimpangan bahkan sampai ada yang dilakukan secara berjamaah. Ada segerombol kepala sekolah di suatu daerah yang ramai-ramai memperbaiki Lembar Jawab Komputer. Kalau tanya mana buktinya, ke laut sajalah. Pantas saja pendidikan kita remuk. UN tidak dipercaya pihak PTN, sebab mereka tahu keburukan UN tapi tak mau membuktikan. Aneh memang kalau kita tidak berprasangka buruk terhadap pelaksanaan UN.

Potret lain adalah pelaksanaan proyek yang asal-asalan tanpa kajian lebih dahulu dan terkesan terburu-buru. Di daerah saya ada pendirian sekolah smk bidang kelautan, sekolah itu didirikan di dekat pantai. Masyarakat di sekitar pantai hanya beberapa KK saja, dan jauh sekali dengan masyarakat, akibat itu akhirnya sekolah itu hanya menerima siswa beberapa orang saja. Andai sekolah itu tutup, berapa banyak dana terbuang sia-sia. Inilah euforia kemdikbud yang berambisi mencapai proporsi jumlah smk harus lebih banyak sma. Mungkin pola pikirnya yang penting ada dulu, yang penting proyek berjalan dulu.

Soal proyek pembangunan gedung sekolah saya pernah mendengar langsung pengakuan seorang “makelar proyek”, bahwa dana proyek itu kalau terpakai untuk sarana fisik 40% saja itu sudah bagus, 60%-nya mengalir ke kantong para pejabat hingga pemborong. Geleng-geleng saya ketika mendengarkan itu karena sang “makelar proyek” itu bercerita tanpa merasa bersalah, dan seolah itu wajar dan biasa saja. Rusak sekali memang sistemnya. Oleh karena itu bahasanya wakil gubernur DKI itu ini sudah parah dan harus diamputasi para pejabat yang ada jika sudah begitu.

Potret berikutnya adalah di sekolah tempat saya mengajar. Jika pihak sekolah membuat usulan tentang pengadaan gedung atau sarana lainnya belum pernah dikabulkan. Namun ketika kita tidak perlu eh… malah dibuatkan, jelas itu bukan usulan dan tidak kami perlukan. Contohnya kami belum memiliki laboratorium IPA dan sarana yang memadai, tidak juga dibuatkan. Begitu dibuatkan keadaannya tidak mencerminkan bangunan itu untuk laboratorium, meskipun di gambar perencanaannya berbunyi untuk laboratorium IPA. Saya melihat sekali saja ini sudah tidak beres, dari segi ukuran dan ketersediaanya ruang untuk persiapan dan gudang penyimpanan bahan, gedung itu tidak beda dengan ruang belajar lainnya. Pihak sekolah sering tidak tahu menahu soal pendirian sebuah bangunan di sekolahnya, karena itu semua didapat langsung dari proyek propinsi atau apalah namanya.

Saya pikir andai para pimpinan di kementerian yang di dalamnya mengurusi pendidikan menerapakan pola ala Jokowi dan Ahok yakin kondisi pendidikan akan segera beranjak menjadi lebih baik. Memang tidak mudah mendapatkan sosok bersih, tegas, berani di lembaga pemerintahan, lebih-lebih jika latar belakangnya adalah pns (maaf). Bukankah pns itu pelayan masyarakat? Tapi iya sih saat dulu ikut diklat prajabatan saja sering kami ajukan pertanyaan ternyata pemateri sendiri sering “membolehkan” prilaku menyimpang, dengan alasan loyalitas dan lain-lain. Jadi wajar jika mental pemimpin di lingkungan pemerintahan remuk seperti itu kini.

Kita tunggu gebrakan gubernur DKI untuk perbaikan pendidikan sehingga menjadi teladan bagi gubernur lain, bahkan jadi teladan buat menteri yang menaungin pendidikan di negeri ini. Jika Jokowi dan Ahok berani bertindak tegas seperti dalam video di atas tentu karena latar belakangnya mereka orang yang bersih. Kalau pejabat kotor mana berani bertindak seperti mereka (Jokowi dan Ahok), yakin mereka akan manggut-manggut saja. Akhirnya potret kecil seperti di ataslah yang kita dapati.

Semoga pendidikan di negeri ini semakin membaik.

Wassalam

Urip Kalteng

About these ads

2 thoughts on “Pendidikan Maju Pesat jika Pola Kepemimpinan ala Jokowi dan Ahok

  1. kadang2 saya berpikir, pakbos, ini negara rusak. sudah susah diperbaiki kecuali kalau dihancurkan semuanya dahulu kemudian dibangun lagi dari awal. soal jokowi-ahok, saya pun agak pesimis kalo mereka bisa merombak jakarta seperti janji kampanye mereka. at least tidak dalam 1 periode kepemimpinan mereka. terlalu banyak kepentingan jahat di ibukota, soalnya :D

    • Memang iya begitu, tapi frontal pada perubahan memang akan banyak memakan korban, Soal Jokowi dan Ahok, yakin kalau ada indikasi baik, kepentingan jahat di ibukota akan bergetar juga. Mereka berdua kalau kinerja ok maka periode berikutnya pasti jadi lagi, mas dab joe. :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s