Saya Bukan Guru Yang Baik

Semua yang baik adalah yang ideal dilihat dari segi/sisi manapun. Ini persepsi saya. Tuntutan terhadap profesi guru adalah ideal secara profesional. Tidak boleh sedikitpun ada hal yang buruk melekat pada diri guru. Ini karena ada yang menerjemahkan bahwa seorang guru itu harus bisa digugu (dianut/dipercaya) dan ditiru (dijadikan teladan). Jelas itu adalah pengartian tentang guru yang ideal luar dalam.

Saya bukan guru yang baik, tidak semua yang ada dalam diri saya patut untuk ditiru. Dalam hal ini ditiru oleh siswa saya atau orang lain. Mengapa? Karena secara pribadi banyak hal kurang baik dan tidak patut ditiru oleh siswa yang saya ajar. Secara umum-pun juga begitu.

Saya tidak pernah mengikuti aturan mengenai hal baju seragam yang diminta dikenakan untuk hari-hari tertentu. Di hari tertentu diminta mengenakan baju berdasi, hari lainnya diminta mengenakan baju pramuka, padahal saya tidak sedang mengikuti kegiatan kepramukaan. Saya lebih memilih memakai pakaian yang menurut saya enak untuk dipakai, tapi tetap pantas dikenakan orang yang berperan sebagai guru. Meskipun pekerjaan saya guru tapi saya lebih memilih tidak terkesan bahwa saya adalah guru, yang selalu memakai baju jas khas guru. Rasanya puanas, tidak enak untuk bergerak, sangat tidak cocok untuk lingkungan kerja saya.

Bagi saya keputusan perintah untuk mengenakan pakaian semacam itu jelas salah kaparah dan salah guna. Saya meskipun jadi guru dengan status pegawai negeri enggan mengikuti aturan dengan membabi buta. Yang saya heran ide siapakah itu? Kok tidak masuk akal dan sok gagahan, padahal itu tidak sedikitpun meningkatkan kinerja seorang pelayan masyarakat. Dan ini diberlakukan untuk semua pegawai tidak hanya guru.

Kemudian disela-sela jam mengajar saya lebih sering saya habiskan di depan komputer yang ada di ruang komputer berselancar memanfaatkan akses internet yang disediakan oleh sekolah 24 jam penuh sehari. Kadang juga ngeblog juga hehehehe. Sementara rekan saya yang lain lebih suka berdiam di kantor yang jika tidak ada kerjaan diisi dengan ngobrol ngalur ngidul dengan yang lain. Saya mengajak dan menawarkan untuk mengisi waktu disela-sela rehat menjalankan tugas untuk turut ngeblog ternyata belum juga membuahkan hasil. Mereka belum terpanggil rupanya.

Sesekali saya juga meninggalkan sekolah untuk berkunjung ke sekolah yang lain untuk sekedar ngobrol yah idep-idep berdiskusi dengan guru serumpun. Atau saling belajar terkait pengajaran TIK yang kebanyakan di sekolah lain juga guru TIK-nya adalah sama dengan saya sebagai guru TIK gadungan. Di daerah saya yang tidak terlalu besar kotanya, sulit untuk bertemu dengan rekan yang memiliki arah pemikiran yang sama, demikian pula di sekolah saya sendiri.

Itu tadi beberapa keburukan saya yang belum semua saya tuliskan. Jelas tidak patut ditiru oleh siswa saya. Kalau siswa tidak mau mengenakan pakaian seragam di sekolah mereka dikenai sanksi dan tidak jarang diomeli oleh guru. Yah seperti kita dulu sewaktu jadi siswa juga harus disiplin masalah pakaian ini khan? Alasannya harus disiplin dll. Dan siswa tidak boleh kelayapan seenaknya sendiri, ini aturan semua sekolah. Sementara saya, guru bisa kemana saja. Tapi saya punya komitmen bahwa jika waktunya mengajar saya harus benar-benar mengajar titik.

Ada memang suatu sekolah yang menerapkan kebijakan bahwa ada jam mengajar atau tidak ada, guru tidak boleh meninggalkan kantor. Bagus memang kebijakan semacam itu. Tapi kebanyakan guru malah tidak tahu apa yang mesti dilakukan di kantor, mereka banyak yang ngedumel. Tapi bagi saya itu oke-oke saja, dan itu bukan halangan untuk banyak melakukan aktifitas, meskipun semua tugas terkait pengajaran selesai. Lebih-lebih tersedia akses internet, banyak hal yang bisa dilakukan. Kata saya ayolah… manfaatkan internet “biar kelihatan sibuk…” ini seloroh saya. Padahal di internet memang banyak informasi yang bisa dimanfaatkan oleh guru untuk kegiatan mengajarnya. Sekali lagi juga dengan belajar menulis di blog seperti ini.

