Angka di Dunia Blog

Untuk penyadaran diri saya sendiri, meluruskan niat sebagai pembelajar melalui blog

Angka adalah tanda, simbol, lambang sebagai bilangan dari sesuatu. Angka memiliki makna yang banyak. Bisa menjelaskan sesuatu. Tetapi angka tidak secara mutlak mencerminkan sesuatu. Angka adalah entitas (satuan yang berwujud), bukan kualitas yang abstrak. Angka tidak selalu sejalan dengan kualitas.

Angka tidak sedikitpun bisa lepas dari kehidupan manusia, baik di alam nyata maupun di alam maya, di internet juga di halaman blog ini juga.

Sudah bukan pro-kontra lagi (dan “jangan” diperdebatkan lagi) bahwa:

  • banyaknya postingan bukan berarti blogger itu hebat, tapi “mungkin gak ada kerjaan lain” saja, meskipun yang seperti ini adalah pertanda sedang menuju ke kehebatan entitas.
  • banyaknya komentar bukan berarti suatu tulisan itu disuka oleh kawan atau dibenci oleh lawan tapi mungkin sekedar ewuh pekewuh atau hanya tebar pesona pengunjung setia tanpa membaca isi tulisan, meskipun ada saja pengunjung yang bener-bener menaruh rasa.
  • banyaknya pengunjung yg dicerminkan angka statistik blog bukan berarti pemiliknya selebritas blog, tapi karena ada pengunjung yang mengambil sedikit dari apa yg kita tulis itu sementara di tempat lain tidak ada.
  • posisi peringkat dalam suatu komunitas, seperti halnya rangking/nilai-nilai suatu pelajaran yang bukan berarti bener-bener pertanda penguasaan pelajaran, tetapi hanya merupakan perbandingan relatif yang suatu ketika berubah.

Itu semua adalah sekedar angka yang rasanya tidak arif memberikan arti sebagai indikasi sesuatu, ini tidak ada manfaatnya. Jauhkan obsesi untuk mencapai angka-angka, biarlah mengalir saja. Blog adalah curahan perasaan, pikiran, gagasan, dan impian. Mari menulis/ngeblog dengan anggun, demi pembelajaran diri dan mendewasakan pikiran. Kita hindari kebanggaan atau kekaguman semu yang tidak memberikan keuntungan sedikitpun. Pengetahuan dan pengalaman berharga (hikmah) bisa datang dari siapa saja,ย  ini bisa didapat dari cerita tulisan rekan blogger lain dan dari komentar sekedar tebar pesona atau penampakan sekalipun.

Menulis dengan niat yang tulus tanpa keberharapan dari seseorang. Saya adalah saya, anda adalah anda, tidak satupun yang berhak anda tarik garis kesejajaran sesuai kehendak diri.

Ini hanyalah blog.

Iklan

26 responses

  1. Ini hanyalah blog

    Setuju Pak guru…tapi kok bagi saya masih sulit sekali ya??
    Mungkin karena jiwa muda saya kali ya (*hehehe sok muda nih*)
    Ya..saya tekadkan akan belajar menjadi pe-belajar blog yg baik…mohon bimbingannya pak guru ๐Ÿ˜€

  2. intinya adalah menulis.. terlepas apakah itu akan dibaca atau tidak itu urusan belakangan.. yang penting hasrat sudah tersalurkan…. bukan begitu?

  3. Setuju… Tapi tetep aja seneng kalo banyak org yg nengokin blogku…he..he..he..

  4. wah kembali lagi ke topik blog seleb dan jablay..yang penting blog bisa membuat media tulisan apa yang kita rasakan, sharing, syukur syukur bisa memberi pencerahan. Kalau ada yang baca ya alhamdulilah

  5. Bukankah masyarakat kita adalah masyarakat yang haus dan memiliki kecenderungan mengejar-ngejar status? dan di blogosfer ini status tersebut terbayar lewat perwakilan angka-angka tadi. Bahkan saking pengennya dapet status tinggi disebuah komunitas, sampe akhirnya cuman ngisi dengan gambar-gambar (bukan bikinan sendiri), lagu-lagu bajakan, dsb. Saking pengennya mendapat angka lebih baek, jalan pintas yang nyerempet-nyerempet pelanggaran hak cipta pun dilakukan. Luar biasa….dan ini adalah rahasia umum di jagad maya ini.

    Terkadang dalam sebuah postingan yang isinya begitu mudah dipahami, saya sempat membaca satu/dua komentar yang sama sekali ngga’ nyambung. Wooowwww, rupa-rupanya itu hanya suatu jejak (basa-basi saja), dan itu terlalu sering saya liat di berbagai blog.

