Kebodohan Pemda

Kebodohan pemerintah daerah, inilah judul yang saya pilih, tidak ada yang lebih tepat selain itu. Selama masa otonomi daerah sekarang, banyak sekali perubahan yang bisa saja terjadi dalam tempo yang sangat cepat. Keputusan-keputusan bupati yang dikeluarkan juga demikian dengan alasan akselerasi pembangunan. Okelah itu…

Akhir-akhir ini saya bener-bener geram mendengar dan melihatnya. Suatu ketika terjadilah perombakan besar-besaran di lingkungan pemda. Ada pejabat dengan latar belakang non-pendidikan masuk di lingkungan pendidikan, sebaliknya ada orang berlatar belakang pendidikan masuk di instansi yang jauh dari urusan pendidikan. Apakah ini tidak menunjukkan kebodohan, tapi siapa sebenarnya yang bodoh. Apakah pemimpin daerah atau para cecunguk-nya yang seenak hatinya menempatkan orang yang tidak berkompeten. Kalau ini berlanjut bener-bener amburadul bakalan.

Betapa tidak bodoh dan ngawur-nya keputusan yg diambil itu, ada seorang kasubdin di dinas pendidikan yang tiba-tiba digeser ke instansi yang tidak ada sangkut pautnya mengurusi pendidikan. Padahal kalau dipikir selama 3-5 tahun seorang kasubdin banyak mengikuti kegiatan terkait tugasnya, tahu persis tentang pendidikan, studi banding sana-sini, mendapatkan penataran ini itu tentang pendidikan, lah kok tiba-tiba dipindahtugaskan ke dinas pasar, bapedalda atau instansi yang sebenarnya tidak memerlukan keberadaannya. Apakah ini tidak sayang telah mengeluarkan banyak biaya untuk “memintarkan” seorang agar bisa ngurusin pendidikan didaerahnya, setelah mulai ngerti malah “dibuang” begitu saja.

Andaikata memang yang bersangkutan berprestasi buruk, apakah tidak lebih baik tetep ditempatkan di instansi yang masih ada sangkut pautnya dengan pendidikan. Harapannya agar pengalamannya tetep bisa dimanfaatkan. Bisa saja dengan mengeser posisi.

Suatu ketika ada juga orang yang tadinya dari instansi pariwisata tiba-tiba masuk ke instansi pendidikan. Yah sebenarnya sih gak masalah, cuman untuk membuat manusianya ngeh tentang pendidikan mesti perlu waktu. Ini khan namanya kesia-siaan. Lawong pembangunan kok dibikin coba-coba.

Arogansi seperti inilah yang membuat banyak daerah lambat maju, kalah bersaing dengan daerah lain. Memanfaatkan momentum otonomi daerah untuk kesewenang-wenangan. Tidak bisa menempatkan posisi seseorang di posisi yang bener-benar tepat. Apa sulitnya sih kalau hanya menempatkan manusia yang sudah diketahui keahliannya. Ini juga merupakan pemborosan namanya. Betapa kurang cerdasnya…

Apakah saat ini tidak dikenal lagi kaderisasi di suatu instansi, apakah yang ada hanya kaderisasi pimpinan dengan main pendekatan, geser dan sikut kanan kiri saja, bahkan dengan suap?

Bagaimana menurut sodara?

Iklan

22 responses

  1. Mungkin maksudnya ‘rolling’ spy tidak terjadi kebosanan dari si karyawan. Walaupun mungkin masih terlalu pendek waktu pergantian/rollingnya, mungkin idealnya 5 tahunan. Atau mungkin untuk ‘mengurangi’ terjadinya korupsi (kalo dipindah ke bagian lain kan sungkan mau langsung korupsi) Atau mungkin juga agar setiap karyawan memiliki pengalaman dan pengetahuan di setiap bagian, jadi kalo nanti jadi pemimpin lebih handal karena tau permasalahan dan pemecahan untuk setiap bagian…ini mungkin lho… 🙂 😉

    “Kalao korupsi solusinya yah diusut diajukan ke meja hijau, mosok malah enak2an dirolling gitu. Apakah teori pemerintahan sekarang seperti ini?”

