Budaya Kerja Pegawai Negeri

Melihat pola kerja pegawai bank yang tidak pernah berhenti memberikan layanan kepada nasabah begitu semangatnya mereka. Suatu ketika saya menghayalkan andai saja pola kerja pegawai di kebanyakan instansi pemerintah juga berlaku sama dengan pegawai bank, mungkin Indonesia tidak perlu lagi banyak menerima pegawai yg sebenarnya tidak perlu.

Mengapa saya menyatakan hal itu? Sebab di kebanyakan kantor di sekitar lingkungan saya kerja, banyak sekali instansi yg pegawainya santai, ogah-ogahan tidak bekerja. Saya tidak tahu apakah instansi tersebut memang tidak ada aktifitas yg perlu. Kalau instansi tidak banyak yg perlu dikerjakan lebih baik dibubarakan saja. Mereka bahkan sering mengisi waktu luangnya sambil ngobrol, main catur main game dikomputer, main kartu remi atau domino.

Entah-lah mengapa para pimpinan seolah-olah tidak tahu menahu akan hal itu. Kalau boleh secara jujur mungkin sampai dengan saat ini sepantasnya diperlukan pemutusan hubungan kerja. Itu sangat-lah efektif, menyeleksi kembali pegawai-pegawai yg memiliki produktifitas tinggi dan berkemauan keras untuk benar-benar menjadi pelayan masyarakat. Dengan demikian Negara dipastikan tidak akan rugi untuk mengaji pegawai tersebut dengan gaji yg lebih memadai. Namun anehnya penerimaan pegawai setiap tahun tetep saja dilakukan padahal dari pegawai yg ada belum dapat dipekerjakan secara optimal. Jika hal ini dilakukan terus maka pemborosna atau pengeluaran yg semestinya tidak perlu akan terjadi yg pada akhirnya membebani Negara.

Menurut saya prilaku pegawai yg nyantai seperti itu, tidak lepas dari lemahnya kemampuan pimpinannya dalam mendelegasikan setiap pekerjakan kepada bawahannya. Sehingga banyak pegawai yg tidak tahu apa yang mesti ia kerjakan hari itu. Rendahnya manajemen dalam suatu instansi pemerintahan tidak lain disebabkan oleh jeleknya pimpinan selaku manajer. Banyak sekali pimpinan2 suatu instansi diisi oleh orang-orang yg tidak berkompeten pada masa otonomi daerah ini. Semua itu terjadi akibat arogansi otonomi daerah yang tidak dipahami dengan baik oleh pemegang kekuasaan di suatu daerah. Sehingga yang muncul adalah siapa yg dekat siapa, siapa yg bisa mendekati siapa atau bahkan siapa yg bisa menyuap siapa-lah yg bisa menduduki pimpinan instansi pemerintahan daerah itu.

Memang yang sangat diperlukan dalam memimpin suatu instansi itu kemampuan manajerial, tapi pernahkan mereka yg rata2 menduduki posisi pimpinan instansi itu diuji kelayakannya. Setahu saya belum pernah. Maka yg terjadi pemborosan dimana-mana, menggaji orang yg tidak layak digaji, pelayanan masyarakat tidak semakin baik, tetapi semakin memburuk, karena ketidakmampuan para pegawai menjalankan tugas yang semestinya diembannya. Seperti yg saya kemukakan di sebelumnya semua itu karena pimpinan yang tidak memahami tugas kedudukannya.

Bahkan beberapa waktu lalu dilakukan uji kemampuan berpikir yg dilakukan dibeberapa instansi di suatu daerah didapati bahwa kebanyakan pegawai (termasuk pimpinannya) terlambat berpikir alias telmi (duh kapan saya dites ya). Kalau hasilnya demikian pantas saja mereka tidak bisa bekerja secara efektif, lalu apa tindakan yg layak diberikan kepada mereka yg telmi itu? Dilema memang… mau dipecat pasti akan menimbulkan masalah, tidak dipecat menjadi sampah kantor.

Menurut saya perlu dilakukan perombakan besar2an dalam upaya meningkatakan kinerja pegawai negeri sipil itu sehingga bisa berjalan secara optimal, tidak lagi menggaji pegawai yg pengangguran.

Paparan di atas adalah potret kecil di lingkungan sekitar saya bekerja, bagaimana keadaannya di daerah lain?

6 responses

  1. saran saya untuk penerimaan pns adalah orang-orang yang memang ahli di bidangnya, mengapa saya katakan demikian? karena setahu saya departemen atau instansi pemerintahan tidak memikirkan pengalaman kerja dan keahlian para calon pegawainya tapi K K N yang disesuaikan. maksudnya begini, jika diperlukan pegawai untuk (katakanlah) fisioterapi di suatu departmen (bukan depkes) tapi pelamar dengan beking yang kuat adalah sarjana akuntansi, maka tetap saja sarjana akuntansi itu yang diterima (aneh!!) dengan cara formasi penerimaannya diubah, tadinya sarjana fisioterapi (kesehatan) menjadi akuntansi. hal ini bukan omong kosong karena terjadi di tempat saya bekerja. contoh lain adalah pengalaman kerja tidak dipertimbangkan, asal sudah sesuai kesarjanaannya ya sudah diterima padahal belum tentu bisa kerja. wong di tempat saya sarjana komputer kalah pengetahuannya mengenai komputer, malah lulusan smu yang awalnya tidak pernah pegang komputer malah lebih ahli, akhirnya si sarjana komputer malah cuma jadi kepala ruangan saja kerjanya cuma nyuruh-nyuruh, karena tidak mengerti perkomputeran. atau sarjana management, ditawarkan untuk ditempatkan mengelola koperasi tidak berani, karena tidak tahu cara mengelola/memanagemeni, akhirnya cuma jadi tukang ketik walaupun jabatannya bukan tukang ketik. tapi akhirnya membebani negara juga.

