Bagaimana Saudara Menulis?

Membaca dan menulis adalah kegiatan yang sudah saya dan anda lakukan semenjak kecil. Membaca adalah pekerjaan yang paling mudah. Sering kali saya membaca sekedar melihat tulisan, karena tidak merasa penting. Saya lakukan seolah-olah sambil lalu. Padahal banyak hal yang mengelitik jika membaca secara kritis. Kita bisa membuat pembicaraan atau diskusi monolog dengan tulisan-tulisan itu sendiri. Tapi saya lebih sering malas melakukan itu. Mungkin inilah yang membuat saya kadang tidak mendapatkan apa-apa dari apa yang saya baca tadi.

Bagaimana dengan menulis, mengapa menulis bagi saya tidak semudah membaca, maksudnya menulis adalah mengungkapkan sesuatu sampai menjadi tulisan yang layak dikatakan sebagai tulisan, seperti tulisan di buku, di media masa, di blog. Menulis adalah pekerjaan yang sangat sulit bagi saya, meskipun setelah saya paksakan bisa jadi tulisan juga. Tapi seperti seluruh isi blog ini kebanyakan mengkal tidak mendalam, tidak mateng. Tapi biarlah barangkali ini proses untuk bisa menulis.

Saya menulis, termasuk menulis di blog ini, saya lakukan dengan mbulet gak karuan, saya tidak berpikir main ideanya apa, sampai di mana nanti, bahkan sering saya menulis mengikuti keliaran pikiran. Sering sebelumnya antar paragraf tidak nyambung. Tapi tetep saja itu saya lanjutkan, mungkin nanti atau besoknya. Sering kehilangan idea untuk melanjutkannya karena lupa tadinya mau fokus ke mana. Tapi kadang dapat saja kalimat atau paragraf penyambung. Nah yang seperti ini saya paksakan agar tulisan itu kelar.

Yang saya punyai hanya motivasi, yang penting saya menulis. Kadang kalau ada ide pas di depan komputer langsung saya tulis. meskipun tidak langsung seketika itu selesai. Makanya banyak draft tulisan yang kadang saya heran tadinya kok nulis seperti ini dan itu.

Pernah suatu ketika saya coba untuk menetapkan pokok-pokok pikiran dengan membuat outline. Ternyata malah bener-bener gak bisa dilanjutin dan kesannya hanya dapat beberapa kalimat saja. Rasanya tidak layak sekalipun untuk saya baca sendiri. Akhirnya cara ini pun saya tinggalkan, tidak merasa nyaman. Kemudian pada saat awal ngeblog dulu pernah secara tidak sengaja menemukan tulisan metode menulis ‘postingan’ dengan menggunakan peta pikiran dengan buletan dan kotak yang dihubung-hubungkan dengan garis. Saya coba, dan belum bisa cocok juga. Ini mungkin karena saya bebal dan kurang cerdas.

Akhirnya saya kembali ke metode sebelumnya, gaya acak-acakan tanpa pola. Saya pikir beginikah memang cara saya menulis, tidak efektif. Cepat bosan dan idea sering kali menguap begitu saja. Ketika dapat suatu ide menulis tentang sesuatu maka hanya sebatas itu. Penentuan hubungan antar hal kadang saya lepaskan begitu saja, sering luput dari perhatian saya.

Semestinya karena latar belakang saya mengajar kimia, saya menulispun dimulai dengan suatu masalah, bla bla bla hingga diperoleh kesimpulan. Saya akan coba cara ini ditulisan saya berikutnya. Saya tidak tahu cara demikian itu sesuai tidak dengan pikiran saya, tapi mungkin saja bisa menolong. Mungkin hanya diperlukan bahasa yang lebih komunikatif lebih bisa memberikan dialog dengan pembaca. Inilah upaya saya belajar “bersepeda di blog” agar bisa lebih baik.

Nah bagaimana sodara bisa menuangkan pikiran ke bentuk tulisan?

Saya ingin belajar dari pengalaman itu. Terimakasih.

