Log Pembelajar Kimia di Borneo

Memadukan Kimia, Pendidikan, Komputer, dan Opini dalam Blog

Arsip untuk ‘Guru’ Kategori

Hal Ihwal Guru

Mengapa Perlu Redistribusi Guru Segala?

Ditulis oleh Urip.WP.Com di/pada 31 Oktober 2009

Kemarin saya baca di Kompas.com, bahwa guru perlu di sebar kembali ke daerah-daerah yg benar-benar memerlukan guru. Suatu fakta bahwa memang tidak sedikit di wilayah perkotaan yang “enak” menumpuk guru-guru yg semestinya tidak perlu terjadi. Tidak terjadi kalau saja pihak berwenang tahu soal kebutuhan akan guru tertentu. Jika sudah demikian mereka akan berkomentar bahwa me-redistribusikan guru merupakan pekerjaan yg tidak mudah. Nyatanya juga guru-guru akan enggan karena sudah “mapan”. Inilah dampak kebijakan yang amburadul dalam sistem penempatan guru.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Guru, Mengajar, Pendidikan | 1 Komentar »

Serajin Apakah Para Guru Belajar?

Ditulis oleh Urip.WP.Com di/pada 26 Oktober 2009

Makian Diri

Siswa di sekolah selalu mendengarkan saran dari guru agar dirinya selalu belajar, rajin belajar, giat belajar, bersemangat belajar. So… apakah para guru itu juga rajin belajar, mencermati apa yg akan diajarkannya? Jika guru itu juga punya aktivitas belajar serajin yg ia sarankan kepada muridnya, maka guru akan menjadi pintar terkait penguasaan materi pengajarannya, menguasai teknik pengajarannya, membuat siswanya selalu tertarik dengan pelajaran yg dibawakannya. Namun apa yg terjadi di kebanyakan sekolah di negeri ini?

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Belajar, Guru, Mengajar, Pendidikan | Bertanda: , , , , | 5 Komentar »

Bagaimanakah Kinerja Pengajar di Sekolah Kita?

Ditulis oleh Urip.WP.Com di/pada 17 Oktober 2009

Lama tidak menulis di blog ini serasah jenuh. Sejenak ingin memanjakan diri untuk tidak ini itu (maunya santai).  Tiba-tiba saat baca-baca tulisan terbersit untuk menulis kembali. Entah apalah jadinya. Yang jelas tuts keyboard ini harus ditekan.

Sejak pertengahan Agustus aktifitas di sekolah mulai dijalani, meskipun banyak sekali kegiatan2 yg menyebabkan berkurangnya jam efektif dan sedikit banyak mengurangi greget untuk segera mengajar. Situasi gak mendukung…

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Guru, Mengajar, Pendidikan | 3 Komentar »

Lagi… Flash untuk Pengajaran Kimia dll

Ditulis oleh Urip.WP.Com di/pada 22 September 2009

Sedikit tutorial dari apa yg saya tahu. Dari berbagai website untuk dimanfaatkan dalam pengajaran kimia salah satunya adalah dari http://bio-alive.com/tutorials/chemistry.htm.

1. Download file swf dari tiap topik yg diperlukan. Cara termudah adalah dengan menggunakan browser mozilla firefox. Begitu link dari web tersebut terbuka dengan klik masing-masing link, pada menu firefox klik >> Tools >> pilih Page Info, pindahkan ke tabs “Media”, selanjutnya akan ditampilkan berbagai link file yg ada pada halaman web itu, klik link yg pada bagian akhirnya tertulis *.swf (inilah file flash yg dimaksud), >> Klik tombol Save As.. untuk mendownloadnya. Tunggu proses download hingga selesai (Ingatlah dimana file tersebut anda simpan… biar gak repot nyari nantinya).

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Belajar, Dari Google, Firefox, Guru, Mengajar, Pelajaran Kimia, Pendidikan, Pengajaran Kimia, Software, Tips - Trik | Bertanda: , , , , , , | 9 Komentar »

Kembali ke Kelas

Ditulis oleh Urip.WP.Com di/pada 2 September 2009

Dua tahun sudah meninggalkan kelas. Hari pertama masuk kelas dengan jam minimal 12 jam pelajaran (jp) tiap minggunya. Karena guru kimia di sekolah ada 3 orang maka pelajaran kimia dibagi untuk ketiga guru, termasuk saya sendiri yg kebagian mengajar Kimia kelas XII (gak srek makai sistem kelas ini, maunya menyebut kelas 3 aja). Karena kelas 3 IPA hanya sekelas maka praktis untuk kimia mengajar hanya 4 jp. Ditambah ‘bonus’ mengajar TIK kelas 1 sebanyak 4 kelas, tiap kelas 2 JP.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Belajar, Guru, Mengajar, Pendidikan | 7 Komentar »

Presiden, Mendiknas, dan Guru Ideal

Ditulis oleh Urip.WP.Com di/pada 8 Juli 2009

Sok tahu.

