Beberapa Pertanyaan Klasik

Banyak yang menyangsikan kondisi guru-guru di Indonesia. Jika kondisinya guru payah lalu pantaskah guru menuntut kelayakan gaji seperti anggota dewan yang terhormat itu?

Ada kesamaan antara teka-teki “Mana yang lebih dulu ada, telur ataukah ayam” kalau menyoal tentang mutu dan kesejahteraan guru. Mengapa guru tidak semangat ngajar, apakah mungkin karena gajinya kecil? Toh sebelumnya kalau memilih pekerjaan sebagai guru ia tahu bahwa gajinya kecil. Lalu apakah keadaan berubah dengan dinaikkannya gaji guru? Apakah sekonyong-konyong kinerja guru akan membaik? Pastinya akan banyak persepsi tergantung sudut pandang mana melihatnya.

Benarkah kualitas guru menurun selama ini karena pilihan profesi guru karena keterpakasaan belaka? Kuliahnya pun dipilih karena lebih mudah dibandingkan di fakultas non keguruan? Mengapa banyak orang yang konon pinter tidak memilih pekerjaan sebagai guru? Apakah ini karena pekerjaan guru tidak menjanjikan kehidupan yang layak di tengah masyarakat? Di manakah akar masalahnya?

Barang kali karena guru tahu diri meskipun jumlah tidak sedikit namun tidak ada nyali untuk jual mahal masalah gaji. Bahwa jumlah guru yang layak mengajar tidak banyak, lalu mereka malu untuk menuntut gaji demi kesejahteraannya. Sepertinya ini ada benarnya. Adanya sertifikasi mungkin dipandang sebagai cara yang tepat untuk menyelesaikan polemik berkepanjangan masalah guru yang ini. Namun sayang saatnya kurang tepat mengingat kondisi pengambil kebijakan akhir-akhir ini juga “kurang bisa dipercaya”. Tipu-menipu masih sangat marak terjadi di lini pendidikan negeri ini.

Inilah yang menjadi kekhawatiran banyak pihak. Meskipun ada yang bicara kalau guru memang layak dan pantas menyandang pekerjaan guru kenapa takut uji sertifikasi. Menurut saya masalahnya bukan takut atau berani, masalahnya adalah selama ini keadilan yangย  sering diperjualbelikan. Penggagas ide tentang sertifikasi sangat yakin sertifikasi akan menyelesaikan persoalan kualitas guru sekaligus kesejahteraannya. Tapi apapun keadaannya saya tidak yakin akan hasilnya, kecuali dibuat laporan fiktif alias bohong-bohongan. Ini sepertinya komentar sebelum sesuatu itu terjadi. Tapi patut ditinjau atau dikaji ulang khan?!

Tidak dipungkiri bahwa di sekolah memang banyak dijumpai guru-guru yang tidak layak mengajar, seperti halnya hasil uji kompetensi guru yang telah dilakukan di banyak daerah. Lalu apakah ini menyebabkan bahwa guru tidak pantas menerima gaji untuk kesejahteraannya? Apa jadinya jika guru-guru itu lantas dipecat, meskipun hal ini tidak dilakukan karena agak dilakukan upgrade pada diri guru. Apakah mudah mencari penggantinya?

Demikian beberapa pertanyaan klasik seputar mutu dan kesejahteraan guru. Apakah pengambil kebijakan bisa memberikan solusi yang terbaik untuk semua?

31 responses

  1. Kalau bu atau pak guru tidak punya penghasilan cukup untuk menghidupi keluarganya, akibatnya?
    Ya, betul: tidak bisa konsentrasi dan mesti cari penghasilan tambahan. Yang kena ya kualitas pengajarannya (sering, tapi tidak selalu).
    Sayang banyak yang tidak sadar dan tidak mau mengerti hal ini, terutama yang di atas sono.
    Mengenai guru yang tidak layak mengajar: ya di bidang pekerjaan lainpun ada kelompok yang gitu. Di bidang kedokteran ada yang nggak layak berkerja sebagai dokter, di bidang kepolisian banyak yang nggak layak jadi polisi.
    Terus? Biar saja mereka gajinya kecil? Biar saja mereka cari kerjaan tambahan dengan efek mengabaikan pekerjaan utamanya?
    Dedikasi? Dedikasi dengan perut lapar dan anak yang merengek-rengek itu tidak ada. Sarananya harus memadai.