  2. prestasi yang tidak berdasarkan kompetensi. 🙂

  3. Kalau seperti itu, kemungkinan yang bodah adalah: (1) Kepala Daerah (2) Sekretariat Daerah. Bupati bisa saja main tunjuk akan tetapi, soal-soal seperti itu nggak lepas dari peran sekretariat daerah alias sekda-nya.

    Daerah yang menganut paham ngawur seperti itu dijamin susah majunya karena urusan diberikan kepada yang bukan ahlinya.

    “Makanya daerah saya lambat maju, sudah terasa”

  4. Ini yang memang sudah lama terjadi kesalah kaprahan di banyak instansi kita.

    “Apakah pemimpin daerah atau para cecunguk-nya yang seenak hatinya menempatkan orang yang tidak berkompeten”.

    Iya, memang unsur itu masih ada dan masih sangat kental, dan biasanya ini KKN. Bukankah ada pepatah inggris (maaf kalau salah tulis) the right man, on the right place. Manusia yang benar adalah manusia yang di tempatkan di mana ia seharusnya berada.

    Dan Islam juga berkata, kalau suatu pekerjaan di pegang oleh orang yang bukan ahlinya, maka tunggu kehancurannya.

    “Kapan kah datang satrio piningit”

  5. hal seperti ini hampir terjadi di banyak daerah. Memang repot, dan memuakkan….apalagi jika dtambah kenyataan kebijkan-kebijakan yang ngawur…

    “Parah sekali kalau di daerah kebanyakan juga berlaku gitu”

  6. Kita semua prihatin melihat hal yang sepertinya umum dilakukan pejabat politis tersebut. Sepertinya kebanyakan hanya berfikir untuk sekarang dan tidak mau tahu akibatnya sekian tahun kedepan. Dianggapnya itu bukan urusannya lagi kalau sudah lewat masa jabatannya. Padahal akibatnya bisa panjang sampai ke anak cucu.
    Yang di pusat juga sami mawon. Buktinya, sistem pendidikan kita masih tidak mendapat perhatian serius. Alasannya….? Terlalu lama menunggu hasilnya, mendingan ngurus hal lain yang hasilnya segera nampak sebelum waktu pemilu/pilkada berikut. Memang ironis, tapi itulah situasi yang dihadapi bangsa kita sekarang.
    Saya pernah membaca kata-kata bijak yang saya sudah lupa dimana saya baca. “KALAU MAU TINGGAL DI SUATU DAERAH SELAMA SETAHUN, TANAMLAH PADI. KALAU MAU TINGGAL SELAMA 10 TAHUN, TANAMLAH POHON. DAN KALAU MAU TINGGAL SEPANJANG HAYAT, DIDIKLAH ORANG”. Rupanya pejabat-pejabat kita hampir tidak ada yang mau tinggal sepanjang hayat. Terimakasih dan salam eksperimen.

    “Bener kang kebanyakan emang lebih seneng tanam padi”

  7. akselarasi pembangunan apa akselarasi perpindahan jabatan nih. Coba sana- coba sini nambah pengalaman kali yak??

    “gak tahu juga, emang sih bupatinya tadinya bukan orang pemerintahan jadi sedikit disetir orang sekitarnya”

  8. Judul artikel macam ini tidak bisanya dipkai oleh pak guru. Hayo ada apa?

    “Sebelumnya sih sudah saya timbang2 milih judule. Gregetan kang, lah ini tidak terjadi sekali dua kali selama masa otonomi ini.”

  9. hummm…. susah kang.. udah terlalu mbulet arah dan asal usulnya kenapa bisa terjadi seperti itu…
    jadinya sekarang ya gini ini….
    sekarang sih yang penting jalan aja… minimal untuk diri kita sendiri dulu.

    “Yah sudah sampai disitu saja usaha, nunggu di ingetkan sama Yang Maha Kuasa kali yah”

  10. bubar!!!
    bubar wae endonesyah nek ngene ki!!!
    bubar!!!
    ra niat ngabdi negoro kabeh!!

    *lho?kok emosi?*

    “Generasi berikutnya yang akan masuk pemerintahan sepertinya bisa lebih gila lagi”

  11. Hampir Pak semua lini pemerintahan seperti ini, adakalanya karena “disetir”, tapi bisa juga karena kadang “beda pendapat”, wah repot sih karena di Kalimantan ini sepertinya doktrin jadi “pejabat” lebih bersinar daripada “prestasi”.