Tulisan ini adalah tanggapan saya atas diskusi ‘Mencari Profil Ideal Menteri Pendidikan Nasional’ yang digelar oleh Education Forum di Jakarta, Selasa (7/7), yg saya baca dari kompas.

Soal pendidikan… siapapun presidennya sepertinya akan jalan di tempat… Sebab penentu kebijakan pendidikan bukanlah mereka, tapi para pembantu-pembantunya yg mungkin sedikit yg secara benar ingin memajukan pendidikan di negeri ini.

Menurut saya sosok menteri yang ideal andai ada tetap saja kurang memberikan kebermaknaan dalam upaya memajukan pendidikan secara instan. Sebab para staf, kepala dinas pendidikan setempat pun akan memberikan pengaruh nyata akan keberhasilan pendidikan dan perubahan kearah yg lebih baik.

Setidaknya di daerah-daerah banyak juga (sepertinya sih) para kepala dinas yang menduduki jabatan itu karena alasan politis, karena lobi dan kedekatanya dengan kepala daerah. Akibatnya semua kebijakannya tidak menyentuh akar masalah pendidikan di wilayah-nya. Tidak sedikit di negeri ini posisi penting ditempati oleh orang yang bukan bidangnya, namun mereka itu selalu merasa sanggup. Selanjutnya kerunyaman soal pendidikan tak-kan pernah berakhir.

Andai sosok mendiknas ideal “ditemukan” maka perlu dibuat saluran khusus yang mampu menterjemahkan, meneruskan niat mendiknas itu sampai pada tataran nyata. Tentu saja para bawahan mendiknas itulah yg menjadi penentu. Soal pendidikan, lebih simpelnya soal persekolahan maka penentunya adalah GURU. Bukan mendiknas dan yg berkuasa di bawahnya.

Jadi sebagai praktisi penentu, pelaksana maju mundurnya pendidikan- ups… persekolahan adalah guru. Oleh karena itu diperlukan guru-guru ideal yang bisa memajukan persekolahan dan pendidikan. Siapapun menterinya jika guru-guru ideal (jikalau ada) tersebar di semua lini pendidikan maka tidak sulit seperti membalikkan telapak tangan untuk kemajuan pendidikan di negeri ini. BTW saya sebagai guru ternyata sangat jauh dari kriteria guru ideal (andai ada kriteria jelasnya).

Semua guru pasti tahu sampai kapan pendidikan di negeri ini maju dengan berkaca diri. Jadi keberhasilan pendidikan sudah dapat ditentukan sedari awal dengan melihat kemampuan si guru. Selama ini secara rutin di negeri ini selalu diadakan lomba guru prestasi atau sejenisnya. Mungkin mereka dengan prestasi dan dedikasinya dipandang ideal. Padahal kita tahu yg ideal itu tidak ada. Yang saya heran kok mereka mau di nobatkan sebagai guru semacam itu, padahal kalau mereka sadari sosoknya yah begitu-begitu saja. So panitia menaruh harap dengan dinobatkannya sebagai guru ber… akan memacu diri dan rekan lainnya. Ini adalah iming-iming yang kalau kita cerna ada niat yg kurang tulus (niat baik yg tercemari). Yah karena semua itu ada banyak alasan.

Plus minus selalu ada dalam setiap diri manusia, jika ada menteri ideal – guru ideal maka pasti perlu banyak faktor koreksinya. Seperti gas ideal dalam dunia kimia.

Ditulis dalam Guru, Pendidikan | Bertanda: , | 7 Komentar »

Abstrak Penelitian Simulasi Dinamika Molekuler Sc(I) dalam NH3

Ditulis oleh Urip.WP.Com di/pada 24 Juni 2009

SIMULASI DINAMIKA MOLEKULER
SKANDIUM(I) DI DALAM AMONIA CAIR DENGAN METODE
AB INITIO MEKANIKA KUANTUM/MEKANIKA MOLEKULER

U  R I P
07/261387/PPA/2384

Pembimbing: Dr.rer.nat. Ria Armunanto, Prof. Dr. Bambang Setiaji

Diujikan pada 23 Juni 2009 (14.30-16.30 WIB)

INTISARI

Studi sifat struktur ion Sc+ dalam amonia cair telah dilakukan dengan menggunakan simulasi dinamika molekuler (DM) dengan metode mekanika kuantum/mekanika molekuler (MK/MM). Kulit solvasi pertama dihitung dengan metode ab initio mekanika kuantum pada level Restricted Hartree–Fock (RHF) menggunakan basis set double-ζ valence plus double polarization (DZVP2) untuk Sc+ dan Dunning double-ζ plus polarization (DZP) untuk amonia. Solvasi di luar wilayah kulit pertama dihitung dengan metode mekanika molekuler. Struktur solvasi ion Sc+ dalam amonia cair dikarakterisasi menggunakan data RDF, CND, dan ADF yang diperoleh dari file trajektori.