Saya yakin di luar lingkungan saya pasti banyak guru yang baik, yang bisa bener-bener mendidik siswa. Saya rasanya belum bisa seperti itu. Tapi pekerjaan guru adalah pilihan saya sejak mula. Masih terlalu banyak yang harus dipelajari untuk benar-benar bisa jadi guru. Apalagi tuntutannya kalau seperti yang ditulis oleh Maminya Nindhi:

Mengembangkan potensi guru memang peting,tetapi saya sebagai orang tua murid, yang saya harapkan sederhana saja, yaitu :
1. Guru yang mampu memotivasi murid
2. Guru yang dapat mengembangkan potensi murid.
3. Guru yang dapat medidik ahlak murid sekaligus sebagai contoh.
4. Guru yang dengan tulus mencintai muridnya.
5. Guru yang percaya dan bisa dipercaya muridnya.
Guru yang demikian saya tunggu. Anak perlu cinta, semangat, dan kepercayaan.

Mungkin tidak banyak guru yang bisa melakukan itu. Tapi saya yakin ada, dan saya tidak termasuk di dalamnya. Mungkin nanti πŸ™‚ .

Saya berharap akan banyak guru-guru yang baik, yang juga berkesempatan ngeblog agar bisa membagi pengalaman lewat blognya, sehingga saya bisa mengambil pelajaran dari situ.

43 responses

  1. Mas Urip saya yakin walau saya belum bertemu dengan Mas langsung, 5 point yang di tulis di atas itu ada di diri Mas Urip. Memang tugas guru berat banget. Dan beda antara mengajar dan mendidik. Banyak guru yang hanya sebatas gugur kewajiban saja. Yang penting ngajar, ngabisin jam pelajaan, murid mau tau atau tidak itu urusan mereka.

    Masalah baju seragam, saya kira pemerintah juga salah kaparah. Buat apa guru di bikin keren-2 dengan cara pakai dasi. Kalau isi di otaknya tidak ada. Lebih baik pakai pakaian yang sesuai aja, nyaman dan berwibawa.

    Soal internet, sayang ya, ada koneksi internet tapi kok di anggurin. Kalau saya ada koneksi internet pasti non stop akan saya gunakan (untuk apa saja) karena memang di internet apa saja bisa kita cari dan temukan. Dari yang hitam sampai putih.

    “Walah mas sementara ini saya mungkin termasuk lebih mengutamakan mengajar dulu, mendidik itu sepertinya kok yah sulit yah. Makanya saya lebih tepat disebut sebagai pengajar. ah itu sekedar sebutan kok, dan nyatanya siapa coba yang berani mengaku sebagai pendidik. Berat men.
    Sering memang pemerintah atau pimpinan lebih mengutamakan tampilan sekolah sementara kegiatan disekolah tertatih-tatih asal ada. Itulah bedanya orang yang satu dengan yang lain punya prinsip beda, dan memang tidak boleh ngekor terus, barang kali keengganan memanfaatkjan fasilitas itu juga prinsip kali yah”

  2. Maminya Nindhi kok bilang kalau harapannya sederhana ya?

    Mengembangkan potensi guru memang peting,tetapi saya sebagai orang tua murid, yang saya harapkan sederhana saja, yaitu :
    1. Guru yang mampu memotivasi murid
    2. Guru yang dapat mengembangkan potensi murid.
    3. Guru yang dapat medidik ahlak murid sekaligus sebagai contoh.
    4. Guru yang dengan tulus mencintai muridnya.
    5. Guru yang percaya dan bisa dipercaya muridnya.
    Guru yang demikian saya tunggu. Anak perlu cinta, semangat, dan kepercayaan.

    Padahal itu tugas yg sangat berat dan tidak mungkin dipikul oleh guru seorang diri. Tetapi harus ada kerja sama dua belah pihak, yaitu antara guru di sekolah dengan keluarga di rumah. Keberhasilah pendidikan anak juga ditentukan keluarga. Tidak fair jika kegagalan murid ditimpakan melulu kepada guru/sekolah.

    Salam.

