Orientasi Ujian Nasional

Model/bahan soal ujian nasional saat ini sudah tersedia di website puspendik, terutama 3 mata pelajaran wajib di SMA setiap program (tumben diupdate lama gak pernah diperbaharui). Standar kompetensi lulusannya pun sudah lama ada. Kebanyakan sekolah berusaha lebih intensif dan ekstensif untuk mengerjai soal-soal yang ada. Pokoknya genjot terus, lebih banyak berlatih, tidak jarang malah memberikan pelajaran tambahan.

Siswa yang merasa kurang yakin siap takut gak lulus, stress. Di benak guru pun ada rasa was-was mengkhawatirkan siswanya. Buku-buku terkait latihan soal-soal ujian nasional pun laris manis. Bimbingan belajarpun tidak ketinggalan ikut memperebutkan uang kecemasan siswa. Apakah model seperti ini yang diharapkan pembuat kebijakan masalah ujian nasional ini?

Semua siswa di kelas akhir tiap jenjang sekolah, dibikin repot. Apakah hal ini juga terjadi di era 70-an, 80-an, 90-an? Mungkin akan ada yang bilang lain jaman lain juga situasinya. Ya tapi setidaknya motivasi ujian mestinya gak bergeser. Ujian yah untuk menguji apakah layak lulus atau tidak. Sekarang ujian diplintir oleh para penguasa. Semua itu demi prestis di masa kekuasaannya. Agar terlihat oleh negera lain bahwa kita tidak kalah hebat. Agar mendapatkan lebih banyak pinjaman dana segar (apa dari sini juga yah untuk gaji saya?).

Apakah masa-masa duhulu manipulasi nilai dan manipulasi proses itu terjadi atau tidak yah? Saya tidak punya data, dan gak punya cerita tentang hal ini. “Rasa-rasanya” (hehehe kok pakai istilah rasa-rasanya) tidak keterlaluan dan tidak sefulgar akhir-akhir ini. Secara moral, sepertinya sistem ujian di negeri ini harus kembali ke masa lalu. Lulus atau tidak lulus menjadi hal yang wajar. Pergeseran tujuan dan pelaksanaan pendidikan sekarang telah terjadi dari orientasi mutu ke orientasi prestis dan uang?

Me-drill siswa dengan berbagai soal-soal adalah gaya khas bimbingan belajar. Sekarang hal ini telah diadopsi juga oleh kebanyakan sekolah. Kalau dirasa ini bisa memenuhi keinginan penguasa, sekolah tidak diperlukan tapi didirikanlah banyak-banyak bimbingan belajar saja. Atau kalau perlu buat kebijakan saat kelas XII selama setahun terakhir digunakan untuk latihan mengerjakan soal-soal saja.

Ngomong-ngomong soal bimbingan belajar, kalau diartikan semestinya adalah membimbing siswa untuk bisa belajar. Tapi nyatanya diisi dengan bimbingan mengerjakan soal. Lalu apakah mengerjakan soal sama dengan belajar? Banyak pihak yang memanfaatkan momentum ujian nasional mulai dari SD, SMP, SMA sampai persiapan memasuki lubang jarum Perguruan Tinggi yang di favoritkan. Yah terlihat dengan semakin menjamurnya bimbingan belajar di perkotaan. Baik di sekolah maupun di bimbingan belajar siswa-siswa diajari berbagai teknik menjawab soal agar jawabannya tidak keliru. Metode akal-akalan pun dipakai, ini karena bentuk soal multiplechoice.

Model soal yang sangat cocok digunakan untuk ujian dengan jumlah peserta yang buaanyak. Pengoreksiannya mudah tinggal discan saja. Sayang untuk menjawab dengan menghitami kolom tidak boleh sembarangan, dengan pensil khusus, tidak boleh ini itu, harus begini begitu, menyusahkan peserta ujian saja. Rupanya alat pengoreksinya tidak mau repot (kurang canggih). Yang gak cerdas adalah manusianya, kenapa masih mempertahan teknik koreksi yang tidak canggih, yang menyulitkan siswa. Kenapa tidak pakai kertas biasa, menghitaminya kenapa gak asal hitam saja, kenapa mesti pensil 2 B. Padahal ada alternatif yang jauh lebih canggih dan tidak terlalu ngrepotin siswa saat menjawab soal-soal. Selama ini perlu usaha ekstra bagi siswa untuk sekedar menghitamkan alternatif jawaban. Apakah ini juga dikarenakan telah ada ikatan kontrak yang ujung-ujungnya mencari keuntungan? Kalau ya kasihan bener siswa Indonesia, mereka dikorbankan perasaannya, yang semestinya harus fokus ke jawaban soal malah disibukkan menghitami lembar jawaban.

