Ada Apa dengan Sertifikasi Guru

Sertifikasi guru… “ada apa” dibalik semua itu, “untuk apa” sebenarnya itu. Jawaban miringnya adalah untuk membuka lahan konspirasi baru di dunia pendidikan guna memper-daya-i guru yg selama ini sudah tak berdaya. Pertentangan kesempatan untuk mengikuti uji sertifikasi adalah masalah awal yg mesti diantisipasi karena sertifikasi ini tidak dilakukan secara serempak, tetepi bertahap. Lagi-lagi senioritas-lah yg akan dijadikan pertimbangan. Senioritas berdasar masa kerja tentunya.

Sertifikasi merupakan penentu tingkat penghasilan seorang guru, maka ia-pun akan rela diperdayai oleh oknum2 yg terlibat dalam kegiatan pen-sertifi-kasian demi naiknya penghasilan bulanan-nya, seperti hal lain yang saya tulis sebelumnya. Nah lhooo…

Saya tidak tahu manakah yg lebih dulu dijadikan pertimbangan dilakukannya program sertifikasi ini. Apakah demi peningkatan kualitas guru dengan penyaringan tingkat keprofesionalan guru, atau karena akan ditingkatnya gaji guru cuma tidak mau dikasihkan begitu saja jadi mesti dilakukan ujian sertifikasi. Kalau seperti yg terakhir itu, maka sertifikasi merupakan sarana “sedikit mempersulit” dalam peningkatan kesejahteraan guru sehingga tidak boros pengeluaran negara. Bagus juga sih.

Banyak pihak yg sekepstis dengan dilakukannya sertifikasi tingkat keprofesionalan guru. Apalagi kalo tidak masalah sogok-menyogok demi selembar sertifikat yg sakti yang mampu meningkatkan pendapatan guru. Oleh karena itu banyak hal yg semestinya dipersiapkan baik hal bersifat teknis dan non teknis, termasuk kesiapan penguji dari sisi moral. Sebab sulit untuk mendapatkan orang yang bener2 bisa dipercaya.

Maka kitapun mesti sudah siap akan kecewa terhadap pelaksanaan sertifikasi guru ini. Sebab sudah demikian parahnya kegiatan2 yg sering memperdayai guru. Yah pendidikan memang mahal dan perlu banyak pengorbanan, hehehe tapi berdasarkan jumlah anggaran di APBN kok sepertinya pendidikan kita terlihat murahan-nya. Itupun pasti bocor ditengah perjalanan untuk menuju kualitas yg diidam-idamkan.

Piye-piye…

 

51 responses

  1. Tembakin aja Pak !! 😛

    A’a G, diam kamu! Saya sudah tahu kalau anda akan bilang “mulai lah dari diri sendiri.”

    *sorry numpang kesal*

  2. 😀 Yang bisa nembak itu hanya hati orang2 yg mungkin besok sudah akan mati, sehingga perlu segera bertobat itu pun kalo mau. Kalo tidak mungkin mereka itu merasa memiliki nyawa rangkap, sehingga tenang-tenang saja bah…

  3. APA GURU SWASTA JUGA LAYAK DISERTIFIKASI SEHINGGA PENGAHASILAN KAMI LAYAK UNTUK HIDUP SPT PNS KAMI JUGA SAMA2 MENDIDIK ANAK2 BANGSA

  4. @ Bambang P
    Tenang saja pak… kabarnya seuma guru baik negeri maupun swasta memperoleh khans yg sama, yg penting memenuhi syarat saja. Syarat lengkapnya saya sendiri belum tahu.

  5. BAGI GURU YANG TIDAK BERAKTA BERARTIKAH MENGIKUTI SERTIFIKASI CCNA?

  6. akhirnya … never stop ending 4 learning … mau dites atau tidak ga masalah … thx sir 4 listing my blog

  7. Iyah sih… tapi masalahnya ada sesuatu dibalik itu, makanya semua berharap ikut dites. Ok pak itu salah satu rangkaian jaring blog guru. bukan begitu?

  8. Pertama didirikan badan sertifikasi dan tempat pendidikan sertifikasi 40 sks yang isinya sama dengan kuliah kependidikan di IKIP,lalu setiap biaya yang masuk kebadan sertifikasi beberapa persen masuk ke kantong pribadi plus individu yang menggunakan perisai peningkatan kompetensi guru mencari keuntungan pribadi.Wah hal ini hanyalah suatu manuver kuno pak menteri tapi yang harus kamu tahu pak menteri siapa saja yang akan menjadi oposisi dan pengawas perjalanan proses ini?

  9. memang yg jd slh satu p’tmbngn kyny guru yg dah senior. klo mnrt sy lbh baik sertifikasi ini untuk para calon guru generasi skrg aja. kyny tanggung klo untuk yg senior mah……

  10. Percaya tidak, bahwa sertifikasi guru sama halnya dengan penetapan angka kredit, tunjangan fungsional, dll. yang menyangkut guru. Itu hanya memberi impian. Setelah guru mimpi, ia terbangun dan keadaannya tetap seperti semula. Keciaan deh.

  11. Buktinya sekarang aja sudah mulai berubah yang semestinya diatur dengan PP hanya diatur Permen saja. Lalu, ada jatah hanya untuk 20.000 guru atau 200.000 guru tahap pertama. Lha kenaikan gaji 15% saja berlaku untuk semua pegawai, masa untuk guru ada kuotanya. Coba kenaikan gaji untuk PNS diberi kuota 100.000 orang dulu dengan alasan dananya tidak mencukupi, pasti jutaan PNS akan mengamu. Lha pemerintah untung punya PNS yang guru. Saya jamin, tidak akan pernah protes dan demo.
    Akhiornya yang bisa ikut uji sertifikasi – apapun bentuknya – ya hanya kroni dan sekitarnya saja. Betul, nggakaaa?

