Sekolah Suka Mencuri Waktu?!

Kebiasaan buruk penggunaan waktu belajar efektif di sekolah

Sekolah adalah tempat belajar dan waktunya sudah ditentukan dalam kalender pendidikan. Hari efektif, hari libur, waktu ujian semua sudah ditetapkan. Tapi dalam kenyataannya ketetapan itu hanya tinggal ketetapan. Siapa yang membuat “penyimpangan” ketetapan itu. Tentu pihak pengambil kebijakan di sekolah atau kadang instruksi penguasa daerah. Namun ini sering tidak dirasa oleh banyak pihak, termasuk orang tua siswa yang diwadahi dalam komite sekolah. Mereka tidak merasa sama sekali dirugikan. Lebih-lebih dewan pendidikan daerah yang kebanyakan mejeng nama doang tapi tidak sensitif dengan pendidikan itu sendiri.

Seandainya saya adalah siswa yang mengerti akan hak-hak sebagai siswa pasti akan saya protes. Banyak kegiatan yang semestinya bisa dilakukan di luar jam belajar sengaja dilakukan pada saat jam belajar. Berulang kali saya utarakan agar tidak menggunakan jam efektif belajar untuk kegiatan yang tidak ada sangkut pautnya dengan pembelajaran.

Berdalih ini itu kegiatan yang merampas hak-hak saya sebagai siswa tetap saja dilakukan. Di mana nurani “sekolah” yang dengan tega tidak memberikan hak belajar untuk saya. Mungkin banyak temen-temen saya yang dengan senang gembira mendengar bahwa sekolah diliburkan atau dipulangkan pada jam-jam tertentu. Alasan yang umum adalah… guru sedang rapat, ada penyuluhan ini itu yang gak begitu perlu. Suatu saat siswa yang semestinya belajar dimanfaatkan oleh penguasa untuk sebuah acara seremonial yang lebih sering basa-basi tiada guna.

Selalu ada saja sekolah yang menyelenggarakan kegiatan keagamaan di sekolah dengan memanfaatkan jam belajar juga. Padahal untuk kegiatan itu sudah disediakan hari libur khusus. Niat diliburkannya hari tertentu itu adalah agar mengisi kegiatan keagamaan sehingga tidak mengganggu jam efektif belajar. Jadi tidak berarti itu bener-bener libur. Tapi hari libur itu malah diartikan sebagai hari yang bener-bener libur. Sayangnya hal ini tidak banyak dimengerti oleh kebanyakan pengambil kebijakan di sekolah itu sendiri, tepatnya pura-pura tidak paham.

Jika dalam setahun ada libur sebanyak 1 hari tiap bulannya maka praktis setahun ada dua minggu jam efektif yang tersita untuk acara yang tidak ada sangkutnya dengan pelajaran di sekolah. Duuuh sangat disayangkan.

Mungkin inilah salah satu penyebab lambat majunya pendidikan di negeri ini.

Iklan

13 responses

  1. Setuju pak, memang sepertinya orang2 kita belum terlalu menghargai waktu. Padahal waktu sangat berharga. Ada orang bilang bahwa orang yang sukses adalah orang yang bekerja melebihi apa yang harus ia kerjakan. Termasuk menggunakan mana jam efektif dan mana yang tidak.

    Ttp anehnya waktu saya dulu sekolah memang seneng banget kalau denger gurunya lagi rapat, di liburkan atau apalah alasannya.

    Tetapi kini setelah saya pikir2 dan setlh membaca tulisan mas urip maka saya sadar bahwa dulu saya itu salah.

    Helgeduelbek: Apakah pola seperti itu terjadi di banyak sekolah juga di daerah sampean? Kalau iyah mestinya perlu pengawasan ketat dari orang tua siswa sendiri.

  2. Aduh saya terharu dengan komitmen bapak….berapa banyak guru di sekolah bapak yang memiliki visi yg sama??
    semoga bapak cepat jadi penentu kebijakan di sekolah bapak…tapi komitmennya jgn berevolusi ya pak 🙂

    Helgeduelbek: Sayang saya gak banyak temen, sebab kebanyakan memang tidak berpikir seandainya dirinya jadi siswa gimana gitu.

  3. hidup pak urip!! wah senangnya jika saya dulu jadi murid anda..
    wah sekarang jadi guru saya kan mau to pak? ayo bimbing saya pak.. muridmu ini.. 🙂

    Helgeduelbek: Ah iso ae Cak Anang iki.. mbok aku di tulari ilmune, di blog sampean akeh bagi musik ae. Ilmune gak gelem nularke ki yok opo cak… ayo cak keluarkan kesaktianMu

  4. inggih pak guru,…..
    *padahal dulu pas sekolah pak gurune yo seneng’ane mbolos*..
    hehehe… guyon loh pak guru… :p

    Helgeduelbek: Jujur saya juga seneng gak ngajar kalau emang gak ada jam pelajaran jadi bisa nyambi ngeblog. Tapi khan siswa yg dirugikan, dan saya sudah usulkan tapi yah itu kurang begitu di dengar. Bahkan ada suatu kelas jam terakhir hari sabtu yang sampai dengan minggu kemarin baru masuk 1 kali, gara-gara ada ini itu.