26 responses

  1. Pak Guru, saya sudah lama berpendapat tetapi mungkin belum pernah saya publikasikan, mengenai bimbingan belajar. Laris-manisnya bimbingan belajar, menurut saya merupakan wujud ketidakmampuan sekolah (dalam hal ini guru) dalam mencerdaskan murid-muridnya. Kalau guru di kelas bisa secara efektif menyampaikan materi pelajaran semestinya anak-anak tidak perlu lagi dibimbelkan atau dilesprivatkan. Celakanya, les privat atau ngajar di bimbel pun kadang-kadang justru menjadi sumber pemasukan utama bagi para guru. Gaji pokok bisa dilupakan karena pendapatan dari mrivat dan mbimbel dah berlipat-lipat banyaknya. Tentu ini berlaku bagi yang laku mrivat dan mbimbel. Kalau yang nggak laku, mungkin ya ngojek itu.

    Mengenai orientasi ujian nasional, mungkin hanya Pak Menteri yang tahu. Kang Kombor sama dengan Pak Guru, nggak ngerti orientasinya.

  2. Sepertinya kondisi tersebut sudah disetting Pak.
    Ujungnya tak jauh dari “bagi-bagi” proyek, mulai lembar jawaban, bundel soal, potelot dll.
    Memang sulit memahami jalan pikiran penggede 😦

  3. Kasihan anak2 jd korban, ga bakal tambah pinter dan nempel klo cuman belajar untuk ujian 😦

  4. kemaren juga adikku marah-marah aja pulang sekolah dia bilang guru kok pada ga ngerti kalau murid2 pada stress… dikasih ujian, tugasnya banyak banget. Dan temen2 nya bilang “mending kompakan ga usah ngerjain sekalian, biar kalo dihukum, dihukum semuanya”. Aku cuma bisa senyum aja dengerin ocehan mereka 😀

  5. menyambung >>> XWOMAN

    saya sangat setuju saya juga mempunyai adik kelas 3 waktu kemarin ujian TUC katanya soalnya sulit katanya jauh dari yang diajarkan yang saya tau ga mungkin guru memberikan pelajaran tambahan tapi ga mendekati ‘mungkin’ ada sedikit kisi-kisi soal jadi anak ga terlalu tegang waktu menghadapi ujian (bukan bocoran) jawaban dan soal kadang dibikin pusing ada 2 pilihan yang mendekati benar kalau gitu terus cara membuat soalnya mana mungkin bisa LULUS.

  6. iya tuh, ujian kok bisa bikin adekkku kayak minum galian singset 3 kilo. kurus kering. tiap tak telpon nanyain kabar, selalu aja bilang lagi pusing belajar. aneh sekarang memang. katanya kita belajar agar kita bisa hidup lebih berkualitas. lalu saperti apakah standar kualitas hidup itu. kalo pusing cuma gara2 ujian yang hanya 2 hari adalah hidup yang berkualitas, saya lebih milih mending hidup di desa terpencil, jadi petani, gak perlu pusing mikir rumus matematika yang gak pasti bakal tak pake buat hidup apa gak

  7. @ Kang Kombor: Kalau di SMA Taruna Nusantara dulu gimana keadaannya opo yah pakai les-les segala?
    @ CakMoki: Munggelnya dari bagian mana yah cak enaknya seandainya itu tanaman?
    @ SenyumSehat: Kalau di Amriko budaya seperti di Indonesia apa yah ada mbak?
    @ XWomen, Jokotaroeb, Ndarualqaz: Perlu perubahan sistem besar-besaran pendidikan di ngeri ini. Kalau sudah seperti itu, mana ada pendidikn yang menyenangkan, yang ada menyiksa siswa.

  8. Mungkin dari perut ke atas Pak. Malah medeni.

  9. Iya nih pak, kenapa ya orientasinya jadi “lulus” mengerjakan soal-soal. Padahal itu kan bukan tolak ukur prestasi yang relevan saat ini . Mungkin ada sistem yang lebih baik ? Saya juga benci dengan “kewajiban” menghitamkan lingkaran atau kotak ujian, saya termasuk lamban dalam mengerjakan hal ga penting seperti itu, wong saya mau jawab soal aja dipersulit ? Makanya saya lebih suka di kuliahan sekarang karena ujiannya selalu essay..