    @ Betul sekali saya juga berpikir begitu. Seperti yang saya tulis bahwa itu adalah niat pemerintah tidak ikhlas… jadi pertimbangan sertifikasi itu apa, apa karena mau di kasih tunjangan lebih itu atau memang diniatkan lebih dulu sertifikasinya. Yang jelas tidak lebih dari sekedar proyek. masak tunjangan kok didasarkan ada sertifikasi atau tidak. Lihat saja langsung di tempat kerja baru putuskan layak apa gak layak.

  12. semoga menjadi lebih baik

  13. ada tidak sertifikasi…tetep semangat ya…apa aja deh yang terjadi…ok!!! malah nanti kalau disekolah jadi kecemburuan sosial yang sdah dan yang belum

  14. semoga semangat untuk memeajukan pendidikan dim Indonesia tidak hangat hangat tai ayam

  15. kita semua bertanggung jawab terhadap masa depan bangsa khususnya aset yang tak ternilai harganya yaitu the people so gimana caranya mereka nanti kalau sampai aset ini nggak ada yang mau beli.kasian deh lho.

  16. baru sempat saya buka2 situs ttg sertifikasi guru ini yang memang lagi hangat2nya dibahas….saya sbg mahasiswa UPI pun masih awam mengenai hal ini, yang sedikit saya pahami adalah bahwa memang Indonesia itu ternyata memang suka birokrasi yang panjang lebar jika ingin meraih sesuatu…kenapa gak kayak yang udah2 dengan pelatihan2, uji kompetensi dan cara2 efektif lainnya yang penting guru itu mendidik anak didiknya agar bertingkah laku baik, berwawasan luas, punya keterampilan dan bertakwa pada Allah swt…wallahu’alam dunia pendidikan kita seperti apa kalau standarnya saja sudah mengarah pada kapitalisasi dan liberalisasi……..kita yang menentukan itu semua lho!!!

  17. Saya seorang guru dan ga pernah takut dengan sertifikasi… saya bisa memandang sertifikasi sbg salah satu ajang tuk eksis… banyak guru yang ‘bagus dan berbakti’ yang perlu dihargai tdk hanya dengan kenaikan gaji tapi juga pengakuan formal, tdk saja dr siswanya tp dr publik… Kalo teman2 guru merasa kompeten dan telah bekerja dengan baik, mengapa mesti resah dengan sertifikasi? bagi teman2 yg belum siap dengan sertifikasi, bukankah kita juga digaji, berapapun besarnya, untuk bekerja dengan penuh tanggung jawab?dan kita ga akan jawab ketidakprofesionalan dengan sogok penguji..ga ada gunanya

  18. Semoga ajah seleksinya berkeadilan

  19. sertifikasi itu tujuannya baik, mari kita tanggapi sebagai langkah konkrit bagi eksistensi pendidik. kualitas bangsa dan negara dasarnya ditentukan oleh pendidikan manusia sebagai warga suatu negara, untuk itu mari kita tunjukan kita sebagai guru yang layak

  20. kenapa mesti ada sertifikasi ? klomau tahu apa seorang guru tu layak ngajar / tdk, ya lihar aja lsg caara kerjanya. toh penilaian p[ortofolio yg dijalankan sekarang ini sulit diketahui validitasnya dan hasil penilaiannya tidak bisa kita jadikan standar kualitas seorang uru. mestinya, sejak masuk LPTK, calon2 guru perlu dibina agar benar2 berkompeten

  21. Tugas saya hanya mengajar dengan iklas, perkara diberi pahala (upah) lebih atau tidak itu urusan yang “diatas”. terlepas saya berprestasi atau tidak asalkan niatnya lurus kemungkinan hati siswanya juga dibukakan pintu dan hikmahnya oleh tuhan. Pahlawan sejati tidak akan menerima pensiunan jadi veteran perang, yang menerima veteran perang adalah orang2 yang lari pontang-panting ketika perang lalu setelah perang usai dis mencari baju prajurit yang tewas kemudian memakainya dan pake minta bintang jasa sgala, anda pilih mana veteran perang yang kaya atau pahlawan perang yang miskin tapi punya martabat!

  22. Kalau aye sih terserah pemerintah ajadeh sertifikasi mau dpt atau nggak bukan masalah, memang bener spt yang pernah ane baca jangan suka berburuk sangka ama orang lain mau kollusi kek mau korupsi itu urusan dia-2 orang. Tapi yang udeh-2 banyak juga tuh oknum guru nyang kerjanya semau gue tapi giliran ada hal-2 yang menyangkut meningkatan kesejahteraan mereka berkata gue kan termasuk guru senior

  23. Sertifikasi guru adalah sertifikasi bo’ong2an. Saya adl slh 1 yg ikut membantu menyusun sertifikasi guru2. Guru2 yg sy bantu 98% tidak profesional bahkan tdk berkualitas krn byk aksi tipu menipu berkas utk mengejar poin 850. Dimana mutu pendidikan Indonesia klo bgitu? Guru lupa dg tugas mendidik tp mengejar keprofesionalannya & gajinya padahal otak mrk byk yg nol.

