Naturalisasi Pelajaran di Sekolah

Alam ini adalah satu kesatuan yang tak bisa dipisah-pisahkan, dan alampun tidak akan pernah saling menegasikan satu sama lain. Manusia-lah yang ceroboh. Akhir-akhir ini sepertinya tidak ada lagi batas ruang antara ilmu yang satu dengan ilmu yang lain. Jika terbatasi maka kemanfaatannya menjadi berkurang. Saling melengkapi adalah kompromi untuk semua ilmu yang dipelajari manusia secara sadar. Anehnya dalam dunia pendidikan ilmu diajarkan dengan keterpisahan akibatnya banyak hal bermakna akhir hilang makna-nya.

Penggabungan ilmu-ilmu yang sebelumnya saling terlepas memang diperlukan upaya ekstra, kesiapan mental sang guru dan juga orang tua agar semua bersifat natural. Anehnya Indonesia baru menyadari hal itu belakangan ini. Meskipun demikian fokus tetap tidak boleh dihilangkan. Kadang niat bagus tidak kesampaian ketika penerjemahannya menjadi minimalis menghilangkan kenaturalan dalam pendidikan.

Mungkin karena telah tertanam lama bahwa ilmu itu terpisah maka banyak pihak yang tidak menyetujui penggabungan dengan alasan akan mendangkalkan apa yang akan dipelajari. Yang perlu dipertanyakan adalah kita belajar itu untuk apa, mau menjadi apa? Setiap jenjang pendidikan mestinya memang harus punya target bahwa jika menyelesaikan jenjang tertentu siswa dapat mengerjakan atau menjawab persoalan dalam kehidupan nyata, bukan hanya secara teori belaka.

Fakta yang terjadi adalah mengapa untuk lulusan jenjang tertentu banyak yang tidak dapat melakukan sesuatu sesuai jenjang pendidikannya? Contoh banyak sarjana dihasilkan oleh perguruan tinggi namun untuk memasuki dunia kerja mereka masih kikuk dan seolah tidak tahu apa yang harus ia kerjakan. Barangkali istilah link and match yang sempat mengemukai ketika mendikbud Wardiman Joyonegero itu perlu untuk diaktualisasikan. Siswa SD pun sudah ada target dapat melakukan sesuatu, sesuatu yang nyata nyata dalam kehidupan bukan sekedar teori saja.

Dengan dalih untuk mencapai keahlian tertentu akhirnya semakin tinggi jenjang pendidikan seseorang maka kemampuannya pun semakin sedikit. Hanya orang-orang cerdaslah yang bisa mengembangkan keahliannya untuk bisa memasuki relung kehidupan. Hiruk pikuk pembahasan kurikulum dengan harapan untuk memberikan pendidikan yang lebih baik sering terjadi sebatas di atas kertas, pemenuhan dokumen-dokumen yang pada akhirnya jadi onggokan untuk kepentingan  administrasi yang basi.

Jika di luar sono pendidikan level awal fokusnya adalah melakukan hal-hal sederhana, maka di negeri kita ini seolah gengsi “begitu saja kok diperhatikan”. Akibat dari kegengsian atau memang ketidaksadaran praktis kehidupan mereka seolah hidup di awang-awang tidak membumi. Suatu ketika ada pendidikan terkait “hanya” soal antri. Budaya antri terpakai selamanya kita hidup, hal antri ini jauh lebih penting dibanding pelajaran matematika atau sain yang dalam kehidupan sehari-hari siswa tidak paham penggunaannya. Bukan berarti matematik dan sains serta pelajaran lain tidak penting. Tapi fokus, skala prioritas nyata itu yang sering kita negasikan. Kita lebih suka terpaku pada angka-angka yang dari situ diklaim seorang siswa layak naik kelas atau lulus.

Contoh lain lagi, soal budaya membuang sampah pada tempatnya saja sampai jenjang perguruan tinggi masih banyak yang tidak lulus mestinya. Orang dewasa pun sering terbiasa buang sampah sembarangan. Aneh serasa memang. Bukankah ini tidak berdampak pada disiplin diri secara keseluruhan nantinya?

Tantangan luar biasa buat guru, masyarakat, orang tua untuk memberikan pendidikan yang bersifat natural. Natural yang memang benar-benar terpakai dalam kehidupan sehari-hari. Bukankah itu penting untuk mempersiapkan generasi yang sadar pendidikan membumi. Tanpa perlu acaman dan aturan ketat semua akan jadi indah dengan sendirinya jika pendidikan natural itu tercapai.

Tulisan ini adalah tulisan ngelantur jadi jangan dipercaya kebenarannya dan tidak pula perlu untuk dipikirkan.

Wassalam,
Urip Kalteng

About these ads

5 thoughts on “Naturalisasi Pelajaran di Sekolah

  1. Sungguh merupakan tantangan besar bagi semua elemen negeri ini, khususnya dalam elemen pendidikan untuk mewujudkan naturalisasi pengalaman belajar dan skill pribadi anak didik.
    Salam Guru pantura

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s