Mengajar dengan Kurikulum di Persimpangan

Selama ini bagi saya perubahan kurikulum tidak masalah, terutama untuk pelajaran Kimia SMA. Isinya tidak jauh berubah. Namun begitu KBK diterapkan saat kelas X, sangat mengejutkan. Karena materi-materi pendahuluan yang biasa diajarkan di kelas tersebut tidak ditemukan alias digeser ke pelajaran kimia SMP.

“Wah gimana nih materi kimia kelas X kok langsung masuk materi sistem periodik dan struktur atom. Kan waktu mereka smp belum dapat materi awal kimia yang biasanya didapat dikelas X”. Demikian ucap rekan saya yang akan mengajar di kelas X usai pembagian jam mengajar.

Memang untuk materi pendahuluan seperti apa kimia itu, perubahan materi, dan penggolongan materi tidak lagi diajarkan di kelas awal di SMA. Siswa dianggap sudah mengerti, karena dianggap sudah diajarkan di SMP. Padahal saat penerapan awal KBK di kelas X itu belum pernah menerima pelajaran kimia secara langsung pada saat SMP. Ini akibat dari penerapan kuirkulum di tengah jalan, walaupun di kelas awal SMA.

Akhirnya guru mesti menyisipkan materi-materi dasar itu atau kadang meluangkan waktu ekstra sebelum masuk materi kurikulum yg sebenarnya. Demikianlah kurikulum Indonesia yang pemberlakuannya asal terapkan saja.

Terlihat benar bahwa kurikulum pendidikan di Indonesia tidak berkesinambungan dalam pengaplikasiannya. Karena kurikulum itu di set dari SD sampai SMA maka penerapannya tidak bisa asal terapkan dilevel tengah, akibatnya guru dan siswa kelabakan. Jadi jika ada perubahan kurikulum semestinya tidak langsung diterapkan pada level sekolah SMP atau SMA. Tapi menunggu sampai prasyarat belajar itu terpenuhi di level sebelumnya. Ini pemikiran saya sebagai orang yang awam tentang teori kurikulum.

Untuk KTSP pun masalahnya akan sama, terutama untuk pelajaran TIK, karena beberapa pelajaran yg dipelajari dengan sistem KBK akan terjadi tumpang tindih bahasan. Seperti yang saya tulis sebelumnya. Ini jika penerapannya secara langsung tidak mengikuti kurikulum sebelumnya sampai tuntas (lulus kelas akhir).

12 responses

  1. Pa ‘panglima’, kimia sangat menarik tetapi begitu melihat materi yang muncul di benak guru adalah ‘ bagaimana teks atau pengetahuan itu aku transfer ke siswa…’ cuman masalahnya yang di kurikulum baru ini kok sudah terlalu lanjut berarti dasar yang di smp mereka belu dapat mau gak mau harus diberikan, dengan konsekuensi nambah jam. Tapi kalo saya amati kurikulum skrg, di buku ajar tertera kompetensi dasar dan itu bukan menitikberatkan pada content(isi) semata tetapi lebih kepada skill belajar… ‘how to know something’dan to me belajar adalah menemukan dari belun pernah tahu menjadi tahu… kalau mengulang apa yang sudah tahu jadinya itu drill kan?
    Guru sekarang punya kesempatan untuk mentransfer keahlian ter aktualnya dalam memahami iptek. Saya melihat negara lain sudah meninggalkan model juara-juaraan semacam olimpiade fisika, hanya anak2 genius aja yang dikirim. kenapa pelajar indonesia mesti harus menguasai ilmu tapi menghafal doang?Untuk uaN tok, padahal di bangku kuliah nanti yang ambil teknik dan mipa juga dapat kuliah kimia dasar dkk lagi, yang di fak ilmu sosial bahkan gak ada??Untuk apa content tadi?
    Saya lebih setuju dengan penyikapan thd kurikulum baru ini dengan penitikberatan pada skill siswa….menjadi percaya diri dalam berargumen, mampu sintesis analisis…
    maaf saya juga awam nih….

  2. pendapat yang bagus mas randri. saya pun setuju dengan anda.

    namun apa pendapat Pak Kalla nanti? Beliau mengatakan tidak ingin Indonesia “kalah nilai” dengan Malaysia dan Singapura ๐Ÿ˜€

  3. dasar pemerintah….
    selalu ada rantai yang putus…
    ujung-ujungnya guru yang peduli harus kerja keras…
    padahal kesejahteraan gak nambah-nambah….
    *dasar provokator*

    Helgeduelbek: Semua akan berjalan lancar kalau kata pemerintah diganti dengan pengatur dengan segala konsekwensinya. Kapan yah diganti?? Emmm…Nunggu Kang Kombor jadi Anggota DPR atau jadi Presiden.

