Memaklumi Pemakaian Software Bajakan

Guru TIK gadungan bicara lagi: “Mengapa harus dimaklumi?”

Beberapa di antara kita masih tetep bertahan untuk memakai software bajakan. Baik sistem operasi maupun aplikasi sampai dengan utility. Di sekolah-sekolah pun demikian adanya. Bahkan ada yang bilang (termasuk saya salah satunya) jika untuk pemakaian untuk pendidikan dikatakan hal itu tidak masalah. Saya sendiri tidak tahu mendapatkan rekomendasi dari mana alasan seperti itu (asal saja hehehe).

Menurut saya alasan seperti tadinya karena tidak ada lagi alternatif, kalau gak pakai software itu yah gak belajar komputer dong anak-anak di sekolah. Sementara saat ini ada pelajaran TIK yang selanjutnya diterjemahkan untuk pembelajaran komputer dan aplikasinya. Pemikiran saya seperti itu karena sudah keterlanjuran dalam pengunaan selama ini. Dan lagi saat itu belum tahu bahwa yang kita lakukan itu adalah pelanggaran. Seperti kita pernah sadari bahwa orang yang baru kenal komputer pokoknya asal bisa ngetik saya cukup. Tidak sedikitpun terpikir yang dipakai software bajakan atau tidak. Yah ini karena kurangnya informasi yang sampai pada manusia seperti itu, seperti saya saat awal bisa mengetik. Singkat kata, ketidaktahuan (hehehe atau ketidakmautahuan). Tapi apakah setelah tahu kemudian langsung beralih? …Sebentar yah! (*pikir-pikir dulu*)

Sama halnya kalau membeli komputer… pokoknya pentium 4, hardisk ratusan GB yang penting mahal dan canggih dan bangga… windows vista, office 2007 dengan seabrek program di dalamnya dan serba terkini. Padahal komputer itu rencananya akan digunakan untuk kantor yang hanya digunakan untuk keperluan ketik-mengetik atau surat menyurat. Yang belipun tidak perduli software yg digunakan itu bajakan atau asli, pokoknya pakai.

Karena mahalnya software asli banyak orang Indonesia tidak lagi mampu untuk membayar walau sekedar licensi. Akhirnya pikiran licik cerdik pun main. Bahkan kaum bawah tanah-pun seolah tertantang untuk membobol segala proteksi yang ada pada software mahal itu. Kebetulan sekali penegakan hukum di negeri ini sangat kendor. Klop dah… semakin merajalela saja. Saya pun turut menikmati bertahun-tahun.

Bahkan kalangan bawah tanah memiliki manifesto bahwa ciptaan manusia tidak boleh dikomersialkan, lah wong ciptaan tuhan saja diberikan oleh Tuhan secara gratis tanpa bayar. Maklum-lah kondisi yang memaksa, lebih-lebih untuk kantong2 tipis kemauan/nafsu untuk pingin bisa tinggi. Inilah hasil kerja kreatif manusia yang anti komersialisasi.

Benar bahwa kendala seperti membuat banyak orang semakin kreatif untuk melumpukan sistem proteksi, mencari celah sehingga bisa digunakan. Membuat software tadi seolah-olah asli. Bahkan Windows XP yang telah menerapkan sistem autentifikasi tetep saja tidak berkutik menghadapi kreatifitas akal-akalan pembajak atau pengguna bajakannya. Banyak alternatif memang yang bisa dimanupulasi.

Lalu setelah kenal linux apakah bener-bener bisa meninggalkan kebiasaan seperti itu. Kebali ke masing-masing pribadi. Sudah mulai banyak alternatif pengganti software berbayar, namun jelas belum semuanya tergantikan. Akhirnya jika tetep ingin pakai tapi gak bisa bayar… yang pakai bajakan lagi. Hal ini sepertinya tidak perlu diperdebatkan lagi, setiap individu tahu harus bagaimana.

Namun untuk kalangan pendidikan sudah seharusnya menghindari kegiatan yang menggunakan software bajakan. Karena untuk pendidikan telah tersedia alternatif, perlu pengenalan lebih luas, sayang hal ini tidak gencar untuk disosialisasikan.

Tantangan pengembang software open source untuk membuat software alternatif pengganti software komersial, mari kita dukung… baik dana, dan doa. BTW kalau membuat donasi untuk pengembang open source biasanya dialamatkan kemana yah? Mungkin banyak yang ingin nyumbang tapi gak tahu ditujukan kemana.

33 responses

  1. Ayo para pengembang piranti lunak Indonesia, jangan hanya bisa bikin aplikasi yang jalan di Windows. Bikin dong yang bisa jalan di Linux!

    Katanya kita punya IGOS?

  2. Saya secara pribadi sebenarnya lebih suka memakai program open source.
    Makanya saya sangat mendukung adanya program2 ini.

