EWA Sang Provokator Menulis

Untuk rekan guru dan juga kita yang kurang memiliki motivasi untuk menulis.

Saya secara resmi mengajar jadi guru kimia hampir 10 tahun. Dominasi kegiatan saya mengajar adalah memberikan penjelasan lewat mulut. Demikian juga kebanyakan rekan seprofesi dengan saya. Biasanya penjelasan dibantu dengan tulisan-tulisan dipapan tulis. Lebih-lebih pelajaran kimia yang tidak cukup diajarkan secara lisan saja. Selama ini kegiatan menulis sangat jarang saya lakukan kecuali beberapa kali menulis di koran lokal dulu. Itupun saya lakukan dengan niat yang 100% ikhlas, sehingga tidak berbekas.

Sejak kuliah menulis rasanya merupakan kegiatan yang sangat sulit bagi saya, lain halnya kegiatan membaca. Tetapi karena tugas akhir yang mengharuskan menulis akhirnya itu saya lakoni. Kalau tidak bakal gak kelar-kelar kuliah bisa menghabisi ongkos. Pada saat menulis skripsi semua saya rasakan bahwa menulis itu tidak sesulit yang saya bayangkan sebelumnya. Saya menyesal kenapa hobi menulis tidak muncul sejak awal. Pernah saat SMP dulu jadi juara mengarang tingkat sekolah. Dan sebatas itu tidak ada kelanjutannya.

Sekarang apa sudah sering menulis? Belum juga, baru dimulai…. sejak bisa ngeblog di wordpress.com. Pada saat awal yah nulis itu asal saja. Tapi saat ketemu tulisan yang membuat saya bersemangat karena termotivasi atau bahkan terprofokasi untuk selalu menulis. Tidak lain adalah tulisannya Ersis W.A. alias EWA (dosen Unlam Banjarmasin). Semula saya kira ia tidak lagi aktif menulis di weblognya, eee ternyata dugaan saya salah. Ia sekarang banyak “peliharaan” seperti yang dituliskan pada komentarnya saat mampir di blog ini.

Buku-buku seri menulis banyak sekali kita jumpai di toko-toko buku, yang tentu saja tidak gratis. Kita bisa membacanya di perpustakaan. Dari kebanyakan buku tentang menulis yang pernah saya baca kebanyakan adalah bahasan secara teknis. Demikian pula artikel-artikel di internet. Atau itu karena saya kurang banyak membaca saja. Tapi menurut EWA yang layak disebut sebagai seorang provokator agar orang menulis, yang diperlukan adalah hanya mengisi otak dengan berbagai bacaan dan mengolahnya dalam otak, selanjutnya meramu kembali jika diperlukan dalam bentuk tulisan.

Selama ini memang banyak belenggu untuk menulis di antaranya adalah kebiasaan saat sekolah dan adanya polisi EYD. Tapi kalau sekedar menulis di blog belunggu itu kita bisa hancurkan. Lebih lanjut tentang belenggu menulis kita bisa baca tulisannya di sini. Tidak ada alasan bahwa kita tidak bisa menulis, yang ada karena kita tidak mau saja, kurang bisa memanfaatkan otak untuk menulis. Ini adalah hasil pencernaan saya dari tulisan bang EWA itu.

Seperti yang ia tawarkan di komentarnya itu bahwa ia telah menerbitkan buku “Menulis Sangat Mudah”, ternyata ia telah menuangkannya di blog secara lengkap meskipun dipenggal untuk tiap sub bab. Saya sendiri sudah mendonwloadnya lengkap 5 bab. Jika kita belum terbiasa menulis saya sarankan membacanya. Maka kita pun akan menjumpai banyak motivasi, apalagi gaya penulisannya memang yang bener-bener provokatif dan mengalir. Kalau ia bermaksud hanya untuk memotivasi, tapi menurut saya itu lebih dari memotivasi tetapi memprovokasi, tapi yang ini memiliki arti provokasi positif.

Jika anda ingin diprovokasi untuk menulis silahkan mengunjungi weblog EWA. Semoga beliau tidak menghapus tulisannya meskipun buku tentang “Menulis Sangat Mudah” telah terbit, karena dengan tidak menghapusnya maka akan semakin banyak manusia yang tadinya “malas menulis” menjadi lebih aktif dan kreatif. Saran ini saya sampaikan karena banyak kalangan yang tidak mampu membelinya, selain karena tidak memiliki dana (atau karena memang tidak niat saja) juga sulitnya mendapati buku semacam itu di daerah-daerah tertentu, terutama di wilayah seperti saya. Kadang ada uang tapi yang dimaui untuk dibeli tidak tersedia, sehingga mesti memesan jauh-jauh.

Sekali lagi marilah kita selalu memotivasi diri untuk menuangkan hanya beberapa hasil olah otak ke dalam sebuah tulisan. Semoga tulisan kita bisa saling memberi manfaat untuk kebaikan.