  2. Sejak zaman dulu, Konfusius pun pernah mengatakan kalau guru adalah pekerjaan yang paling mulia, lebih mulia dibanding dokter.

    Namun seiring perkembangan zaman, posisi guru sebagai insan terhormat mulai tersingkir. Zaman dulu tidak ada paksaan untuk sekolah, anda mau pandai silahkan belajar, anda malas belajar silahkan melakukan pekerjaan yang tidak membutuhkan pelajaran khusus. Zaman dulu tidak ada program wajib belajar. Zaman dulu guru adalah orang yang paling dicari-cari. Guru yang pandai selalu menjadi idaman pemuda-pemuda dari berbagai daerah; rumahnya didatangi, kemudian memohon belajar kepada guru itu barulah ia bisa ‘bersekolah’.

    Tidak seperti di zaman modern ini, sudah berdiri sebuah organisasi yang bernama sekolah. Organisasi ini cenderung melupakan arti pembelajaran yang sesungguhnya: menimba ilmu dan mendorong untuk mencari tahu lebih banyak lagi. Sekolah lebih mengutamakan nilai dan mengabaikan esensi pembelajaran. Yang penting rapor bagus, mau itu murid nyontek, murid cuma menghafal teks tetapi tidak mengerti makna pelajaran, itu semua urusan belakangan. Pokoknya “Nilai Bagusโ„ข”.

    Tidak semua guru di sekolah mampu mempertahankan esensi sebuah pembelajaran. Saya hanya bisa berharap agar para guru, terutama di Indonesia, tetap menanamkan kepada siswanya arti belajar yang sesungguhnya.

  3. sekarang niat mulia profesi seorang guru sudah mulai tergradasi. sekarang siapa yang mau jadi guru? sejujurnya saya pun sangat ingin mengajar (guru gadungan) sesuai dengan kemampuan saya. ketika berbenturan dengan materi, langkah saya pun tertahan. berharap suatu saat memiliki waktu luang untuk sekedar berceloteh di depan anak-anak SD

  4. coba saja para dewan yang tidakterhormat itu bertanya pada dirinya sendiri, lebih duluan mana :
    kesejahteraan dewan sama kesejahteraan rakyat?

    rakyat yang dimaksud ini juga termasuk “guru” lho…
    (biar nyambung)

  5. Bukan masalah telor ato ayam yg duluan tp seperti yg saya bilang dulu bahwa Om Hel harusnya gantiin itu mendiknas ….biar cairan kimianya nyambung jadi reaksi akhirnya kesejahteraan n kualitas Guru maningkat. ๐Ÿ™‚

  6. telor atau ayam —-> duluan telor
    ayam atau telor —-> duluan ayam

    cuma masalah bahasa aja kok ๐Ÿ˜›

    masalahnya kan adalah siapa yang lebih dulu mau mengalah.

    gaji guru nggak cukup? saya nggak percaya!
    gaji guru memprihatinkan memang benar, tapi nggak cukup? saya rasa tidak. Keluarga saya banyak yang guru, tapi hidup mereka toh “cukup” dan mereka juga tidak ada “pekerjaan” lain yang akan membuat mereka menelantarkan muridnya kok.

    gaji guru itu:
    nggak cukup beli rumah ukuran 800 meter persegi
    nggak cukup beli Honda Jazz
    nggak cukup nyekoahin anak di HARVARD
    nggak cukup buat beli PDA

    saya bukan mau sok idealis, tapi pemerintah nggak mau beli kucing dalam karung kan? kalau guru itu belum jelas kemampuannya (bukan masalah sertifikasi, saya paling benci sertifikasi) atau belum ada jaminan kalau kemampuannya akan meningkat, ya jelas pemerintah ragu-ragu untuk menaikkan gaji guru.

    dengan penghasilan yang “cukup” nggak ada yang mau jadi guru? justru itu ujian pertama untuk profesi semulia guru. Justru orang yang mau jadi guru sangat berbahaya kalau motivasinya adalah gaji yang besar ๐Ÿ˜›

  7. Gaji guru disekolah yang katanya internasional aja masih mengenaskan, termasuk para guru disekolah tempat saya bekerja. Kebanyakan dari mereka berlomba-lomba untuk ikut program guru bantu/DPK, tentunya motivasinya adalah mejadi PNS. Menurut berbagai sumber PNS Jakarta transport guru perbulannya 2 jt diluar gaji serta tunjangan, yah minimal dalam sebulan Guru PNS Jakarta 5 jtan salarynya.
    Tapi kembali lagi ke diri masing-masing pak klo ngomong masalah ekonomi, tergtg dari kaca mata mana kita melihat, karena patokan uang kadang sudah diluar batas manusia lo, secara naluri kita ini selalu merasa tidak puas.

