Analogi Perbandingan Mol dan Stoikiometri

Ini bukanlah hal baru dan tidaklah terlalu unik, tetapi analogi membuat kue ini sangat sesuai bila digunakan saat mengajarkan stoikiometri:

Jika seorang ibu akan membuat sebuah kue, tentu harus membuatnya dengan perbandingan yang tepat sesuai dengan resep, sehingga diperoleh kue dengan rasa yang enak. Apa jadinya jika membuatnya tanpa ukuran atau takaran perbandingan yang tepat, puih rasanya pasti tidak enak!

Lalu dari mana resep-perbandingan takaran itu didapat, biasanya sih dari berbagai uji coba dan pengamatan untuk menghasailkan kue yang enak. Nah akhirnya ditemukan kepastian tentang pebandingan takaran antara bahan yang satu dengan bahan yang lain.

Analogi ini akan sangat menolong ketika kita membahas masalah pereaksi pembatas.

Misalnya dari resep dituliskan bahwa untuk membuat sebuah kue diperlukan 2 cangkir tepung dan 1 cangkir gula. Nah ketika anda mendapati di dapur ternyata tersedia 6 cangkir tepung dan 4 cangkir gula… berapa kue yang dapat anda buat? Dan manakah bahan apa yang akan tersisa dan berapakah sisanya?

Dan…bagaimana jika ternyata di dapur tersedia 5 ons tepung dan 3 ons gula…

Siswa biasanya tidak kesulitan jika diberikan penjelasan dengan analogi seperti ini (mungkin karena menyangkut saol makan), dan mereka biasanya dapat dengan mudah mengaplikasikannya dalam bahasan stoikiometri dan mol (dan grams).

Analogi lain yang serupa dengan ini masih bisa kita ambil dari kehidupan keseharian, sehingga konsep kimia bisa diterima dengan mudah oleh siswa.

Iklan

11 responses

  1. tapi kalo unit ukurannya sudah pake ‘karung’ mah, itu mau jualan kang!

  2. Analogi yang lain kalau kita belanja, kalau uangnya melebihi harga belanjaan boleh belanja malah ada sisa, kalau uangnya kurang, tidak bisa beli barangnya. Jadi yang dipakai sebagai pembatas adalah yang paling kecil si pereaksinya, itu teorinya ibu ibu mas, kenyataannya kalau kurang uangnya malah maksa mencicil 🙂

  3. Gimana dengan masalah kesetimbangan?
    Bukannya (seingatku) reaksi kimia akan berlangsung sampai keadaan setimbang?

    “Yah masalah rekasi pembatas yah bisa-bisa saja, tergantung mbahasnya fokus kemana. Yah tetep saja itu berlaku”

  4. Kalau anaknya ga tertarik sama sekali dengan adon-mengadon kue, kali boleh minta mereka u buat analog yang lain, Pak Urip. Biasanya akan muncul ide menarik. Siswanya harus dipancing untuk mencari makanan yang akan dia masukkan ke mulut, bukan mengangakan mulut sambil nunggu disuap (^_^).

    Makasih analog stoikiometrinya, jadi `seneng` dikit dg kimia (^_~)

  5. wuih, pak guru bener-bener hebat.
    pak saya mau ngaku, saya tu satu dari sekian orang yang sangat benci ilmu kimia di sma saya (padahal saya anak ipa, tapi niali ujian kimia saya tidak pernah lebih dari 7, itupun sudah pasti melewati 3 kali remidi, mungkin guru saya kasihan saya terus-terusan remidi akhirnya dikasih nilai minimal lulus), bahkan saya sempat males ketika mau buka blog bapak.

    jika saja guru saya dulu bisa ngasih pelajaran dengan analogi sederhana seperti yang bapak lakukan mungkin saya akan lebih interest sama kimia. (padahal sma saya tuh termasuk sma unggulan 10 besar di jawa timur dan ditunjuk jadi sma percontohan penerapan kurikulum KBK dan sistem pendidikan Quantum Teaching Quantum Learning tahap pertama nasioanal, gak tau kenapa guru kimianya semua gak ada yang bisa bikin murid-muridnya interest sama kimia)

    tulisan anda ini kemaren saya copy dan saya tunjukin sama para guru kimia saya itu (di skul saya tiap pelajaran berat di ampu sama 2 atau lebih guru, kebetulan guru kimia saya ada 2 orang baik pas kelas 2 sama kelas 3) di sekolah saya, dan mereka hanya bisa manggut-manggut dan ngomong boleh juga nih analogi trus mereka bilang mau mbuka blog anda, tetapi sejauh ini saya belum lihat kehadiran mereka di blog anda. (catatan: saya ngalahin pulang dari solo ke madiun cuma buat nunjukin kopian blog anda ke guru saya)

    saya salut sama bapak yang bisa begitu kreatif dalam mengajarkan ilmu pada para anak didiknya. dan akhirnya saya ngeh juga sekarang tentang materi mol ini. (telat 3 tahun hehehehe)

  6. @ ndarualqaz : Sebenarnya itu sudah biasa dipakai oleh banyak guru2 senior kok, saya hanya menuliskan. Memang saya sangat senang mengjar dengan analogi keseharian kadang yah memang agak lucu. tapi gak papa. Saya yakin guru sampean jauh lebih hebat dari yang sampean kira hanya kimia memang agak susah memcoba untuk me-real-kan benda abstrak. maka saat ini ada bantuan dengan pembelajaran dengan flash. Terimakasih atas kebaikan mas ndarualqaz, semoga lebih banyak guru yang mau berbagi pengalaman.

  7. iya betul pak guru, waktu saya sekolah ada dua yang paling ditakuti : pertama setan dan kedua persamaan reaksi…
    kalau gurunya sudah masuk kelas, rasanya merinding deh… bukan galak, tapi rasanya kimia = tembok cina….

  8. Betul Cak, memang analogi-analogi seperti itu cukup membantu orang lain memahami teori. Beruntunglah para siswa yang masih punya guru yang cerdas yang bisa memberikan analogi2 untuk memudahkan mereka memahami sesuatu.

    Bravo Guru Indonesia..

  9. bikin obat juga gitu pak…

    my plans:
    pengen majang bedak antiseptik
    yang nama dagangnya PUROL
    di site saya

    insya Allah pak
    saya pindah dulu fotonya

  10. Kalo pake analogi becak lebih sip, misalnya bila ada ban becak 16 dan 10 buah sadel akan jadi becak berap. Analogi ini bisa untuk menjelaskan bahwa reaksi kimia pada dasarnya tidak
    pernah habis

  11. halooooooooooooooo salam kenal para pecinta kimia