Simulasi DM dengan metode ab initio MK/MM menunjukkan bahwa struktur solvasi kulit pertama Sc(I) dalam amonia cair telah dapat diamati, sedangkan solvasi kulit kedua berdasarkan puncak RDF Sc-N tidak terbentuk. Pada solvasi kulit pertama terjadi berbagai spesies kompleks Sc(NH3)n+ di mana n mulai dari 1 hingga 7 dengan occurrance paling tinggi adalah Sc(NH3)3+ (37,50%). Dengan banyaknya ragam spesies kompleks mengindikasikan bahwa solvasi kulit pertama bersifat fleksibel (tidak rigid) akibat terjadinya “structure breaking effect”.

Kata kunci: simulasi dinamika molekuler, skandium(I), amonia cair, ab initio MK/MM, solvasi

Spesial terimakasih kepada:

- Kedua pembimbingKU+penguji dan penguji (Prof Mudasir & Dr Eko Sri Kunarti)

- Rekan di lab komputasi AIC Jurusan Kimia UGM (P.Kasmui,  P.Ponco, P Yahmin, P. I Wayan Sutapa, Marsel, Mirta, Destin, Kang MasKUR) Ohya Pak Joko yg paling setia menemani dari kejauhan.

- Teman Sejawat S2 Jurusan Kimia 2007-2009 (kang Padi, kang Topik, dik Heri, Om Rohmat, kang Kukuh, daB Zamhari, saudara Sampe Logo, ustadz Basri, Kang Mas, Cak Kun, kang Har, kang Muklis, Abang I’amSorry, bu Dwi, mbak Tri-ni, yu Catur, nona Yeha, mbak Dina, bu Asih, yu Maryam Oka, Uni Ye’em, diajeng Utami, dik H-Anum tanpa an, pak… eh bu Misbah, bu Dar, bu Suseee, Yes…No…Sita dan Mas-Nely berwarni)…  Alhamdulillah.

-Semua anggota keluarga di Kotabaru serta anak dan istri yg mengijinkanku “belajar” lagi.

Ditulis dalam Belajar, Guru, Kimia, Kimia Komputasi, Komputer, Pendidikan | 8 Komentar »

Koordinat Aman+Nyaman

Ditulis oleh Urip.WP.Com di/pada 15 Juni 2009

Renungan diri.

Sadarkah kita dimana sekarang berada? Tahukah anda dimana letak anda dalam koordinat kartesian xyz itu atau koordinat polar sferis? Manusia normal dan kebanyakan adalah selalu berada di wilayah koordinat aman dan nyamannya masing-masing. Seperti saya. Sampai suatu ketika kita dipaksa untuk keluar dari koordinat atau zona aman yg nyaman itu. Ternyata kalau kita menyadari saat inilah kita bisa melihat sesuatu dari sisi dan sudut lain. Menyadarkan diri bahwa selama ini kita tidak sehebat yang kita kira… kita terkungkung dalam koordinat-koordinat individu.

Terilhami dari sebuah tulisan di blog rekan guru di pulomas. Lalu saya berkeca diri, pantas saja kita sebagai guru selalu merasa sudah cukup mapan dengan apa yg kita punyai. Seolah-olah dunia ilmu dalam genggaman ternyata itu palsu. Dinding pada bidang sekitar koordinat aman dan nyaman kita itulah penyebabnya. Jadi benar kondisi seperti inilah salah satu yg menyebabkan guru-guru bak katak dalam tempurung, seperti saya.

Bagaimana kondisi anda, rekan guru?! Semoga tidak seperti saya yg sering enggan keluar dari “koordinat”.

Mari kita buka diri untuk sesering mungkin keluar dari koordinat aman dan nyaman selama ini yang membuat kita sok cukup, sok hebat, di depan anak didik kita. Belajar dari banyak hal, membuka wawasan dan lebih banyak berbagi. Kita coba posisikan sejajar gelombang diri dengan gelombang anak didik, dengan gelombang pihak lain, kita turut menyelaminya untuk bisa membantu mereka dan diri untuk belajar dan menggali potensi anak, sembari menggali potensi diri kita yang selalu terkungkung tak beruntung.