    Kadang ada keinginan memang, memiliki suatu blog yg ramai pengunjung (dibaca, bukan sekedar dikomentari dengan sedikit kata-kata) seperti blognya Pak Urip ini, tapi kalo diliat-liat lagi kayaknya jadi sangat capek menyimak komentar-komentar masuk yang jelasnya sedikit banyak butuh perhatian (krn kalo ga diperhatiin bisa-bisa dimusuhin banyak orang katanya….).

    Fenomena yg muncul berikutnya pada sebuah blog yang ramai pengunjung/komentar, pasti ada aja beberapa blogger yang rebutan untuk jadi komentator pertama. Entah apa tujuannya. Semoga bukan menjilat, karena toh gada apapun yg bisa didapet. Traffic? ah childest sekali kalo hanya itu. Kita semua bisa jauh lebih dewasa daripada sekedar berbuat seperti itu.

  6. Ada angka tidak ada angka kembalinya ke niat ngeblog, ada yang baca ya sukur, ngak ada yang baca toh sudah di publish, ada peringkat bagus sekedar buat bencmark dan kayaknya peringkat itu objektif kan ngak ada kepentingan apa apa toch dibalik peringkat itu? Jadi kalo blognya pak Guru emang bagus ya itu emang objektif kok.

  7. Apa ini menandakan Pak Guru sempat terjebak dalam pesona angka-angka? ๐Ÿ˜‰

  8. Awalnya saya menulis punya niat agar orang yang membaca tulisan saya jadi tahu, ngerti atau memahami. Tetapi kadang saya sedih ada orang yang kasih komentar padahal apa yang dia tanya tersebut sudah ada di tulisan yang dia komentari. Ini menandakan bahwa dia tdk membaca tulisan saya sampai penuh, tetapi dia hanya membaca judul dari tulisan saya. Trus terang saya sedih…..dan ini saya jumpai beberapa kali dalam tulsian saya.

    Masalah komentar banyak atau tdk, menurt saya itu tdk terlalu penting. Pernah saya lihat suatu blog yang jumlah komentarnya sampai dengan angka 100, tetapi setelah saya lihat ternyata komentar2 tersebut kebanyak berisi: hello, hanya absen saja, wah….apa ya….dan lain sebagainya dan lain sebagainya…..

    Bahkan yang lebih parah komentar tetapi tdk nyambung dengan isi dari tulisan yang di posting. Tetapi mungkin beberapa orang komentar masih termasuk sangat, sangat penting *termasuk saya* tetapi komentar yang berbobot tentunya…..

  9. Hakekatnya kita sudah dalam satu komunitas blog di Indonesia saling mengintip, menikmati, menyarani, mengkritiki, menegur, melengkapi, dan meng lain-lain masalah angka-angka harusnya bukan tujuan utama, saya lebih seneng jika isi tulisannya informatif, berbagi pengalaman, bermanfaat, dapat menjadi referensi. bagaimana Pak Urip ?

  10. saya setuju kita jangan terobsesi angka… namun angka pula yang menentukan tulisan kita laku atau tidak.. apalagi yang membuat blog dengan misi tertentu… (ini ibarat sales performance)

    kalo komen? saya seneng2 saja bila ada yg mampir dan komen di blog saya.. walaupun hanya beramah tamah (contoh: cuma bilang hai, pertamax (bensin kali)..).. karena mungkin ga semua sanggup memberikan komentar cemerlang..

  11. hahaha…. setuju aja aku kang… emang semua ga ada artinya kok… nge-blog itu artinya beda-beda buat orang… ada yang buat tempat sampah, tapi ada juga yang untuk nyari statistik jugah..
    kudune pertanyaannya… termasuk blogger seperti apa kita itu.. :p

  12. Wahhh Pak guru, saya juga sering tebar pesona tetapi sebagian besar bukan karena angka (* berarti sebagian kecil iya he.. he.. *) saya cuma pengen tau hasil tulisan saya aja, maklum baru belajar nulis ๐Ÿ˜€

  13. @ De King : Yup kita ini pembelajar abadi, karena ngeblog yah blog ini sebagai media pembelajaran sekaligus pendewasaan pikiran.

    @ Anang : Begitu deh… katarsis habis dah.

    @ Lepuspa : Hehehe kesindir juga saya meskipun sampean tidak bermaksud nyindir.

    @ Iman Brontoseno : Tidak ada kata untuk tidak setuju dengan komentar sampean. Begitulah ngeblog yang semestinya.