17 responses

  1. Klo saya pak tergtg apa yg ditulis. Tapi umumnya agak susah memang untuk menulis hal yang ada dalam pikiran ini. Klo masalah gaya bisa dibilang gaya acak2an juga menjadi gaya yang saya gunakan. 😀

    Helgeduelbek: Mungkin karena kita tidak begitu niat dan tidak menguasai bener2 aja kali yah, sehingga menjadi agak susah. Saya pernah nulis “Beruntung saya tidak naik kelas” karena menguasai 100% gampang banget tidak lama selesai.

  2. Kalau saya mas menulis itu saya biarkan mengalir saja seperti air di kali. Yang penting saya sudah punya ide besarnya (mau menulis apa), dan juga sudah punya point-2nya. Setelah itu baru saya mulai menulis. Memang saya juga kadang bingung jangan-2 satu paragraf tdk nyambung dengan paragraf yang lain (dibawahnya), kalau saya menemui hal ini, maka saya akan baca berulang-2 tulisan tersebut sebelum nantinya saya posting.

    Dan tak kalah penting sebelum menulis yang saya lakukan adalah membaca apa-2 yang terkait dengan tulisan saya. Jika saya rasa sudah cukup membaca, maka akan saya mulai menulis.

    Itu saja pas pengalaman dari saya, mungkin yang lain bisa membantu menambahi.

    Helgeduelbek: Bagus juga, kadang saya juga melakukan itu, Tapi lebih sering begitu tiiiing dapat ide langsung saya tulis tidak nunggu baca-baca lagi, tapi yah itu sering macet. akhirnya gaya acak-acakan deh tidak seperti air mengalir.

  3. Saya ndak ado kesulitan dalam mengatur paragraf, lha wong cuma satu paragraf je.. :). saya jarang nulis panjang..

    Helgeduelbek: Suatu saat saya pingin bisa menulis pendek juga kalau perlu 1 kalimat, tapi biasanya tulisan seperti ini mengandung hal yg kontroversial.

  4. Nulis yo koyo wong ngising pak, yen kebelet yo cret-cret-cret dadi. Yen gak kroso, masiyo dieden-edenke yo gak metu-metu. Kuncinya, sering-seringlah makan yang berserat, agar berak anda jadi lancar. Cara instan seperti suplemen tidak akan banyak membantu, malah menimbulkan efek negatif.

    Helgeduelbek: Hah ini jarang kebelet je, tapi mules terus, banyak baca kadang kalau gak cocok juga mules ning gak bisa dikeluarkan 🙂

  5. bagaimana saya menuangkan pikiran dalam bentuk tulisan? ya … saya tulis saja, tidak pakai bikin ancang2 dan embel2nya. kalau nggak, keburu menguap.

    Helgeduelbek: Yah tergantung mau nulis apa dan jika sudah terbiasa bisa begitu, kalau lagi belajar yah seperti belajar naik sepeda itu jadinya.

  6. Yang paling penting kan memang motivasinya. Aturan itu ada kan hanya untuk memudahkan atau diabaikan.

    Kalau sudah ‘suka’, semuanya mudah.

    Misalnya saja saya paling ndak suka hitung2an reaksi redoks (no offense hlo pak :D_. Mbok mesti sudah belajar tata cara penulisan dan hitungan redoks yang baik dan benar, tetep saja kimia saya dapet nilai jelek. Itulah, sudah terlnjur tidak punya motivasi.

    Helgeduelbek: Bener juga, loh kok nyontohkannya sampai rekasi redoks 😀 , dimana sulitnya redoks sih sampai kehilangan motivasi.

  7. Baru nyoba sich, cuman kayaknya kalo harus taat dengan EYD susah juga ya mending nulis aja entar aturan ngukitin dikit-dikit…… halah ngak EYD banget

    Helgeduelbek: EYD itu belenggu buat kita yang barusan belajar menulis yang layak. Padahal kita kalau mikir gak makai EYD yah.

