Penguasa dan Pendidikan

Ini adalah tulisan saya yang sempat diposting di blog saya yang lain beberapa bulan lalu kemudian saya edit lagi.

YB Mangunwijaya (alm) pernah mengungkapkan sinyalemen bahwa, dunia pendidikan—historis empiris—selalu menjadi instrumen para penguasa untuk mengonsolidasi dan melegitimasi kemapanan mereka. Juga demi reproduksi sikap dan mental yang melestarikan dan memperkuat status quo kekuasaan mereka.

Tentu dugaan seperti itu tidak muncul begitu saja. Benar adanya bahwa pendidikan merupakan isu paling populer diangkat para penguasa dan para calon penguasa. Sekarang pun terjadi, di mana saja dan pada penguasa level manapun. Setelah berkuasa, “Enak saja… nanti saya kan gak ikut menikmati jeri payah kalau harus ngurusin pendidikan secara serius, ngapaian diperdulikan”. Lebih baik menanam padi bisa cepet dipanen, kata Kang Paijo seperti yang ditulis di komentarnya di sini.

Lalu pelaku pendidikan bisa apa?

Jawaban paling gampang laksanakan tugas saja deh. 🙂
Jawaban paling sulit apa kira-kira kalau saja sodara sekalian menjadi pelaku pendidikan?

6 responses

  1. Betul untuk kasus Indonesia dan banyak negara dunia ketiga. Terutama pada level pendidikan tinggi. Sejarah selalu menunjukkan bahwa elit terdidik (baca mahasiswa) adalah penggerak perubahan bangsa (dan itu juga yang terjadi sejak Budi Utomo, di cikal bakal kemerdekaan). Lihatlah konsep-konsep organisasi mahasiswa (terutama di era Orde Baru), selalu memberangus mahasiswa. Perjalanan bangsa banyak dikuasai oleh minat-minat kekuasaan. Sejarah, mulai dari Civics, PMP, PPKN, Kewarganegaraan dan entah ragamnya, entah perubahannya adalah selera-selera penguasa yang selalu punya asumsi untuk mengendalikan pendidikan.
    Apakah ini salah?, tidak juga. Setiap bangsa melakukannya. Jepang juga mendidik generasi mudanya untuk melupakan “dosa sejarah”. Begitu juga, di semua negara, pendidikan adalah area abu-abu di antara cita-cita bangsa untuk kemakmuran dan hegemoni kekuasaan.
    Begitu juga di bidang ilmu, bukankah selalu kita merasakan bahwa ilmu harus bebas nilai, harus bebas dari campur tangan Tuhan. Kadang begitu dipaksakannya, justru ketika ilmu juga mendekati pemahaman atas batas-batas pemahaman, seperti kata Stephen Hawking, “membaca pikiran Tuhan!”.

  2. Bisa apa?

    Mungkin bisa belajar menjadi guru yang sesungguhnya, tidak sebatas sebagai pengajar. Pengajar cuma membuat muridnya pintar dengan mentransfer ilmu. Guru lebih dari itu, mereka juga membuat murid jadi manusia dengan terus meningkatkan kesadarannya.

    Sulit ga tuh? 😛

  3. kalo mencoba “mendidik” muridnya, nggak sekedar “mengajar” gimana?

    asal jangan sok “mendidik” seperti oknum-oknum guru yang menulis buaaaanyak sekali catatan di rapot muridnya (karena mengikuti KBK) tetapi dia ternyata mengarang catatan-catatan itu (pengakuan oknumnya sendiri).

    Kalau begitu (mengarang rapot)malah sudah naik pangkat, nggak sekedar jadi guru biasa lagi tapi malah jadi penipu ulung 😛

  4. @ agorsiloku: Apa memang sudah hukumnya begitu yah?

    @ wadehel: wah saya sepertinya belum layak dijadika guru nih. Guru sekarang lebih ke sebutan pekerjaan yang diartikan untuk mengajar saja je. Dalihnya wis macem-macem untuk pembenaran diri.

    @ mardun: mendidik artinya terlalu abstrak, masalahnya sekarang banyak hal dilakukan dengan tidak pakai hati.

  5. Makanya kata PEMERINTAH itu diganti PENGATUR saja agar mental PENGUASA-nya hilang. Atau, ganti sekalian jadi PELAYAN. Toh abdi itu artinya sama dengan pembantu. Abdi Negara = pelayan negara. Menjadi pelayan bagi negara tetapi di lain sisi menjadi penguasa juga. Aneh!

  6. gimana cara kelola web saya, supaya optimal dalam penggunanaan untuk kbm tik, mohon saran
    terima kasih