    Jadi sejahtera juga memiliki tolak ukur yang berbeda dimasing-masing orang pak. Tetap sabar ya pak dalam mengajar, kadang motivasi uang bisa merubah pola pikir seorang guru yang bijak menjadi bajak (an). ๐Ÿ™‚

  8. Cukup? pengertiannya sungguh relatif dan cenderung abstrak seperti pendapat mas mardun diatas, guru layak dan patut di hargai dan dihormati, ini sesuatu yang nggak bisa dipungkiri terlepas dari banyaknya guru yang nggak pantas ngajar, entah permasalahan dari attitude yang nggak baik atau mereka malas upgrading knowledge

    Kesejahteraan guru memang perlu ditinjau dan direview kembali saya setuju dengan itu, sertifikasi? sangat diragukan, karena rentan manipualsi data.

    Semoga khidupan dan kualitas guru kedepan jauh lebih baik, karena negeri ini butuh segera tenaga pendidik yang jauh lebih baik.

  9. Ini masalah yang harus di anggap serius. Jangan-2 suara Mas Urip ini mewakili mayoritas dari guru-2 yang ada di Kalimantan. Kalau suara-suara ini terus di biarkan dan tanpa di tanggapi secara serius maka jangan heran kalau nanti 10 tahun yang akan datang, bangsa kita ini menjadi bangsa yang hilang. Bagaimana tidak, kalau guru sudah tidak mau mendidik (bukan mengajar).

    Harus menjadi perhatian besar soal kesejateraan guru, baik itu di pusat atau di daerah. Dan yang harus difokuskan adalah para guru2 yang tinggal dan mendidik didaerah. Mereka ini yang jauh dari sarana dan fasilitas yang memadai.

    Buat saya guru adalah tugas yang sangat mulia, terus terang saya juga punya keinginan untuk jadi guru. Memang, gaji guru kecil tapi yang saya mau adalah pengabdian. Saya ingin ilmu yang sedikit saya punya saya tularkan kepada orang lain.

    Ilmu dunia tidak akan di bawa mati, maka sewaktu masih hidup; sebarkan, bagikan pada yang lain.

    Jangan pernah surut Mas Urip, maju terus sebagai guru. Guru tugas mulia, semoga Allah membalas segala kebaikan Mas Urip.

  10. Teka-teki seperti itu masih saja ada yang pa?

    Kalau menurut saya pantas saja karena guru juga mempunyai hak

    sedikit aja ya pak komentarnya yang jelas saya mendukung guru.

  11. hm..
    **menanti komentar dari guru-guru yang lain..

  12. Hubungan kinerja dengan gaji rasanya pernah di coba di era Gus Dur, ketika hakim dinaikkan gajinya 100% lebih, apakah kinerjanya membaik. Sekarang ketika para wakil kita diberi tunjangan komunikasi intensif apakah komunikasi mereka menjadi lebih bagus. Rasanya masih jauh panggang dari api kalo masalah itumah. Tapi yang jelas kalau pagi ngajar siangnya harus ngojek pasti kinerjanya menurun.

  13. Kalau kita memandang pekerjaan guru sebagai profesi, tentunya harus disejajarkan dengan profesi yang lain, misalnya: dokter, pengacara, konsultan. Disejajarkan bukan dalam pengertian imbalan atas jasa profesional yang diberikan oleh guru saja melainkan juga pada profesionalisme guru itu sendiri. Dibandingkan dengan profesi dokter atau pengacara yang sejak dulu juga sudah diatur dengan tetek bengek sertifikasi yang memadai, guru merupakan profesi yang belum memiliki sertifikasi. Mestinya, kalau mau dianggap profesional, guru tidak perlu takut mengambil sertifikasi asal pemerintah juga ketat dengan pemberian sertifikasi itu, jangan dijadikan arena dagang. BTW, katanya sertifikasi guru tidak jadi dilaksanakan ya? Kemana duit milyaran yang rencananya dianggarkan untk sertifikasi guru itu?