    “Itu penyederhaan berpikir saja mungkin maksudnya mas, nyatanya itu adalah ideal bener yang semestinya semua guru menuju ke situ, tapi yah itu, tidak bisa sendiri, banyak komponen yang bisa mempengaruhinya. Tapi beban guru selalu mendapat posi awal begitu ada masalah. Salam juga mas”

  3. Hehehe jadi kesindir nih, kalo pak guru begitu apalagi saya pak hehehhehe
    1. Ngak suka make seragam
    2. Lebih senang ada di lab kom dari pada di ruang guru
    3. Suka kelayapan ke sekolah lain
    4. Ngak patut dijadikan contoh buat siswa
    Halah itu persis saya

    “Sepertinya kita yang punya sifat seperti itu tidak sendiri yah.”

  4. Pak Urip,
    Bapak guru yang sangat baik dan hebat mau mengabdikan diri di pelosok palangkaraya, aku salute banget pak, tidak mudah tentunya apalagi tidak banyak yg memperhatikan nasib guru yg menurutku tulang punggung bangsa. Bangsa ini kalau mau maju yg pertama di benahi harus pendidikan dan kesehatan, baru bisa mikir dan bekerja membangun perekonomian kalau pinter dan sehat, tetap berjuang pak…semoga amal jariah bapak menjadi bidadari yg menemani bapak kelak.

    Tentang seragam sebenernya emang jadi double standart kalau murid harus berseragam, kalau memang peraturan, nanti muridnya bisa ngomong balik, bapak juga ga nurut peraturan, jadi musti cari solusi barangkali pak, bahan seragam yg spt punya muridnya, mudah2an bahan seragam murid katun. Mohon maaf pak ya, menurutku penting sekali konsekuen jd pendidik ga mudah spt jd ibu juga anak sekarang kritis2 jeee, anakku protes kalau aku belanja, mama beli macem2 aku kok suruh nabung melulu, waduuh…

    “Hehehe Mbak Evi saya bukan di palangkaraya, tapi di kalteng bagian barat. Retorika memang selalu begitu, pendidikan dan kesehatan harus dikedepankan, nyatanya sering diingkari pada tataran pelaksanaannya. Waduh ada bidadari segala yah πŸ™‚ seperti apa sih bidadari itu. Wah poligami nu? Semestinya yah seperti kita saat jadi siswa dulu, siswa ngerti kenapa harus pakai seragam kenapa guru gak. Kita dulu gak pernah protes kalau masalah gituan khan. Ini ada kesalahan yang semestinya diperbaiki masalah seragam itu sebab jaman sudah berubah. Kalau masalah biar tidak ada perbedaan yang mencolok yah tetep gak bisa juga kok. πŸ™‚ “

  5. Saya bukan guru yang baik, tidak semua yang ada dalam diri saya patut untuk ditiru. Dalam hal ini ditiru oleh siswa saya atau orang lain. Mengapa? Karena secara pribadi banyak hal kurang baik dan tidak patut ditiru oleh siswa yang saya ajar. Secara umum-pun juga begitu.

    emang untuk menjadi baik harus menjadi sempurna tanpa cacat bak malaikat dulu ya pak? bagi saya orang yang selalu ingin memperbaiki diri sudah cukup dikatakan sebagai seorang yang baik.

    “Sepertinya manusia itu sering berharap lebih pak, maunya yang ideal. Padahal guru juga manusia hehehehe”

  6. Susahnya yah Pak jadi guru yang baik,..
    IMHO, ‘keburukan’ Pak Urip sebagai guru yang disebutkan di atas masih wajar koq,.. tapi gak tau juga deh klo masih ada yg blom ditulis hehehe,.. semoga tidak yah! πŸ™‚

    “Ada lagi misalnya paling mbeling masalah upacara bendera tiap senin itu, mosok katanya belajar disiplin, menghormati pahlawan lah dalihnya. Padahal itu acara seremonial yang asli hanya buang waktu, kan lebih bagus untuk belajar “

  7. Menurut saya untuk menjadi guru yang baik, pertama-tama harus menanyakan kepada diri sendiri, “Apakah saya senang dengan pekerjaan ini?”. Bila tidak, maka semua pekerjaan (tidak hanya jadi guru saja) akan dikerjakan dengan setengah-setengah. Yang paling penting adalah mencintai pekerjaan anda, itu yang harus dimulai pertama-tama.

    Kedua, tanya lagi “Kenapa saya menyenangi pekerjaan ini?”. Dengan motivasi yang benar, kita akan terdorong untuk melakukan lebih baik lagi. Tapi ya akan tetapi, kalau alasannya ternyata melenceng, disini akal budi lah yang berperan. Kalau memang ndableg ya agak susah juga haha.