  24. tidak adanya juknis tentang penyusunan portofolio,banyak guru yang kelabakan dalam menyusun portofolio,juga banyaknya pengawas TK/SD yang tidak mengusai materi sertifikasi banyak para guru yang diombang-ambingkan didalam penyusunan portofolio,sehingga banyak juga guru mundur dari sertifikasi karena ke tidak tahuan untuk apa buat portofolio.Untuk mendapatkan 1x gaji pokok hanya cukup menunjukkan portofolio saja, ironis sekali,lalu bagaimana dengan teman – teman guru yang tidak lulus sertifikasi apakah akan di pensiun dini ? mau dikemanakan ?bagaimana dengan teman-teman kita yang ada dipedalaman kalimantan.papua yang pendidikannya belum S1 hanya lulusan D2 atau hanya SPG saja bagaimana pak menteri pendidikan

  25. Maaf …Melihat tulisan rekan2 guru di atas tampaknya banyak yang belum sepaham atau kurang sependapat dengan adanya program sertifikasi . Namun terlepas setuju atau tidak setuju dengan program tersebut alangkah baiknya jika kita “dari pada ribut atau bingung lebih baik kita menyiapkan diri” sehingga pada saatnya kita terpanggil untuk sertifikasi kita sudah siap. Kalau yang saya pelajari banyak tujuan mulia dari sertifikasi. Memang tidak mudah namun bagi guru yang kompeten itu bukan hal yang sulit untuk mencapainya . Terutama guru-guru yang profesional yang kreatif dan melakukan peningkatan mutu pembelajaran dikelasnya . Maaf sekali lagi maaf agar opininya berimbang saya tetap mendukung dengan harapan semoga guru semakin termotivasi untuk meningkatkan diri yang pada akhirnya dapat meningkatkan mutu pendidikan kita ! salam

  26. Tau ah gelap pusiiiiiing Mimpi kali yeee

  27. Mau jadi pejabat aja (DPR & menteri) nggak sesulit ini!!!!!!

  28. Hi, Teman guru sejawat yang ikut sertifikasi kuota 2007 (tahap II) hasilnya sudah ada di website sertifikasi guru. Ternyata hasilnya luar biasa, sebagai contoh di Rayon IX UNJ yang lulus hanya 600 orang dan yang harus mengikuti DPG (Diklat Profesi Guru) sebanyak 1100 orang dari peserta sebanyak 15308 orang (DKI Jakarta, Banten, Bogor, Depok)ini berarti yang lulus murni hanya 4% saja. Sedangkan jika dihitung dengan yang DPG hanya sebesat 11%. Sungguh ini kenyataan yang sangat memilukan. Apa interpretasi dari hasil ini berarti 96% guru diwilayah DKI Jakarta, Banten, Bogor, Depok tidak layak karena tidak lulus sertifikasi. Padahal notabene LPTK (penilai)itulah yang mencetaknya, tetapi LPTK itu sendiri yang menilai lulus atau tidaknya guru hasil cetakannya. Ini sebuah parodi yang sama sekali tidak lucu. Disisi lain interpretasi hasil penilaian ini, betapa susahnya nasib guru sekedar untuk mendapat tunjangan 1Xgaji pokok yang melalui penilaian portofolio dari mulai dia mengajar sd sekarang, dapat anda bayangkan ia (guru) tersebut harus mengumpulkan dokumen sertifikat penataran, diklat, RPP, pengurus RT, dan segala tetek bengek selama 20 tahun kebelakang. Selama +- 2 minggu siang malam ia (guru)menyusun dokumen tersebut demi perbaikan nasib tambahan 1Xgaji pokok tetapi harapan dan impian itu gagal total. Untuk itu para pejabat yang sudah hidup layak, sejahtera yang gaji mungkin 10 atau 20 kali lipat gaji bekas gurunya, Janganlah engkau permainkan nasib para guru di atas mula bumi ini.

  29. TANGGAPAN HASIL SERTIFIKASI GURU TAHAP II KUOTA 2007

    HI, TEMAN GURU SEJAWAT YANG IKUT SERTIFIKASI KUOTA 2007 (TAHAP II) HASILNYA SUDAH ADA DI WEBSITE SERTIFIKASI GURU. TERNYATA HASILNYA LUAR BIASA, SEBAGAI CONTOH DI RAYON IX UNJ YANG LULUS HANYA 600 ORANG DAN YANG HARUS MENGIKUTI DPG (DIKLAT PROFESI GURU) SEBANYAK 1100 ORANG DARI PESERTA SEBANYAK 15308 ORANG MELIPUTI DKI JAKARTA, BANTEN, BOGOR, DEPOK INI BERARTI YANG LULUS MURNI HANYA 4% SAJA. SEDANGKAN JIKA DIHITUNG DENGAN YANG DPG HANYA SEBESAT 11%. SUNGGUH INI KENYATAAN YANG SANGAT MEMILUKAN.
    APA INTERPRETASI DARI HASIL INI BERARTI 96% GURU DIWILAYAH DKI JAKARTA, BANTEN, BOGOR, DEPOK TIDAK LAYAK KARENA TIDAK LULUS SERTIFIKASI. PADAHAL NOTABENE LPTK (PENILAI)ITULAH YANG MENCETAKNYA, TETAPI LPTK ITU SENDIRI YANG MENILAI LULUS ATAU TIDAKNYA GURU HASIL CETAKANNYA. INI SEBUAH PARODI YANG SAMA SEKALI TIDAK LUCU.
    DISISI LAIN INTERPRETASI HASIL PENILAIAN INI, BETAPA SUSAHNYA NASIB GURU SEKEDAR UNTUK MENDAPAT TUNJANGAN 1XGAJI POKOK YANG HARUS MELALUI PENILAIAN PORTOFOLIO YANG MEMBERATKAN DARI MULAI DIA MENGAJAR SD SEKARANG, DAPAT ANDA BAYANGKAN IA (GURU) TERSEBUT HARUS MENGUMPULKAN DOKUMEN SERTIFIKAT PENATARAN, DIKLAT, RPP, PENGURUS RT, DAN SEGALA TETEK BENGEK SELAMA 20 TAHUN KEBELAKANG. SELAMA +- 2 MINGGU SIANG MALAM IA (GURU)HARUS MENYUSUN DOKUMEN TERSEBUT DEMI PERBAIKAN NASIB TAMBAHAN 1XGAJI POKOK TETAPI HARAPAN DAN IMPIAN ITU GAGAL TOTAL. UNTUK ITU PARA PEJABAT YANG SUDAH HIDUP LAYAK, SEJAHTERA YANG GAJINYA MUNGKIN 10 ATAU 20 KALI LIPAT GAJI BEKAS GURUNYA, JANGANLAH ENGKAU PERMAINKAN NASIB PARA GURU MELALUI KEBIJAKAN YANG TIDAK MANUSIAWI.

