Salah Satu Penghambat Majunya Pendidikan

Semua orang pasti ingin negerinya maju tidak tertinggal oleh negeri lain. Tapi ada beberapa glintir orang yg tidak menghendaki hal itu. Siapakah mereka?

  1. Guru yang tidak mau menambah wawasan, ilmu pengetahuan, serta tidak melaksanakan kewajibannya sebagai guru dengan benar.

  2. Kepala Sekolah yang tidak tahu langkah tepat untuk membuat perubahan kearah yang lebih baik akan sekolah yang di pimpinnya.

  3. Pengawas sekolah yang tidak tahu apa yang semestinya menjadi area kepengawasannya.

  4. Pengambil kebijakan di tingkat kodya/kabupaten, dalam hal ini adalah kepala dinas pendidikan/pengajaran dan kasubdin-nya. Mereka-meraka inilah yang biasanya selalu disibukkan dengan segala urusan proyek-proyek yang kebanyakan untuk mencari keuntungan pribadi. Selalu berbicara lantang tentang upaya peningkatan kualitas tetapi dibalik itu …saya dapat apa dengan ini. Kedok dan kedok…Padahal di level inilah sebenarnya penterjemahan kemauan dari level pusat tentang mau diapakan pendidikan ini.

  5. Pengambil kebijakan di tingkat propinsi dan sub-subnya. Tidak jauh beda dengan yg ada di urutan ke empat itu. Pada tingkatan ini cakupannya tentu lebih luas, bahkan kadang seringnya terjadi kesalahan dalam pemahaman kebijakan pendidikan adalah di tingkatan ini.

  6. Lembaga non struktural lain ditingkatan regional maupun propinsi. Misalnya PPPG (Pusat Pengembangan dan Penataran Guru), LPMP (Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan) yang merupakan lembaga yg secara langsung menyentuh upaya peningkatan kualitas diri guru. tetapi sepertinya “terkesan …ah proyek nih”. Penataran atau sosialisasi hampir tidak pernah di pantau sampai manakah hasilnya diimplementasikan oleh guru di kelas. “Terkesan Masa Bodoh”.

  7. Kementerian Pendidikan Nasional dan Dirjen (DirekturJenderal boook… bilang temen ANang… Itu salah kapra semestinya Direktur Umum) Semena-mena dalam pengambilan putusan untuk membawa pendidikan ke arah lebih baik, kurang adanya sense ketulusan, selalu bereksperimen dan berkesperimen terus dalam menentukan kebijakan pendidikan. Akibat ulah para proffesor yg dipercaya semua dijadikan kelinci percobaan. Yang sering terjadi kelinci percobaannya memanfaatkan kebijakan itu untuk mementingkan keuntungan pribadi.

Lalu kapan pendidikan Indonesia bisa lebih baik?

Iklan

7 responses

  1. Hmmm….

    1. Saya pernah dapat sebuah ungkapan ketika saya berada di Malang untuk mengikuti Ujian Asessor KKPI, beliau adalah seorang yang peduli pendidikan dan beliau berkata “Semakin seorang Guru tidak kompetensi maka semakin ‘Ngapusi’…” .. entah benar atau tidak namun beberapa kali saya bertemu hal seperti ini….

    2. Kadang-kadang Kepala Sekolah ingin Bekerja Sendiri tanpa melibatkan Bawahannya, mungkin ingin makan sendiri atau terlalu sibuk atau terlalu tertekan jadi Kepala Sekolah…. or more….

    3. Kadang-kadang yang jadi pengawas hanya tahu mendari salah tanpa memberikan solusi

    4. Pengambil kebijakan kadang-kadang bagi saya Sok Tahu, malu bertanya kepada bawahan… kapan majunya kalo malu bertanya…

    Mohon maaf jika ada yag kurang berkenan ini hanya pendapat pribadi saja…

    3.

  2. Jadi… kembali bertemu dengan orang-orang korup yang meletakkan kepentingan pribadi di atas segalanya.

    Solusinya kira-kira gimana ya?

    Jawaban pertanyaan ini, hampir pasti melibatkan tiga huruf menyebalkan 😛

  3. Dua lembaga yang dikenal (katanya) tingkat keserakahannya paling tinggi. Dua-duanya adalah kunci pencerahan bangsa. Yaitu Depdiknas dan Dept. Agama. Tentunya yang lain menjadi mitranya adalah penegakkan hukum. Karena kebutuhan akan proyek itu tinggi, maka bungkusnya harus indah, elegan dan penuh visi dan missi. Namun implementasinya akan begitu-begitu juga. Khusus untuk pendidikan formal saat ini. Apakah itu kurikulum 84, 94, lalu berbasiskan kompetensi, dan semakin suka-suka dengan perubahan-perubahan yang menjengkelkan dan tidak membumi. Begitu juga Katesiape (KTSP) tidak berada pada runtutan yang diharapkan. MBS, Komite Sekolah, dan apapun yang dimunculkan, sepanjang akal-akalan untuk memanifestasikan pengayaan pribadi, maka hasilnya sama saja. Integrasi pendidikan semakin jauh dari faktanya. Lebih parah lagi, ketika pengambil kebijakan pokok justru bukan berasal dari dunia pendidikan. Tujuan bagus, kalau diniati dengan tidak bagus maka… tahu sendirilah….