  14. Masalah cukup atau tidak itu memang relatif.
    Juga tergantung pada situasi ekonomi dan pribadinya.
    Memang gaji guru mungkin “cukup”, tapi cukup untuk apa saja? Makan tiga kali sehari, kadang nonton, beli rumah sederhana, sekali setahun liburan dsb.?
    Tapi kan setiap manusia, setiap keluarga akan mengalami pertambahan keinginan, terutama keinginan untuk meningkatkan standar kehidupannya.
    Apa salahnya kalau guru ingin beli Honda Jazz, kalau ingin beli Honda Supra, ingin punya rumah yang lebih besar, ingin beli TV yang agak besar? Bukankah kita semua juga punya keinginan begitu? Punya motor ingin beli mobil dsb., asal realistis, kan?
    Ataukah guru harus gituuu saja terus?
    Mas Mardun,
    “saya bukan mau sok idealis, tapi pemerintah nggak mau beli kucing dalam karung kan? kalau guru itu belum jelas kemampuannya (bukan masalah sertifikasi, saya paling benci sertifikasi) atau belum ada jaminan kalau kemampuannya akan meningkat, ya jelas pemerintah ragu-ragu untuk menaikkan gaji guru.”
    Saya rasa bukan ini alasannya, kenapa pemerintah nggak mau menaikkan/mencukupkan gaji guru. Seandainya pemerintah mau memastikan kemampuan guru, kan mereka punya kekuasaan, kan? Bikin peraturan, kurikulum, sertifikasi dsb. (sayapun nggak setuju dengan sertifikasi yang berlebihan, yang mungkin bisa jadi ajang penghasilan tambahan bagi orang-orang tertentu dan yang mungkin kualitasnya juga perlu disertifikasi juga!). Ini kan seperti membesarkan dan memelihara kucing dengan makanan yang “cukup” terus bilang wah, kok kucingnya kurus? (maaf para bu/pak guru membandingkan dengan kucing).
    Kembali ke motovasi.
    Apa sih motivasi kita bekerja? Apa memang ada orang yang motivasinya utamanya mengorbankan diri untuk kepentingan orang lain? Dalam bidang apapun? Tidakkah legitim kalau motivasi “ingin hidup baik” juga berada pada peringkat pertama sejajar dengan motivasi “dedikasi”?
    Saya lihat pada diri saya sendiri. Motivasi kerja saya ya itu: pada peringkat pertama hidup makmur dengan keluarga (menurut standar setempat) dan dedikasi terhadap pekerjaan.
    Kalau nurut pengertian saya, yang dikeluhkan di posting ini ialah gaji yang sering tidak memadai, bukan mau gaji yang besar. Iya toh mas Helgeduelbek???

  15. setau saya sih dari dulu sampe sekarang, yg namanya gaji guru memang ‘gak masuk akal’. pas-pasan banget kalo gak bisa dibilang kurang. harusnya pemerintah kita belajar dari negara tetangga. Ga usah jauh-jauh. Di Malaysia, kakak saya ‘cuma’ jadi asisten dosen dan ngajar privat di rumah-rumah, tapi bisa hidup layak, ga kayak di sini yg harus nyambi ngojek dan jualan gorengan di kantin sekolah ( true story lho ini, mas )… *sigh*