  8. Wah asyik ya bisa menulis secara acak, mengambil situasi hati ke dalam tulisan “berpikir”. Ini berarti sudah masuk katagori pakar karena sudah bisa mengalir. Kayak kita nyupirin motor, tidak pernah berpikir dimana letaknya rem, seperti kita mengetik (yang bisa 10 jari), jempol tangan kanan tak bertanya lagi kapan menekan tombol papan ketik ketika akan memisahkan spasi.
    Pola-pola menulis (baca mengungkapkan gagasan secara tertulis) adalah keterampilan komunikasi yang layak diacungi jempol karena masyarakat kita sangat bertradisi lisan. Hanya yang gemar membaca yang bisa menulis, hanya yang menulis yang suka membaca. Coba cari guru yang yang rajin membuat rencana satuan pelajaran, coba cari guru yang memperhatikan bahasa sebagai alat komunikasi akademik. Tentu saja banyak, tapi lebih banyak lagi yang pasif.
    Di sekolah, kita tidak pernah diajari menulis dan membaca dg benar. Benar, artinya setelah lulus, setidaknya lulus tingkat menengah kita memiliki kemampuan dasar yang sebenarnya untuk menulis. Jelas, bukan kurikulum bahasanya yang keliru, tapi membangun menulis dan membaca sebagai “habitual activity”lah yang gagal dilakukan sekolah-sekolah di Indonesia. Dan kita tetap berbahagia karenanya.

    Helgeduelbek: Asyik gimana menuils gaya acak, acak yang saya maksud itu tulisannya bener-bener acak gak ngalir, kemudian perlu mikir keras sampai tulisannya jadi sampai keacakan menjadi lebih teratur.

  9. Walah, Pak Guru sudah sangat rajin masih merendah.
    Jujur saja, saya banyak belajar tulisan di Blog. Intinyah sudah bapak sebutkan, komunikatif.
    Andai disuruh milih, saya lebih baik bikin makalah resmi, karena tatanannya gitu-gitu mulai dulu. Justru saya kesulitan menulis yang komunikatif. Setiap nulis, selalu terpikir: nyambung enggak sama pembaca. Akhirnya memang tetap nulis, toh akan ada saran jika tidak bisa dimengerti.
    Setuju dah, berbagi tentang tulis menulis. 😀

    Helgeduelbek: Iyah kalau nulis di blog enak, ada salah ada yang koreksi jadi kita tidak larut dalam kesalahan. Enjoy…khan

  10. Kalau menulis makalah atau tugas sekolah, biasanya saya membuat kerangka makalah dulu. Karena guru saya lebih menyukai makalah yang beraturan. Makalah seperti itu nilainya jauh lebih tinggi daripada makalah yang acak-acakan. Seperti paragraf ini.

    Beda dengan nulis blog. Kalo nulis blog mah saya nulis sekarepe dewe. Yang penting udah nentuin IDE yang akan ditulis, dan IDE itu biasanya hanya berbentuk satu kata. Walaupun gitu saya masih belum bisa fokus kalau nulis, jadi kalo nulis suka nyasar ke mana-mana. Kadang2 saya khawatir juga sih: “tulisan saya ini nyambung ngga yah sama pembaca?”, dan atas dasar kekhawatiran itu saya pernah juga ngganti cara nulis saya dengan cara yang “baik dan benar”. Tapi saya ngga nyaman nulis ky gitu. Kesannya kayak dipaksa-paksain gitu. Dan sekarang saya mikir-mikir lagi.. kalau gaya nulis kita ngikutin trend, bakal boring jadinya. Jadi menurut saya mendingan ngebuat “trend” sendiri:) Walau “trend” kita ini ancur lebur berantakan, yang penting trend buatan sendiri. Yang suka silahkan suka, yang ngga suka ya ngga usah baca gitu. Kaya musik aja. Klo ngikutin trend, jadinya band mainstream yang disukai banyak orang. Tapi klo ngebuat “trend” sendiri (e.g band2 indie), akan ada orang yang suka banget, ada pula orang yang ngga suka. Lebih bangga mana, jadi mainstream apa indie? Tanya aja sama anak2 indie:)

    Helgeduelbek: Bener mesti disesuaikan dengan tujuannya. Mengenai bikin trend sendiri, contohnya seperti apa yah?