  10. Orientasinya jelas proyek pak, lha wong orang belum di standarisasi prosesnya kok langsung hasilnya pengen standar, bimbel namanya orang usaha memanfaatkan peluang dari carut-marutnya arah pendidikan,

    “Bimbel emang cerdik, tau apa yang dimaui penguasa pendidikan di negeri ini. Atau jangan2 mereka juga punya peran dalam setiap keputusan menyangkut kebijakan pendidikan 😀 “

  11. Kak mohon kirim prediksi UNAS SMp 2007 dong alu butuh banget ya…………

  12. mbok yao, jangan cuman bisa kasihan sama anak-anak sekolah sekarang …! ayo kita kasih bocoran soal, atau kita ajak mogok ujian bareng-bareng aja ! saya sangat setuju bikin sekolah alternatif yang dapat mengantarkan anak manusia menjadi “manusia” beneran! jadi INSAN INDONESIA YANG UTUH JASMANI, ROHANI, MENTAL, DAN ….LAIN-LAINNYA, gitoe loh …

  13. TADI SIANG SAYA PAS NONTON ANtv (8 MARET 2007) ACARANYA “PEQUE PRIX” CERITANYA; Siswa Sekolah Pio Baroja lagi berkompetisi dengan Siswa Sekolah Alfonso el Sabio, untuk menjawab pertanyaan dari “sang Profesor”. Saat siswa dari salah satu sekolah tidak bisa menjawab dengan benar (sehingga mereka gagal maju ke bebak berikutnya) tiba-tiba “proot” semacam roti tart ulang tahun ditamparkan ke muka Guru Pembimbingnya. Demikian pula kejadiannya pada Guru pembimbing sekolah lain yang siswanya gagal menjawab dengan benar.
    Kejadian itu memang pada sekolah di negara mereka, mungkin TIDAK AKAN TERJADI DI NEGARA KITA.
    Sekedar analogi saja, bahwa di negara mereka, Guru Sekolah yang mengirimkan siswa-siswinya BERPARTISIPASI dalam suatu kompetisi (TERBUKA VIA TV DITONTON MANUSIA SEJAGAT)ikut bertanggung jawab secara langsung terhadap KEGAGALAN KINERJANYA MEMBIMBING SISWA, BAHKAN RELA DITABLOK PAKAI ROTI DI MUKANYA.
    NAH (KALAU KONDISI NORMAL di sekolah kita) SEKOLAH YANG BERANI MENDAFTARKAN SISWANYA IKUT UJIAN NASIONAL, MAKA secara otomatis merelakan manajemennya dinilai oleh publik dan stakeholders, berdasar hasil kelulusan siswanya. Jadi kalau ada sekolah yang 0% kelulusannya ……. artinya……weleh….weleh…. Apalagi siswa yang tidak lulus Ujian adalah peserta Bimbingan Belajar di luar sekolah?…ya walah…weleh. Makanya ada sekolah hebat dan “UNIK alias MINTERIN” karena mata pelajaran Ujian Sekolah sejak semester 6 (Januari 2007) DIGANTI DENGAN MATA PELAJARAN UN, dengan alasan mata pelajaran US sudah dianggap Lulus oleh sekolah (itu kan hak-nya sekolah??????? elu mau apa??? nggak terima??? pengawas sekolahnya aja nggak komentar, kok sampeyan komentar macam-macam” …waah!)
    Tapi nggak usah kawatir banget-banget lah…kan mutu kelulusannya masih bisa di bawah 4,25. Apalagi kalau Ujian Paket B dan Paket C (yang disetarakan) masih berstandar 3,00 kayak tahun 2005/2006 yang lalu. Kan kalau nggak lulus UN bisa ikut lagi Ujian Paket b atau Paket C…he, he, he..
    Berpantu ah…..”JUAL PAGAR DAN PINTU SAMA RODANYA – NGEJAR MUTU SEKOLAH SAMPEK JUAL SEGALANYA”.
    Mutuuu..mutuuu…

  14. ygy6eov768660ev rugyhtyegxtagcgr6flhr yty trof6r yr6 yr6fjb ytygpjh u

  15. Mana… situs http://www.puspendik.com kok gak bisa diakses yaa? Susah juga ternyata mo cari informasi di bidang pendidikan. Kalah jauh dengan situs XXX 😦

  16. apakah ada yg lebih mudah lagi dalam menghadapi uas kecuali tanpa kopean.lalu tips yg paling gampang dan mudah untuk menghadapi ujian bagaimana caranya?terima kasih,mohon informasinya.

