Beruntung Saya Tidak Naik Kelas

Ini cerita saya waktu masih kecil.
Tinggal di daerah pedesaan di pinggir hutan, meskipun tidak terlalu jauh dari ibukota kabupaten. Waktu itu masih banyak penduduknya yang masih buta huruf, tidak bisa membaca dan menulis. Termasuk Embah (kakek) saya yang mengasuh saya sejak kecil. Aktivitas keseharian penduduk kampung saya adalah bertani/berladang, dengan beberapa hewan peliharaan di rumah. Saya sejak kecilpun di minta membantu mencari rumput untuk pakan ternak, belajar bertanggung jawab. Saya lakoni sejak sebelum SD. Merasa senang saja karena teman sepantaran saya juga banyak melakukan hal yang sama. Duh senangnya mengingat masa itu.

Karena badan saya yang cukup besar dan berisi saat itu banyak teman yang lebih tua dari saya badannya kalah gede dibandingkan saya. Tibalah masa memasuki sekolah dasar. Saya tidak tahu umur berapa waktu itu. Pokoknya ukuran orang kampung saya asal tangan kanan melingkar di atas kepala dan bisa menyentuh telinga sebelah kiri itu tandanya sudah saatnya bisa masuk sekolah dasar. Saat itu hanya ada 1 SD di desa saya yang membawai 3 pedukuhan. Selama awal bersekolah saya tidak tahu apa-apa, sulit untuk sekedar belajar membaca apalagi menulis. Di rumah-pun tidak ada yang rajin bisa mengajari saya. Saya iri melihat teman-teman saya ada yang mengajari, ada kakak-nya, ada ibu bapaknya yang tidak buta huruf. Tapi itulah garis hidup saya, yang tidak berkumpul dengan ibu dan bapak. Ibu merantau mencari penghidupan di Kalimantan untuk saya dan embah, bapak meninggal saat saya masih 4 tahunan karena suatu penyakit.

Setahun saya bersekolah tidak ada kemajuan sedikitpun dalam hal membaca dan menulis, merasa bodoh sekali saya saat itu. Malu bila saatnya disuruh membaca di kelas dan sering dijadikan bahan tertawaan. Bahkan sampai menangis. Nilai-nilai pelajaran menulis pun sering nol besar yang kemudian oleh teman saya ditambahi garis dan bulatan sehingga menyerupai wajah orang. Saya sendiri heran kenapa saya tidak sepandai teman-teman saya, jika belajar mereka paham, berhitungpun saya tidak bisa meskipun di tas ada seikat potongan lidi yang biasa digunakan belajar berhitung. Seakan-akan neraka bagi saya saat masuk sekolah saat itu.

Saatnya akhir tahun ajaran kenaikan kelaspun tiba. Setelah menerima buku raport saya dinyatakan tidak naik kelas alias tetap di kelas 1 untuk tahun berikutnya. Saya masih belum mengerti apa maksudnya saat itu. saya sadar setelah teman saya pindah kelas saya tidak diperkenankan masuk di kelas baru, saya disuruh masuk di kelas lama saya. Akhirnya saya sadari bahwa saya tidak naik kelas karena nilainya jelek, banyak merahnya. Saya pun bersedih.

Tapi kesedihan ini tidak berlangsung lama. Karena saya adalah penguasa kelas saat itu, badan paling besar, dan disegani teman-teman saya. Akhirnya saya belajar kembali dari awal untuk mengenal huruf dan mengenal angka. Di kelas 1 SD biasanya gurunya tidak berbeda, karena guru kelas. Tahun kedua ini saya belajar terasa mudah sekali. Mungkin karena setahun saya sudah pernah belajar dan sekarang ini baru memahami huruf dan angka yang diajarkan tahun lalu. Tiba pembagian raport catur wulan pertama saya masuk 3 besar jumlah nilai tertinggi, bahkan catur wulan dan kelas berikutnya sering menduduki peringkat pertama. Embah pun ikut senang dan merasa bangga melihat nilai-nilai saya saat itu.

Bersyukur saya pada saat kelas 1 tahun pertama saya tidak dinaikkan kelas. Apa jadinya saya seandainya belum bisa membaca kemudian dinaikkan kelas. Siswa SD di pedalaman Kalimantan Tengah banyak yang belum bisa baca tulis tapi tetap dinaikkan kelas dengan berbagai pertimbangan. Akibatnya siswa tersebut semakin sulit mengikuti pelajaran di kelas-kelas yang lebih tinggi.

Setelah saya SMP saya baru tahu dan menyadari ketika masuk SD dulu umur saya belum saatnya sekolah. Waktu itu bersekolah tidak dilihat dari umur. Dan ternyata tahun kelahiran saya yang sebenarnya adalah 1972 tetapi dianggap tahun 1970 (karena penulisan angka 2 (dua) di surat kelahiran saya dulu menyerupai angka 0 (nol). Dan tahun 1970 itu sampai saat ini menjadi tahun kelahiran saya karena menyesuaikan tahun kelahiran yang sudah terlanjur tertulis di ijazah SD itu. Inilah penyebab mengapa saya begitu bebalnya menerima pelajaran saat kelas 1 SD tahun pertama. Ternyata umur saya dituakan 2 tahun saat masuk SD dulu.