  3. ya mau gimana lagi yang program aslinya juga mahal emank sih original tapi tetap aja sama dengan yang bajakan fungsinya juga sama cuma klo yang bajakan ga bisa tahan lama tapi klo pake software asli anak SMA dan peruguruan tinggi bisa kewalahan maklum daripada pada beli CD asli mendingan beli CD bajakan sisasanya bias ditabung πŸ˜‰

  4. Memang sulit melepaskan diri dari budaya nyolong dan faham malingisme, saya sendiri, meski sudah lepas dan membersihkan diri dari windows, di pc ini tetap aja nangkring beberapa mp3 dan videoklip xxx colongan.

    Meski begitu, semangat membebaskan diri harus terus dibakar. Kaum pendidik harus jadi yang paling ngotot dalam pembebasan ini. Jangan asal pake bajakan karena malas cari tahu tentang opensource/free.

    Dukung mikir sebelum make!

  5. Wah wadehel aku jadi kesindir neeh, aku ga bisa mikir… maklum udah rada2 beku dan karatan otaknya…ga spt kalian yang muda2…aku bisanya instan aja…langsung make, klo ga bisa aku nanya…sama pak Urip atau siapa aja yg mau bantuin aku, ga pa..pa..khan amal to..
    Kata pak guru software bajakan gpp asal di amalkan ya khan paak…hehehe..?

    Catatan: aku ga pake software bajakan soalnya ga ada yg jual disini, kalau ada mau juga kali, tapi kalau karya kita yg di bajak kira2 gondok ga ya…?

    Salam,
    Evy

  6. Pengalamanku mencoba meracuni guru TIK di sekolahku dengan GNU/Linux hambatan terbesarnya mengubah kebiasaan, udah tak installin, coba open office, eh ngak enak dipakenya katanya, padahal menurutku sih lebih enak open office dari pada M$ Off.

  7. Saya terpukul nih, kalo masalahnya cuma kebiasaan, saya yakin bisa pindah linux deh.. Doakan saya -pake nada kayak di benteng takeshi-

    *merasa berdosa memaklumi mbudaya colongisme, mari kita dukung pengembangan sumber terbuka (bener kan ini terjemahan open source?-

  8. sya yang harusnya malu! emang males juga pake gratisan, padhala yang bajakan gampang!

  9. yg aneh kl pemakai bajakan protes kerjaannya dibajak pdhl bikinnya ya pake bajakan jg..

    tp kl gak ada bajakan..mungkin lain ceritanya..makasi bajakan dan pembajak.. πŸ˜€

  10. saya yakin karena begitu banyak jenis program2 / software illegal dan pake operating system illegal pula menyebabkan rakyat indonesia harus berterimakasih kepada pembajakan, terutama atas banyaknya sdm yang pinter2 ngulik2 software. (walaupun sdm indonesia banyak yang tidak dihargai sesuai kemampuannya). *kabuurrr sebelum dibantai*

  11. Besok deh saya komentari tulisan pak Guru ini. Saya tak merenung dulu biar bisa dalem ngomentarinnya.

    Saya minta ijin copy tulisan ini ke flashdisk dulu pak, buat bahan nyiapin jawaban. Maklum saat ini saya bukanya ngga dari rumah dikarenakan Speedy dirumah masih mati kena efek domino banjir Ibukota.

  12. Bajakan?Susah juga ya…
    Aku bisa seperti sekarang ini juga tidak terlepas dari ‘jasa’ para pembajak beserta hasil bajakan mereka.
    Ya mungkin aku memang harus berhenti menggunakan ‘jasa-jasa’ mereka mulai….???Mulai kapan ya?
    Yo wis…tak niati secepetΓ©…
    Mohon doa restunya ya… πŸ˜€

  13. belom pernah coba linux. bedanya apa sih? jadi penasaran…

  14. kalau soal aplikasi linux memang nggak kalah canggih. Bahkan untuk beberapa aplikasi tertentu justru jauh lebih handal daripada yang tidak “open source”

    Yang bikin orang masih susah ninggalin windows itu karena di linux kita nggak bisa main football manager, Dota, Fabel dan games games lain yang dibuat oleh perusahaan pembuat game terkenal seperti Black Isle, Activision, EA, Blizzard dan lain-lain πŸ™‚

  15. Sejak dari awal, mari kita mulai melawan kapitalisme software sehingga kebiasaan sejak dari awal bisa dilinuxkan. Memang tak mudah, tapi kenapa tidak berjuang.

