Kesangsian Mutu Pendidikan dan PP Guru

Membaca berita dari Pikiran Rakyat, kemudian rekan EP di milis menulis sebagai berikut:

Mari kita tunggu terjadinya peningkatan mutu guru setelah sertifikasi dan pemberian tunjangan tunjangan profesi serta tunjangan fungsional. Ngomong-ngomong, apa indikator peningkatan mutu? Apakah dalam hal peningkatan jumlah jam kerja yang semakin mendekati jam kerja full-timer? Peningkatan Nilai Ujian Nasional(Tapi kan hanya tiga mata ujian)? Apa dong? Bukankah segala sesuatu kini harus dapat diukur kinerjanya? Selamat mencermati terjadinya peningkatan! (Sumber: Milis CFBE )

Wah jangan-jangan molor lagi…

Dan sependek yang saya tahu banyak pasal yg tadinya “agak berpihak” malah dihapuskan. Terutama terkait pemberian kesempatan guru untuk melanjutkan studi. Entah sampai di mana perkembangan berikutnya hingga detik ini… di internet sulit untuk menjumpainya.

BTW masalah sertifikasi, saya ada pertanyaan… manakah yg lebih dahulu di jadikan pertimbangan tentang diadakannya sertifikasi ini? Pertimbangan karena akan diberikannya tunjungan profesional guru kemudian diadakanlah sertfikasi ini, atau sertifikasi diadakan untuk meningkatkan kualitas pendidikan dahulu kemudian tunjangan guru ini ditingkatkan.

Menurut saya motivasi itu penting dan akan mempengaruhi hasil dari upaya yang sudah pasti menguras keuangan negara.

Bagi pemerintah pasti pertimbangan indikator adalah masalah jumlah guru yang telah di S-1 kan sebab itu yg paling gampang mengukurnya. Padahal sependek yg saya tahu juga bahwa guru2 yang telah lama mengajar kemudian dibiayai untuk S-1 itu tidak akan mengalami perubahan/peningkatan kualitas dalam kegiatan mengajarnya. Ini terbukti temen2 yg tadinya hanya D-3 kemudian setelah S-1 kerjanya biasa2 saja, prestasi siswa-nya tidak banyak perubahan. Karena motifnya mengejar sekedar berpendidikan S-1 saja maka hasilnya tidak sesuai dengan yg dikehendaki oleh pemerintah. Kesimpulannya …?

Kalau masalah peningkatan jam kerja… rasanya tidaklah mungkin karena yg PNS jam kerja-nya adalah seragam, hanya saja guru diwajibkan mengajar 24 jam seminggu menurut Permen Diknas No 22,23,24 tahun 2006. 24 Jam itu adalah waktu yg harus dilaksanakan guru untuk hadir di dalam kelas. Selebihnya adalah tugas-tugas persiapan mengajar, dan tugas2 evaluasi disamping tugas2 lain tentunya. Jadi mau berapa jam tugas seorang guru… Memang prakteknya banyak penyimpangan mungkin ini yang perlu diluruskan.

Yang bisa terlihat adalah meningkatnya prestasi siswa baik dilihat di atas kertas atau dilihat dari sisi lain. Tentu saja prestasi yg diatas kertas itu adalah nilai2 yg murni, bukan hasil manipulasi yg dilakukan secara berjamaah yang biasanya ini merupakan kegiatan untuk tujuan ABS, atau asal kedudukan pimpinan sekolah atau kepala dinas tidak goyah. Ukuran nilai itu mestinya tidak hanya 3 pelajaran seperti selama ini. Itu keblinger namanya.

Jika semua bisa berjalan sesuai dengan maksud profesionalisme guru yang sesungguhnya, maka pemvonisan kelulusan siswa harus diberikan kepada guru, tidak seperti selama ini juga.

Demikian kira-kira. Bagaimana…?

Iklan

8 responses

  1. Saya menyambut gembira adanya sertifikasi dengan maksud tujuan awalnya yakni persamaan visi para pengajar.. namun yang perlu diharapkan, apakah ini benar-benar atau hanya sekedar penghibur hati sementara saja. . karena arah bangsa ini ditentukan oleh pendidikan yang tidak mengandalkan kemampuan akademis tapi termasuk juga moral dan mental.

    BTW. add me please di Blogroll nya, soal sudah saya terima saya olah dulu, sebelumnya terima kasih

  2. Konon, program sertifikasi ini guru ini saat ini bermasalah. Konon, kemampuan LPMP (Lembaga Peningkatan Mutu Pendidikan-kalo gak salah) dalam mensertifikasi guru cuma sekitar 5.000 guru pertahun. Padahal, jatah anggaran dari Diknas untuk sertifikasi adalah 100.000 ribua pertahun. Dan usut punya usut, dua/tiga tahun belakangan, LPJ LPMP pertahun mencapai 20.000-50.000. Jika ini benar, ada kemungkinan 15.000-45.000 guru fiktiflah yang disertifikasi.

    Baca juga “Kurikulum Idiot” di blog saya.

  3. @ Syarwin
    Jawab singkatnya, kita lihat saja nanti….
    Ok udah di add om

    @ anick
    LPMP = Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan
    Yah pendidikan adalah obyek yg paling mudah untuk diperas susu manisnya seperti kambing-kambing yang sedang digembalakan (seperti image di header blog anick)

  4. hanya buat penghibur hati sang guru saja, tapi kalau benar alhamdulillah buat guru

  5. tujuan sertifikasi guru sangatlah mulia 1.untuk meningkatkan mutu penddidikan 2. untuk meningkatkan fropesional dan kesejahtraan guru, namun dilapangan ada sedikit penyimpangan terjadi persaingan yang tidak sehat guru berijasah PPKN dikirim untuk Worksop IPS sedangkan guru IPS sendiri dibiarkan/tidak dikirim, hal hal seperti ini membuat guru cemas, mengajar jadi tidak fokus, ini baru salah satu kasus mungkin banyak kasus yang lain menimpa guru. hal-hal seperti ini harus mendapat perhatian dari kalangan pengelola pendidikan sehingga tujuan sertifikasi guru yang sangat mulia bisa tercapai sesuai tujuan.
    terima kasih

  6. Program sertifikasi guru hanyalah program penglipur lara saja. Obyektifitasnya saya ragukan. Sistem portopolio bisa saja dimanipulasi.
    Namun positifnya guru sekarang berlomba-lomba meningkatkan mutunya. Guru yang beroleh sertifikas profesionla apakah akan berdampak bagi kerjanya yang profesional? Banyak lho siswa yang mengeluh gurunya terlambat, pekerjaan gak pernah dikoreksi lebih parahnya lagi gak mau kreatif buat soal ujian soalnya tinggal comot soal yang terdahulu. Piye Jal?

    btw. add me please at your blogroll ya. thank’s
    salam revolusi!!

  7. Pak Urip salam kenal dari saya goeroendeso di Banten, pak saya menundang bapak untuk mapir di blog saya di http://goeroendeso.wordpress.com
    Bapak bisa memberikan ulasan serta saran bagaimana baiknya mengelola blog, biar blog saya bisa bagus.
    Trims pak, salam juga buat keluarga

  8. Pak Urip, kalo bisa tolong blog saya di-link-kan di blog bapak, maturnembah nuwun.