Sekarang pun saya mensyukuri tentang ketidaknaikan kelas saya dulu. Apa jadinya seandainya saya yang belum bisa membaca itu dinaikan ke kelas 2. Akhirnya ini menjadi sejarah dalam hidup saya. Bahkan kalau saya bercerita kepada siswa saya sambil guyon, bahwa saya termasuk hebat kalau yang lain sekolah SD hanya 6 tahun, saya sekolah SD 7 tahun, merekapun heran kok bisa yah?

17 responses

  1. Untuk yang ini saya punya premise sendiri, yaitu : makin lama belajar makin pintar, jadi makin lama sekolah adalah anak yang akan semakin pintar bukan anak yang bodoh. Sebaliknya anak yang cepat selesai adalah anak yang akan semakin bodoh (he..he..bukan menghibur diri karena waktu kuliah telat lulus yaa).

    Ada anekdot yang juga berbunyi : Banyak baca banyak lupa, sedikit membaca sedikit lupa, tidak membaca tidak lupa. piliha yang mana Pak Guru?

  2. Orang tua sekarang malah sering maksa kepada guru supaya anaknya naik kelas hehehhehehe

  3. Wah sampeyan rugi 2 tahun dong pak. Harusnya besok belum pensiun terpaksa sudah pensiun duluan. Kalau saya dulu malah mulai sekolah di kelas dua. Kelas satunya cuma main-main aja diajak bapak, kebetulan di rumah nggak ada yang momong. Lha jaman semono durung ono baby sitter lah, lagian guru termasuk orang susah kan? Dari hasil nguping sama ngeliat guru, waktu ikut test kok nggak bego-bego amat, ya sudah langsung ikut di kelas duanya. Kalau cerita masa kecil, emang gak ada habis-habisnya.

  4. Soal tidak bisa membaca, saya juga punya cerita.
    Ketika kami ke Kaltim, banyak anak SD kelas I tidak bisa baca, padahal soal-soalnya sudah memakai pilihan ganda, jadinya bapak dan ibu guru yang membacakan. Ini berlangsung sampai kelas II SD.
    Istri saya yang nyusul akhir 1987, tidak tega, akhirnya merangkap jadi guru TK dekat rumah dinas. Di TK tersebut diperkenalkan huruf pada tahun pertama dan belajar baca tahun kedua. Alhasil lulusan TK tersebut bisa baca saat masuk SD. Setelah sekitar 3 tahun ngrangkep jadi guru TK, datang Penilik, bilangnya anak TK tidak boleh diajari baca. Singkat kata istri saya berhenti merangkap guru, sambil ngomel: sudah mbandani, malah di celatu. Lama-lama istri saya tahu, ternyata kalau ada Penilik, harus nyangoni. *masih gitu gak ya*
    😀

  5. Saya jadi terharu membaca ceritanya. Saya beruntung selama sekolah dulu nggak pernah nggak naik kelas, dan nggak bisa membayangkan perasaan saya dan ortu kalo sampe-sampe nggak naik kelas. Tapi ternyata bisa disyukuri juga ya.. Hmm… jadi ikutan membayangkan, apa jadinya saya kalo dulu pernah nggak naek kelas.. apa jadi anak jenius? *halah*

    Salam kenal Pak Urip. Sayangnya baru kenal sekarang, coba daridulu, pasti saya minta tolong diajari kimia (soalnya di SMA pernah her kimia sampe 4 kali, hahaha…)

  6. Sekarang baru sadar khan, kalo belum waktunya ya belum waktunya. Kalo dulu salah membaca tahun lahirnya, kalo sekarang banyak ortu yg sengaja masukin anak ke sekolah sedini mungkin. Jika bisa umur 3 th sudah masuk TK nol kecil. Maksa habis.

  7. Pernah sih dulu sekali nggak naek kelas, waktu kelas 1 SD. Tapi sebenernya bukan nggak naek, tetapi lebih dipaskan sama usia normalnya anak kelas 1 SD.

    Soalnya waktu itu saya sekolah ikut nenek, sedangkan kakak yang lebih tua setahun dari saya ikut ortu. Oleh Nenek saya disekolahkan setahun lebih cepat sehingga sama seperti Kakak.

    Ketika harus pindah ikut ortu, akhirnya saya disuruh ngulang kelas 1 SD lagi biar keliatan berjenjang sama Kakak (yang emang setahun lebih tua daripada saya).

    Dulu sih waktu kecil seneng soalnya bisa balik TK lagi (dapet sekolah yg ada mainannya lagi), tapi kalo sekarang inget itu kayaknya enakan ngga ngulang kelas 1 SD deh, lebih menghemat umur (lebih panjang usia kerjanya, he..he..he..).