  16. Masalah gaji sebenarnya bukan masalah guru saja. Cuma guru memang mrupakan pegawai negeri yang paling besar di republik ini. Semua pegawai negeri juga memiliki masalah yang sama. Gajinya relatif kecil.
    Masalahnya memang terletak pada kualitas PNS itu sendiri. Bukan rahasia lagi bahwa kualitas PNS kita memprihatinkan. Hal ini bisa kita amati dari rendahnya etos kerja dan kedisiplinan kerja serta rendahnya rasa pelayanan kepada publik. Nah, kalau gaji PNS ini dinaikkan, apa yang terjadi? Memang PNS yang baik akan mendapatkan imbalan yang lebih, tapi lebih banyak lagi kenaikkan ini dinikmati oleh PNS yang buruk. Kalau situasi ini terus terjadi maka dalam sistem seperti ini yang diuntungkan adalah PNS yang buruk. PNS yang baik tak mendapatkan imbalan lebih atas prestasinya sehingga pada akhirnya PNS yang baik akan kehilangan semangat atau keluar sebagai PNS.
    Untuk menghindari seperti ini memang diperlukan sebuah sistem dapat membedakan mana PNS baik mana PNS tak baik. PNS baik akan mendapatkan imbalan (reward) dan PNS yang jelek akan mendapatkan hukuman (punishment). Dalam kondisi ini maka PNS akan berlomba loma untuk menjadi yang terbaik. Tujuan organisasi (dalam hal ini pemrintah) pun akan tercapai.
    Sayangnya untuk membuat sistem ini perlu banyak sekali orang baik dan jujur, karena kalau tidak maka sistem ini akan disalahgunakan untuk memperkaya diri atau diperjualbelikan. Nah, orang-orang seperti ini susah ditemukan di Republik tercinta ini.

  17. klo dah PNS itu dah lebih enak… tp nasib guru2 swasta or honor itu yg memprihatinkan…

  18. […] Gaji Guru Naik Tulisan ini terinspirasi oleh tulisan-tulisan Pak Guru tentang perlunya kenaikan gaji guru. Tulisan tersebut mengingatkan saya pada sebuah makalah ilmiah […]

  19. Mengapa guru tidak semangat ngajar, apakah mungkin karena gajinya kecil?

    jika guru dalam mengajar orientasinya adalah uang/gaji, maka jawabnya “YA”. Dan berapapun besarnya gaji guru maka semangat untuk mengajar tidak pernah ada, mengapa? karena yang namanya gaji, berapapun besarnya akan terasa kurang.

    Ada istilah “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari” kalo guru orientasinya duit, ya muritnya juga lebih dari itu, maka jangan heran kalo anggota dewan sekarang minta tambah gaji, mungkin guru-guru mereka dulu juga begitu.

    Ingat pak, bu guru, masih banyak profesi yang resikonya lebih besar, jam kerjanya lebih lama, yang penghasilanya dibawah anda.

  20. guru, petani, nelayan dll… terus2an berharap pemerintah yang korup ini memperhatikan kesejahteraan mereka.

    padahal pemerintah terus aja asik2 mengurangi jatah APBN yg buat rakyat. dan semakin nge-gedein jatah yg bisa buat dikorupsi. blom lagi 2 taon lalu, pemerentah umpak2an naekin BBM. ini dampaknya nyusahin rakyat bangeth.

    jadi, klo ada pertanyaan: telor ama ayam duluan mana? maka, sbg jawabannya, saya ngajuin pertanyaan tandingan: “kapan pemerintah mo peduli ke rakyatnya?”

    klo itu dah ada jawabannya, baru deh saya mau jwb pertanyaan telor vs ayam tsb.

  21. Guru… oh guru, gimana kalo guru ngajarin muridnya untuk demo. Jadi gurunya tetep ngajar tapi muridnya yang demo… (yah sama saja… lha wong nggak ada muridnya, pada demo) Mending guru sama murid sama-sama demo di seluruh Indonesia… kan heroik banget tuh…

    * Guru aja bisa nurunin pejabat, masak nggak bisa naikin gaji…

  22. saya sih percaya, gaji yang baik memberikan nilai semangat pada jangka pendek, tapi tidak untuk jangka panjang. Tapi sepanjang kebutuhan fisik minimum tidak terpenuhi, guru juga akan rendah diri dan rendah ilmu.
    Bangsa yang tidak mau menggaji dengan baik guru-gurunya, maka juga sulit mengharapkan punya kualitas siswa dan guru yang unggul.
    Yah… kondisi ini wajar saja.
    Menurut saya, dengan UMR 500- satu juta. Maka gaji guru (full time) untuk SD minimum 3 kali UMR, tanpa potongan. Guru yang tidak memberikan nilai kompetisi (tidak memenuhi syarat tugasnya), pangkat harus diturunkan, dan gaji profesinya dipotong. Jadi boleh saja gajinya satu juta, tapi gaji profesinya untuk SD 2 juta.
    Baru, dari situ harga sebuah profesi akan diburu.
    Menurut saya, itu yang harus dilakukan pemerintah dengan anggaran 20%. Tapi, guru yang kagak jelas kerjanya (emangnya ada ), juga tidak boleh dapat tunjungan profesi. Untuk gaji SMP, dan SMA masing-masing 1,25 dan 1,5 kali gaji SD….