  16. he he he ….
    *pemakai bajakan kalo di kost, kalo di kampus nggak*

  17. @luthfi

    hehe, iya juga ya…di kampus terus aja biar legal, ndak usah pulang sekalian..

    baru boleh pulang kalo mau berjuang seperti kata pak agor

    *sok sok an

  18. saya udah terlanjur biasa pake bajakan sih. cilaka memang, karna sadar kalo itu ndak bener. 😦

  19. Kalau soal bajak membajak, bapak saya ahlinya. Tapi membajak sawah lho. Saya pernah dapat info dari vendor komputer providernya kantor saya kalau Microsoft memberikan diskon 90 % untuk institusi pendidikan. Strategi pemasaran yang jitu karena orang cenderung untuk menggunakan software yang sudah familiar. Kalau waktu belajar komputer di sekolah / kampus pakai produk Microsoft, maka besar kemungkinan setelah bekerja juga akan menggunakan produk dari perusahaan yang sama karena sudah familiar.
    Terimakasih dan salam eksperimen.

  20. Pak, kalau soal kebutuhan dasar (e.g. mengetik, bikin laporan, bikin tabel), harusnya Linux udah lebih dari cukup. Masalahnya ya, orang-orang yang memang sudah advance di bidangnya (misal: fotografer dengan Photoshop, web-designer dengan DreamWeaver, animator dengan Flash) jadi mati kutu kalau migrasi ke Linux. Habisnya program “andalan”-nya sendiri masih berkutat di Windows. -_-‘

    Saya sendiri sering pakai Photoshop, dan juga sudah mencoba GIMP (yang katanya ‘pengganti’ Photoshop di Linux). Nyatanya GIMP belum sehebat itu; paling bagus kemampuannya cuma 70%-nya Photoshop. Sayang memang, tapi program “mahal” sendiri memang belum bisa ditandingi oleh opensource sejauh ini. 😦

    Btw, saya pakai SuSE Linux 10, dan sejauh ini sih nggak ada masalah. Paling ke Windows lagi kalo mau main game atau nggambar. πŸ˜›

  21. Om dan mas sekalian, dan Pak Guru Helgeduelbek, ingat bahwa ini bukan gerakan anti microsoft!

    Harus tetap ingat, pake windoes pun bagus, tidak salah, asal jangan MALING! Beli lisensinya! Udah miskin, nyolong pula, memaksa diri untuk belajar kenapa? Buat apa otak dalam kepala muh? Mau dikemanakan itu kemanusiaan? Kalo emang kantong ga mampu, ya belajar dong pake opensource. Kantong ga mampu, otak malas, malah sibuk cari pembenaran, Indonesia ga butuh orang seperti ituh!

    Hentikan budaya nyolong!!! Hentikan pewarisan budaya nyolong!!

    *sedikit kekerasan setelah makan siang*

  22. Maaf telat nanggapinya, peralatan di ICT tempat saya nginduk kenak petir lagi, ini aja darurat:

    @ Kang Kombor : Saya yakin mereka sedang berusaha Kang, Semoga saja

    @ Prayogo: Siip tunggu apalagi

    @ kierdy: yah semestinya berpikirnya gak gitu sih, cuman karena sudah kecanduan yah ini masalahnya.

    @ wadehel… Ok bakar teruuus. daripada dibakar nanti yah.

    @ Senyumsehat: Keadaanlah yang memaksa harus makai bajakan. Kalao karaya dibajak yah paling2 ngedumel, lah berkarya saja belum je.

    @ KangGuru: Karena belum terbiasa saja, coba di bikin crash saja MS Officenya.

    @ diditjogja: ah bisa aja… bilang gitu

    @ Dani Iswara: Loh emang ada yah yang seperti itu.

    @ Kenzt: Ditunggu lhoo

    @ gradiosa12: Betul, bener2 hebat khan… kira-kira di mata Tuhan gimana yah?

    @ de King: Yah sama, hampir semua orang pernah mencicipi jasa baik para pembajak juga, saya juga kok. Kuatkan niat saja dulu.

    @ venus: bedanya kalau pakai linux menakutkan… πŸ™‚ gak ding…

    @ mardun: wah kalau gitu lain ceritanya yah.

    @ Agorsoloku: Yup sedang berjuang memulai mengenalkan.

    @ Luthfi & ichsanmufti: Bersyukur kampus udah gak legal lagi, biar gak malu-maluin.

    @jtabah: kalao gitu mesti dioyak-oyak dulu πŸ™‚

    @ Paijo: Weh saya waktu smp dulu juga seneng blajar mbaja juga. Bener makanya sekolah mesti yang mempeloporinya

    @ Sora9n: Emang bener, tapi nyatanya saya dulu juga enggan, ada sesuatu yang menghambat, keamuan lemah.

  23. heheh kalo saya gimana.. poligami aja dulu.. untuk urusan grafis dan animasi masih belum pernah bosan pake Aplikasi adobe di M$ Jendela. tapi kadang emang menggauli GIMP dan kerabatnya di Mandrake saya bisa bikin nikmat, jadi saya gak pernah bosan hahahahaha

    teringat katanya gus pur di nyusdotkom hhehe gitu aja kok repot heheheh….