    @ Kenzt: kita maunya apa, itu yang pasti didapat, makanya saya anggap saja blog ini adalah sebuah catatan harian pribadi, yang boleh dibaca orang lain dengan berbagai konsekwensinya, Diluar itu semua adalah persahabatan, keakaraban antar blogger. Hehehe gak nyambung yah…

    @ Wahyu: Kesadaran untuk kembali meluruskan niat ngeblog ini kadang susah.

    @ Cay: Benar saya pernah terjebak dengan angka-dan harapan agar blog saya lebih banyak dikunjungi rekan guru sehingga bisa lebih sesuai dengan kegiatan keseharian, tapi itu belum mendapatkan hasil, akhirnya saya buang keinginan itu. Saya senang mendapatkan banyak temen diluar keseharian saya untuk menambah wawasan.

    @ Prayogo: Kalau saya santai saja, seperti yang di maui Sang Provokator Penulis, pokoknya tulis, tulis dan tulis, blog adalah media yang cerdas untuk dipilih. Kita anggap saja komentar seperti itu sebagai hiburan, sambil kita mempejari apa kira-kira maksud komentar yg tidak nyambung itu. agar kita bisa menulis bisa dipahami.

    @ Pak Deni: setuju dan bener, bukankah blog ini ajang yang sangat bagus untuk membuat ikatan persahabatan yang menembus batas, seperti saya dengan pak deni dan jg blogger lain yang sebelumnya tidak pernah kenal, apalagi berjumpa.

    @ grandiosa: Saya jujur, selalu senyum kalau tiba-tiba di blog saya ada yang menulis seperti itu, jadi ada hiburan, menunjukkan diri sudah mampir. Saya ucapkan terimakasih.
    Nah itu dia, setidaknya saling berkunjung tetep tidak ada jeleknya, asal tidak merasa terpaksa.

    @ bebek: Yah bener kembali pada diri masing-masing khan?

    @ Ferry: Tebar pesona oke saja gak malasah juga bagi saya yang penting tulus, karena saya berkeyakinan ketulusan di dunia maya ini ada.

  14. Untuk penyadaran diri saya sendiri, meluruskan niat sebagai pembelajar melalui blog.
    Puitis, … baca yang ini mengingatkan saya juga untuk selalu introspeksi.
    Maturnuwun Pak Guru.
    ๐Ÿ˜€

  15. 1. Sebagai pemula saya terseret untuk lihat statistik, walaupun katanya itu adalah kesalahan blogger pemula. Dorongan kata hati masih kuat untuk slalu lihat stat mungkin kalo udh biasa kaya Pak Guru atau Kafemotor atau Pak Budi, atau yg lainya dorongan akan hilang sendiri.
    2. Menulis untuk diri sendiri rasanya hampa sekali buat saya he..he..he, jadi setidaknya walaupun satu orang ada yang baca.
    3. Komentar nggak nyambung, tolong maafkanlah, karena kata orang, tulisan yang udah di publis bebas ditafsirkan apapun oleh yang baca.
    4. Kadang ada perasaan sungkan untuk berkomentar di Blog yang selalu ramai dan penuh komentarnya, selain takut basi (atau dikatain enggak cerdas) isi komentarnya, takut pula dikatain nebeng tenar, sedih kan.

  16. waks.. berarti selama ini saya sudah salah jalur.. musti cepet-cepet ngubah jalur.. thx. pak guru untuk pencerahan dan ilmu yang saya dapat malam ini.

  17. Menulis selebriti dengan selebritas hanya dilakukan orang-orang tertentu saja *curious*

  18. krn standar mulai Firefox saya adalah dashboard admin wp.com, jd ya otomatis ngeliat statistik botd wp.com

    krn tdk berniat serius ngiklan, ya angka2 hanya hiburan..(ngga ngoyo..)

    krn bukan desainer web, angka2 validasi ya hanya pembelajaran..

    krn pake cdma di linux, jd tdk terburu waktu (volume based charging)..baca dulu br komen.. (kecuali pas di warnet..) ๐Ÿ˜€

    krn bukan dlm rangka tebar pesona/meninggalkan jejak, ngga dikunjungi balik jg gpp kok (sueeeeerrr..)..

    krn situsnya gak pake banyak gambar/animasi/flash/iklan (disable mode), ya maen lah ke blog Pak Guru..

    krn tulisannya menarik dan (merasa) mampu berkomentar, ya nulis ini deh..

    keep blogging.. ๐Ÿ˜€

  19. Waduuuuhh… Pak Guru memang pantes digugu lan ditiru. Jadi semangkin admire nih saya. Dan jadi malu, soale di blog saya ndak ada yang bisa diambil

  20. Semua komentar good !!! apapun, kembali kepada diri kita masing2. Tadi pagi, ngeliat di TV ada petikan yang menarik. “Sebaiknya untuk menjadi terkenal, jangan hanya memberi sensasi tapi memberi prestasi” .. so, sering kita ingin dikenal – dibuktikan dengan kunjungan yang rame – dengan cara yang sensasional.