  8. Saya sih memang belum pernah yang rasain tidak naik kelas, kalau semua siswa bisa berfikir kayak Pak Urib semua guru jadi enak ngajarnya kali. Tapi saran untuk rekan Bapak/Ibu guru jangan rame-rame ninggalin siswa.

    Naik/tidak naik kelas itu adalah proses, kalau toh tidak naik 1 kali berarti baru ketinggalan satu tahun, pada sal setelah tamat pendidikan kadang-kadang bertahun-tahun baru dapat pekerjaan. Jadi jangan terlalu kecewalah kalau memang tidak naik kelas.

    Mendingan rame-rame kina ciloteh di sini OK!

  9. unik sekali cerita Pak Urip ini

    siapa sangka ternyata anda kini malah menjadi guru! haha!

  10. @ wanatirta: Gak ada yang bisa dipilih tuh.

    @ kangguru : Nafsu orang tua lebih besar dari si anak

    @ dee : sudah nasib.

    @ cakmoki: itu tandanya gak tahu diuntung pejabatnya

    @ cay : ok lam nal balik.

    @ Juliach: begitulah pola pikir keliru yang banyak bercokol dalam diri orang tua.

    @ kenzt : Beruntung lah sampean.

    @ puardi: Yah itu dia, kadang orang tua tidak terima jika anaknya tidak naik kelas, bahkan sering menyalahkan sekolah yang tidak bisa mengajar segala, padahal kesehariannya tidak pernah mendapakan perhatian darinya.

    @ winerwin: Lah iyah tidak ada cita-cita jadi guru, garis kehidupan atau kelendak Yang Maha Kuasa, sayapun mensyukurinya.

  11. jujur…saya bisa mbaca pas kelas 2 😀

  12. Anak saya kelas 1 sudah satu semester barukenal huruf. Untung gurunya rajin memberi PR menulis dan membaca. Kalau di sekolah sering beralasan pusing. Padahal ya itu tadi, belum bisa baca. Sekarang saya mendrilnya membaca setiap malam.Mudah-mudahan kelengahan saya satu semester bisa terbalaskan.
    Kenapa ya wp hari ini lelet?

  13. SAya baru nisa baca pertengahan kelas 3, dan sering duduk lesehan di depan berjam2 karena gak bisa baca…

    Aku seneng inget Masa SD

  14. Anak saya umur 2 tahun 9 bulan masuk PGS dan sekarang 3 tahun 9 bulan sudah masuk TK A (kecil), Saya ngak tahu apakah umur tersebut wajar. Waktu PGS anak saya ini sekolahnya tiah hari dari senin sampai jumat pk. 08.00 sd 10.30. Saya sedikit protes sama gurunya masak anak PGS disuruh sekolah tiap hari. Ya sudah saya biarin aja jarang masuk sekolah, sampai abensinya kalau ditotal sakit + izin + tanpa keterangan bisa sampai 30 hari.

    Yang agak unik di PGS sudah dikasih PR nulis huruf dan angka. Kelihatannya kok dipaksain banget, tapi agak suprise juga sudah bisa nyebut angka dan hitung 1 – belasan dengan benar termasuk angka2. Padahal sama sekali kita sengaja tidak mau ajaran dia, agar ngak bosen nantinya.

    Nah sekarang di TK A banyak pelajaran Bahasa Inggris dan Komputer. Apakah anak sekarang memang sudah dipaksakan seperti itu. Saya ingat waktu dulu pelajaran inggris baru diajarkan kelas 5 SD, dan komputer baru kemarin2 aja tahu nya. Pantes aja anak sekaran ingris nya was wis wus dan komputer lebih tahu dia pencet tombol sana-sini.

    Sebenarnya ada ngak sih aturannya untuk sekolah anak PGS dan TK ini, atau batasan2 nya. Saya dengar di sekolah PGS dan TK tertentu malah ada yang dilarang untuk belajar baca angka dan huruf, hanya disuruh belajar saja. Tetapi ada juga sekolah yang kalau masuk SD sudah harus bisa baca tulis dan berhitung.

  15. Menurut saya, kalau belajar bahasa -apapun bahasanya sejauh bahasa lisan ataupun isyarat- tentu gak ada salahnya dari umur berapapun. Kan kita juga diajari ngomong sejak lahir?
    Nha, kalau komputer tentu anak harus ngerti simbol-simbol seperti huruf misalnya. Tentu hal ini belum menjadi kewajiban. Sekedar pengenalan mungkin tak jadi masalah. Tetapi pelajaran secara khusus barangkali akan memberatkan.

    Mohon maaf jika salah, terima kasih atas kesempatannya.

  16. […] jadi ingat masih kecil saat SD dulu yg pernah gagal untuk naik ke kelas 2 karena memang sekolah belum saatnya (dipercepat). Tapi justru itu menjadikan semangat terpompa […]