Mengajar/Belajar Kimia Tanpa Eksperimen

Di Indonesia belajar kimia tanpa praktikum kadang (atau sudah lazim) dilakukan . Lho bagaimana bisa? Kok kelihatannya hebat bener?! Padahal kata Chemistry jika dipenggal menjadi Chem-Is-Try, kimia tidak bisa dikatakan kimia jika tanpa eksperimen (Try). Bahkan ilmu kimia juga lahir dari eksperimen kemudian muncul-lah teori-teori kimia.

Di pelosok bahkan di perkotaan juga bisa terjadi bahwa belajar kimia tanpa eksperimen. Alasannya klasik, karena:

  1. tidak tersedianya laboratorium,
  2. tidak tersedianya alat-alat praktikum,
  3. tidak tersedianya bahan kimia yang diperlukan,
  4. tidak adanya guru kimia,
  5. guru kimia yang ada tidak mau membimbing praktikum.

Wah kok yah ada sekolah yang ada mata pelajarannya kimia tidak memiliki seperti list di atas itu? Siapa yang mesti bertanggung jawab sih kok ada sekolah SMA tanpa sarana pembelajaran yang diperlukan.

Untuk alasan 1,2,3,4, kalau itu sekolah negeri tanggung jawab ada pada departemen pendidikan, melalui dinas di daerah mengapa mendirikan sekolah tanpa fasilitas yang diperlukan. Bahkan sampai ada suatu sekolah yang sudah bertahun-tahun berdiri dan membuka program IPA tapi tidak memiliki sarana yang diperlukan. Kalau sekolah swasta saya tidak tahu, mestinya yah pemerintah juga.

Ketidaktersediaan laboratorium sebenarnya bisa diantisipasi untuk dilakukan demo di dalam kelas. Ketidaktersediaan alat-alat praktikum bisa dicarikan alternatif yang memingkinkan. Ketidaktersediaan bahan kimia bisa dicarikan alternatif juga. Meskipun ada beberapa praktikum yang tidak mungkin dicarikan alternatif pengganti alat dan bahan-nya.

Memang sepertinya pemerintah kadang terkesan kurang serius mengurusi persekolahan. Suatu ketika ada sekolah yang sudah dibangunkan lab tapi alat dan bahan tidak disediakan atau sebaliknya. Bahkan keadaan seperti itu sampai sekian tahun tidak ada perubahan. Yang lebih para sampai ada di suatu SMA tidak memiliki guru kimia bertahun-tahun. Ini seperti yang terjadi di sekolah saya dulu, kakak-kakak kelas sampai lulus SMA belum pernah melakukan praktikum padahal alat bahan tersedia. Beruntung saat saya kelas 3 sempat memanfaatkan laboratorium karena guru kimia telah ada.

Untuk yang terakhir, guru kimia yang ada tidak mau membimbing praktikum alasan guru tersebut macam-macam meskipun sarana ada. Saya kadang juga begitu.

Alasannya malas… masuk lab ribet, tidak ada hasil. Ini mungkin juga yang banyak dijadikan alasan oleh kebanyak guru kimia. Kalaupun ada yang komentar guru seperti itu guru tidak profesional, pasti guru itu akan balas ngomong “bodo’ah”. Jadi tergantung komitmen guru saja.

Pilihan jadi guru kimia bukanlah paksaan. Kondisi yang kurang kondusif-lah yang sering jadi kambing hitam. Penghargaan terhadap profesionalitas selama ini tidaklah pernah ada. Mungkin kuwatir terkotak-kotak antara guru eksak dan guru no eksak sehingga sistem “penggajian” semua guru sama. Ini bukan berarti guru kimia tidak mampu membimbing, sebab selama kuliah S-1 pengalaman dan pengetahauan tentang kelaboratoriuman meraka tahu persis.

Menurut pengalaman saya selama jadi siswa SMA selama 3 tahun, 2 tahun pelajaran diajar oleh guru bukan asli guru kimia dan 1 tahun terakhir diajar guru kimia, untuk mengikuti perkuliahan kimia ternyata tidak terlalu sulit untuk beradaptasi dengan laboratorium. Demikian pula teman kuliah saya yang belum pernah masuk laboratorium sama sekali selama SMA, adaptasi untuk laboratorium cukup 1 semester awal, selanjutnya lancar tidak ada masalah. Jadi di sini pembiasaan praktikum di lab tidak mesti bisa saat di SMA. Ini yang juga dialami oleh kakak kelas di SMA dulu yg tidak pernah mengenyam laboratorium kimia, ternyata sekarang mengajar kimia. Malah dia sadar akan pentingnya eksperimen untuk menguatkan konsep kimia.

Lalu apakah ini bisa disimpulkan bahwa belajar kimia di SMA tidak mesti masuk laboratorium, tanpa eksprimen?

16 responses

  1. justru kan kalo pelajaran kimia itu yang paling saya senengi ya pas masuk lab nya itu, enak dan menyenangkan bisa eksperimen dan praktik langsung. Daripada teori di kelas pastinya.

    sebenarnya sudah memadai juga fasilitas di beberapa sekolah, tinggal mau atau enggak memanfaatkannya 🙂

  2. dulu sma masuk lab kimia, buat ngecengin asisten lab yg kece itu….
    abis gurunya juga praktikum cuma formalitas doang…

  3. Jadi inget dulu waktu SMA pak, gara2 praktikum kimia muka saya jadi bruntusan. Saya lupa nama zatnya apa waktu itu, tapi yang jelas agak berbau asam (kecut). Tapi untung gak kenapa-kenapa 😀 (masih tetep ganteng).

