Menyimak Komentar, Menyerap Ilmu

Blog gak ada matinya.

Kita publish tulisan dengan sudut pandang diri, mendapat komentar dengan sudut pandang yang bermacam-macam. Unik dan menyenangkan. Baik yang sejalan maupun yang bertentangan, melemahkan maupun menguatkan. Semuanya sangat berharga. Berbeda kalau kita mendengarkan komentar pihak lain secara lisan. Jika model orang temperamental, dapat komentar negatif bisa-bisa naik pitam. Di dunia blog semua itu bisa kita cerna secara perlahan untuk menangkap maksud yang sesungguhnya.

Kadang ada komentar yang ‘nitip pesan tersirat’. Kalaupun ada komentar yang sifatnya memuji, kita pun tidak langsung berbesar baju atau sampai berbesar kepala, bahwa wah kita hebat. Tidak begitu. Banyak pemikiran yang brilian yang terlontar dalam komentar meskipun bernada miring. Saya sendiri sering kagum dengan komentar pengunjung blog ini yang telah berbagi. Gelitik tulisan komentarnya yang yahut, cerdas, yang sering tidak terpikirkan sebelumnya oleh yang punya blog.

Dengan menyimak isi komentar-komentar, kita bisa hidup lebih arif secara nyata. Ini hal yang mungkin tidak kita sadari, tidak kita rasakan namun bisa benar-benar mngubah pola pikir yang sesungguhnya. RUAAAR biasa kekuatan blog. Apakah sodara juga merasakan itu?

Sering menulis dan mem-pubishnya, orang lain tahu apa yang ada dipikiran kita. Kalau tidak kita publish pikiran kita bisa-bisa membelenggu diri. Dan seakan-akan hanya kita yang benar. Kalaupun ada cara pandang yang berbeda terhadap tulisan kita, justru itu akan membuat kita bisa lebih mawas diri. Kalaupun ada pertikaian dalam perbincangan antara tulisan kita dengan komentator, inilah hasanah. Semestinya kita perlu lihat kebelakang dan mencoba menyelami pola pikiran komentator. Sekali lagi ini pelajaran berharga.

Kita keliru kalau berharap mendapat komentar yang hanya sejalan dengan pola pikir sendiri. Dan kalau itu terpelihara mungkin egoisme semakin menguasai diri, bahkan mungkin kita bisa lupa diri. Maka menerima semua komentar dengan pikiran terbuka jauh lebih membuat diri akan lain jika selama ini kita agak sedikit ekslusif. Etika menuliskan komentar seakan-akan menjadi konvensi, tidak perlu disepakati lagi. Para blogger sudah mahfum akan hal ini. Take n give adalah semacam kewajiban di blog. Banyak pencerahannya dibandingkan penyuraman. Dunia blog semakin mantap dan saya yakin bisa mempengaruhi pola pikir bahkan saya yakin sampai berpengaruh ke pola tindak.

Saya juga sering menyimak komentar rekan blogger lain yang ditulis pada blog lainnya. Hiburan otak yang sehat gratis dan semakin menambah pengetahuan wawasan. Makanya kita ambil manfaat komentar blog untuk memperbaiki pola pikir diri.

25 responses

  1. memang oqh..

    *notes: ini komentar yg gak perlu diambil ilmunya, wonk memang gak ada*
    wakakaka…

  2. great idea! mr teacher

  3. Di dunia nyata banyak orang akan marah kalo dikomentari orang lain
    Di dunia blog orang akan senang jika dikomentari
    Di akhirat kita hanya akan mendengar komentar dari semua organ tubuh kita, dan kayaknya aku sendiri bakalan ngeri mendengar komentar dari organ tubuhku

  4. Setuju! tapi maaf komentar saya juga ini ga ada ilmunya.

  5. sudah 46 menit berlalu masih bingung untuk berkomentar….
    ciri-ciri orang yang ga ada bobotnya.. hehehe…
    saya setuju akan pandangan pak guru menilai sebuah komentar..semoga bisa juga diterapkan didiri saya.. Blajar lagi ahh.. Thanks..

  6. saya masih perlu banyak belajar untuk berkomentar yang cerdas!

  7. Yang penting komen β„’

    huehue… kalo punya pak guru sih emang tulisannya bagus, membuat kita terpaksa suka berkomentar….
    keep blogging ya pak!
    daripada pusing2 mikirin kebijakan pemerintah yang selalu tidak memihak pada rakyat kecil, termasuk guru.

