Angka Kepandaian

Dengan bangga orang tua bilang “Wah nilai anak saya bagus-bagus!!!”

Nilai yang dimaksud di sini adalah nilai dalam artian angka kepandaian (menurut KBBI).
Sebentar lagi wali murid akan mendapatkan laporan hasil belajar anaknya untuk tenggat 1 semester. Dalam buku raport akan terpampang nilai-nilai untuk setiap pelajaran.

Dengan rumus tertentu nilai-nilai itu didapat. Namun kebanyakan nilai itu tidaklah bisa dijadikan acuan untuk mengetahui kemampuan anak sesungguhnya. Dalam nilai itu masih sering dibumbui dengan hal-hal lain yg sifatnya sangat subyektif. Karena hasil olahan selama 1 semester itu maka kondisi anak terakhir tidaklah seperti yg diwakilkan nilai raport.

Kalau dulu jaman-nya Ebtanas kekontrasan antara NEM dan nilai rapot sangatlah mencolok, terutama untuk nilai2 siswa yg tinggal di wilayah tertentu. Hal ini terjadi karena guru tidak jujur dalam pemberian nilai. Alasannya mengapa itu dilakukan, salah satunya karena untuk menjaga citra diri. Rupanya hal serupa masih tetep terjadi hingga saat ini. Pembohongan di dunia pendidikan pun terjadi…

Oleh karena itu penilaian secara portofolio akan sangat bermakna (lebih jujur) dibandingkan hanya dengan sehalaman kertas yg berisi angka-angka. Dengan portofolio maka siapapun bisa menyimpulkan sendiri keadaan anak selama tenggang waktu tertentu. Faktanya karena penilaian portofolio dipandang ribet oleh kebanyakan guru, maka portofolio siswa tidak begitu diperhatikan, tetapi hanya diwakilkan oleh angka-angka.

Pekerjaan menilai bukan-lah hal mudah jika kita mau secara serius menanganinya. Sayangnya nyawa penilaian tidak banyak dikuasai oleh setiap guru (mungkin termasuk saya sendiri).

Rupanya sistem penilaian di kebanyakan wilayah masih perlu banyak di benahi. Sentuhan sistem penilaian tidak banyak diperhatikan. Padahal keputusan akhir tentang kelayakan lulus siswa disimpulkan dari nilai. Apakah karena hal ini lalu vonis kelulusan tidak mau lagi memandang nilai raport. Yang akhirnya berujung pengambilalihan hak guru kepada penguasa (melalui lembaganya).

Oleh karena itu tidak bisa ditunda lagi bahwa guru yg kurang memahami tentang sistem penilaian untuk lebih banyak belajar. Kebanyakan guru lebih sering merasa apa yg dilakukan sudah sesuai dengan aturan. Jika demikian, guru tidak lebih sebagai robot-robot dalam menjalankan sistem penilaian, tidak memahami makna penilaian yang sesungguh-nya.

Ah terlalu njlemit memang untuk bisa menguasai tentang penilaian, lantas bagaimana guru bertindak dalam pemberian nilai.

Iklan

3 responses

  1. angka dan nilai kan cuman diatas kertas… yang susah itu kan praktek ngelmunya kan kang? :p

  2. Iya, saya juga mengalami hal yang sama. Terutama kalau sedang berhubungan dengan bidang ilmu yang bukan eksakta.

    Maap, numpang cerita, numpang berbagi.
    Dulu, beberapa tahun yang lalu, saya jadi juri lomba disain. Namanya juga disain, penilaiannya bisa jadi amat subjektif sekali. Maka itu kami, tim juri, buat standarisasi. Diantaranya yang terbaru adalah tekhnik penguasaan software.
    Masalahnya, teknik penguasaan software itu sangat ambigu sekali. Kalau disainnya berkonsep minimalis gimana? Gimana kalau disainernya cuma doyan pakai warna solid? Kan ‘software jaman batu’ pun bisa digunakan sebagai tools kerjanya?
    Terus gimana dong dengan peserta yang punya keahlian tinggi di Photoshop misalnya? Atau skill plus dengan menguasai Maya atau 3DMax misalnya?
    Susah…

    Lebih gampang kalau yang eksakta. Penilaiannya jelas. Karena Aplet-aplet Java tidak bisa menganimasikan sebuah objek apabila scriptnya tidak lengkap. Karena selalu muncul pesan error apabila eksekusi JS 2.0/PHP/blabla lainnya, ada yang kurang/mismatch.

    —Pengalaman pribadi—
    Sebagai seorang guru, lebih susah memberi nilai, ketika orang tua siswa datang. Dengan alasan yang membuat mata memelas, memohon nilai kelulusan untuk anaknya.

  3. saya ini tipe orang yang tidak terlalu memperhatikan nilai. bagi saya yang penting adalah PROSES belajarnya, bukan nilai yang diraihnya. bukannya apa, kebetulan sebelum nyebrang lautan pun saya sempat ngajar. dan dari pengalaman saya sendiri, ngasih nilai itu nggak gampang. ketika kita coba obyektif sesuai aturan penilaian, hasilnya malah terlalu banyak murid yang nggak lulus. nurani nggak tega, akhirnya standar diturunkan. dan ternyata banyak pengajar yang memang melakukan hal yang sama. kadang mikir juga, mosok nasib si murid hanya ditentukan dari 2 jam ujian akhir, lha bagaimana proses belajar dia selama satu semester? apa nggak dihargai? Oiya, di benua kangguru pun, si dosen akan mempertimbangkan nilai tugas mingguan jika hasil ujian tidak terlau bagus. Artinya mereka lebih mempertimbangkan proses daripada ujian akhir 2 jam.