Lagu Lama Selalu Mengalun

Kalau tembang lama diputar, banyak hal yang terkenang kembali. Apalagi kenangan indah. Sayangmya tidak semua kenangan itu indah. Ingin rasanya memusnahkan lagu-lagu yang membawa kenangan pahit itu. Tapi bisakah itu dilakukan, kopian lagu itu terlalu banyak dan ada di mana-mana. Mungkin bisa dihindari dengan melarang untuk tidak lagi memutarnya kapunpun juga. Dengan sanksi berat yang diterapkan sungguh-sungguh.

Sebuah analogi tentang kondisi keburukan sistem yang dianut di negeri ini, utamanya pendidikan Indonesia. Namun siapakah yang perkasa untuk menetapkan serta menjaga agar tradisi miring dalam sistem ketatanegaraan ini bener2 bersih. Hanya Tuhan saja rasanya yang sanggup melakukan itu semua. Mungkin lewat bencana yang akhir2 ini datang silih berganti, lewat angin, dengan air, melalui tanah, sesekali api juga. Wabah penyakit pun sebagai bel peringatan akan ketidakberesan penerapan sistem tata kehiduapan yang mendekati model jahiliyah.

Mengamati sekitar saya, lingkup pendidikan banyak hal yang digagas dengan tujuan mulya, namun sayang ada saja pencemaran selama pelaksanaannya. Kepura-puraan selalu saja dibuat, untuk mendatangkan kepuasan semu. Kalau pun ada hasil, proporsinya tak berarti. Semua sudah merasakan itu. Mengapa kita diam seolah-olah membiarkan dan mengijinkan itu terjadi. Sulit memang memulainya dari mana. Kata-kata bijak sering kita dengar, “mulailah dari diri kamu sendiri”. Bisakah ini membawa hasil untuk perbaikan semua itu?

Kita baru saja memulai sendiri, kenyataannya itu tidak berarti. Perlu waktu lama kiranya untuk membuahkan hasil. Haruskah kita hengkang dari negeri ini. Atau perlu melakukan instrupeksi diri secara masal? Atau kita bentuk ketatanegaraan baru, ketatahidupan baru, kembali umat menjalankan ajaran agamanya dengan benar, apapun agamanya.  Sudah sebegitu parah-nya seakan-akan tidak lagi bisa teramputasi bagian-bagian yang rusak berpenyakit itu. Hampir sekujur tubuh diserang penyakit yang sangat menyayat-nyayat. Mungkinkah itu dipertahankan?

Benarkah pendidikan di negeri ini bak kandang ayam?

Iklan

10 responses

  1. bagaimanapun lagu lama bagi saya lebih indahdaripada lagu baru khususnya punya koesplus, walaupun lagu2 koesplus ada yang mengingatkan saya pada kenangan buruk di masa lalu, tapi saya tetap memutarnya karena saya tak ingin melupakan kenangan buruk agar saya bisa belajar dari kenganan buruk.

    kalau ingin merubah sisitem yang sudah busuk ini, mungkin jalan satu2nya hanya dengan mengubah pola pikir, dan itu saya yakin tak akan bisa dilakukan pada goongan tua. maungkin cara satu2nya merubah sistem busuk ini hanya dengan mencetak pola pikir yang baik pada generasi muda yang juga mulai ikut busuk. (mungkin…..)

  2. Lagu lama? lagu lama saya underground pak! kayak sepultura,male valent creation, napalm death, dan sejenisnya, enak aja didengar daripada nonton tv dengerin ocehan pejabat negeri ini yang ma’af “nggateli”.

    Mungkin pak guru kebanyakan denger ocehan dan mikirin sistem yg mereka bikin yang sulit dilogika (katanya hanya orang-orang pinter yg bisa bikin sistem yg sulit dimengerti), jadinya pak guru ma’af “agak judeg” he..he..

    mulai dari diri sendiri? wah kalo saya males pak!, perjuangan panjang makan usia, kecuali kalo pengen masuk surga he..he…, berjuang sendiri? alamak!! makan ati!
    tapi bagaimanapun inilah negeri yg kita cintai sehidup semati, pak guru jangan hengkang ke lain negeri, lantas siapa yang mendidik anak negeri agar moralnya lebih baik dari hari ini.

    Ma’af pak comment-nya guyon biar nggak “judeg” en “mbededeg”

  3. Sudah sebegitu parah-nya seakan-akan tidak lagi bisa teramputasi bagian-bagian yang rusak berpenyakit itu. Hampir sekujur tubuh diserang penyakit yang sangat menyayat-nyayat.