    Untuk seragam memang kalau untuk murid itu untuk menyeragamkan saja, agar tidak ada perbedaan sosial yang mencolok. Kebetulan saya bersekolah di sekolah swasta dulu jadi guru-gurunya berpakaian kemeja lengan panjang dan dasi saja. Namun untuk seragam siswa, yang lucu itu kenapa harus bermacam-macam? Ada seragam putih abu2, batik, pramuka, dan baju koko (itu disekolah saya). Kalau alasannya penyeragaman, saya kira cukup satu jenis baju baju saja, jadinya itukan hanya nambah-nambah duit saja. Terlebih untuk hari jumat, banyak sekolah mewajibkan siswanya memakai peci dan jilbab (termasuk sekolah saya). Menurut saya pemakaian atribut keagamaan seperti itu bukan urusan sekolah, karena yang namanya agama itu kembali ke diri masing2, karena agama itu sifatnya personal ya toh? Kalau memang murid tidak mau memakai jilbab atau peci, ya sudah dibiarkan saja jangan dihukum, memangnya sekolah itu siapa bisa memaksakan preferensi agama seseorang?

    “Iyah nih mestinya saya dan juga yang lain harus lebih sering mengingat 2 pertanyaan itu, terimakasih sudah diingatkan… Apa mungkin masalah serangam itu karena sifat manusia saja kali yah, Lah Tuhan saja ciptaannya gak ada yang identik alias seragam”

  8. Belum pak, ini terdengar (agak) lebih keren dari Bukan (menurut saya nih pak) secara kita kan memang selalu berproses untk menjadi lebih baik…

    Hmm…entah kenapa saya selalu saja menangkap kesan baik dari orang yang mengatakan dirinya belum baik, karena berarti ada kesadaran serta merta bahwa kita memang harus melakukan perbaikan tanpa ada jeda dan tak pernah merasa bahwa kita telah menyelesaikan proses itu,

    Baca postingan bapak saya jadi teringat guru SMU saya…

    “Baik menurut saya beda dengan menurut pihak lain, malah kadang malah kita sering dikata mbeling”

  9. Wah jujur saya nggak bisa membayangkan andai semua guru kados pak urip, yakin pak 10 tahun lagi akan muncul generasi masa depan yang benar-benar mumpuni di negeri ini.

    Saya adalah mantan dosen sebuah PT swasta didaerah saya, baru sebulan ini mengundurkan diri, alasannya karena beban moral yang tinggi, saya merasa orang yang kurang ilmu dan beberapa alasan yang telah disampaikan pak urip, sehingga tidak pantas untuk dijadikan dosen/pendidik, sementara teman dosen yang lain, yang hanya modal baca sehari terus ngajar tetap aja meneruskan kegiatannya yang notabene sangat merugikan mahasiswa, saya sangat kecewa. Andai semua dosen kayak pak urip…

    Satu hal lagi pak, seharusnya semua guru dinegeri ini belajar dari anda, jangan bertanya ke sesama guru dan menunggu bagaimana idealnya sebagai guru (karena mereka geblek, ma’af), tapi buatlah diri pak urip sebagai contoh bagaimana idealnya seorang guru yang harus dihormati

    “Salut saya sama panjenengan pak, orang lain malah mencari-cari meskipun kualitas dirinya sering gak nyandak maksa, lah mungkin kepepet gak bisa cari kerjaan lain. Walah kalau elajar sama saya, lah saya ini siapa, saya belum mengungkap kebiasaan jelek saya di sekolah, temasuk anti yang namanya upacara lho. Standar baik menurut saya sih ok kalau menurut orang lain yah minta ampun pak”

  10. saya murid yang kurang baik…. πŸ˜€

    “Dulunya gitu yah”

  11. pak guru gaul neeeh. funky geto loh..kikikik…

    “Masak sih, dimana letaknya ke funkyannya”

  12. Nonton Gokusen aja sebagai pencerahan… :p

    “Minta filmnya donk”

  13. Seragam, Jas, dasi, sertifikasi apalagi ukurannya ya ?
    Yang bikin aturan gitu kalau tidak salah dulunya juga murid ya, ini kalau tidak salah lho. Soale kan mereka beliau-2 itu pinter-pinter (sepertinya), semua harus nurut 😦 walaupun gak logis, yang penting ketuk palu, maka jadilah peraturan.