  4. Kebijakan, oh kebijakan
    Korban dari lelakon para pelaku di atas sana, tak lain dan tak bukan adalah para pelaksana di lapangan yang tidak pernah didengar suaranya.
    Murid ? entahlah, saya ikut khawatir. Gimana pak ?

    Helgeduelebek: Yah paling mereka ngomong agar guru lebih kreatif dan pandai menyikapi perubahan… Kalau saya santai saja (gak ngoyo) Iseng2 agar murid aktif bertanya., meskipun mereka lebih banyak diamnya.

  5. seberapa sering sih kurikulum gonta-ganti? lalu bukunya juga ganti ya? Hmm, kalau dihitung-hitung berapa buku yang di ganti di seluruh Indonesia dari SD smp SMA. Lah siapa yang diuntungkan dengan ganti kurikulum?

    Helgeduelbek: ๐Ÿ™‚

  6. Kenapa nggak diajarkan aja cara menjawab soal-soal yang kira-kira akan di uji kan saat ulangan umum saja.
    Ngapain capek-capek ngajari mereka dengan elmu kimia dasar, kalo toh yang dinilai juga seberapa tinggi hasil ujiannya nanti.

    Itu menurut saya yang menilai belajar elmu-elmu dasar itu nggak ada gunanya. Emang mau dijadi-in ilmuwan apa itu anak-anak sekolah.

    Helgeduelbek: Prespektif orang yang tidak mendapatkan manfaatkan dari ilmu dasar yah ๐Ÿ˜€ Mungkin suruh belajar bahasa saja yah, kan ada yg bilang manusia itu makhluk (IPS) sosial bukan makhluk ipa. Jadi perlunya yah komunikasi yg utama, kedua baru yg lain.

  7. berpikir setengah-setengah, siswa yang jadi korban…. mau apapun namanya (CBSA, KBK, KTSP, bla-bla-bla…) semua itu cuma kemasan tanpa isi. kebijakan disusun tanpa pertimbangan.

    *fuihhh…capek marah-marah* ๐Ÿ™‚

  8. Iya, saya juga heran. Saya tidak pernah mengamati kurikulum sekolah dasar hingga sekolah lanjutan atas. Tapi mengamati beberapa kurikulum dasar untuk kampus. Yang ternyata tidak juga sejalan.
    Saya mengamati beberapa kurikulum dasar untuk ISI-Bali amat berbeda dengan ISI-Jogja. Padahal targetnya sama. Aneh, kalo targetnya sama, kenapa kurikulumnya beda?
    Bahkan ada satu jurusan di UNJ Jakarta yang kurikulumnya total berbeda dengan jurusan yang sama persis UPI Bandung.
    Saya pikir ini bukan masalah buku, melainkan kurang kompaknya pengaturan kurikulum dan penerapannya kepada publik.
    Walaupun tidak mengindahkan, bahwa tukang buku jadi lebih untung. Hehehe.

    Helgeduelbek: Kalau kurikulum kampus itu katanya memang otoritasnya sepenuh di kampus, makanya lulusannya juga meskipun sama tapi kekhususannya agak beda, semacam aliran-lah. Kalau masalah buku sih semestinya diberlakukan layaknya PT saja, jadi kurikulum berubah buku gak bisa berpengaruh. Kalau gaya seperti sekarang siswa jadi obyek pengusaha buku. Bukunya-pun sering menjemukan itu-itu saja. Payahnya guru terpaku pada suatu buku, tidak mau report.

  9. Hmmm….
    Kimia SMA, entah salah siapa, termasuk pelajaran yang tidak begitu menarik siswa. Aku jadi ingat waktu SMA dulu, ada dua guru kimia yang tipenya sangat berlainan. Ada Pak P, yang ngajarnya pasti tentang stoikiometri, kesetimbangan kimia, dan sebangsanya, sehingga tak pernah ada gambaran, makhluk apakah Kimia itu, selain rumus-rumus molekul, anak panah bolak-balik, rumus bangun dan sebangsanya. Tak tahu gunanya untuk apa. Di sisi lain, ada ibu H yang nggak pernah ngajarin stoikiometri, maunya di lab terus, nunjuk-nunjukin keajaiban kimia, bagaimana Na ditaruh di dalam air bisa terbakar, dll. Emang kita mau jadi tukang sulap apa?