  23. #tukang komentar# “asal realistis”. ya itu, bagi saya nggak realistis kalau profesi semulia guru punya ambisi seperti itu. semua pekerjaan itu harus dipikir realistis kan? nggak semua pekerjaan punya label “pahlawan” kan? label pahlawan itu selalu identik dengan pengorbanan dan pengabdian.

    yang harus diperhatikan adalah supaya pengorbanannya tidak sampai “merugikan”, tapi hanya “mengurangi keuntungan”. sebab saya rasa (sampai sekarang) tidak ada ruginya kalau tidak punya honda Jazz kok ๐Ÿ˜› kalau saya punya uang cukup untuk beli honda Jazz mending saya tabung atau buat nyekolahin anak kalau punya ๐Ÿ˜›

    saya setuju dengan abahapis. kalau gurunya saja kencing berdiri, jangan salahkan kalau muridnya kencing berlari.

    tentang alasan pemerintah, itu kan seandainya saya di posisi pemerintah. kalau alasan sebenarnya ya saya nggak tahu, siapa tahu kalau gaji guru naik entar jatah korupsi berkurang ๐Ÿ˜›

  24. Petinggi kita memang suka bikin aturan instan, mentang-mentang ke luar negeri. Padahal di sana cuman inguk-inguk. Akar masalahnya malah lupa.
    Pertanyaan klasik jugak untuk petinggi.
    Mana program yang sukses ?
    Walaupun dibolak balik jawabannya gak ada yang sukses. Buktinya kebijakan mudah berubah, seperti sertifikasi itu.

  25. bingung lah, gak mudeng aku. selama ini juga pejabat hanya dipilih karena menang pemilu, gak pernah ada sertifikasi apa mereka itu sudah memenuhi standar kualitas pejabat yang baik dan bermutu. Kalo guru harus ikutsemacam sertifikasi, boleh juga dan para guru harus berani karena bagaimanapun ini menunjukkan profesionalitas guru, asal dilakukan denga jujur. dan kalo perlu para guru juga menuntut para pejabat yang punya ide ii buat mengadakan sertifikasi, ya minimal ngerjain soal unas bareng anak smp lah, apa mereeka bisa. hehehe, tak jamin para pejabat itu pada banyak yang gak lulus nilai minimal. hehehehe