  24. membajak sama dengan nyolong ya….
    bapake Paijo tukang nyolong sawah tuh….
    btw, alasan microsoft kasih kelonggaran buat windows users di Ina apa ya…

  25. @ passya

    buat ‘pembiasaan’ kali…

    Karena sejak kecil (=pertama kali nyentuh PC) dah disuguhi jendelas, jadi terbiasa sama sistemnya dan kagok begitu mau pindah. Kayak orang ngerokok samsoe terus dipaksa pindah ke mild… πŸ˜›

    (umm, saya nggak ngerokok loh πŸ™‚ )

  26. *Cerita lalu*
    Karena kebiasaan, sorang teman saya yang biasa pake WOrdstar, merasa kepayahan ketika saya sodorkan MS Word. Gampangan pake WS katanya. Gara2 gak mau pake MS Word, dg sangat terpaksa saya mengaduk-aduk CD2 lama mencari WS v. 7, dah hrs meginstal-nya di komputer kantor yg telah terinstal WinXP.

  27. rada susah juga sih ngubah kebiasaan orang…

  28. Agak susah pak, selagi yang jualan masih banyak pasti laku keras. Watak para pengguna komputer di Indonesia mungkin 70 % masih menganggap membeli CD bajakan adalah solusi murah, sudah begitu masih bilang untuk kepentingan pendidikan.

    Jadi gimana yah biar para pengguna komputer tersebut dapat mengenal open source lebih dekat. Mulai dari sekolahan kan..??? Tapi klo sekolahnya make software bajakan gimana??? Monggo pak..?? πŸ˜€

  29. heheh panas, panas, panas. tapi mmg semustinya kita menghindari pembajakan. lagi belajar pake Linux tapi baru teori doank diperbanyak, abis cdnya blom sampe2… mo dl, kagak nahaaaaaaaaaaaaan

    “Perlu itu, saya dulu juga nanya sana-sini untuk persiapan jadi begitu cd datang… laaah malah lebih banyak tanya.”

  30. @ syarif winata: Pokoknya dirasa enjoy aja deh…repot kok saja gitu πŸ™‚

    @ gnine & Khaidar: Sama dengan kefanatikan terus wegah berpindah kelain hati yah bos.

    @ Mestinya guru TIK ngasih tahu ada bahasan HAKI di pelajaran itu. Nerapkannya gimana coba untuk pelajaran HAKI itu?

  31. yang menjadi dasar saya untuk meninggalkan W*****s sementara ini cuma prinsip.. “malu memakai software bajakan. (bukan MP3 / Film) :)” udah banyak teman yang bisa migrasi dan nyaman-nyaman saja,ngetype script.. nanti kalo ada uang lebih, mau coba nabung buat beli yang pake licence, kalo ga ada yah tetep pake linux.

    saya sekarang ini masih memakai slackware 10.

  32. @ Passya
    Kan sudah saya jelaskan pak, strategi pemasaran jangka panjang. Yang lebih heboh lagi adalah perusahan produsen mesin dari Swis dan Jerman, mereka mau menghibahkan beberapa mesin yang harganya milyaran rupiah kepada universitas atau institut atau STM dengan alasan yang sama. Mereka memanfaatkan betul sifat manusia yang cenderung meneruskan kebiasaan dan cenderung memilih alat/mesin yang telah dikenalnya dengan baik. Apalagi yang dikenalnya pertama kali ketika sekolah atau kuliah, pasti tak terlupakan seumur hidup. Bahan sudah jadi mentri atau presiden sekalipun, selera pada merk tidak akan berubah. Kita harus akui bahwa itu adalah strategi pemasaran jangka panjang yang sangat elegan,dan terbukti efektif karena hampir tidak ada orang yang menolak hibah. Terimakasih dan salam eksperimen.

  33. > Strategi jangka panjang

    Kalau main teori konspirasi, kita bisa bilang kalau keberadaan Windows bajakan itu disengaja.

    Siapa yang dulu mau beli Windows 3.1 seharga 300 ribuan yang malah tidak bisa dipakai untuk main beberapa game yang “berat” pada masa itu? πŸ˜€

    Kalau tidak pernah ada bajakan, dulu saya akan tetap main DOS, dan akhirnya sekarang tidak akan pusing karena sudah terbiasa menggunakan Photoshop sementara lingkungan mulai mengharuskan untuk menggunakan software-software asli.

    Pernyataan-pernyataan seperti:

    – Kalau tidak membajak tidak bisa pintar
    – Kalau tidak pernah ada bajakan, IT Indo tidak akan seperti sekarang

    Adalah pernyataan-pernyataan yang terbalik πŸ˜€