    Oiya klo ditempet saya kerja (kebetulan di sekolah juga), kita kerja sama dengan lembaga sains, jadi anak-anak bereksperimen langsung dikelas masing-masing tanpa menggunakan lab.

    Saya sempat menyaksikan beberapa kali dan cukup asyik menyaksikan eksperimen yang disajikan.

    Helgeduelbek: Jika di daerah ada semacam itu yah bagus, tentu gak gratis yah? Siswa memang ada yg tertarik dengan kegiatan di lab, tapi sering tidak nyambung antara konsep dan apa yg dipraktekkan.

  4. Mungkin suatu saat, eksperimen hanya dilakukan di depan layar monitor :))

    Kecuali untuk eksperimen campur2 yang belum pernah dilakukan.

    Helgeduelbek: Bisa jadi suatu saat…

  5. Wah, beruntung saya bisa menikmati Lab Kimia yang memadai waktu SMA.
    Praktikumnya sore hari, 2 kali seminggu.
    Punya 2 guru kimia, yang satu dari FKIP Sby (kalau gak salah), namanya Pak Haryono, berkaca mata tebal. Atas bimbingan beliau, temen saya masuk ITB tanpa test, lantaran menjadi juara I Karya Tulis Nasional dan Juara III Dunia di Perancis. Judulnya lupa. (cerita jadul)
    Menurut saya, laboratorium harus ada, lha yang wajib membangun Pemerintah dong.

    Helgeduelbek: Selain laboratorium harus ada mestinya diberikan sistem penggajian yang proporsional yah terhadap guru yang mesti berkutat di Lab, agar bersemangat… *Dasar Mental Gaji* diunnnnng

  6. Iya dong, yang itu sih diknas sudah harus pengertian. Mana bisa siswa mau pinter cuman bondo ikhlas. Reward … reward. Maksudnya bukan reward piagam.
    Mustinya bapak bikin inovasi kayak gini ini sudah wajar di beri Laptop duocore. 😀

    Helgeduelbek: Inovasi yang mana yah? Laptop masih belum sanggup beli, lagian lah wong gak pernah kemana-mana. Kalau di kampng saya dikira Sok ngaya. Ha wong memang gak perlu. Tapi kalau ada yg mau ngasih… jelas gak nolak.

  7. Saya ingat dosen saya pas waktu saya kuliah dulu bilang gini..

    “Kalian itu bukan belajar sejarah Fisika, tetapi Fisika. Jadi ya harus sering masuk Lab. Eksperimen dan buktikan teori-teori yang sudah ada”

    Hehehehe..

  8. Waduh kalau praktikum di sekolah saya tidak ada yang nyiapin jadi harus nambah waktu di lab ngendon dan bikin boring.

  9. Ada guru Kimia yang qo’it gara gara kangker saluran pernafasan. Mugkin sang guru terlalu keseringan menghirup uanp HCl. Dan ini mungkin karena sistem keselamatan di lab yang kurang memadai.
    Yang ingin saya bilang adalah praktik itu penting, tetapi lebih penting lagi adalah keselamatan sang guru.
    Mengingat resiko yang demian besar maka sudah sepantasnya bagi guru kimia diberi insentif berupa tunjangan bahaya kecelakaan. Ini sangat penting kalau kita tidak ingin melihat guru guru kimia berguguran bgaikan daun yang jatuh dari pohon.

  10. wah….nyang namanya kimia yach enaknya pas waktu prakteknya itu. Dengan kita praktikum atau guru mendemonstrasikan percobaan, kita sebagai murid bisa mengerti, jelas dan paham dan yang pasti lebih “nyantol” diotak.
    Kalo cuma menerangkan tok, saya ga begitu paham. Dengan praktikum saya bisa memahami hal-hal yang sifatnya abstrak dan imajinasi. Pokoke..praktikum rasane “Ma-nyus”

  11. seharusnya kita sebagai guru kimia dapat menciptakan praktikum kimia secara sederhana dan tepat sasaran. memang ada lab tapi alat dan bahan tdk relevan juga mempersulit kegiatan praktikum. dan satu hal peranan seorang laboran sangat penting

  12. sebagai guru kimia yg skulnya lagi numpang krn kebakaran ,sy berusaha melakukan praktik dengan menggunakan bahan2 yg ada disekitar kita, sayang kan jika anak masuk ipa tp tdk praktik

  13. sebenarnya dalam ilmu kimia adalah salah satu ilmu yang menjelaskan fakta, jika seaandayai tidak lab maka kita dituntut uktuk kreatif dalam memberikan atau menunjukkan fakta yang ada, misalnya dengan menghubungkan dengan keadaan sehari-hari atau dengan melakukan demo di kelas dengan bahan yang tersedia di alam dan mudah didapat

  14. praktikum penting dilakukan agar siswa melihat faktanya, lebih memahami fakta yang terjadi(yang nantinya akan dibahas pada saat teori),dan yang paling penting adalah menumbuhkan rasa ingin tahu atas segala yang terjadi di sekitar kita. dan mampu mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. jadi biasanya, saya sebagai guru sebelum masuk ke materi, maka praktikum dulu. memang ke depannya kita sebagai guru harus mampu untuk praktikum dengan keterbatasan alat dan bahan (maksudnya adalah memanfaatkan bahan-bahan yang ada di sekitar kita)

  15. Melanita Hardiyati

    mau donk di kirimin tntng experimen kimia’a….
    Kok gx da sehhhh???

  16. kalo praktikumnya ada zatnya itu agak mudah dilakukan, tapi kalo pas membahas hal-hal yang abstrak itu sulit dilakukan. misalnya mengenai orbital atom, ikatan kimia, elektron, dan macem-macem yang zat nya kecil banget. Gimana ya cara prakteknya ??