    Tak hanya tubuhnya yang sekarat, kini semangatnya untuk menjadi lebih baik pun semakin redup. Kejutan listrik yang sangat hebat seperti bencana dan peringatan lainnya pun tak lagi menjadi bahan renungan. Hanya kepada-Nya kita mengadu

    * Bukanlah ini representasi sebuah keputus-asaan, ia hanya tangisan sejenak untuk memuaskan kesedihan. Kemudian bergerak, dengan denyut jantung yang semakin kencang, kembali tuntaskan perubahan

  4. Hehehe, minggu ini rupanya ada genderang ditabuh ya, sama-sama gregeten menyaksikan tingkah polah sebagian penggede.
    Pak, di kaltim kemarin ada 2 orang mantan pejabat diknas dan RSUD prov dimasukkan tahanan, plus bolo-bolonya semua 9 orang. Kalo KPK merambat ke tingkat II mungkin makin banyak barisannya. Dari 2 item yang diperiksa kedua gerombolan itu melibatkan uang 20 milyar lebih. Mudah-mudahan ketangkep yang lainnya !!!
    Sepertinya yang ini “lagu baru” di tengah “lagu lama” 😀

  5. Sampean ini kreatif sekali memilih analogi. Setelah membaca paragraf pertama, saya baru sadar kalau selain lugas dan tegas ternyata juga bisa sentimentil juga ya.
    Borok dan busuk yang sampean sebut dalam tulisan sesudah yang ini dapat ditemukan di segala lini maupun lapisan kehidupan bernegara kita. Sayangnya, yang teramputasi oleh teguran-teguran secara langsung justru yang kecil-kecil saja sedangkan yang besarnya masih eksis terus entah sampai kapan. Yang penting kita-kita yang musti bisa menjadi diri agar tidak ikut-ikutan menjadi busuk. Terimakasih dan salam eksperimen.

  6. kalo udah telanjur berurat berakar, mungkin gak cukup satu generasi untuk ‘back to the right track’, pak guru.

    tapi kita ga boleh nunggu. kita mulai sekarang. hayaaaah…

  7. *buruk borok kok dipiara ya?*

  8. lha kalo boroknya di kepala masak diamputasi pak?

    Helgeduelbek: Kalau perlu?!

  9. Menurut saya pendidikan di Indonesia itu terlalu ribet. Dilihat dari banyaknya mata pelajaran saja sudah keterlaluan. Maksud hati

    Tata pelajaran di Indonesia intinya terlalu luas, sehingga tidak ada yang terfokus, dan hasil belajarnya cuma setengah2 (yang penting lulus ujian ya toh?).

    Bila negara ini mau maju, kita harus membenahi sistem pendidikan di Indonesia. Tingkatkan kualitasnya! Bila masyarakat mendapatkan pendidikan yang layak, cara pikir mereka akan menjadi lebih maju dan dewasa. Kebanyakan pejabat pemerintahan menyepelekan masalah pendidikan, mereka (termasuk mayoritas kita semua) menginginkan sebuah solusi yang cepat dan instan (yah namanya juga budaya instan). Tapi dalam jangka panjangnya, menurut saya inilah obat yang paling mujarab buat Indonesia.

    mungkin ingin memperpandai anak bangsa, tapi yang ditekankan di Indonesia adalah kuantitas sedangkan kualitas pelajaran tersebut diabaikan.

    Ketika saya pindah ke Malaysia untuk melanjutkan ke bangku universitas saya menjalani sebuah program pre-university, untuk menjalani program ini minimal harus lulus kelas 2 SMA. Di program pre-u itu saya disuruh memilih 5 pelajaran (bayangkan 5! Coba pelajaran anak SMA kelas 3 di Indonesia ada berapa). Dan dari 5 pelajaran itu, 4 adalah pelajaran wajib dan 1 lagi opsional. Empat pelajaran wajib itu ialah pelajaran yang berhubungan erat dengan pelajaran yang saya ambil di universitas yaitu IT. Dengan beban pelajaran yang rasional, murid-murid bisa belajar lebih terfokus dan dengan kesadaran sendiri, karena pelajaran itu pilihan mereka sendiri (tergantung jurusan yang akan diambil), mereka punya sebuah kebebasan, bukan dipaksa-paksa seperti di Indonesia.

    “Indonesia mau beda dan lebih hebat dari negera lain lho, makanya semua pelajaran di rasain bak gado-gado”