    “Lagi ilang ingetan saja kali Cak”

  14. wah, kalo pak urip aja gak pantas dijadiin contoh buat murid2nya, lantas murid2 nyonto siapa pak? kalo pak urip aja merasa gak layak buat dijadiin contoh, berarti sangat sulit dung pak nyari guru yang bisa dijadiin contoh?

    “Sepertinya seperti itu kalau yang dijadikan teladan harus ideal”

    kalo soal seragam yang harus “sok” pake jas dan dasi, emang pemimpin kita tu selalu western oriented (bener gak ya istilah ini), kalo di barat sana ya gak papa, kan disana dingin, kalo disini ya, gerah pak.

    “Kadang maunya biar kelihatan wah-nya saja sih”

  15. memang gak penak pak pake seragam yang biasa jadi ciri kasnya seorang guru. weleh gak bisa leluasa merentangkan tangan ke belakang, entar takutnya kelihatan dalemannya.
    saya setuju kalo guru gak musti pake seragam, yang penting ilmunya bisa kepake sama muridnya alias mudengan (mengerti gitu loh)

    “yah semestinya tidak diutamakan yang sifatnya gak primer, yang penting tujuan utamanya ngajar dengan bagus memang, cuman kadang banyak yang hanya tertuju kesitu”

  16. saya percaya pak guru bukan guru yang baik.. toh bapak sendiri yang mengucap.. =) tapi saya sendiri banyak sekali mengambil hikmah dari apa yang bapak tulis dan paparkan.. terima kasih untuk yang satu itu..

    mengutip perkataan senior saya..

    ” ..yang biasa belum tentu baik.. tapi yang baik harus dibiasakan.. ”

    “Bagus tuh permainan katanya, maknanya mendalam sekali untuk bisa diterapkan dalam kehidupan, terimakasih”

  17. tulisan iki, Pak, menunjukkan la ne jenenga iku guru sing uaaaapik lan ceurrdass !!!

    Vote Pak Urip untuk ketua partai guru (^_^)

    “Ada saja nih bu moernier, pakai bikin partai segala”

  18. Pak Urip, sabar Pak. Menurut saya, kriteria guru yang baik salah satunya adalah mengajarkan anak didiknya membaca dan menulis (dengan kategori yang amat luas).

    Bapak sudah mengamalkan hal ini.

    Sejujurnya, pendapat saya pribadi…, saya banyak belajar menjadi guru yang baik dari tulisan-tulisannya Pak Urip.

    Pak Urip, dengan bangga, saya mampu mengatakan saat ini kepada bapak, “Anda guru saya. Dan saya bangga punya guru seperti anda”.

    “Walah kebalik atuh kang, saya yg belajar dari cerita2 unik kang Arif, ditunggu selalu”

  19. kayaknya masih kurang, guru itu mesti provokatif…pak urip…

    “Walah berubah profesi jadi profokator, lah disekolah saya sepertinya sudah ada je… profokator miring hehehehe”

  20. Masih kurang juga Pak urip, Guru juga mesti nyeleneh πŸ˜† , sebagai gambaran bentuk kreatifitas yang terbelenggu aturan2 yang rigid (kaku).

    Saya juga murid yang tidak baik lho Pak Guru… πŸ™‚

    “Ide saya begitu juga cuman yah gak terlalu juga sih, tar dikira nyari perhatian, jadi malah lucu, semua itu mesti harus ada tujuan jelasnya dan masuk akal sesuai dengan tujuan utama pendidikan”

  21. guru yang baik adalah guru yang bisa membuat muridnya membangkan secara intelektual terhadap sesutu yang tidak disetujuinya. eheheheh … πŸ™‚

    “Sesekali saya menyarankan begitu tapi dengan cara halus agar siswa bunya sedikit suara”

  22. walah……soal segitu aja Om, yang penting tuh ngajar dengan baek….ya to? semoga ada guru fisika yang ngeblog…kan seru…!!

    Iyah sih, lho kok nunggu guru fisika kenapa?

  23. Pak Guru harus berseragam ini itu, murid harus berseragam ini itu, badge ini itu, tas ini itu, kaos kaki pun yang ini itu, hari ini baju ini, hari itu baju itu. Semua objek bisnis euy….