  30. Assalamualaikum?
    maaf nih sayah mau nanya tenatang hasil sertifikasi guru apa situs yang harus yang harus saya kunjungi yah makasih

  31. GUBIS (GURU BIASA)

    PERSETAN DENGAN SERTIFIKASI PEDUTLAH ITU

  32. GUBIS (GURU BIASA)

    PENGENNYA SIH…… MAU NAMBAHIN GAJI GURU.NAMUN APA DAYA,KEBANYAKAN NANTI ANGGARANNYA HABIS,GA BISA BUAT KOROPSI PEJABAT NEGARA TAUUUUUUU DULU KITA KERJA YA KERJA AJA KADANG2 YANG IKUT DIKLAT HANYA ORANG2 TERTENTU ALIAS KKN GITU LOH.JADI BANYAK GURU YANG NILAINYA KURANG.PADAHAL LIHAT AJA PRESTASI GURU ITU LANGSUNG.BIAR GA SUSAH,GITU AJA KOK REPO POT POT POT HE……HE….HE….. DALAM RANGKA HIBUR DIRI BANGGGGGGG.SETUJU GA ???????

  33. Saya setuju dengan pendapat Anda. Kriteria penilaian sertifikasi guru lagi-lagi senioritas dan anehnya prestasi kerja diurutan terakhir. Saya merasa kasihan dengan guru/tenaga pengajar yang berprestasi secara profesional dan akademik. Saya juga skeptis dengan sertifikasi guru dalam aspek keberlanjutan profesionalitas guru. Sudah menjadi rahasia umum bahwa jika sudah dapat mendapatkan sertifikasi, pengembangan profesi diri akan terhenti. Ini bisa dibukti bahwa banyak guru besar kita di Indonesia tapi tidak produktif dan mereka kebanyakan hanya mengajar sekadarnya dan jago kandang. Selain itu, ada berita terakhir di Jawa Timur ada beberapa guru besar yang melakukan plagiat karya tulis. Hal ini menunjukkan akademia kita masih belum jujur. Selain itu, kebanyakan LPTK di Indonesia hanya berorientasi pada uang dengan membuka program ekstensi/kelas sore tanpa memperhatikan mutu pembelajaran, dan hal ini akan menimbulkan praktek suap-menyuap di kalangan asesor LPTK. Asesor untuk sertifikasi guru saya yakin tidak semua memiliki kompetensi sebagai pendidik guru karena asesor sendiri lemah dalam hal tiga aspek: teaching, research, and public services. Saya sebagai dosen dan mengajar di beberapa LPTK, banyak dosen senior yang mungkin menjadi asesor mengajarnya tidak inovatif-banyak mahasiswa yang mengeluh, tidak pernah publikasi karya tulis/penelitian jika publikasi hanya tingkat lokal saja, menggunakan bukuteks yang tidak up-to-date, dan tidak pernah melakukan pengabdian pada masyarakat secara sebenarnya. Dengan asesor seperti itu, bagaimana sertifikasi guru nantinya? yang nilai atau yang mengajar sudah tidak profesional apalagi yang diajar!

  34. Handoyo Puji Widodo

    Saya setuju dengan pendapat Anda. Kriteria penilaian sertifikasi guru lagi-lagi senioritas dan anehnya prestasi kerja diurutan terakhir. Saya merasa kasihan dengan guru/tenaga pengajar yang berprestasi secara profesional dan akademik. Saya juga skeptis dengan sertifikasi guru dalam aspek keberlanjutan profesionalitas guru. Sudah menjadi rahasia umum bahwa jika sudah dapat mendapatkan sertifikasi, pengembangan profesi diri akan terhenti. Ini bisa dibukti bahwa banyak guru besar kita di Indonesia tapi tidak produktif dan mereka kebanyakan hanya mengajar sekadarnya dan jago kandang. Selain itu, ada berita terakhir di Jawa Timur ada beberapa guru besar yang melakukan plagiat karya tulis. Hal ini menunjukkan akademia kita masih belum jujur. Selain itu, kebanyakan LPTK di Indonesia hanya berorientasi pada uang dengan membuka program ekstensi/kelas sore tanpa memperhatikan mutu pembelajaran, dan hal ini akan menimbulkan praktek suap-menyuap di kalangan asesor LPTK. Asesor untuk sertifikasi guru saya yakin tidak semua memiliki kompetensi sebagai pendidik guru karena asesor sendiri lemah dalam hal tiga aspek: teaching, research, and public services. Saya sebagai dosen dan mengajar di beberapa LPTK, banyak dosen senior yang mungkin menjadi asesor mengajarnya tidak inovatif-banyak mahasiswa yang mengeluh, tidak pernah publikasi karya tulis/penelitian jika publikasi hanya tingkat lokal saja, menggunakan bukuteks yang tidak up-to-date, dan tidak pernah melakukan pengabdian pada masyarakat secara sebenarnya. Dengan asesor seperti itu, bagaimana sertifikasi guru nantinya? yang nilai atau yang mengajar sudah tidak profesional apalagi yang diajar!