  12. Kang pake konsep yang jelas ya pak cara berfikirnya…
    mereka lupa pepatah “it should be the right man on the right place”
    management-nya kacau sekali..gimana mau membangun dengan baik kalau begini caranya kapan majunya…Oalah…:(
    Evy

  13. Ada lagi tukang gosip. Di sebuah sekolah ada yang kepala sekolahnya melarang buku BOS dibagikan ke siswa. Malah dibiarkan bagus tetap rapi disimpan di ruang kepala sekolah. Guru juga enggak boleh pakai. Bukan di sekolah saya sih, tapi di sekolah istri saya. Katanya lagi karena tidak ada penggantinya kepala sekolah ini akan diberi tugas merangkap di dua sekolah. Apa sudah enggak ada yang hebat selain dia. Kata orang di sekitarnya sih dia termasuk koroni, korona, eh, kroni, ya! Katanya kroninya ….

    “Siapa tuh…?”

  14. malah di sebuah sekolah favorit di surabaya ada kepala sekolah (yang berlatar belakang penggiat sepatu roda) yang memasukkan anaknya sendiri ke sekolah itu dengan dalih berprestasi di bidang DRUMBAND…….. hahaha makin lama kompetensi kita sebagai pendidik makin diragukan deh.

    sori kalo nggak nyambung 😛 sekarang serius mode on:

    saya nggak ngerti ya pak, soalnya saya nggak pernah jadi PNS, tapi kenapa ya yang saya rasakan semua itu ujung-ujungnya selalu birokrasi yang komplek (maaf slank gak berniat plagiat 😛 .)

    bisa saja rolling nggak jelas itu sebenarnya hanya untuk menghabiskan dana APBD yang memang HARUS habis (dana pelatihan/pengembangan SDM misalnya). tapi ya nggak tau lagi sih….

  15. Kirain di bogor aja yang kayak gitu 😦
    Jadi bener kayaknya kalaupun kesejahteraan guru dinaikkan belum tentu pendidikan maju, lha wong pengambil kebijakannya ngak ngerti pendidikan ….. halah

  16. Banyak yang jadi Bupati hanya karena dia punya duit, dan punya hubungan baik dengan parpol dan orang-orang tertentu. Setelah dia menjabat, tentunya dia harus membalas budi. Nah, maka dicari-carilah tempat untuk orang-orang tersebut. Nggak peduli cocok atau tidak. Pernah dengar, seorang Sarjana Seni diangkat oleh Bupati menjadi Direktur PDAM, ya akhirnya yang keluar bukannya air minum, tapi malah air seni…

    Dari beberapa kali ketemu orang-orang Dinas di beberapa tempat, lha ternyata KTSP aja gak mudheng 😦

  17. weleh…sekarang mah prioritas utama kalo jadi bupati,anggota DPRD,DPR,dan mahluk2 sebangsa gituan sih pasti gimana caranya BALIK MODAL! tul ga?? masih hangat kan soal tunjangan DPRD yang dibatalin itu,bisa kita dengar komentar2 mereka yang katanya wakil rakyat tapi kadang bikin kita ngangis saking greget pengen njitak (>

  18. Juni 2005 di Makassar ada hajatan evaluasi Desentralisasi.
    Hasil kajian berdasarkan tinjauan langsung ke beberapa daerah tingkat I dan tingkat II di Indonesia, menghasilkan diskripsi sebagai berikut:

    Ada (sebagian kecil) yang mampu mengakselerasi daerahnya berdasarkan parameter pendidikan, kesehatan, ekonomi (pendapatan per kapita)
    Sekitar 80 % pemda tidak mampu memanfaatkan otda untuk kemajuan daerahnya.
    dan lain-lain

    Ditengarai, faktor-faktor penyebabnya antara lain:

    Ketidak mampuan institusi di lingkungan pemda memenej keuangan daerah
    Munculnya elite lokal sebagai kepala daerah yang berujung pada penempatan personal tidak berkompeten di instansi teknis.
    dan lain-lain

    Lho …
    Dan masih banyak, persis seperti posting Pak Guru.
    Jadi ?
    Kita kritik terus. Salut Pak 😀

  19. iya ya pak, sepertinya birokrat itu dianggap superman ya, harus bisa segalanya, siap ditempatkan dimana saja sebagai abdi negara, gak ada fokus kompetensi, weh… terlihat kalau watak kolonial-primordial masih kuat di birokrasi indonesia, katanya merdeka… (tanya kenapa??)