    Ya, bisa dengan sengaja – atau tanpa sengaja – membuat tulisan yang memprovokasi, bisa dengan wira wiri di blog seleb dengan meletakan komentar – apa adanya – tanpa membaca isi tulisan. Atau lainnya. Apapun semua oke2 saja karena manfaatnya kembali kepada si empunya blog.

    Ada yang ingin belajar atau ditanggapi tulisannya. Ada yang ingin punya teman banyak. Ada yang narsis. Ada yang memang pengennya nulis aja. Apapun, pasti bermanfaat jika kita dapat menarik hikmahnya. So, tetap semangat.

  21. setuju Pak guru, biarkan seperti air mengalir.

  22. Saya sependapat, bahwa kita harus keep on track tanpa terpengaruh angka-angka blogstat. Buat apa dikunjungi banyak orang kalau mereka tidak dapat apa-apa dan tidak ada juga umpan balik untuk kita. Yang lebih penting kualitas dan bukan kuantitas. Apalagi kalau blog yang spesialis eksperimen seperti saya yang bestday ever-nya cuma 87 pengunjung. Namun setelah membaca postingnya mbah Petruk tentang analisis dan evaluasi blog, saya lebih pede untuk tampil beda dari blog lain dan tidak tergoda untuk mengikuti mainstream. Contoh ciri khas di blog saya misalnya :
    1. Blog saya tetap berciri khas eksperimenter dan yang satunya lagi berciri energi ( bersama pak Dewo ).
    2. Hanya ada dua hal saja yang saya posting, yaitu yang berhubungan dengan IPTEK ( terutama teknologi tepan guna ) dan humor ( untuk mengasah intuisi dan kreativitas )
    3. Menitik beratkan pada komunikasi dua arah baik berupa diskusi maupun adu argumentasi. Karena itu, sering terjadi saling tanggap berulang-ulang secara panjang lebar antara saya dengan pengunjung
    4. Melayani request dan konsultasi. Hal itu sesuai dengan tujuan saya ngeblog yaitu untuk sharing pengetahuan dan pengalaman. Sampai saati in sepertinya saya belum menemukan blog lain yang melayani konsultasi dan request dari pengunjung.
    Masalah perlu waktu untuk ngebog, itu sudah jelas. Asal bisa mengatur penggunaan waktu luang, pasti bisa ngeblog secara rutin. Untuk saya, yang lebih banyak makan waktu adalah untuk corat-coret sketsa apalagi kalau masalah yang rumit bisa 2-3 minggu baru siap posting. Dengan pengunjung yang sedikit saja, saat ini saja saya masih โ€œhutangโ€ 5 artikel yang telah direquest oleh pengunjung. Mungkin akhir Maret atau April baru bisa lunas, itupun kalau tidak ada request baru lagi. Kalau pengunjungnya banyak, saya bisa kewalahan dan akhirnya banyak pengunjung yang kecewa karena requestnya tidak bisa dipenuhi.
    Tentang jumlah postingan perbulan / peminggu, itu juga bersifat relatif dan belum cukup untuk menilai produktivitas dan kualitas blog. Bagi blog yang bersifat umum ( mengulas tentang apa saja yang sedang aktual ) sangat mungkin bisa posting lebih banyak dibandingkan dengan spesialis karena scoop-nya masalahnya luas. Namun bagi blog yang spesialis eksperimen seperti saya, perlu perjuangan berat untuk bisa posting seminggu sekali.