    “Sepertinya emang gitu, mungkin ada sponsor dibelakangnya kali yah, saya tidak tahu juga”

  24. Tidak tutup mata. Ada guru yang pake seragam, berdasi, huibat, mewajibkan siswa berseragam, rapi, dan bersih – sampai bersih ke otak-otaknya. Saya punya kawan yang punya prinsip siswa juga harus rapi berseragam, kalau tidak akan dihukumnya, tapi ketika kawan itu keluar sekolah meninggalkan tugas mengajar, enggak ada yang menghukum. Lha bagaimana mau menjadi contoh penegak keadilan?

    “Kembali ke nurani saja yah, mau makan uang gaji opo kagak πŸ™‚ “

  25. Mas Urip,

    Saya sebenernya masih menganut faham “Never judge a book by its cover”, yah, jangan pernah nilai orang dari pakaian yg dikenakannya mas! Hehe.. Toh, walau pakaian gag seragam tapi masih resmikan.

    Kecuali kalau situ ke sekolah terus ngajar makek celana renang di depan murid-murid. Howalah, itu namanya “Guru kencing berdiri, murid-murid ngencingi gurunya” hehehe.. Maaf, kalau ada kata yg salah!

    “Walah tamu jauh nih, gimana kok gak nulis di IKC lagi nih, ditunggu tutorial kerennya lho.
    Tapi kebanyakan orang lebih seneng lihat sampulnya makanya perintahnya yah sampul yang bagus meskipun isinya bangkai. Kalau pakai baju renang mah pelajarannya jadi lain donk”

  26. wih rame banget komentarnya, dadi bingung mau komentar apa…. wis selamat berjuang aja cak urip, supaya menjadi guru yang tak pernah berhenti belajar… πŸ™‚

    “nggih cak semoga membuahkan hasil positif”

  27. perasaan keburukan keburukan yang anda sebutkan di tulisan anda itu sama sekali nggak ada yang buruk deh…..

    1. Seragam, kalau murid disuruh pake baju seragam memang ada maksudnya (kata guru PMP saya dulu sih supaya tidak ada kesenjangan sosial). lha kalo guru?

    2. Sampeyan sering ngeblog/menulis. Setahu saya sekarang para pendidik (guru/dosen) justru sedang gencar-gencarnya didorong untuk menulis deh πŸ˜›

    3. Anda sering sharing ke sekolah lain, bukannya itu malah bagus (apalagi kalau tidak dibiayai sekolah dengan alasan dinas luar πŸ˜› ) daripada “dinas luar” yang nggak bermanfaat

    lantas keburukannya dimana? ini sambat ta sombong? πŸ˜› (guyon lho pak)

    “1. Kalau guru yah biar kelihatan hebat, gagah dan berwibaya katanya; 2. Walah kalau saya jarang “ngantor bersama” karena lebih sering di ruang komputer, mereka mengira saya main-main saja; 3. Yah menurut sampean gitu, tapi yang lain mandang itu kegiatan kelayapan gak karuan seenaknya sendiri, tapi saya cuek saja”

  28. Wah karena banyaknya kesibukan (sibuk main dll :D) saya jadi tidak mengunjungi “kediaman” Pak Guru nih dan ternyata (seperti sudah saya duga) saya akan ketinggalan begitu banyak hal-hal menarik di sini. Suguhan yang diberikan Pak Urip selalu lezat πŸ˜€
    Tentang guru yang baik atau tidak baik…
    Baik dan tidak baik lebih sering bersifat relatif dan juga subyektif (walaupun sebenarnya sudah ada suatu norma yang “mengatur” hal tersebut)
    Tentang poin-poin yang Bapak sebutkan menurut saya bukanlah suatu ketidakbaikan karenakalau meninjau poin2 tersebut yang lebih penting adalah alasan2 di balik poin-poin tersebut.
    Dan (sekali lagi menurut saya), alasan yang Bapak berikan tidak menunjukkan suatu ketidakbaikan
    Ada beberapa poin2 yg juga saya lakukan yaitu dalam hal berpakaian dan “pengasingan diri”, tapi sayangnya saya jarang melakukan kunjungan (alias main) ke sekolah2 karena saya lebih senang main (maklum masih sok muda :D)

    Finally…
    Pokoknya kalau akan ada pembentukan partai guru (seperti komentar murniramli), saya siap memilih Pak Urip sebagai ketuanya bahkan saya juga siap jadi juru kampanye dech πŸ˜€

    “Saya tidak mau ah yang lain ada yang lebih berkompten, lah saya organisasi aja gak paham je. Semstinya yang jadi pimpinan itu khan Raja alias Deking πŸ™‚ “