  35. Ketika di dalam pikiran muncul pertanyaan, yang manakah yang didahulukan antara kualitas guru dengan sertifikasi guru ??? lho … saya jadi bingung … yaaa … dari pada linglung … saya serahkan aja kepada bapak/ibu yang yang memiliki kewenangan mengambil kebijakan. Bukan karena saya enggak punya daya juang n luntur kepahlawanan, Bukan… bukan karena itu. Tetapi saya sih berdasarkan pengamatan saya saja perjuangan wong cilik itu hanyalah ceritera di panggung sandiwara …..

  36. hanya ada satu kata: Sertifikasi guru itu tidak akan meningkatkan kualitas pendidikan kita. Kalau ndak percaya, lihat aja nanti. Kalau guru-guru udah lulus sertifikasi, lalu mendapat tunjangan satu kali gaji pokok, ngajarnya ya masih seperti itu itu. Galak, merasa pintar sendiri, ndak tahu keadaan murid, dan masih menggunakan cara-cara lama. Saya khawatir, pemerintah nyesel. Udah bayar dengan gaji besar, tetapi harapan untuk ningkatkan kualitas pendidikan gagal. Lebih baik, tingkatkan saja kesejahteraan guru. Lalu bina terus menerus secara intensif. Atau kalau harus sertifikasi, ya masa berlaku surat sertifikasi harus ada batasnya, misalnya 2 tahun atau 3 tahun. Kalau guru tidak dapat meningkatkan kinerjanya, sertifikat guru prof. harus dicabut. Gitu loh….

  37. Pa maaf situs untk mlihat daftar nama peserta lulus sertifikasi khususny rayon 9 apa?

  38. ADUUH. SAYA INI WONG CILIK … APA IYA UNGKAPAN NURANI WONG CILIK DIDENGAR DAN BENAR-BENAR DIRESPON OLEH SANG PENGUASA ATAUPUN YANG PUNYA KEWENANGAN …. EYANG SAYA PERNAH MEMBERI WEJANGAN… BAHWA URIP NING NDONYA IKU OJO NGANTI LALI OJO NGADEP WONG SING NDUWE PANGUWOSO LAN SING SUGIH MBREWU…ORA ONO ARTINE OPO-OPO… MALAH BISO DIANGGEP BOLOT SING ORA ONO AJINE… . YAAH NGENDIKANE EYANG SAYA AD BENARNYA… WONG SEKARANG SAYA MENGALAMI SENDIRI LHA WONG SAYA INI KHAN SALAH SEORANG PESERTA SELEKSI SERTIFIKASI 2006, NAMUN SAMPAI DI PENGHUJUNG TAHUN 2007 DAN BERAKHIRNYA DIKLAT GURU YANG BELUM LULUS SELEKSI SERTIFIKASI 2006 DAN 2007 TELAH BERAKHIR … NASIB DAN STATUS SAYA KOK NGGAK ADA JLUNTRUNGNYA… NGGAK JELAS… WALAH… WELEH BENER TENAN TO NGENDIKANE EYANGKU??? WONG CILIK IKI OPO ??? ORA DUWE DOYO … DIPIHAK YANG LEMAH…. YANG DISALAH-SALAHKAN DAN JADI BULAN-BULANAN…

  39. MBA TUTI OJO KESUSU NDO, LHA WONG AKU JUGA SAMA-SAMA WONG CILIK, SAMA-SAMA PESERTA SERTIFIKASI 2007 BOTEN WERUH HASILE, AMPE SEKARANG. AJA KESUSU NDO !!!!!!!!!!!!!!!!!!!

  40. RAYON IX UNJ EMANG BENER BENAR KELEWATAN, AMAT SANGAT MENGECEWAKAN ………………………..!!!!!!!!!!!

  41. mutu pendidikan bukan ditentukan oleh sertifikasi, melainkan tanggung jawab gelar yang melekat pada dirinya sebagai guru.

  42. sebagai org biasa,semua bergantung dari niat masing2 guru.kita para guru yg desa ga ambil pusing mslh sertifikasi.yg terpenting adalah mengajar dgn baik demi generasi yg cerdas dan labih baik.jika kita nantinya telah cukup matang untuk mendpt sertifikasi,just go 4 it!para guru yg lebih menilai guru sebagai profesi dan menuntut harga dr profesionalitasnya jg g bs dsalahkan.tp TOLONG KEPADA PARA GURU YANG INGIN DAN SEDANG BERUSAHA MENDAPATKAN SERTIFIKASI,JUJUR DALAM MEMPEROLEHNYA.TOLONG JGN BERI CONTOH YG TDK BAIK KPD MURID DAN GENERASI MUDA KITA.jika bukan kita yg memberi contoh baik,mereka akan semakin hancur.guru kencing berdiri,murid kencing berlari.Tuntutan ekonomi jgn dijadikan hambatan dalam memberikan pengajaran yg berkualitas guna memangun bangsa.