    Untuk memacu kualitas maupun kuantitas blog, mungkin bagus kalau ada lembaga ( yang bergerak di bidang IT atau wordpress ) yang mengadakan penilaian blog secara kualitatif ( kriteria dan rubrik penilaiannya musti jelas dan transparan ). Karena sulit untuk membandingkan blog yang berbeda-beda aliran maupun bidang kajiannya, mungkin bisa dikelompokkan dalam beberapa kategori misalnya : Blog guru, blog IPTEK, blog ngrumpi, blog gaul, dsb. Dari tiap-tiap kategori misalnya dipilih 5 nominator. Terakhir, dibuat polling yang hanya bisa diikuti sekali saja dan hanya oleh bloger beneran ( misalnya yang telah ngeblog minimal 3 bulan dan 10 posting ) untuk menentukan pemenangnya. Hal itu untuk menghindari bloger musiman yang sekali ngeblog tiga bulan menghilang atau bloger karbitan yang baru ngeblog ketika ada lomba. Selain minilai blog, bisa juga menilai postingan sesuai kategori. Untuk yang terakhir ini mungkin tidak terlalu rumi.
    Sekian dulu karena sudah semakin ngelantur kemana-mana. Ngomong-ngomong tentang ide jaringan blog guru, sudah satu guru yang berhasil saya provokasi untuk ngeblog. Karena dia guru bahasa inggris dan juga lulusan filsafat, maka blognya punya ciri khas menggunakan dua bahasa ( dia bilang bilingual ) dan filsafat banget tapi bagus. Hari Jumat ( besok siang ), saya juga akan sharing pengalaman tentang ngeblog kepada sekitar 10-15 orang guru. Saya akan provokasi abis mereka agar ngeblog. Untuk itu, saya minta ijin mbah Petruk untuk mengutip dari beberapa postingan untuk bahan presentasi saya. Sebagai imbalannya, saya akan provokasi mereka juga untuk mengunjungi blognya mbah Petruk dan memasang link agar ide jaringan blog guru segera bisa terwujud dan menjangkau sebanyak mungkin guru yang ada.
    Terimakasih dan salam eksperimen.

  23. @ CakMoki: jadi ketahuan siapa yang bener-bener rendah diri kalau gitu khan ๐Ÿ™‚ Monggo saling belajar, semoga semakin banyak dokter seperti sampean dan Mas Dani itu.

    @ wanatirta: Yang penting semua diniatkan dengan baik, hasilnya juga
    akan baik. Gak usah ada rasa tidak enak segala. Enjoy saja dah

    @ cluk: hehehe mau ikut jalur mana emangnya. Ikut trans jakarta saja

    @ MaiDen : Siapa tuh… ๐Ÿ™‚ katanya tulisan yang bener itu akhirannya AS.

    @ Dani Iswara : Ok ngeblog terus, bagi ilmu yah pak dokter.

    @ De: Kita merasa seperti itu lebih baik, padahal orang lain mengambil itu sebagai pengalaman berharga, sepeti tulisan sampean tentang ketinggalannya Bra dan CD itu.

    @ erander : Tidak bisa nanggapin apa-apa dah pokoknya setuju tentang komen sampean.

    @ Biho : siiip lah,

    @ Kang Paijo: Setuju kang, tetep pada jalur semula, tapi kalau mau berubah arah juga ndak masalah kok. Bebas, Enjoy. Waduh kalau sampai ada Lembaga segala sepertinya membuat kebebasan berkurang, kalau mau yah insidental saja. gak usah woro-woro, agar semuanya tetep pada jalur tidak mengejar hal-hal lain.
    Terimakasih Kang Paijo, sudah duluan memprovokasi rekan guru, semoga segera mendapatkan hasil untuk perbaikan pendidikan di sekitar kita masing-masing. Silahkan saja Kang kalau mau ambil atau kutib gak masalah anggap saja seperti milik sendiri, sebab kalau sudah di tampilkan gini siapa saja berhak mbaca atau menggunakannya yang penting untuk kebaikan. Toh bukan Copy Right. Ok selamat bereksperimen terus.

  24. Kembali ke niat masing-masing Cak. Keberanian mengeluarkan pendapat, tambahan wawasan dan pengetahuan, tambah sedulur. Soal entuk ongko, yo bisa untuk hiburan dan motivasi.

  25. Statistik, justru itu yang pertama saya cek setelah memeriksa permintaan moderasi akismet! Ingin tahu, apakah masih ada orang yang nyangkut di blog saya setelah sekian lama tidak di urus. Ternyata angka yang ditunjukkan tidak menyedihkan ๐Ÿ˜€ Lebih bagus dari sewaktu masih diurus!

    Buat saya statistik itu tak lebih dari “jumlah pahala”, “berat dosa”, atau “jumlah tiket surga yang terjual”.

    Yang penting bagi saya adalah adanya ide yang bisa disampaikan untuk orang lain, menuliskannya sesederhana dan sejelas mungkin, dan membuat orang lain bisa memahami atau minimal menangkap sedikit. Tak masalah sekonyol atau selaknat apapun ide itu, keberhasilan berbagi ide itulah sumber orgasme terbesar dari kegiatan ngeblog. Buat saya sampai saat ini sih itu, entah besok gimana.