    Kembali ke kurikulum: fundamental emang sangat perlu, terutama untuk anak SMA, cuma mungkin perlu di ukur kedalamannya, gak perlulah sampai ke teori-teori kuantum dan sebagainya. Terus, biar lebih menarik dan mennatang, aplikasinya juga harus diberikan. Jangan sampai seorang siswa lihai ngitung berapa mol O2 ditambah berapa mol CH4 jadi sekian mol CO2 dan sekian mol H2O, tetapi esensi reaksi oksidasi sendiri dia nggak tahu.

    Sekian komentar dari orang yang pernah nggak mudheng ilmu kimia, dan kesasar belajar di Teknik Kimia, hehehe…

    Eh, kang Petruk, kapan-kapan bikin buku kimia aplikatif untuk SMA po???

  10. Betul sekali pa, saya bingung dengan para pengembang kurikulum dan pembuat kebijakan. Membuat kurikulum kok seperti coba-coba ya. April 2005 lalu saya mengikuti pelatihan calon instruktur KBK. Materi tentang kurikulum disampaikan langsung oleh orang dari pusat kurikulum. Kami para peserta menerima hand-out yg judulnya KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI YG DISEMPURNAKAN. Di sudut kanan atas tertulis DRAFT 10 April 2005 (pelatihannya tingkat nasional, mulai 15 april 2005). Draft kan artinya belum jadi ya pak. Ketika kami tanya mengapa kurikulum yg belum jadi sudah disebarluaskan, alhamdulillah, penjelasannya sangat membingungkan dan tidak pasti. Akhirnya kami pun menyampaikan kepada pak kurikulum tersebut bahwa kami berkesimpulan KBK adalah Kurikulum Berbasis Kebingungan. Yg lebih bingung lagi karena kami juga harus menularkan Kebingungan itu kepada para guru di daerah masing-masing.

    Yang kedua, materi landasan kependidikan. Pematerinya seorang profesor dari sebuah Universitas Negeri.Kepada beliau saya bertanya apa yg harus dilakukan guru ketika teori dan kebijakan tidak nyambung, karena guru kan harus melaksanakan berbagai teori di bawah kebijakan pemerintah. Misalnya menerapkan sistem asessment KBK dg keadaan kelas yg sekarang kan sulit ya, apalagi kalau kita mengajar di banyak kelas. Nah…jawaban Pak Profesor sangat mengejutkan:”Bu, tugas kami di Universitas adalah mengembangkan landasan keilmuan, membuat kebijakan adalah tugas pemerintah, jangan dicampuradukkan.” Saya ternganga, enak betul jadi profesor, mengembangkan ilmu tanpa harus memikirkan aplikasinya. Walhasil saya pulang ke daerah dengan seribu kebingungan.

    Nah bulan Agustus-Oktober 2005 terpaksa saya menularkan kebingungan itu kepada lebih dari 100 guru di daerah. Eh, 2006 Kurikulum pun berubah lagi, tambah bingung saya???????

    Belum lagi kalo memikirkan besarnya biaya yang dikeluarkan untuk (mungkin) kesia-siaan?

    Helgeduelbek: UUD yah, kita dijadikan obyek penderita, sampai kapan yah?

  11. Ada satu hal yang dapat saya simpulkan bahwa Kurikulum kita itu berkesuaian dengan perasaan minder, kita ingin memperbaiki, terutama pejabat/penentu kurikulum dengan kurang mendengar aspirasi kejadian lapangan. Saya kenali KURIKULUM YG DISEMPURNAKAN itu selalu terjadi 2-3 tahun setelah Kurikulum disahkan bahkan kadang lebih cepat lagi. Seperti draft-draft Kurikulum yang berubah-ubah (KBK ada 4 versi yang beredar). Salah satu yang buruk, pernah terjadi saya kira Tahun 1968 (kurikulum nggak jadi diterapkan), dan Kurikulum muncul versi dirjen, versi pusat kurikulum. Penerjemahan di lapangan kerap berbeda. KBK juga begitu, bahkan KBK tidak pernah disahkan karena menterinya keburu ganti. Lalu muncul Kurikulum “Katesiape”. Tapi saya sadar, kalau Pemerintah tidak segera mengganti dengan Kurikulum Baru atau Yang Disempurnakan, tukar menukar pembahasan atau mundur ke SMP (seperti yang dihadapi di Kimia SMP). Penerapan Kurikulum ada yang langsung seluruh kelas, ada yang kelas 1,4, 7, 10 ada yang hanya 1,2, 5,6, 7,8, dan 10, 11. Semuanya sangat tergantung dari dana yang ingin diserap dan diobok-obok. Maklumlah anggaran pendidikan meningkat. Sayangkan kalau nggak kecipratan juga.
    Soal lapangan, itu soal kedua. Soal keluhan guru adalah soal ketiga. Soal kemampuan siswa, itu objek yang menarik untuk juga diobok-obok. Mungkin juga karena di situ, terlalu banyak orang pinternya dan gumiter pula…..