  43. Yang diharapkan Guru yang profesional dapat dihargai ternyata hasilnya guru yang punya asal ada koneksi juga dapat jatah.

    Pertama:
    Ini semua tidak lepas dari dosa LPTK penyelenggara yang ditargeti untuk memenuhi kuota, jadi asal tebang alas saja yang penting kuota terpenuhi. Padahal tidak seperti yang diharapkan.

    Kedua:
    Juga tidak lepas dari kurangnya persiapan dari penyelenggara sehingga tidak dapat melakukan seleksi yang benar. Sebagai contoh data yang pernah saya lihat di web sertifikasiguru ternyata masih ada nomor peserta yang double ironisnya yang satu Lulus satu lagi Tidak Lulus padahal nomor pesertanya sama???, ada lagi yang tidak punya nomor peserta tapi lulus. Padahal nomor peserta adalah identitas dari peserta itu sendiri. Kok bisa yah!!!

    Yah kita berdoa saja semoga para pelaksana mau melakukan tugas ini dengan ikhlas, tidak hanya sekedar mencari uang lebih di “MEGA PROYEK” ini.

  44. hallo semua guru yg ada di penjuru nusantara…..
    masih ingatkah dengan penetapan ANGKA KREDIT?
    masih ingatkah ANGKA KREDIT untuk apa?
    saya mau cerita sedikit deh….
    angka kredit adalah untuk menentukan jabatan guru,,”BUKAN UNTUK NAIK PANGKAT”.
    Seorang guru yang sudah ditetapkan angka kreditnya (PAK) berhak menduduki jabatan diatasnya dari jabatan sebelum menghitung angka kredit, bukan untuk naik pangkat , artinya guru akan naik pangkat dari pangkat sebelumnya setelah angka kredit terpenuhi dalam jabatan ditambah 10%.
    Dalam aturan buku “ANGKA KREDIT UNTUK JABATAN GURU” juga disebutkan bahwa jabatan guru adalah untuk menentukan tingkat profesional seorang guru…. kenapa mesti ada SERTIFIKASI????? toh didalam buku itu disebutkan tingkat keprofesionalan seorang guru ditentukan dari tingkat jabatannya.
    Kalau boleh saya menghimbau kepada pemerintah, apa tidak sebaiknya batalkan SERTIFIKASI dan salurkan dana yang untuk program serifikasi, alihkan dana tersebut untuk
    tunjangan funsional yang mana selama ini tunjangan fungsional dipukul rata dalam golongan, jadi tunjangan fungsional akan diterima sesuai dengan jabatannya.
    Himbauan ini saya sampaikan karena saya merasa kasihan kepada guru jang jabatannya maseh sangat rendah dan apabila sertifikasi tetap akan dilaksanakan kapan mereka² ini akan mendapatkan tunjangan fungsional yang layak.
    Saya koq jadi berfikirnya negatif, pemerintah itu gak tau aturan tentang angka kredit apa memang sedang membodohi guru. terus untuk apa jabatan guru? ada guru madya,madya TK I,dewasa, dewasa Tk I dst,,, itu kan tingkat keprofesionalan seorang guru, kembali lagi kenapa mesti ada SERTIFIKASI?, toh syaratnya adalah sama dengan penghitungan angka kredit.
    Yang lebih mengherankan lagi adalah kenapa UNY yang dulunya adalah lembaga pencetak guru (IKIP) koq ya ikut²an mendukung program yg tidak jelas ini,,,,,,, terus apa artinya selembar AKTA IV yang pernah diberikan lembaga ini?
    Mari semua guru dan pemerintah kita renungkan bersama, apa kita mau teruskan program yang belum jelas ini, apa kita benahi program yang sudah jalan (penghitungan angka kredit).
    Akhir kata semoga bapak TB Silalahi membaca uneg² dan cerita saya ini, karena beliaulah yang menggagas tentang keprofionalan seorang guru (ANGKA KREDIT UNTUK JABATAN GURU).
    Saya adalah seorang guru SMKN dijogjakarta.
    dengan masa kerja 22th pangkat/Golongan terakir IV/A
    email saya gendir_penjalin@yahoo.com