  4. Kita mungkin sepakat dengan pesan Fuad Hassan, mantan Mendikbud, bahwa “kita memerlukan perubahan, tapi perubahan untuk perbaikan, bukan perubahan untuk perubahan”.

    Perubahan yang terjadi dalam dunia pendidikan sangat diperlukan, jika memang dimaksudkan untuk perbaikan. Supaya tidak menjadi hanya semacam kelinci percobaan, maka perubahan itu harus dilakukan dengan studi mendalam, dan dengan pilot project duku, baru dilaksanakan di lapangan. Begitu teorinya. Maaf, ini teori, tapi kenyataannya, memang banyak kebijakan yang lahir tanpa melalui kajian akademis secara mendalam mendalam. Komisi Pembaharuan Pendidikan pada tahun 70-an dibentuk untuk itu, baru hasilnya diterapkan, seperti Proyek Perintis Sekolah Pembangunan (PPSP). Tapi sayang perubahan menteri sering menyebabkan perubahan kebijakan itu.

    Lalu apa yang dapat dilakukan oleh guru, ketika kondisi saat ini begini? Lagi-lagi teori menyatakan bahwa kunci mutu pendidikan ada di dalam kelas dan sekolah. Jadi kunci mutu pendidikan itu sebenarnya dikantongi oleh para guru. Mengajar dengan cinta, mengajar dengan kesungguhan, adalah kunci mutu pendidikan. Saya ingat guru SMP-ku dahulu. Menjelang ujian akhir, bersama murid-muridnya, para guru belajar bersama di rumah kepala sekolah untuk mempersiapkan ujian akhir sekolah. Waktu itu, saya sampai minum kopi dicampur telur ayam kampung. Akibatnya, saya tidak bisa tidur, dengan harapan bisa belajar secara optimal. Alhamdulillah, 99% siswa lulus. Padahal SMP Swasta. Sekarang??? Banyak guru yang kurang peduli untuk kegiatan seperti itu. Apalagi muridnya. Ada guru yang SMS jawaban soal kepada muridnya. Ada soal bocor, dan kasus-kasus lainnya. Kuncinya pada diri kita semua. Guru dan sekaligus muridnya, yang sedang belajar di dalam kelas. Orang menganalogikan kelas sebagai black box sesungguhnya. Seperti black box pesawat terbang. Jangan cari kambing hitam rendahnya mutu pendidikan, kotak hitamnya di tangan para guru.

    Memang, semua konponen saling tekait dan saling berpengaruh. Tapi komponen lain akan menaruh kepercayaan kepada para kita, para guru dan para siswanya, yang mau belajar dan belajar.

    Begitukah???? Wallahu alam bishawab.
    Suparlan

  5. >> Syarif Winata

    “Semakin seorang Guru tidak kompetens maka semakin ‘Ngapusi’”…. Setuju dan itu tidak salah.
    Kepala sekolah emang banyak yang tidak layak, gak ngerti manajemen sekolah, tapi mainan-nya kuat… demi susu-atu.
    Revolusi terhadap sistem pendidikan dan perlu uji kelayakan dengan penuh kejujuran untuk pejabat agar tidak seperti penjahat.

    >> Wadehel
    Yah bener 3 huruf itu emang masalah klasik untuk sekarang. KKN yah… Solusinya revolusi saja dah… jengkel.

    >> Agorsiloku
    Hehehe susahnya mbacanya… namanya
    Semua tahu persoalan tapi enggan menyelesaikan. Judek wis…

    >> Bapak Suparlan
    Sepertinya kita perlu membuat kebijakan permanen untuk pendidikan. Siapapun menterinya tidak gonta-ganti kebijakan. Setuju… dah dengan tulisan pak Suparlan ini.

  6. menurut saya anak mts negeri kudus
    beasiswa terhadap siswa yang berprestasi kurang diperhatikan padahal mereka adalah aset bangsa yang sangat berharga mereka tidak dapat motivasi tersendiri seperti bangsa-bangsa selain kita.

  7. Kayaknya terlalu ribet belibet tentang birokrasi sehingga pendidikan kita gak maju-2, maklum SDMnya juga gak ada yang bagus 😦