Bila kita berpikir laksana seorang yg ahli di suatu bidang padahal kita sadar sedikit yg kita tahu, lebih sedikit lagi yg telah kita bagi untuk pihak lain, maka mandeg-lah diri kita untuk berkembang. Kasihan sekali diri kita.

Bangkitlah Guru Indonesia.

Terimakasih pak Agus Listiyono.

Ditulis dalam Belajar, Guru, Mengajar, Pendidikan | Bertanda: | 2 Komentar »

Penguman Hasil Seleksi S2 Guru dan Pegawai Depag 2009

Ditulis oleh Urip.WP.Com di/pada 5 Juni 2009

Setelah molor 10 hari dari jadwal semula (25 Mei) 5 Juni sore pengumuman itu dikeluarkan. Selamat untuk rekan guru yg telah berhasil. Bagi yang belum tahun depan semoga ada kesempatan.

Pengumuman lengkap ada di situs www.depag.go.id.

Atau bisa di unduh dari link yg saya kopikan ke blog ini. Silahkan klik kanan kemudian save as… atau save link as dari firefox

Ditulis dalam Beasiswa, Guru, Pendidikan | 14 Komentar »

Waspadai Peningkatan Kualifikasi Pendidikan Guru

Ditulis oleh Urip.WP.Com di/pada 5 Juni 2009

PPKHB (pengakuan pengalaman kerja dan hasil belajar) adalah salah satu (alternatif) upaya agar guru yang belum sarjana bisa sarjana secepatnya. Ini akan dijadikan alternatif agar Indonesia bisa mengejar target untuk meningkatkan kualifikasi pendidikan para guru. Pasalnya guru-guru yang belum berijazah S-1 itu sudah berpengalaman dalam kerja mengajar di kelas maka oleh pemerintah akan diakui yang mungkin dianggap ekuivalen dengan sejumlah SKS suatu mata kuliah. Bahkan kegiatan selevel KKG (kelompok kerja guru untuk guru SD/MI) dan MGMP (musyawarah guru mata pelajaran untuk guru SMP/MTs dan SMA/MA) juga dapat dipertimbangkan untuk dijadikan ekuivalensi sejumlah SKS dengan prosedur tertentu.

Bahkan ada istilah kemitraan antara perguruan tinggi (LPTK) dengan institusi terkait untuk “mempercepat” pensarjanaan guru-guru yang belum S-1. Kita semua berkewajiban mengawal agar niat mulia ini tetap terarah peningkatan kualifikasi pendidikan guru yang sesungguhnya, agar pendidikan tidak lagi dijadikan ajang pembenaran tindak kecurangan oleh oknum yg hanya ingin mengejar keuntungan sepihak. Untuk ini perlu dibentuk suatu lembaga independen untuk mengontrol tindak curang yg mungkin akan dilakukan oleh pihak yg ingin menghancurkan pendidikan di negeri ini dengan adanya program ini.

Jangan sampai dengan program semacam itu lalu dipakai cara instan “secara legal” ada LPTK menyelenggarakan kegiatan perkuliahan instan juga yg hanya beberapa kali pertemuan guru bisa S-1. Bahkan tugas akhir (skripsi) dibuatkan dosen dari LPTK dengan membayar sejumlah rupiah. Kita tahu banyak makanan instan tidak sehat. Maka demikian pula pendidikan instan tidak akan berdampak peningkatan mutu pendidikan  tepatnya peningkatan proses pembelajaran di kelas. Jadi mari kita semua ikut mengawasinya… (hehehe kok kurang kerjaan sih).

Semua itu adalah alternatif. Kalau guru ingin meningkatkan pendidikannya tentu bisa menempuh pendidikan resmi lewat universitas terbuka (UT). Yah walaupun UT sendiri masih ditemui kecurangan-kecurangan di beberapa daerah dalam pelaksanaan ujian. Ada perjokian. Memang pembuktiannya agak sulit. Pengawasan kurang ketat. Tapi nyata itu terjadi. Apalagi dengan program alternatif seperti yg akan digunakan untuk “pembenaran” penyetaraan PPKHB dengan sejumlah SKS suatu mata kuliah.

Mungkin yg baik adalah dengan mengirim guru untuk kuliah reguler dengan menyelesaikan beberapa SKS di LPTK yg ditunjuk. Konsekuensinya adalah guru meninggalkan tugas mengajarnya. Sulit memang. Ada usul? ajukan ke mendiknas yah.

Ditulis dalam Belajar, Guru, Mengajar, Pendidikan | Bertanda: , , , , | 10 Komentar »