Musikku

Judul di atas sebenarnya lebih cocok “Musik Kesukaanku”. Sebab saya tidak punya musik sendiri dan tidak bisa memainkan alat musik satu pun. Hanya bisa menikmati, mendengarkannya. Sengaja menulisnya seperti itu biar kelihatan simpel saja, meskipun perlu kalimat satu paragraf untuk menjelaskan maksudnya.

Yang namanya melakukan hobi, mungkin kita dipandang orang lain sepertinya aneh. Tapi kita sendiri merasa enjoy saja. Kesenangan saya jika berada di depan komputer sambil mengerakkan jari kesana kemari di atas tuts keyboard adalah mendengarkan musik. Musik tanpa syair. Bisa menyemangati diri untuk selalu dalam keadaan nyaman. Beberapa musiknya Yanni yang telah tersimpan dalam hardisk lebih sering saya dengarkan. Sesekali musik klasiknya Mozart dan Beethoven pun saya pilih.

Sudah banyak artikel yang mengulas kekuatan musik yang bisa memberikan efek tertentu pada otak, bahkan sampi aktifitas terkait kebugaran tubuh, hanya dengan memperdengarkannya. Pilihan saya jatuh pada musik tanpa syair atau instrumentalia bagi saya karena tanpa ada gangguan dari lirik-syair. Apalagi jika syair itu kita kenali artinya. Sering hal itu malah mengganggu, otak ikut memikir tentang kata-kata yang ada dalam syair itu.

Dengan hanya mendengarkan hentakan dan dentuman drum, bas, melodi atau bunyi-bunyian apapun yang bernada seolah-olah ada sesuatu kekuatan yang juga menghentak bahkan menenangkan pikiran. Bagi saya kala pagi hari jika sempat ngadepin monitor saya lebih memilih album Yanni yang bertitel NightBird (tahun 1997) dan Ethnicity (tahun 2003). Musiknya sangat bergairah, pikiran seolah-olah turut serta bergerak dinamis mengiringi hentakan tuts. Darah terasa mengalir lebih kencang dan lancar, aktifitas menulispun menjadi encer.

Jika sedang sendirian mendengar musik lebih asyik walau menggunakan speaker biasa. Saya gunakan speaker yang harganya hanya 155 ribu (Simbadda CST 5100). Murah, meriah, sederhana. Ini saya beli saat belajar di Yogyakarta tahun 2003 lalu. Dentumannya sudah terasa nyaman di telingga. Kalau lagi kumpul keluarga saya pakai earphone yang harganya tidak lebih dari 50 ribu, diputar lirih-lirih. Asyik sekali.

Kadang sesekali juga saya pingin ndengerin flute atau saxsophone-nya Kenny G bahkan kalau rindu kampung pingin sekali ndengerin lagu gending jowo, jula-juli, ataupun uyun-uyun. Sayang belum punya kesempatan untuk mencarinya.

Kembali pada kekuatan musik tadi, sebenarnya musik juga memberikan efek positif untuk orang yang sedang belajar asal dipilih musik-musik yang pas dan dengan volume lirih namun merata di setiap sudut ruang. Sayangnya keinginan saya agar di setiap kelas selalu diperdengarkan musik-musik instrumentalia belum bisa dipenuhi oleh sekolah, biasa-lah alasan belum ada dana. Aktifitas belajar akan lebih bergairah jika diiringi dengan musik yang sesuai, ini akan sedikit mereduksi suara-suara pengganggu saat belajar. Sepertinya belum banyak sekolah yang menyediakan fasilitas seperti ini. Biasanya yang ada seperti itu adalah di perpustakaan. Sayangnya lagi diperpustakaan sekolah saya juga belum ada, lah wong bukunya saja hanya ada beberapa, tempatnya berdebu, meskipun pada jam tertentu lumayan ramai, yah ada -lah aktifitas di perpustakaan.