  17. Masalahnya manusia hampir selalu dinilai dengan angka pak.

    Yang seperti ini tidak akan berhenti kecuali suatu saat nanti manusia menemukan parameter baru yang pakem selain angka. Buat anak sekolah angka berarti nilai, buat orang dewasa angka berarti “income”.

    Usaha seseorang dinilai dari hasilnya, dan bukan sebaliknya.

    sulit…

  18. Ujian Nasional??????????????? Gw Bangets!!!!!!!!! Tetep semangat buat semuanya, Hadapi Tantangan Sebagai AwAL kESUKSESAN OK!!!!!

  19. tolong kirim format kisi-kisi membuat soal yang baru

  20. UJIAN NASIONAL!!!,,,,,……~~~~
    DEG DEG DEG DEG DEG……
    DUH… kira kira bisa ga yach?????

    hanya satu pesanku at temen2 muanya, jangan pernah takut menghadapi UN. SEMOGA KITA SEMUA LULUS DENGAN HASIL MAKSIMAL

  21. memang ujian itu sangat sulit dan tidak bisa diperkirakan soal2nya apa yang keluar
    klo soal2 itu tidak bisa diperkirakan yang keluar mana bisa belajar dengan tenang.

  22. mohon banget kepada yang membuat soal2 UJIAN NASIONAL jangan susah banget ya!!!!!!!!!!!!
    satu lagi untuk seluruh Indonesia s’moga lulus semua di UJIAN Tahun ajaran 2006-2007

  23. UNAS itu mank sprti na menakutkan tp qta jg hrus smngat bljr untk mnghdpi UNAS & jngn lupa jg untk ber doa okE….

    look_about_me@yahoo.com

  24. Tlng untuk soal unas tingkat smp kelas dua jangan susah yaa

  25. UN gak usah dipikirin??????
    toh,ntar juga dapet bocoran ko..
    BUAT PEMERINTAH,yang tegas DONG!!!!!!

  26. Apa benar, kalo seandainya siswa2 lulus UN semua, maka pendidikan di Indonesia lebih maju? Pertama, kayaknya UAN itu dibuat cuma karena ngeliat negara lain standar kelulusannya tinggi. Jadi pemerintah niru2. Mereka gak pernah mengkaji apa pokok permasalahan supaya pendidikan di Indonesia bisa maju. Yah..cari gampangnya aja gitu.
    Kedua, pemerintah berpikir, siswa perlu tekanan, supaya mereka mau belajar keras. Yah..klo mikirnya kayak gitu sih..mana bisa mereka belajar dengan baik. Alangkah enaknya kalo kita belajar bukan karena tekanan, tapi karena motivasi dari dalam diri, bahwa belajar itu asik, menyenangkan, dan penting. Kalo belajar karena tekanan, seandainya mereka lulus dengan nilai yang tinggi pun, akhirnya setelah setelah lulus mereka mana mau belajar. Belajar akhirnya masih punya image yang buruk. Trus, kalo siswa2 mempunyai image buruk seperti itu, pendidikan kita jadi lebih maju? Pasti tidak deh.
    Saya lebih senang dengan Accelerated Learning. Mestinya pendidikan itu tidak mengajarkan mata pelajaran Bahasa, IPA, IPS, semata. Tapi mengajarkan bagaimana caranya supaya mereka mempunyai cara berpikir seperti seorang ahli IPA, IPS, dan Bahasa tersebut. Artinya, mengajarkan mereka berpikir logis, matematis, mempunyai minat yang tinggi terhadap ilmu pengetahuan. Itu artinya lebih mengajarkan mental siswa itu sendiri. Itu artinya mendidik, bukan sekedar mengajar. Coba bayangkan, apa bisa mental seperti itu dicapai dengan cara memberi tekanan??? Tak mungkin. Tekanan, dengan UN, pada akhirnya tak akan merubah mental siswa, malahan, akan memperparah kondisi mental siswa, mereka akan tetap berpikir bahwa yang penting adalah ijazah. Hasil akhir. Bukan belajar itu sendiri.