  45. hallo semua guru yg ada di penjuru nusantara…..
    masih ingatkah dengan penetapan ANGKA KREDIT?
    masih ingatkah ANGKA KREDIT untuk apa?
    saya mau cerita sedikit deh….
    angka kredit adalah untuk menentukan jabatan guru,,”BUKAN UNTUK NAIK PANGKAT”.
    Seorang guru yang sudah ditetapkan angka kreditnya (PAK) berhak menduduki jabatan diatasnya dari jabatan sebelum menghitung angka kredit, bukan untuk naik pangkat , artinya guru akan naik pangkat dari pangkat sebelumnya setelah angka kredit terpenuhi dalam jabatan ditambah 10%.
    Dalam aturan buku “ANGKA KREDIT UNTUK JABATAN GURU” juga disebutkan bahwa jabatan guru adalah untuk menentukan tingkat profesional seorang guru…. kenapa mesti ada SERTIFIKASI????? toh didalam buku itu disebutkan tingkat keprofesionalan seorang guru ditentukan dari tingkat jabatannya.
    Kalau boleh saya menghimbau kepada pemerintah, apa tidak sebaiknya batalkan SERTIFIKASI dan salurkan dana yang untuk program serifikasi, alihkan dana tersebut untuk
    tunjangan funsional yang mana selama ini tunjangan fungsional dipukul rata dalam golongan, jadi tunjangan fungsional akan diterima sesuai dengan jabatannya.
    Himbauan ini saya sampaikan karena saya merasa kasihan kepada guru jang jabatannya maseh sangat rendah dan apabila sertifikasi tetap akan dilaksanakan kapan mereka² ini akan mendapatkan tunjangan fungsional yang layak.
    Saya koq jadi berfikirnya negatif, pemerintah itu gak tau aturan tentang angka kredit apa memang sedang membodohi guru. terus untuk apa jabatan guru? ada guru madya,madya TK I,dewasa, dewasa Tk I dst,,, itu kan tingkat keprofesionalan seorang guru, kembali lagi kenapa mesti ada SERTIFIKASI?, toh syaratnya adalah sama dengan penghitungan angka kredit.
    Yang lebih mengherankan lagi adalah kenapa UNY yang dulunya adalah lembaga pencetak guru (IKIP) koq ya ikut²an mendukung program yg tidak jelas ini,,,,,,, terus apa artinya selembar AKTA IV yang pernah diberikan lembaga ini?
    Mari semua guru dan pemerintah kita renungkan bersama, apa kita mau teruskan program yang belum jelas ini, apa kita benahi program yang sudah jalan (penghitungan angka kredit).
    Akhir kata semoga bapak TB Silalahi membaca uneg² dan cerita saya ini, karena beliaulah yang menggagas tentang keprofesionalan seorang guru (ANGKA KREDIT UNTUK JABATAN GURU).

    Saya adalah seorang guru SMKN dijogjakarta.
    dengan masa kerja 22th pangkat/Golongan terakhir IV/A
    email saya: gendir_penjalin@yahoo.com

  46. hallo semua guru yg ada di penjuru nusantara…..
    masih ingatkah dengan penetapan ANGKA KREDIT?
    masih ingatkah ANGKA KREDIT untuk apa?
    saya mau cerita sedikit deh….
    angka kredit adalah untuk menentukan jabatan guru,,”BUKAN UNTUK NAIK PANGKAT”.
    Seorang guru yang sudah ditetapkan angka kreditnya (PAK) berhak menduduki jabatan diatasnya dari jabatan sebelum menghitung angka kredit, bukan untuk naik pangkat , artinya guru akan naik pangkat dari pangkat sebelumnya setelah angka kredit terpenuhi dalam jabatan ditambah 10%.
    Dalam aturan buku “ANGKA KREDIT UNTUK JABATAN GURU” juga disebutkan bahwa jabatan guru adalah untuk menentukan tingkat profesional seorang guru…. kenapa mesti ada SERTIFIKASI????? toh didalam buku itu disebutkan tingkat keprofesionalan seorang guru ditentukan dari tingkat jabatannya.
    Kalau boleh saya menghimbau kepada pemerintah, apa tidak sebaiknya batalkan SERTIFIKASI dan salurkan dana yang untuk program serifikasi, alihkan dana tersebut untuk
    tunjangan funsional yang mana selama ini tunjangan fungsional dipukul rata dalam golongan, jadi tunjangan fungsional akan diterima sesuai dengan jabatannya.
    Himbauan ini saya sampaikan karena saya merasa kasihan kepada guru jang jabatannya maseh sangat rendah dan apabila sertifikasi tetap akan dilaksanakan kapan mereka² ini akan mendapatkan tunjangan fungsional yang layak.
    Saya koq jadi berfikirnya negatif, pemerintah itu gak tau aturan tentang angka kredit apa memang sedang membodohi guru. terus untuk apa jabatan guru? ada guru madya,madya TK I,dewasa, dewasa Tk I dst,,, itu kan tingkat keprofesionalan seorang guru, kembali lagi kenapa mesti ada SERTIFIKASI?, toh syaratnya adalah sama dengan penghitungan angka kredit.
    Yang lebih mengherankan lagi adalah kenapa UNY yang dulunya adalah lembaga pencetak guru (IKIP) koq ya ikut²an mendukung program yg tidak jelas ini,,,,,,, terus apa artinya selembar AKTA IV yang pernah diberikan lembaga ini?
    Mari semua guru dan pemerintah kita renungkan bersama, apa kita mau teruskan program yang belum jelas ini, apa kita benahi program yang sudah jalan (penghitungan angka kredit).
    Akhir kata semoga bapak TB Silalahi membaca uneg² dan cerita saya ini, karena beliaulah yang menggagas tentang keprofesionalan seorang guru (ANGKA KREDIT UNTUK JABATAN GURU).