    “Merdeka untuk memproyek apa saja, urusan hasil nomor sekian”

  20. Edisi yang disesuaikan…….

    SURAT PERNYATAAN

    Sebagaimana siaran langsung Worl’s Funniet Home Video 1) keseluruh dunia ( kecuali Indonesia ), yang merupakan edisi khusus dari acara American’s Funiest Home Video, saya adalah orang yang disebut dengan Satrio Piningit dalam acara tersebut.
    Menegaskan kembali secara tertulis pernyataan dalam siaran tersebut. “Demi Tuhan Yang Maha Esa, bahwa uang yang saya miliki sebagaimana dimaksud dalam siaran World’s Funnieist Home Video, akan saya salurkan untuk untuk kemakmuran tempat ibadah yang menjunjung tinggi prinsip-prinsip Ketuhanan Yang Maha Esa ( terutama masjid ) dan hanya sedikit yang saya gunakan untuk kepentingan saya sendiri”.
    Untuk persiapan awal, dengan tujuan untuk mempercepat penyaluran uangnya, berikut ini beberapa ketentuan pokok yang harus dipenuhi, sedangkan ketentuan yang lebih terperinci akan diberitahukan kemudian, segera setelah uang di-serah-terima-kan kepada saya.
    1. Memiliki Surat Pernyataan ini, lebih baik jika dilengkapi dengan rekaman siaran tersebut diatas.
    2. Telah selesai membaca terjemahan /tafsir Al-Quran dalam bahasa yang dimengerti sebanyak lebih dari 2 X ( dua kali ). Diharapkan ada bukti atau surat kesaksian dari orang yang dapat dipercaya
    3. Telah menyebar luaskan surat pernyataan ini sekurang-kurangnya kepada 10 ( sepuluh ) pihak / orang lain, disertai bukti, berupa bukti penyerahan, kwitansi / nota pembuatan salinan ( photocopy ) atau bukti yang lain.
    4. Surat Pernyataan ini berlaku selama saya masih hidup.
    Agar surat pernyataan ini dapat dimengerti semua yang berhak, surat ini boleh diperjelas dan atau di-alih bahasa-kan dibawah surat ini, sesuai keperluan dan dengan tidak mengurangi atau menambah maknanya. Demikianlah surat pernyataan ini saya buat agar dapat dipergunakan sebagaimana mestinya.
    Ketonggo, 11 November 2006

    ttd

    Satrio Piningit

    ________________________

    Di Indonesia : RCTI, 30 Oktober 2005, jam 14.30 dan 2 Desember 2006.jam 23.30.
    Niken belum ditemukan

    =============================================================
    Untuk informasi, bantuan dan lain-lain yang berguna bagi kami hubungi Bp Ibnu 081 826 3924 atau datang di nDalem Pujokusuman MG I – 335, Pojok Beteng Wetan, Yogyakarta, Indonesia. Bantuan dan informasi yang kami butuhkan terutama yang berhubungan dengan Satrio Piningit dalam acara WFHV tersebut diatas, antara lain seperti :

    • Rekaman siaran TV Worlds Funniest Home Video ( WFHV ), Kupas Tuntas, SJ, KDI, Indonesia Idol, atau yang lain.
    • Klipping koran, sinopsis acara TV, buletin atau yang lain.
    • Alamat dan no HP orang-orang yang bersedia membantu, baik fisik, pikiran maupun materi.
    • Pokoknya kita membutuhkan semua yang berhubungan dengan Satrio Piningit dalam acara WFHV tersebut diatas, bukan Satrio Piningit yang lain.
    Kalau datang, jangan lupa…….. bawa oleh-oleh….., sebelum dan sesudahnya atas perhatian dan bantuannya kami ucapkan banyak terima kasih.

  21. sama seperti di daerah saya
    KABUPATEN KEPULAUAN SULA MALUKU UTARA

    HANCUR – CUR- ABIS DAH… TINGGAL TUNGGU KEHANCURAN SAJA

  22. Hi boys!f1442c6c1574745e4a7304b860d6449a