  11. Mungkin kata “trend” tidak tepat, makanya saya kasi tanda kutip. Tapi saya ngga tau harus pake kata apa lagi^^ Oya oya, mungkin bisa dibilang gaya menulis. Seperti yang pak guru tulis pada postingan di atas, pak guru lebih memilih cara menulis dengan gaya sendiri, yaitu “gaya acak-acakan tanpa pola”. Nah, menurut saya, mending kaya gitu daripada mengikuti gaya penulisan orang lain atau gaya penulisan yang mengikuti EYD. Liat aja buku panduan Pelajaran Bahasa Indonesia buat sekolah-sekolah, itu buku kan ditulis dengan mengikuti aturan2 menulis yang “baik dan benar”, makanya BORING buat dibaca. Lebih baik baca blognya pak guru yang ditulis dengan gaya sendiri. Betul?

  12. Alhamdulillah. Kalo begini kita punya harapan bakalan lahir prnulis2 hebat. Bagi saya membaca tulisan Sampeyan2 eunaaak. Ada kalanya teori perlu dicampakkan ke laut lepas. Tulis, tulis, dan tulis, habis perkara. Buang belenggu2. Belajar menulis kog dibelenggu teori, EYD, membaca, aturan dsb. Kuno itu, dan tidak konstruktif. Belajar menulis ya dengan menulis. Sampeyan sudah di jalan yang lurus dan benar. Bungkuuuuuuuuuus.
    Salam gembira.

  13. Mas, saya ini berkendala pada saat menulis, alur yang saya tulis terkadang tidak jelas! Bagaimana cara kita menghasilkan tulisan yang jelas dan tidak acak-acakan ya…thanks balasannya.

  14. saya hanya satu cara saja:

    1 paragraf satu ide. dan satu postingan gak lebih dari 5 paragraf, kecuali edisi khusus. jadi ya… ga pernah kesulitan karena tidak ruwet.

    justru yang sederhana menarik dan merangsang imajinasi. yang panjang… kasihan yang di warnet dan bisa bosan juga.

    terus nulis yach!

  15. Wah…saya juga puengen sekali bisa nulis, baik cerpen artikel, karya ilmiah ato apalah?! Sebenere saya juga sering bingung bahkan sering sekali bingung kalo mau nulis ga’ tahu harus mulai dari mana. Semakin di pikir malah semakin buingung. Tapi katane temenq kalo pengen bisa nulis qt mesti banyak baca. Kalo ada in-put kan pasti juga ada out-putnya. Trus pas lagi nulis kadang qt juga sering kahilangan ide. Tapi kata temenq lagi qt tetep harus berusaha nerusi meskipun mungkin tulisannya ga’ nyambung. Ntar lama2 kan jadi lancar… Tapi ingrt kalo dah kancar nulis jangan berhenti nulis, ntar kalo qt mau nulis lagi cari ide, diksi, d el el-nya juga kesulitan. Ada yang bilang sih kalo sesuatu yang tu yang dilakukan secara kontinyu or “istiqomah”. BTW, setelah baca blok-nya Anda, q juga mulai semangat nulis. C U…! yang penting TETEP SEMANGAT…!!!

  16. MAs, bagaimana cara menunangkan tulisan agar pada setiap paragrap alurnya nyambung ? soalnya susah kalau menuangkan langsung dari pikiran

  17. Aku seh dari duluuuuuu banget pengen jadi penulis. bahkan sempet ngirim2 cerpen kemana-mana tapi hasilnya NIHILLL. So aku nerusin hobby lamaku nulis puisi aja… tempel di dinding kamar, di baca sendiri, di puji sendiri..BERES…tapi sering dapet pujian dari temen juga lho (; Jadi semangat nulis lagi neh…Doain lain kali ada majalah ato koran yang mau nampung tulisanku ya…hehehehe