Ketentuan Kelulusan Ujian Nasional

Berikut ini ketentuan yang akan diterapkan untuk kelulusan ujian nasional, dikutip dari Prosedur Operasional Standar Ujian Nasional tahun ini:

A. Kelulusan Ujian Nasional

Peserta UN dinyatakan lulus UN jika memenuhi standar kelulusan UN sebagai berikut:

  1. memiliki nilai rata-rata minimum 5,0 untuk seluruh mata pelajaran yang diujikan (termasuk nilai uji kompetensi untuk SMK), dengan tidak ada nilai bawah 4,25; atau
  2. memiliki nilai minimum 4,00 pada salah satu mata pelajaran, dengan nilai mata pelajaran lainnya yang diujikan pada UN masing-masing minimum 6,00.

Kabupaten/Kota dan atau satuan pendidikan dapat menentukan standar kelulusan UN lebih tinggi dari kriteria a dan/atau b.

B. Kelulusan Ujian Sekolah

Peserta didik dinyatakan lulus ujian sekolah/madrasah apabila memiliki rata-rata nilai minimum 6,00 dan nilai minimum setiap mata pelajaran Ujian Sekolah ditentukan oleh masing-masing sekolah/madrasah.
Satuan pendidikan dapat menentukan batas lulus dengan nilai rata-rata di atas 6,00.

C. Kelulusan dari Satuan Pendidikan

Pengumuman kelulusan siswa dari satuan pendidikan dilakukan oleh sekolah/madrasah penyelenggara setelah menerima DKHUN, lulus UN, lulusan ujian sekolah/madrasah, serta hasil penilaian lainnya sebagaimana tertera pada pasal 72 PP 19/2005, selengkapnya sebagai berikut:
Peserta didik dinyatakan lulus dari satuan pendidikan pada pendidikan dasar dan menengah setelah:

  1. menyelesaikan seluruh program pembelajaran;
  2. memperoleh nilai minimal baik pada penilaian akhir untuk seluruh mata pelajaran kelompok mata pelajaran agama dan ahlak mulia, kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian, kelompok mata pelajaran estetika, dan kelompok mata pelajaran jasmani, olah raga, dan kesehatan.
  3. lulus ujian sekolah/madrasah untuk kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi.
  4. lulus UN.

Keempat kriteria kelulusan peserta didik dalam satuan pendidikan di atas harus dipenuhi oleh peserta didik. Apabila salah satu kriteria tidak terpenuhi, peserta didik dinyatakan tidak lulus dari satuan pendidikan.

Iklan

29 responses

  1. gimana kalo syarat kelulusan diubah:
    1) Anak, keluarga, saudara pejabat tinggi ato minimal kenalannya.
    2) Punya uang untuk membayar kelulusan, ini sesuai dengan nego dengan pihak sekolah atau dinas pendidikan.
    3) Mempunyai dampak yang berpengaruh pada jabatan kepala sekolah, apabila si anak tidak diluluskan.
    4) paling minimal keluarga guru, kepala sekolah atau yang punya kenalan dengan pihak sekolah…
    5) Termasuk orang brengsek yang mau merusak dunia pendidikan

  2. Satuan pendidikan dapat menentukan batas lulus dengan nilai rata-rata di atas 6,00.

    Gara-gara kalimat ini, di sekolah saya ada pelajaran yang nilai minimumnya dinaikkan jadi 7.5, padahal pelajarannya hafalan (kewarganegaraan).

    😦

  3. nilai TO matematika saya blom pernah mencapai segitu,,,

  4. moga2 kita selalu melihat dari sisi positif-nya saja….gak usah cari kambing hitam jika persentase kelulusan di sekolahnya rendah…tinggal ngaca! punya cermin tho…

  5. Doain anakku diterima di SMP Negri pak Guru.
    NB: kok gak tau mampir omahku Pak Guru. Sombong kiiiiihh..

    “Nggih semoga lulus dan bisa masuk sekolah yang dinginkan. Ngampunten dee, Mampir sering kok, cuman gak ninggalkan jejak. Trus akhir2 ini ada sesuatu yang harus mendapatkan perhatian lebih. Posting saja nyelak-nyelak-e, saya rindu mbaca tulisan njenengan juga. unik sih. :)”

  6. Score standar kelulusan 6.00 itu untuk nyamain standar di negara ASEAN kali ya ? Kalu tidak salah Vietnam saja sudah lebih dulu daripada Indonesia mentargetkan standar 6.00

    Tapi apa sebenarnya arti angka 6.00 ya ? Kebayang deh, Bapak/Ibu guru berkerut-kerut gimana caranya ngatrol nilai murid.

  7. Dari pengalaman yang sudah-sudah, kenyataan aplikasinya di sekolah gimana Pak ?
    Kemarin saya ketemu seorang anggota dprd yang prihatin setelah sidak ke SD. Bilangnya di salah satu SD di pinggiran samarinda ada SD yang yang jumlah seluruh siswanya hanya sekitar 70 dari klas I s/d VI. Karena jumlah guru minim, kadangkala seluruh murid dari klas I s/d VI terpaksa belajar bersama dalam 1 kelas, bangkunya di atur sesuai kelas.
    Bisa dibayangkan saat UN nanti. Tapi di koran kepala Diknas mengatakan tidak akan kalah dengan Jawa. Halahhh, tahun kemarin aja amburadul.
    Ini kenyataan.
    Di kecamatan kami ada SD jumlah total muridnya hanya 60. Kalau tidak salah gurunya 4 orang. Kalau satu rapat tinggal 3, mau cuti gak tega.
    Saya pernah ngobrol dengan Kepsek di SD tersebut terkait UN nanti, siapapun kepingin bagus, kepingin optimal, kepingin murid berprestasi, kepingin berstandar nasional. Berhubung beliau curhat kepada orang yang salah, sayapun plonga-plongo 😦

  8. Pada bagian A seperti menunjukkan kekurangtegasan, mbok kalau mau pakai nilai minimum tiap mata pelajaran 4,25 ya poin 2-nya tidak usah dibuat. Salah satu saja gitu.