  8. selama ini aku ngomen asal ceplos aja πŸ˜€

  9. Hebat-hebat tulisan yang benar-benar mengena bagi para blogger. Saya banyak belajar dari tulisan ini.

  10. yang aku harapkan sih komentar itu gak harus sejalan. Justru yang bertentangan itu malah menimbulkan keinginan untuk berkomentar balik. Atau komentar nyleneh yang membuat senyam senyum, ngakak bahkan mengkerutkan alis dan membaca ulang untuk memahami maksudnya. Malah bisa jadi tulisan di kotak komentar itu lebih menarik daripada tulisan di blog itu sendiri

  11. ah setuju sekali pak!!

  12. TApi berkunjung ke blog tidak harus berkomentar, kan? Soalnya untuk berhemat, saya lebih suka mendownloadnya, kemudian membacanya offline. Kalau nggak gitu bisa perang dengan istri gara-gara jebol tagihan telepon.

  13. Betul Pak Guru. Komentar kepada tulisan yang kita buat dapat kita gunakan untuk menganalisis apakah tulisan kita telah secara efektif menyampaikan pesan kita kepada pembaca atau belum. Ini penting untuk mengevaluasi apakah gaya kita menulis masih perlu kita pertahankan atau tidak.

  14. Menyikapi komentar pada blog… sangat mengasyikan untuk mendapatkan komentar di paparan kita, entah itu pro… ataupun kontra… atau bahkan sekedar one-liner. IMHO, aku merasa bahwa komentar itu sebenarnya lebih berupa ‘media’ atau ajakan untuk berdiskusi… sangat sayang kalau suatu komentar kemudian tidak ditanggapi oleh penulis blog. Hal yang sering terjadi kalau memberi komentar di blog2 yang udah punya fans dan selalu banyak yang komentar 😦 … tapi ya sudahlah, namanya juga usaha untuk berdiskusi hehehe…

    hummm… kayaknya udah kebanyakan ngomong neh.. gak bermutu pula .. maap, pak guru.

  15. Memang blog ini banyak manfaatnya. Saya menyesal kenapa enggak ngeblog dari dulu.

  16. @ kumala: tetep ada bahwa komentar itu seperlunya saja πŸ™‚
    @ mr.tajib: πŸ˜€ ini komentar gaya spam. Patut ditiru, ilmu juga.
    @ kangguru: Sebuah posan moral mendalam untuk mengingatkan sambil dakwah.
    @ mira marselia: Loh itu pernyataan dari orang yang berilmu kan
    @ cidh: hebat, dengan menuliskan apa yang ada dipikiran ini ilmunya orang menulis.
    @ anang: gak usah belajar, memberikan sebaris komentar saja sudah termasuk komentar cerdas kok
    @ antobilang: bener itu, lawong dengan komentar kita juga perlu mikir, sebuah latihan asah otak juga.
    @ xwomen: Gak papa itu cara melepaskan kepenatan berpikir
    @ Cak Alief: yang bener kita banyak membaca untuk belajar apa saja. Terimakasih pak guru (terutama pak Karjani=guru kelas 1 SD dulu yang sudah mengajari saya membaca)
    @ neeya: betul itu, tulisan saya kadang-kadang kurang fokus ada yang memberikan komentar yang lebih bagus dan justru saya belajar dari komentar2 seperti itu
    @ ekowanz: kok cuma sekali πŸ™‚
    @ willyedi: saya juga sering membaca tulisan, namun karena belum bisa mengungkapkan gagasan untuk komentar yah gak saya komentari dari pada maksa. Tunggu saja pak speedy bakal masuk ke wilayah kita dan lebih murah kemungkinan, sehingga gak perlu ribut sama istri.
    @ Kang Kombor: saya juga begitu kang, agar bisa nulis yg baik
    @ Gaio: mungkin yang punya blog kerepotan saking larisnya tulisan, ada juga yang berprinsip tidak harus menanggapi semua komentar, yah sepertinya tidak diperdulikan, apa jadinya kalau itu terjadi pada komentarnya. Ini juga ilmu belajar untuk legowo. πŸ™‚ Kalau saya yah berusaha untuk bisa menanggapinya, sayang koneksi sering lemot pol, sehingga kalau dipaksa malah buang waktu nuggu lama. Nah pas ada waktu baru jawab, seperti ini.
    @ doeytea: Semua itu karena kesempatan sudah datang kalau belum yah gak bisa dipaksa, seperti guru lain yang belum ngeblog.