  26. @ tukangkomentar: Benar tidak perlu yang berlebihan, yah yang layak bisa menyekolahkan anaknya, punya rumah RSS pun cukup, sepeda motor yang tidak mogok sudah cukup
    @ wienerwin: Dilematis sekali.
    @ passya: gradasinya penyebabnya apa? karena penghasilan tidak membanggakan akhirnya orang tua tidak mau menyekolahkan anaknya agar mau jadi guru. salah siapa yah. Seandainya kita punya anak yang pinter mau gak kita mengarahkan aar anak kita mau jadi guru meskipun gajinya tidak mencukupi/memadai.
    @ antobilang: mereka berpikir dirinya lebih terhormat, mengencingi mantan-mantan gurunya.
    @ bayuleo: Andai-andai hehehe
    @ mardun: sering pemerintah bilang, kalau gaji gak layak kenapa yang daftar jadi guru jadi PNS selalu membludak? ini yang kadang jadi ukuran keliru, seolah-olah sudah memadai, memenuhi standar hidup. Bandingkan dengan seorang polisi yang hanya lulusan SMA dengan guru S-1, gajinya khan njomplang meskipun polisi itu gak perlu meras. Tetep jauh khan. Apakah adil dan profesional, mana yang lebih berharga fisik atau mental?
    @ micokelana: Sebenarnya ujung benang itu sudah jelas hanya tidak mau mengusut benang kusutnya saja.
    @ peyek: apa pemerintah kita tidur atau keasyikan mikirin proyek untuk bisa ambil jatah uang proyek itu yah?
    @ prayogo: itu pemikiran saya pribadi kok, semoga dengan sering berkoar ada yang mau denger.
    @ jokotaroeb: terimakasih.
    @ kangguru: wis biar dipikir mereka-mereka saja lah kalau masalaha balancing.
    @ kang kombor: Yup keadilan, kalau diminta profesional yah mesti kayak profesi yang lain. sertifikasi sepertinya masih tetep jalan kang. hanya masih agak2 pilon mau diapakan kalau sertifikasi itu, mungkin begitu.
    @ tukangkomentar: Yah bener pak, kewajaran lah. setidaknya diberikan kemudahan untuk bisa menyekolahkan anak-anaknya saja sudah lebih dari cukup. masak anak guru sampai gak bisa sekolah. BAnyak temen2 saya kalau mau menguliahkan anaknya dia harus gadaikan SK-nya ke bank untuk mendapatkan pinjaman, setelah itu ia harus mengencangkan ikat pinggang, demi anak agar bisa kuliah.
    @ venus: Tergantung peletak batu pertama untuk kebijakan pendidikan barang kali, seperti di Jepang yang sejak hancur dulu sudah punya komitmen tepat.
    @ doeytea: Apa perlu revolusi jika solusi tidak ditemukan.
    @ redwar: Saya jadi inget guru saya di pedalaman kaltim dulu, niatnya adalah ibadah. masalahnya selama ini aturannya memang dibikin menganaktirikan guru swasta. Yang mengelolah yayasan yang sering juga mencari keuntungan dengan mencuekin kesejahteraan orang yang kerja di lapangan.
    @ abahapis: bener itu, tapi semua yah kembali kepada manusia memang. Apakah semua guru kita juga nuntut gaji tinggi.Dan kalau dirunut ke belakang apakah kihajar dewantara dulu juga kemaruk duit?
    @ kumala: wah pertanyaan tandingannya gak imbang tuh. ๐Ÿ™‚
    @ fazlurrahman: yang namanya menurunkan itu lebih mudah, dibandingkan menaikkan.
    @ agorsiloku: lah itu yang dimaksud ayam atau telur, makanya pastikan salah satu saja biar gak membingungkan, begitu deh mestinya.
    @ mardun: tulisan sampean ini kritis banget, sifat keturanan yah, apa ada sekolah berpikir kritis gitu.
    @ cakmoki: lah iyah pendidikan kok digaya mie instan
    @ ndarualqaz: mereka beralasan loh saya sudah pernah masak ujian lagi sih. hawong saya sudah profesional kok perlu diuji lagi, bgeiut akunya.

  27. Mardun,
    memang nggak ada ruginya nggak punya Honda Jazz. Tapi bukankah itu suatu sifat manusia yang normal, baik dia seorang “pahlawan” atau bukan, untuk selalu berusaha meningkatkan standar kehidupannya?
    Apakah karena profesi guru itu dilabeli “pahlawan” lalu mereka, yang nota bene juga manusia biasa seperti kita-kita ini, tidak boleh mempunyai harapan dan keinginan-keinginan?
    Kalau menurut saya label “pahlawan” jaman sekarang tidak idetis lagi dengan pengorbanan dan pengabdian saja, tetapi juga dengan mutu dan juga kehidupan sehari-hari.
    1. Pengorbanan: apakah mereka dalam rangka label “pahlawan” ini harus mengorbankan kepentingan sendiri?
    2. Pengabdian: mereka harus mengabdi juga kepada keluarganya, kan? Jadi harus mencukupi kebuituhan keluarga? Orang kan bukan cuma mau kecukupan makan/minum dan pakaian saja, kan?
    3. Mutu: kalau penghasilannya nggak memadai, apakah semangat yang permulaan menggebu-gebu itu bisa dipertahankan? Salahkah mereka kalau kecewa dan kekecewaan itu kan bisa berbuntut turunnya semangat? Mungkin kita bisa bilang: Kalau gitu nggak usah jadi guru. Lalu, apakah ada manusia yang begitu rela mengorbankan diri dan keluarga tanpa mempunyai keinginan tambahan (demi pengabdian dan pengorbanan)?
    Kalau tidak ada: siapa yang mendidik anak-anak kita?
    Kestabilan dan peningkatan mutu harus dilandasi pendidikan lanjut (kursus, pendidikan tambahan dsb.), siapa yang masih bersedia mengorbankan waktunya untuk ini, padahal waktu itu bisa sangat berharga untuk mencari pengahsilan tambahan?? Memberi les murid, jual nasi pecel dsb?
    4. Kalau mereka melihat yang lain tambah makmur (terutama yang duduk di atas sana) dan selalu teriak-teriak: pengabdian, pengorbanan dsb, bla, bla, bla …..
    Dan mereka (para guru) sendiri gajinya cuma “cukup” saja, trus gimana ya reaksi mereka?