Andai saja semua sekolah bisa menyediakan fasilitas yang bukan primer ini (barangkalai tersier yah). Akan lebih bergairah siswa belajar, dan lebih hidup.

26 responses

  1. “pikiran seolah-olah turut serta bergerak dinamis mengiringi hentakan tuts. Darah terasa mengalir lebih kencang dan lancar”

    Tepat sekali dengan yang saya rasakan klo lagi dengerin musik ๐Ÿ˜€ .. *harus belajar dari blog ini spertinya* heheh

    Hmm..musik ..klo dijadiin fasilitas mungkin baru segelintir orang yang berpikiran sejauh ini ..malah lebih banyak orang yang beranggapan musik di kelas malah mengganggu.. -_-

    Saya juga lebih memilih musik instrumen *paling suka Tschaikovsky* ato klopun berlirik tapi dengan bahasa asing..sperti bahasa prancis ..jepang..rusia ..jawa heheh alasannya sama dengan alasannya pak guru ๐Ÿ˜€ ..malah lebih ga ngerti arti lagunya lebih baik ..karena saya lebih menikmati suara2 instrumen dari lagu2 tersebut..

    sekarang saya lagi rajin2nya dengerin Tokyo ska paradise Orchestra ..Band orchestra jepang dengan musik ska campur jazz ^_^ koq jadi promosi

  2. pak guru kesukaannya sama dengan aku, mendengarkan instrumentalia…
    Hmm… kalo lagi mumet sama urusan kerjaan, dengan mendengarkan musik kerjaan jadi lebih cepet beres, dan mengurangi stress!!!
    Waktu aku masih di SMA, di beberapa lab disetiap sudut ada speaker nya… apalagi di lab komp. Tapi memang dasar anak2nya aja yg ga bisa diatur… kadang muskinya suka diganti ama linkinpark, rhcp, atau ama lagu2 yang waktu itu ngetrend lagunya F4. Sejak saat itu paling musik yang dipasang cuma di lab komputer ama lab bahasa aja ๐Ÿ˜€

  3. pak, saya pas sma juga selalu mutar musik pas lagi belajar di kelas, terutama kalo lagi ngerjain tugas ato ada latihan soal. biasanya punya Kitaro, enak, gak bising. dan itu malah berdampak positif terhadap semangat belajar siswa di kelas. dan sampi sekarang hal itusudah jadi semacam tradisi di sma saya itu.

  4. Simbadda CST 5100) ?
    Mahal padahal kualitasnya kalah tuh sama Altec Langsing yang 230 rebo

  5. Mas cari aja musik yang gending-2 jawa atau campursarian…
    Khan banyak di pasaran, yang dalam bentuk MP3…

    Kadang saya juga kalau pas lagi kerja dengerin campursarian, kalau pas denger seolah-2 berada di lingkungan jawa.

  6. enakan UB 40, Marley…ato yang lokal macam Coconut Treez…musim ujan gini asekkk…

  7. wah, ada yg suka kitaro, campursari, marley,….
    klo aku milih anggun…wehehehehe

  8. Kalau tak salah saya membaca, ada kaitan yang erat antara musik dengan produktivitas. Kadang kalau kita sedang bekerja, jika sambil mendengarkan musik, sepertinya pekerjaan menjadi lancar.

    Saya acap menyetel lagu-lagu blues di ruang kerja saya.

  9. Pandangan saya lain lagi dengan anda, Pak Urip.

    Betul, mendengarkan musik memang menyenangkan, tetapi saya tidak menganggap mendengarkan musik sambil membaca atau menulis adalah hal yang efektif. Pikiran menjadi tidak fokus, antara mendengarkan musik maupun membaca teks. Alhasil, musik jadi tidak bisa dinikmati secara sempurna, kegiatan membaca pun tersendat, alias penurunan kecepatan baca. Jika diibaratkan, layaknya teh hangat yang diberi banyak gula. Jadi tidak bisa menikmati rasa teh yang sesungguhnya karena pahitnya teh tergabung dengan cita rasa manisnya gula.