  17. Haha! Hiburan otak yang sehat gratis kata anda?

    Saya sependapat dengan anda. Secanggih-canggihnya perkembangan media kedepannya, tetap saja teks adalah sarana paling efisien untuk memperoleh informasi. Dari televisi, oke dia unggul di gambar bergerak, bisa memberikan gambaran suasana sautu kejadian, walaupun hanya sepotong-potong saja mengingat keterbatasan sudut pandang lensa kamera; tetapi televisi tidak bisa menyampaikan ide, pikiran-pikiran secara efisien. Dengan membaca, kita bisa memilah-milah dengan cepat informasi mana yang menarik dan perlu diketahui, dengan membaca kita menjadi tuan daripada sebuah informasi. Lain halnya menonton, kita hanya dicekoki oleh informasi yang seringnya tidak kita butuhkan.

    Jelas percepatan membaca jauh lebih baik daripada menonton. Kurangi menonton, tambah membaca!

  18. nah esensi blog tercapai dg komentar jg ya pak guru..

    dan krn alasan koneksi yg terbatas..
    saya lbh sering kunjungi balik dl blog yg komen di blog saya,
    baca about-nya dl..sempatkan komentar di topik yg sesuai (ngga terpaksa/sekedar komen lah.. [diusahakan..] )
    br bls komentar mrk di blog saya..

    ide dan pemikiran org lain perlu utk ‘lat otak’ :D..

  19. Saya merasakannya, Pak…!!! πŸ™‚

    Komentar (dan juga postingan) membuka wawasan kita terhadap dunia ini. Tentunya dengan perspektif yang berbeda-beda.

  20. Dunia blog adalah sumber ilmu pengalaman (Hidayah), dari dunia perspektif yang berbeda-beda. karena dengan kebiasan2 yang dilakukan seseorang akan berpengaruh dan membentuk pola pikir tersendiri dan gaya bicara yang berbeda2 dan terbentuklah kepribadian. Dengan perbedaan2 itu justru saling melengkapi dan menguatkan.

  21. dengan adanya komentar pada blog saya, saya merasakan suatu kegembiraan bahwa saya bisa bertukar fikiran dengan orang lain, saya merasa bahwa saya ini ada, saya ini eksis di dunia blog.

    dan memberi komentar rasanya seperti ngobrol bagi saya (dan saya suka sekali sama yang namanya ngobrol)

  22. Kadang saya merasa dan mungkin lebih sering merasa “komentar” adalah bentuk perhatian, merasa karya/tulisan kita dihargai. Baru kemudian kita menyimak komentar itu. Terlalu banyak komentar juga kadang lieur juga. Nggak sempat memberikan catatan, sudah ada komentar baru. Tapi, all of all, saya sih nggak pernah kebanjiran komentar. Tapi, membaca komentar orang lain di blog lain juga sering dilewati, apalagi kalau kita tahu, blogger itu hanya akan menitipkan asal ada saja…
    Namun, secara umum, komentar menjadikan kita sadar, harus pintar memilih kata.

  23. Meyakini jalan pikiran sendiri adalah kebenaran adalah sah-sah saja, tapi berharap orang lain sejalan dengan pikiran kita… : hmm itu akan sangat melelahkan dan berbuah kekecewaan. Dunia sudah wataknya seperti itu. Komentar adalah cerminan dari yang berkomentar ; meski tidak selalu karena didunia maya banyak kamuflase.. yang merah akan berwarna hijau dalam sekejab.
    segala komentar akan memperkaya pandangan tentang sesuatu hal : “oooh ada yang berpandangan begini thoo!” ……

  24. Pak Urip,
    jadi memberi komentar pun merupakan sebuah pembelajaran yah? agar legowo kalau tidak dibalas.. dan yang paling penting, tidak asal berkomentar hehehe .. betul?

    btw, nick saya Goio, pak … bukan Gaio hehehe

  25. Sama nih Pak, benaran ga nyangka akhirnya atmosfir diskusi lewat blog (dengan menanggapi postingannya) bisa sebegini mencerahkan.

    Tanpa disadari, awal-awalnya suka kebawa fikiran gitu kalau abis baca suatu postingan dan saya ga setuju misalnya, namun waktu itu belum bisa ngasi tanggapan yang pas, atau komentar yang tepat yang mewakili ide saya.

    Dan saat gak setuju dengan apa yang dibahas orang lain, bukan berarti kita harus langsung fighting, karena ada memang yang butuh waktu untuk dipahami dan butuh pengertian untuk ditanggapi. Dan saat ingin meluruskan atau memberi sudut pandang lain misalnya, cara penyampaiannya juga harus diperhatikan, agar maksud kita benar2 sampai dengan tepat dan hubungan baik tetap terjaga. Harus arif, benar pak…
    πŸ™‚

    “:) bener memang harus arif kalau soal hal itu”