    Mengenai sertifikasi: terus kalau sudah dapat sertifikat apakah berarti kualitasnya automatis bagus? Seperti yang sudah saya singgung di atas: apakah sertifikasi ini bisa berjalan secara jujur? Apakah penyertifikasian ini sebelumnya tidak perlu disertifikasi dulu?

  28. mangkanya kan, maksud saya berkorban itu bukan “rugi”, tapi “mengurangi untung” ๐Ÿ™‚

    sah sah saja punya harapan, tapi seperti anda bilang kan, harus realistis.

    itu resiko pekerjaan pak, sama seperti tentara (yang jujur) atau tukang bangun gedung pencakar langit. resiko kerjanya terhadap kematian lebih besar daripada pekerjaan lain.

    kalo guru resiko pekerjaannya ya label “pahlawan tanpa tanda jasa” itu. pekerjaan yang suaaaangat mulia, tapi bayarannya tidak setinggi tukang parkir studio foto (penghasilannya 80-100 ribu perhari) sekalipun.

    sal sertifikasi, saya bukannya tidak setuju, tapi lantas itu kan sama dengan menghina institusi yang sudah meluluskan mereka? untuk apa mereka belajar di (dulu) IKIP selama sekian tahun dan lolos ujian kalau pada akhirnya masih disertifikasi lagi? berarti institusinya tidak bisa memenuhi kualifikasi dong?

  29. betul ayam dan telur, tapi tidak, tanya sama Adam Smith, tanya sama negara-negara maju atau yang kini disebut maju. Pilihannya adalah berikan gaji guru yang baik, buang guru yang tidak baik (baca tidak menjadikan guru sebagai profesi, kasarnya pensiunkan). Niscaya penyebaran ilmu dan kualitas akan membaik. Jadi, bukan pilihan, bukan wacana, tapi keharusan melakukan pilihan. Bayangkan, Singapura telah 30 tahun merdeka, dan negara kecil itu jadi negara maju di dunia. Banyak orang belajar di sana. Jelas karena gurunya dibayar wajar (dan mahal). Jangan pernah dikotomikan, tesa dan antitesakan telur dan ayam. Hanya profesi yang bernilai saja yang akan diburu. Saya dulu guru, dan saya meninggalkan posisi ini karena saya anggap tidak potensi untuk menghasilkan uang. Simpan saja di “pengabdian” di angan-angan. Kehidupan adalah realita. Dan ribuan atau puluhan ribu potensi pengajar yang baik hilang karena guru hanya pahlawan tanpa tanda jasa. Jelas ini absurd. Guru dan Masyarakat dicekoki falsafah jahat ini sehingga kita jadi bangsa yang terbelakang. Terbelakang mental, terbelakang sikap, terbelakang ethos kerja. Semua memilih jalan pintas. Ini adalah kejahatan kebudayaan.

  30. Singapura tidak punya sumber daya ==> maju. Jepang, lahan untuk pertanian hanya 15% yang layak ditanami, hancur di perang dunia maju dalam waktu puluhan tahun. Mesir berbudaya sejak jaman fir’aun bahkan sungai euphrat dan mesopotamia adalah kebudayaan awal manusia bertani ribuan tahun yang lalu ==> rakyat tetap miskin. India, juga,
    Jadi jelas, hanya SDM yang unggul yang memungkinkan negara bisa maju. Dan negara maju, selalu membayar pendidik dengan harga yang pantas. Ini yang tidak pernah terjadi cukup benar di Indonesia.

  31. […] menggiatkan guru untuk menulis dan berbicara tentang repotnya dunia pendidikan Endonesyah serta kesejahteraan para pendidik ? Bisakah orang tidak menengok wikipedia yang bisa diidentikkan dengan blog terbuka? […]