  10. Wah, enak yo kerjo karo ndengerno musik. Ndek kene ora oleh.

    Oleh sakjane lek nggae headphone, tapi berjam-jam kuping dikrukupi barang iku yo ora penak.

  11. musik itu kan punya ‘power’ untuk membangkitkan suasana.

    misalnya pengen suasana lebih meriah dipasang musik yang hentakannya kuat.
    misalnya pengen ‘mellow-mellow’ karena mungkin sedang jatuh hati, ya nyetel lagu yang cinta-cintaan…
    kadang2 pengen nostalgia mengenang masa2 yang sudah lewat, biasanya saya puter lagu yang lagi nge-hits pada waktu itu, jadi ingatan bisa berputar ke masa itu.

    oia pak, mau donlod gending jawa?
    ini ada yang biasanya dipakai kalo upacara pernikahan adat disini
    siapa tahu mau nostalgia masa nikah sama ibunya anak2, hihihi…

  12. katanya sih musik yang bisa menambah konsentrasi adalah musik yang kita belum kenal dan belum pernah dengar…diputar lirih nyaris tak terdengar…

  13. Jazz for All, and All for Jazz ๐Ÿ™‚

    Banyak penelitian yang membuktikan kalau musik (sebagai musik latar) justru meningkatkan performance seseorang, tapi tentunya dengan kadar yang tepat. Misalnya, jika anda sedang mengerjakan pekerjaan yg menyangkut matematika, putarlah musik berirama cepat (rock, misalnya). Juga jika musik itu menjadi selera kita.

  14. @ chielicious: Kalau soal musik gak cocok belajar dari blog ini. Ini sekedar mengisi jeda saja. Reduksi suara pengganggu sebenarnya tujuan mendengarkan musik agar sinkron dengan ritme kerja, itupun kalau memungkinkan sih.
    @ xwoman: ๐Ÿ™‚ kebetulan saja. setiap siswa pasti beda kemauannya. tujuannya untuk pengiring bukan memuaskan keinginan kan kalau di sekolah.
    @ Ndarualqaz: Sekolah sampean sudah maju ya
    @ MaIDeN: Ada harga ada rupa, 155 musuh 230. ๐Ÿ™‚
    @ Prayogo: Iya nanti deh
    @ DiditYK & Anung: Bob Marley asyik juga kalau diputer santai, bisa ndut-ndutan.
    @ Thamrin: Ho-oh yah, perlu penyesuaian dengan t4 kerja, dan sesuai selera.
    @ winerwin: Kalau kondisinya bising musik lebih bagus ada untuk merduksi faktor pengganggu, karena telinga selalu merespon suara apa saja. Yang cenderung menyita perhatian.
    @ Aryo Sanjaya: Ya kalao di rumah bebas, kalau kerja tertentu ya mesti menyesuaikan to. Iya kadang kuping jadi panas.
    @ antobilang: Ok makasih tak coba sik yo.
    @ passya: bisa jadi begitu, cuman kalau perlu konsentrasi untuk menyimak musiknya malah belok tujuan dari sekedar pengantar
    @ fertobhades: Jazz ok asal tanpa syair, saya suka juga

  15. Kalau aku pas lagi lari dan fitnes di gym, ndengerin ipod biar ga kerasa capek dan semangat larinya…:-)

  16. hehehe..
    Di tempat Lesku (Ganesha Operation) kalo lagi belajar diputerin musik klasik..
    oya Om, musiknya kitaro juga enak – enak, contohnya Silk road, koi, orochi, caransary.

  17. kalau saya lagi mumet saya suka dengerin JAZZ atau Blues tapi kalo lagi pusing banget saya dengerin musik ROCK contohnya METALICA

  18. anykind of music, klasik (bach, tolstoy, straus) sampe rock alternatif (greenday, RCHP, hoobastank, muse), boyband sampe dangdut dan campursari, juga Jazz – yang menurut banyak orang adalah music mbulet – hehehehe… tapi khusus utk jazz ini saya lebih suka blues jazz, pop jazz dan smooth jazz, kalo yang hardcore mah g nyambung saya.. hihihi..