    Saya adalah seorang guru SMKN dijogjakarta.
    dengan masa kerja 22th pangkat/Golongan terakhir IV/A

    email saya: mbah_marijan56@yahoo.com

  47. iffah majene sulbar

    sertifikasi untuk peningkatan kualitas guru????apa mungkin bisa berkualitas kalau tidak didukung dengan sistem pendidikan yang mumpuni n setau saya sampai hari ini tidak ada sistem pendidikan yang betul2 bisa mengembangkan kualitas pengajar, anak didik sekaligus bisa memberikan kesejahteraan bagi mereka intinya Sistem pendidikan yang memajukan negara

  48. nyuwun sewu ..mohon maaf andai tanggapan saya bikin kening anda berkerut, karna yg akan saya unkapkan hanya pikiran saya aja.
    SERTIFIKASI MENURUT SAYA MEMANG BENAR MENINGKATKAN MUTU PENDIDIKAN TAPI HANYA MUTU PENDIDIKAN ANAK – ANAK DARI SEORANG GURU SAJA TIDAK UNTUK MASYARAKAT TANI ATAU PEDAGANG ATAUPUN ANAK DARI KARYAWAN SWASTA. KARENA JIKA SEORANG GURU LOLOS DALAM SERTIFIKASI SUDAH PASTI KESEJAHTERAAN KELUARGA SEDIKIT MENINGKAT DAN SUDAH PASTI SEGALA KEBUTUHAN PENDIDIKAN ANAK DARI SEORANG GURU AKAN TERPENUHI.

    JIKA PEMERINTAH BENAR-BENAR INGIN MENINGKATKAN KWALITAS PENDIDIKAN DI INDONESIA SEHARUSNYA YANG PERLU DILAKUKAN ADALAH MENYERAGAMKAN SEGALA FASILITAS DI SEMUA SEKOLAHAN BAIK DI KOTA MAUPUN DI DAERAH2, BAIK SEKOLAH NEGERI MAUPUN SEKOLAH SWASTA, KARENA KWALITAS PENDIDIKAN DI INDONESIA ITU BERAGAM DIKARENAKAN FAKTOR SARANA DAN PRASARA YANG BERAGAM PULA. JIKA KITA TENGOK SEKOLAH DI KOTA2 BESAR
    DAN KITA BANDINGKAN SEKOLAH2 YANG ADA DI DAERAH2 AKAN TERLIHAT JELAS SEKOLAH YANG BERFASILITAS AKAN MEMBANGUN PENDIDIKAN YANG BERKUALITAS. KEBIJAKAN SERTIFIKASI MENURUT SAYA HANYA MENGADOPSI NEGARA2 TETANGGA SEPERTI CHINA DAN SINGAPORA KARENA NEGARA KITA ADALAH NEGARA YANG LATAH. JELAS JAUH BERBEDA KE MAMPUAN NEGAR KITA DI BANDING NEGARA2 TERSEBUT. TETAPI ITULAH NEGARA KITA KEBIJAKAN SERTIFIKASI GURU SUDAH BERJALAN DAN MELOLOSKAN 2,7 JUTA GURU TETAPI HASIL YANG DIHARAPKAN BELOM TERASA UNTUK MENDONGKRAK MUTU KWALITAS PENDIDIKAN NEGARA KITA.

  49. Assalamu’alaikum wr wb,

    Melihat ributnya soal sertifikasi saat ini, saya menjadi senang tetapi sekaligus sedih karena tingkat keprofesionalan seorang guru ditentukan oleh sebuah kalimat ini, dimana kita harus melihat juga bahwa untuk mendapatkan status ini beberapa dari kita justru menunjukkan ketidak professionalan kita dengan mengikuti seminar yang terkadang hanya akal -akalan agar mendapatkan selembar atau bahkan berlembar sertifikat seminar untuk meningkatkan nilai / point kita agar dapat mempercepat proses sertifikasi itu, lalu bagaimana dengan yang tidak mengikuti seminar tetapi ia berusaha untuk berbuat yang terbaik bagi meningkatkan kemampuan dan keterampilan dari siswa yang diajar. Marilah kita merenung ketika beberapa tahun lalu berkumandang lagu pahlawan tanpa tanda jasa, tetapi sekarang kita berlomba untuk mendapatkan jasa dengan cara – cara yang bukan seperti seorang pahlawan tetapi justru tanpa sadar kita melakukan kecurangan – kecurangan hanya untuk mendapatkan peningkatan kehidupan dengan sedikit tunjangan yang entah kapan dapat diharapkan

  50. apa sih maksud sertifikasi untuk guru??????
    msih bingung!!!!!gak ngerti……………
    soalnya saya masih mahasiswa dan jurusan fkip.
    apa pentingnya untuk jadi seorang guru?
    bagi yang tau masalah ni, kirim komentarnya ke
    email: luph_2tik@yahoo.com

  51. sebagai guru swasta di jakarta saya merasa sertifikasi beserta kelengkapannya amatlah ribet dan berbelit….sebelum memberanikan diri mengambil pilhan sebagai guru…saya kuliah di sebuah universitas di jogja (USD) mengambil jurusan pendidikan akuntansi dan telah menjadi guru selama 10 tahun…dalam pikiran saya apakah hanya untuk menambah gaji ( 1 bulan) ….harus melewati langkah yang sedemikian rumitnya….sementara sejujurnya dengan mengajar yang benar, memahami murid, mendampingi murid dalam perkembangannya serta hal-hal yang dilakukan selama menjadi guru adalah sebuah proses menjadi guru yang profesional ??!!. Sungguh ironis pendidikan di negeri ini….selembar sertifikat membuat guru hilang batas nurani….memalsukan, membohongi dan aneka cara lain demi selembar sertifikat….!!
    sudahlah…silahkan kejar sertifikat….!! dan saya tetap akan menjalani profesi guru saya dengan sepenuh hati tanpa perlu dipusingkan dengan sertifikat….!! toh selama saya tetap menjadi guru yang menjaga nurani dan dedikasi….rejeki tak kan kemana-mana….huahaaaahaaa…..
    selamat berjuang dengan menjadi “pembohong” sejati untuk sebuah sertifikat…!!