  29. Lha hiyo to Pak Dhe. Guru sing uapik ki sing kepiye to? Pemerintah ini kadang-kadang muluk-muluk keinginannya (bagus saja sih mengkhayal yang ideal), tapi kalo mengkhayal yang gak kiro-kiro, yo jadi orgil…yoh to Pak Dhe? Guru harus begini….harus begitu…eunak wae yen ngomong….kalo sistemnya tidak mengarah pada kondisi guru yang ideal, yo koyo awak-awak iki sing jadi korban arogansi kekuasaan. Wis ben wae Pak Dhe mengko dipertanggungjawabkan dewe2 (kok jd pesimis). InsyaAllah apa yang sudah kita kerjakan selama ini, selalu mengarah ke yang lebih baik.

    “Iyah, masalahnya biasanya yang sering menilai itu temen-temen kita yang suka perduli dengan kita, lalu bicara yang kadang memojokkan, padahal tidak tahu apa yang sebenarnya kita lakukan. Mungkin setiap kita ngapain gitu kudu woro-woro kali yah? Kadang mereka lebih suka menggunakan alasan gampang tidak menggunakan logika yang bener, asal menurut saja. Alasannya tidak enak lah, padahal hatinya sebenarnya menolak. Apa namanya kalau sudah seperti ini. Tapi yah itulah manusia. Yah semoga suata saat kelak ada hasil yang bener2 membuktikan bahwa apa yg kita lakuin itu bermanfaat. OH ya, terimakasih atas titipannya.”

  30. Wakakaka …ada guru yang ngaku rupanya …btw kepseknya gak diajakin pak? atau pak urip adalah kepseknya?
    BTW, Kalo ngeblognya sendirian kan enak pak, benwitnya gak keganggu :-”

    “Daripada dipaksa mengakui. Kepseknya sibuk ngurusi sekolahnya πŸ™‚ , saya guru biasa saja kok. Yah masak kalau ada yang bagus gak boleh ngajak. Lah saya di blog sudah “menghimbao” (*sok jadi pejabat*) guru lain temen2 sendiri ada saja alasannya.” Mungkin setiap tulisan dikasih honor gitu baru mau kali yah?”

  31. Selama status sosial dan ekonomi guru tidak ada perbaikan, tidak akan ada guru yang ideal karena lulusan terbaik tidak ada yang mau jadi guru. Selama in, jerih payah guru hanya dihargai dengan gelar PAHLAWAN TANPA TANDA JASA yang sangat klise. Kenyataannya, guru identik dengan BERBAJU MENTRI TAPI BERGAJI KULI atau BERPANGKAT JENDRAL TAPI BERGAJI KOPRAL. Yang jelas, pendapatan guru belum seimbang dengan tuntutan kerjanya. Kalau ada yang penasaran, bisa bikin penelitian tentang volume dan tingkat kesulitan kerja guru dengan pegawai negeri di departemen lain atau di Pemda.
    Terimakasih dan salam ekperimen.

    “Kadang ada yang berpola pikir terbalik, guru diminta unjuk gigi dulu baru dikasih “bonus”.
    Kali ini analogi kang paijo lebih mantep. Eksperimen terus deh”

  32. mencari mungkin sulit …namun bila menciptakan bisa saja terjadi … maka “ciptakanlah” guru yg baik …
    seperti membeli sebuah rumah …yg terlihat indah dan megah lengkap dengan perabotan lux beserta segala fasilitasnya … tentu punya harga tersendiri …dan … bila mendapat rumah yg tak cocok …gampang … tinggal robohkan … bangun lagi yg baru yg leboh cocok !
    sebab itu …jangan bermimpi punya rumah “mentereng” bila cuma mengandalkan terima kasih !

    “Mau saya juga gitu robohkan bangunan saja. Tapi katanya terlalu kasar. Saya pun siap dicopot kemudian siap ikut ujian lagi demi kelayakan”

  33. Agar betah di kantor guru, sebaiknya Pak Urip memindahkan satu set PC + jaringannya ke meja kerja Pak Urip di kantor guru. Dijamin betah dan tetap nggak ngerumpi deh.

    “Dulu pernah di sediakan, tapi waktu itu belum tersedia koneksi internet, sekarang perlu koneksi wireless, belum ada dana. Kalau pakai kabel lumayan jauh. sekolah tempat saya ngajar luas, ruangannya tersebar, meskipun jumlah kelas hanya ada 9 saja. Dulu ada komputer cuma dipakai main game akhirnya ditarik lagi ke ruang beljar komputer kang.”