  19. Saya mah orang kampung Pak. Musiknya ndangdut. Hehehe…

  20. Didi Kempot, jos gandhoooossss… Ning setasiun balapan, kuto solo sing dadi kenangan….

  21. Bycicle
    Bycicle
    I want 2 ride my bike

    Sy suka Queen

  22. hoobastank, aerosmith, tesla, maroon 5…dan buuuuanyak lagi yang lainnya

    eh, pak guru seleranya oke lhoh. klasik. aku gak mudheng ngrungokno musik klasik, hehehe…

  23. Mau dengerin Nyi condrolukito? Ambil aja di asianclassicalmp3.com ada Pangkur, Uler Kambang, dan Kutut Manggung, (nuwun sewu) kang Petruk….

    Kalau mau main music tapi yang matematis, algoritmis dengan aplikasi fraktal, dan di atas keyboard komputer sendiri segala macam skala diatonis, raga india, arab, slendro pelog jawa bali, bisa search software ini : Fractal Tune Smithy apalagi sekarang sudah mix dengan software Scala Christian Huygens…

    Technologi ini belum banyak dipakai seniman tradisional kita sehingga mereka terjebak fenomena campursari atau mekso gamelan???Padahal bisa match….lho

    pasti murid-muridnya pada heran Nanti ada gendhing redoks pathet manyura malik pelog pathet barang malik jegog bali malik bluesy….

  24. Mau denger Nyi Condrolukito Pak?Silakan sedot di asianclassicalmp3.com. Ada Pangkur, Uler Kambang, dan Kutut Manggung
    Ada juga Kecapi Suling, dan gamelan Bali

    kalau mau main di atas keyboard dengan nada pelog slendro atau raga India bisa search Fractal Tune Smithy terakhir versi 2.4 dan Scala.
    Aplkasi matematika fractal untuk music. Kalau komponis Indonesia juga ahli matematika dan IT gak ada campur sari yang mekso, karena dengan IT musik tradisi bisa match, pleng dengan sinthesiser dan effect.

  25. spertinya hampir semua org suka instrumen pak Helge, kalo ane phodo karo mas sandy, anykind of music trutama yang asik, izi listening. dan kalo untuk yg syairnya di hayati nasyid mantabh tuh.
    Kalo lagu2nya familiar (biasa bgt kita dengar, saya melah lebih suka midinya, ringan simple dan asik. Jadi sambil berdendang kecil tapi gak teralalu musingi lirik nya..

  26. Mohammad Charles

    wwaahhh topik tentang musik niey… saya mah seneng banget, kebetulan saya ngajar musik di sekolah.

    percaya deh bahwa musik itu bisa memberi perubahan kepada yang mendengarnya. Contoh, saya ngajar lagu “Hujan” cipt pa Pranadjaja ke murid2 SD saya, dimana ada salah satu liriknya yang berbunyi “Hujan hujan alangkah senangnya, mengenakan jas hujan pakai payung berbunga, ayo kawan ikutlah serta, Hujan bukan halangan pergi sekolah..”, saya ajarkan ke anak2 pakai iringan piano diruangan saya (ruang musik di sekolah) plus gerakan2 yang mendukung (misal 2 tangan ke atas tegak + jari2 melambai yang menggambarkan hujan turun)…

    saat musim hujan tiba, saya buka pengajaran di kelas dengan memberikan ucapan selamat kepada anak2 yang tetap masuk meski hujan, dan jawaban mereka serempak “kan hujan bukan halangan pergi sekolah” hehe…

    ternyata saat mereka bangun pagi dan hujan diluar, mereka tetap bersemangat untuk berangkat karena ingat lagu tersebut

    itu cuma contoh kecil pengaruh musik dalam kehidupan sehari2