Atau anda memiliki referensi lain yang bisa kita baca secara gratis di dunia maya ini?

14 responses

  1. Masih susah pak, bagi saya untuk menulis dengan bahasa yang mudah dimengerti. Saya melihat dari beberapa blog, priyadi, enda, herman saksono. Bahasa yang mereka gunakan bener-bener keren (jadi ngiri). Kadang suka PRUSTASI deh…..

  2. Satu lagi provokasi yang dari pak guru .. terimakasih pak .

  3. Semakin banyak yang saya baca, maka semakin banyak yang ingin saya tulis. Seolah-2 di kelapa ini banyak sekali yang mau di tumpahkan. Seperti yang pernah mas urip tulis di blog ini, bahwa menulis itu (maaf) seperti berak. Semakin banyak yang kita makan maka semakin banyak yang ingin kita keluarkan.

    Tapi saya tdk pernah merasa prustasi seperti yang bung mico rasakan.
    Saya cuek aja, terserah orang menilai. Yang penting saya jalan terus dan menulis terus di blog.

  4. menulis = tumpahkan apa yg pernah kita baca

  5. Yang sulit awalnya Pak. Setelah mulai ternyata uenak tenan. Kadang ngedit juga pekerjaan yang lebih sulit daripada nulis itu sendiri, maksud saya ngedit tulisan sendiri. Yang paling gampang ngoreksi dan menyalahkan. hehehe

    Helgeduelbek: Ini analogi juga dengan kegiatan BAB, kalau belum waktunya kadang menunggu lama sekali padahal sebenarnya sudah ngebet sebelumnya.

  6. Pak Guru rajin sekali berbagi pengalaman, saya jadi iri.
    Btw, ini provokasi yang sangat bermanfaat.
    Thanks

    Helgeduelbek: ๐Ÿ˜€ sama-sama pak dokter. Saya ini bukannya rajin pak, cuman kurang kerjaan dan ada kesempatan saja, memanfaatkan fasilitas sekolah yg sudah dibayar mahal tiap bulannya. Seandainya harus bayar sendiri gak bakalan bisa ngeblog.

  7. Referensi lain yang gratis? Baca saya blog saya……he he he he

    Helgeduelbek: Bener juga ๐Ÿ™‚

  8. wah… ada tukang provokator ๐Ÿ˜›

    saya juga pernah provokator-in temen2 untuk ngeblog.. salah satunya dengan membuat planet EL02 supaya temen2 lainnya terpacu untuk ikutan ngeblog. Walaupun kita sudah pada pisah dan beda tempat.. tapi masih bisa tetep ‘komunikasi’ lewat blog masing-masing..

    kayaknya seru juga tuh Klo Pak Guru punya planet Guru ๐Ÿ˜€

    Helgeduelbek: Masih belum, paham konsepnya gimana sih? Apa ngeblog ramai-ramai gitu? Bikin panduannya donk… yang jelas jangan tidak gratis.

  9. EWA ya…
    Saya kenal dia, salah satu dosen di kampus saya, tapi karena beda jurusan, saya da pernah dapat kuliah dia.

    Tentang menulis itu mudah, sedikit benar seh pak. Tapi menulis yang benar, itu yang tidak mudah.. he…

    Helgeduelbek: Tapi harus dimulai bukan…?

  10. Provokasi yang sangat positif. Kalau mottonya Warkop TERTAWALAH SEBELUM TERTAWA ITU DILARANG, maka moto kita haruslah MENULISLAH BIARPUN MENULIS ITU DILARANG.
    Terimakasih dan salam eksperimen.

    Helgeduelbek: Itu yang kita perlukan untuk membangkitkan gairah. salam eksperimen terus yah.

  11. Penulis terkadang diawali dari keinginan untuk mencari tambahan penghasilan. Itu ketika saya dan kawan-kawan masih kuliah di Semarang. Lalu, para penulis – yang nulis bebas – di koran sering karena ingin tulisannya dimuat kemudian memperbudak diri dan mempertuan redaktur dengan bahasa yang sangat litotif (istilah saya) sangat merendahkan diri lebih rendah dari debu. Lalu kepada penulis-penulis baru mereka berkata sebaliknya yang dikatakan EWA – kalau mau jadi penulis jangan banyak membaca. Tapi itu kusadari karena mereka adalah penyair. Maksudnya supaya tidak terpengaruh gaya penyair lain. Tapi setelah direnungkan, itu jadi sesuatu yang mustahil. Tidak mungkin kan Remy silado, misalnya, mampu mencipta gaya puisi seperti kekhasannya jika dia tidak banyak membaca?

  12. awal menulis memang sulit… tapi lama kelamaan jika terbiasa menulis pasti enak.. dan bisa jadi hobi..

  13. Pak Urip, ada sms dari EWA, buku kiriman sidin sudah diterima belum. Aku sms sama Pak Urip kok nggak dijawab. He he he.