  5. Kang, pertama-tama, saya mengucapkan selamat atas poto barunya. Hehehe… Jadi keliatan deh gantengnya… hehehe…

    Mengenai waktu libur. Saya amat setuju, jika kegiatan agama tidak perlu memangkas waktu belajar.
    Tapi saya juga setuju terhadap pemanfaatan waktu seefisien mungkin terhadap KBM (Kegiatan Belajar Mengajar).

    Selanjutnya adalah liburan kegiatan keagamaan yang tidak konsisten, artinya adalah libur keagaaman tidak mempunyai waktu yang tetap. Berdasarkan pengalaman pribadi, kurikulum jadi berantakan. Tiap tahun berubah. Sebagai (mantan) guru, saya mengalami hal ini. Beberapa bagan dalam kurikulum terpaksa ‘harus dikorbankan’ demi memenuhi kegiatan keagamaan.

    Bener-bener cara belajar yang nggak sehat. Pendidikan memang jadi lebiih lambat.

    Helgeduelbek: Itu foto lama, cuman baru dipampang, biar tambah narsis :D. Itu potret di sekitar saya dan beberapa sekolah di daerah saya.

  6. aSal tau aja Simbah paling sering mau…menghajar orang gara-gara tidak tepat waktu,,,janji jam 4 datang jam 5, giliran mau dapat duit, janji jam 3 datang jam 2..bah… katanya sih sudah buadaya jadi gak boleh marah. mencuri waktu kayak sikancil aja

    Helgeduelbek : Sekolah emang kancil mbah, yang penting bisa berdalih.

  7. sampai smu dulu aku memang masih suka dengan yg namanya pulang cepet ato libur. Pas kuliah aja baru nyadar kalo rugi banget dulu itu sering pulang cepet ama libur gak jelas

    Helgeduelbek: Itu pengandaian saya jika saya jadi siswa sekarang, sebab dimana-mana trend seperti itu ada. Kalau saya dulu wegah pulang cepet, sebab di rumah banyak kerjaan. 😀

  8. Mungkin karena tujuan sekolah itu sendiri bukan belajar (mencari ilmu), tetapi lebih kepada mencari nilai saja. Mendapatkan angka 9 atau 8 adalah tujuan bukan ilmunya sendiri, sehingga kalo jam belajar dikurangi tapi bisa dapat 9 buat apa disekolah lama-lama. Begitu juga yang terjadi di kuliahan, Huruf A atau B+ selalu menjadi tujuan, bukan ilmunya.

    Kenapa begitu?, karena dunia kerja sendiri tidak meng-apresiasi anak yang rajin belajar dan jujur, tetapi lebih kepada hasil akhir yang tertuang dalam ijazah atau transkrip nilai.

    Nah, kalau guru atau dosennya, klo bisa mendapat uang lebih kenapa musti lama-lama di kelas juga, toh bisa perintahkan untuk bikin tugas dan nilai memuaskan siswa atau muridnya.

    Jadi, dimana letak masalahnya?

    Helgeduelbek: Masalahnya yah itu tadi orientasi persekolahan yg salah kaprah, NILAI. Masalah “mainset”, susah khan jadinya

  9. Apalagi sekarang dengan semakin meningkatnya persaingan antara lembaga pendidikan untuk menarik siswa. Segala metode mereka lakukan, udah kayak jualan baju dan kosmetik aja gayanya. sebagai contoh adalah, jika seorang siswa bisa merekomendasikan kawanya untuk masuk ke lembaga pendidikan tersebut, maka dia akan mendapat bonus, bisa uang bisa lainya.

    Teori di lembaga pendidikan kan (setidaknya begini) Siswa Banyak = bayaran besar, siswa sedikit = bayaran kecil. Jadi emang nggak hubungan dengan mutu / kualitas anak didik.

    Anak didik juga (kadang) mau aja ditipu dengan dikasih huruf A, walaupun kemampuanya hanya D misalnya.

  10. Yang lebih parah lagi ngak ngajarpun ngak apa-apa toh nanti UN nya lulus hehehhe siapa yang ngelulusin ya??

  11. Usul: Siswa telat sekian menit, push up sekian kali. GURU TELAT SEKIAN MENIT PUSH UP SEKIAN KALI JUGA, apapun alasannya. Fair kan???

  12. Dulu Mami yg sering protes krn udah bayar sekolah (sekolah katolik) yg muahalnya setengah ampun. Apalagi kalo kita disetrap/dihukum di luar kelas (belum lagi dipukul), temennya yg phsycolog/hakim dia bawa-bawa.
    Sekarang giliran aku (anaknya) yg suka protes. Mis: di Perancis mencuri waktu utk kepentingan pribadi/rapat/agama sangat jarang/tdk pernah, tapi utk mogok kerja (minta kenaikan gaji/perbaikan security/penambahan guru+fasiltas mengajar/renovasi sekolah/dll) sering sih. Saya sebagai orang tua murid ikutan demo mendukung guru ke Walikota, biar cepet berhasil + cepet kembali mengajar.

  13. kayaknya patokan di kita buat belajar itu nilaaai terus yaa… kadang saya mikir gitu. sampai2akhirnya segala cara pernah saya lakuin buat dapat nilai bagus,nyonteklah,buka buku lah,nanya kiri-kanan lah….

    hiks,skrg baru terasa akibatnya.tapi gapa2 sih,biar jadi pedoman nanti saat berumahtangga dan punya anak,mudah-mudahan pola pikir seperti saya dulu itu tidak turun

    (^^)

    “Sebuah pelajaran berharga untuk perbaikan”