  2. yach saya pikir untuk mengatasi itu , yah buang saja orang-orang “yang gak baik & gak berkualitas “, jangan mengangkat cpns yang cuma bisa bengong dan bertampang bego aja, biarpun dia dari tenaga honorer yang masa kerjanya lama, jangan dilihat lama tidaknya, tapi lihat kualitas orangnya…masa lulusan smp juga diangkat jadi pns, klo gitu caranya mana bisa pns indonesia berkualitas baik…payah benar negara ini.

  3. memang pns di negara ini dapat dikatakan sangat minim kinerjanya,dapat kita lihat di kantor2 pemerintah banyak pegawai yang hanya ongkang2 kaki sementara pegawai lain sibuk sekali dan yang kedua ini presentasinya hanya sedikit.padahal jika dilogika pns kita ini adalah orang2 terbaik dari beribu orang yang mendaftar sebagai pns.mengapa orang tertarik menjadi pns??coba di survey pasti sedikit yang niatnya ikhlas ingin melayani masyarakat atau ingin membangun negeri ini.kebanyakan mereka hanya cari aman karena pns pintar bodoh gaji sama kerja tidak tetap dapat gaji n tuanya masih dapat pensiun pula belum lagi bermacam2 hak pns yang lain.tentunya ini semua perlu dibenahi..untuk itu kita harus memperhatikan faktor sbb:
    1. keteladanan pimpinan
    2. penegakan peraturan
    3. adanya reward dan punishment
    4. pembenahan proses penerimaan cpns
    5. berjalannya evaluasi dan pengawasan
    6. kurangnya iklim kompetensi
    seperti yang saya tulis di atas semua pns sama saja,mau pintar or bodoh, kerja or tidak tetap dapat gaji.jabatan pun yang sistemnya prestasi dan karier dimanfaatkan orang2 tertentu untuk memasukan oran2 yang “menguntungkan”.di sini perlu adanya patokan atau indikator yang jelas untuk menentukan jabatan pns.semacam duk tetapi tentunya dengan pembenahan lagi dimana di sini memasukan unsur prestasi kerja.ini secara tidak langsung sudah merupakan rewarddan punishment. di samping tentunya diperlukan inovasi2 dari pimpinan untuk reward dan punishment sehingga akan menimbulkan adanya iklim kompetensi.faktor yang sangat penting lagi adalah pengawasan.pengawasan harus dilaksanakan secara represif dan preventif,dari perencanaan penerimaan cpns pun harus dicari pengawas yang berkompeten dan pantas sehingga pejabat pelaksana penerimaan ini mikir beribu2 kali untuk ber kkn.kalo perlu sebelum pejabat pelaksana pnerimaan cpns dilantik mereka di audit dulu.kebiasaan merasa aman inisebenarnya yang perlu di hilangkan.sehingga harus selalu diberikan shock terapi bagi para pamong ini.

  4. mulailah dari diri sendiri sekarang juga. hanya satu untuk semua dan semua untuk satu, yaitu citra PNS harus menjadi etika moral,jika seandainya citra PNS itu selalu melekat, selalu mewarnai hidup PNS, dasar dalam menjalani hidup ini, InsyAllah akan terjadi perubahan yang luar biasa. Citra PNS :
    1. Percaya diri
    2. Rendah hati
    3. Sopan Santun
    4. Tanggung Jawab
    5. Disiplin
    6. Memiliki integritas moral
    7. memiliki etos kerja tinggi
    jika semua PNS mendasari citra PNS ini sebagai cermin pribadinya dalam mengisi dan berprilaku keseharian. akan terjadi perubahan. marilah kita bersama-sama berubah dan menerapkan citra PNS ini menjadi cerminan kita semua.
    amin
    dede s. soelaeman
    bda sukamandi subang

  5. sangat menarik bahasannya pak, semoga kedepan bisa lebih baik, saya terkadang ingin jadi PNS tapi melihat kerusakan sistem yang ada, daripada saya terjun tambah buat keadaan semakin parah… (terseret sistem) lebih baik jadi wirausaha aja deh, dapat sedikit asal halal…. mohon doanya pak sekarang saya punya 3 karyawan dari bisnis web design dan jasa hosting yang saya kelola silahkan kunjungi http://www.ahas.we.bs trims

  6. Di era krisis begini pns tetap jd idola.terlepas dr kinerja,sbnarnya di negara laen jg sama.swaktu saya di thailand sm malaysia pns-nya jg sama kyk di indonesia.bedanya jmlahnya di indonesia yg nakal klewat batas.tp apa mau dikata?yg g mau jd pns tuh cm anaknya aburizal bakrie.kalo nggak dalam hati jg bohong.pns gt loh..