  34. Saya setengah mati sekarang ingin jadi guru pak…
    Lulusan FKIP jadi wartawan kan aneh ya…
    Tapi saya belum berani, ada perasaan saya tidak pantas jadi seorang guru… Belum semulia itu hati, pikiran dan prilaku saya…

  35. saya kemarin pulang kampung. seperti biasa saya pasti selalu menemui guru2 saya dulu. guru sd dan guru sma (pas smp lain kota). saya sangat trenyuh melihat guru2 saya waktu sd dulu. masih tinggal di rumah sederhana dengan seadanya. ah….apa jadinya saya sekarang seandainya beliau dulu tidak rajin menjewer telinga saya…

  36. Alangkah baiknya bila Bung Urip daftarkan postingan ini di
    http://muhshodiq.wordpress.com/2007/02/28/pendaftaran-%e2%80%9ctop-posts%e2%80%9d-jan-feb-2007/
    pada kategori Self-Discovering dan kategori lainnya yang relevan.

  37. harusnya lagi …
    setelah sertifikasi berjalan … kompensasi yg diberikan harus di atas rata2 … dan harus lebih tinggi dari kompensasi sektor manapun …
    itu kalau semua kita menganggap guru adalah seorang pahlawan !
    jadi … bukan hanya retorika dan gincu semata …

    fakta bicara …
    sedikit mengenyampingkan manusia yg memang punya dedikasi …
    menjadi guru adalah pilihan kesekian …
    rata2 … lulusan SMA yg punya nilai mumpuni lebih memilih fakultas menterang yg menjanjikan kompensasi tinggi …
    bisa dokter … insinyur … pengacara … dan lain sebagainya … !

    andai … kompensasi seorang guru di atas dari penghasilan profesi lain … 1 jam pelajaran dibayar $100 … bukan $1 …
    tak ada lagi guru yg jadi tukang ojek …
    tak ada lagi guru yg “memaksa” muridnya beli buku …
    tak ada lagi guru yg nyambi buka jahitan

    akal dan pikirannya … tercurah untuk membuat murid menjadi lebih baik dan melakukan penelitian untuk kebaikan ummat !

    bila setelag semua itu berjalan … dan masih ada guru yg tak becus … pecat saja … atau kuburkan dia segera …

    wakakakkakaa …

  38. Tolong bagaimana caranya supaya link nya bisa aktif gitu lo Pak Urip. Saya lagi baru belajar jadi gak ngerti caranya buat link agar bisa aktif. Nuwun.

  39. Oh gitu: Seperti yang pernah ditanyan rekan yang lain di sini

    <a href=”url yang mau di link“>Teks linknya yg ditampilkan</a>
    Analoginya
    <a href=”alamat rumah xyz“>Pergi ke Rumah xyz</a>

  40. kalo gurunya nggak baik… yang penting bisa menghasilkan murid yang baik..tetep semrangat pak guru!

  41. numpang corat-coret, saya bukan seorang pegawai atau pengajar, saaya hanyalah TKW yang nyasar di Honkong, tapi saya dulu juga bekas murid atau siswa salah satu SMK N Malang & saya punya hobby sama dengan penulis, yaitu mengakses internet, sah sah saja guru, punya pemikiran seperti bapak, bapak punya hak yang sama dengan manusia lain , yang terpenting tidak hanya berkedok jadi guru, melainkan di saat mengajar harus juga konsekwen, soal selalu memanfaatkan internet sungguh suatu kemajuan, dan itu bisa juga di salurkan pada murid2 nya juga….itu ide bagus, karena dg internet bisa merubah kita jadi tahu dunia luas ,,, ok Bravo… and cayooooooo!!!! (BHS korea yang berarti semangat!!!)
    Thank’s All
    yanti sang babu
    (Yanti81@googlepages.com)

  42. Hari gini susah sekali mencari guru yang ideal disertai segudang kompetensinya yang bak malaikat kebaikan itu. Tapi menurutku harapan maminya nindi itu ga terlalu muluk-muluk amat, beliau menetapkan harapan itu sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak yang dapat tumbuh pesat dengan pupuk cinta kasih, motivasi, kepercayaan penuh and bimbingan tanpa lelah.
    Jadi inget Pak Kobayashi kepala sekolah sekaligus gurunya Totto Chan. Sepertinya harapan maminya si nindi itu melukiskan sosok Pak Kobayashi deh. Harapan yang sederhana tapi daleeemmmm …..