  12. seberapa sering sih kurikulum gonta-ganti? lalu bukunya juga ganti ya?
    Nih yang saya tahu ya, koreksi Oom Helge, kalo salah :
    1947 Rencana Pelajaran 1947, Kurikulum Nasional.
    1949 Rencana Pembangunan untuk Sementara 1949, Kurikulum Nasional
    1952 Recana Pengajarah Terurai Untuk 1952, Kurikulum Nasional dan Institusional.
    1964 Rencana Pelajaran 1964, Kurikulum Nasional dan Institusional.
    1968 Kurikulum 1968, Kurikulum Nasional, Institusional, dan Kurikuler Instruksional.
    1968 Kurikulum Kelas Pembangunan 1968 (tidak jadi diterapkan).
    1975 Kurikulum 1975, Kurikulum Nasional, Institusional, dan Kurikuler Instruksional.
    1984 Kurikulum 1984
    1994 Kurikulum 1994
    2004 Kurikulum 2004
    2006 Kurikulum 2006.
    Antara tahun kurikulum ke kurikulum berikutnya selalu ada perubahan, penyempurnaan, penyesuaian. Jadi selalu saja ada istilah penyempurnaan kurikulum. Biasanya 2 atau 3 tahun atau bisa lebih cepat lagi.
    Hal ini adalah biasa saja, jangan terlalu diseriusi. Yang membuat kurikulum itu manusia kok, banyak salahnya.
    Namun, secara keseluruhan pendekatan pengembangan kurikulum masih berbasis materi dan pengetahuan. Kurikulum 2006 (KTSP), pada dasarnya sama dengan 2004. Perbedaan terletak pada tidak adanya indikator. Indikator di Kurikulum 2006 harus disusun oleh guru dalam penyusunan silabus. Inilah juga yang ditawarkan Mas Urip, silabus KTSP dalam link-link beliau.

    lalu bukunya juga ganti ya?
    Pertanyaan ini menyangkut prinsip dasar, apakah ada perubahan metode mengajar, perubahan materi yang diajarkan, disain mengajar, dan metode/kegiatan belajar. Secara prinsip boleh jadi tidak perlu berganti buku. Tapi, fakta dan kebutuhan serta tuntutan perkembangan jelas membutuhkan pergantian buku. Kalau kita pakai Foxpro versi 1.0 dan bukunya Versi 1.0 juga itu sesuai, kalau foxpro versi 2.0 kita pakai, lalu bukunya versi 1.0 -> nyambung nggak. Kalau versi 1.01 ke 1.0 masih bolehlah.
    Begitu juga kurikulum, bicara soal harmonisasi antara mapel adalah hal yang rumit, pergantian bab/pasal dari perbedaan kelas kerumitan berikutnya. Dan banyak lagi deh. Saya bukan praktisi lapangan, tapi banyak kenal guru dan saudara-saudara yang jadi guru. Mereka bisa menceritakan kesusahan mereka (meski tidak usah berharap didengar pejabat terkait).

    Siapa yang diuntungkan kalau ganti Kurikulum?
    Wah, ini rahasia ya… tanya saja sama BNSP, Dirjen DikNas, Menteri, Proyek-proyek Kurikulum dan Perbukuan, Proyek-proyek pelatihan Kurikulum, Sosialisasi Kurikulum, dan segala atribut yang melekat dari padanya. Saya kira, semua diuntungkan, Ada yang diuntungkan banyak dan sangat banyak, ada yang sedikit, dan ada yang tidak mengerti untuk apa berubah-ubah. Dan ada juga yang diuntungkan secara negatip (dirugikan). Kearifan yang menjawabnya.