    Sebenarnya apa sih perbedaan antara kelulusan-kelulusan yang berbeda tersebut?Sepertinya hanya menambah persyaratan kelulusan siswa saja?
    Kasihan juga ya para siswa jika nasib mereka belajar selama tiga tahun sangat ditentukan dari nilai ujian akhir. Padahal kalau hanya mengandalkan satu kali penilaian saja itu validitasnya rendah?
    Banyak faktor yang mempengaruhi pencapaian nilai siswa, termasuk juga faktor fisik dan psikis. Kalau siswa sedang dalam kondisi tidak begitu fit tentu saja sangat mungkin terjadi penurunan kemampuan (walaupun sebenarnya telah disediakan “fasilitas” ujia susulan)
    Mungkin benar kalau kelulusan tetap memperhitungkan nilai-nilai mata pelajaran lain selain mata pelajaran yang di UN-kan tapi kalau melihat kalimat apabila salah satu kriteria tidak terpenuhi, peserta didik dinyatakan tidak lulus dari satuan pendidikan maka hal itu berarti UN tetap berperan penuh dalam kelulusan siswa.
    Kalimat terakhir tersebut seperti konjungsi (dalam logika matematika), jika salah satu salah maka hasil akhirnya akan salah.

  9. Menambahi apa yang disampaikan cakmoki:
    Saya juga punya cerita yang sangat nyata tentang keadaan tersebut, kisah tentang ayah saya sendiri.
    Pada bulan Juli tahun 1988 (tepat saya masuk SD) sampai tahun awal tahun 2004 (tepat setelah saya wisuda S1 di bulan Februari) ayah saya ditempatkan di SD pelosok yang untuk ukuran Pulau Jawa mungkin bisa dikatakan rada2 terisolir. Untuk mencapai SD tsb ayah saya harus naik angkutan dulu sekitar 7 Km yang kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki sejauh sekitar 7km juga (berarti bolak-balik ayah saya jalan kaki sekitar 14km). Guru di SD tsb hanya 4 orang, itu juga sdh termasuk kepala sekolah dan guru agama. Karena jarak yang cukup jauh (jalan kaki 14 km) dan untuk menjaga kondisi fisik para guru yang rata2 waktu itu berumur 40thn (kalau sakit kan malahan repot)maka sekolah membuat kebijaksanaan sepihak yaitu membuat jadwal berangkat ke sekolah sehingga rata2 setiap hari hanya ada 3 orang guru (skl lg trmsk KS) yang mengurusi 6 kelas.
    Itu di Pulau Jawa, apalagi (maaf) kalau di beberapa daerah yang lain ya?
    Nasib guru…
    BTW kisah perjalanan hidup ayah tercinta inilah yang menjadi alasan kenapa saya begitu mengagumi sosok guru (bahkan tanpa ragu menyebut guru = hero).
    Hidup guru-guruku semuanya..tetap semangat ya..
    Maaf Pak Guru kalau komentar ini rada OOT, maklum terbawa emosi 😀

  10. pa guru kayanya kalau nilai 6 susah kemarin saja saya dengar dari adik saya kebanyakan nilai rata-rata mereka kurang dari 6 malah ada yang tidak lulus, sepertinya bapak dan ibu guru harus bekerja exstra supaya anak didiknya lulus semua apa tidak bangga jika anak didiknya lulus semua? pasti bangga dong, saya setuju dengan MURNIRAMLI pasti bapak/ibu guru berkerut-kerut untuk mengontrol nilai murid.

  11. Tantangan ya disambut aja, walaupun dengan kening berkerut

  12. wah, tambah berat ya pak buat lulus tahun ini. tapi ya saya mbantu doa supaya adek adek yang sedang menghadapi ujian bisa menyelesaikan ujiannya dengan sukses

    “Seharusnya sih kudu 6 baru layak. tapi pemerintah sedikit nyadar kondisi persekolahan tidak begitu mendapatkan perhatian serius, jadi yah segitu dulu”

  13. Pak Guru, denaredana itu diojok-ojoki supaya pindah wordpress saja biar enak-sama enak ngunjunginya. Teyus-teyang ngunjungi blog sesama woydpyess lebih nyaman dayipada yang bloggeyyyy… Apalagi kalau yang mau komen mesti buka pop up. Udah disuruh mop up, suruh ngisi apa itu namanya yang untuk word verification itu? Nganyelke tenan. Meh komentar saja susehh…

    “Sudah punya kang beliaunya, cuman dia merasa sudah enak di sana. Saya juga rada2 sebel kalau ada verifikasi kode itu (chapcay 🙂 ) . Sebenarnya kan bisa saja gak pakai gituan. Terus terang akses ke blogspot memerlukan waktu lebih dibandingkan wordpress. Makanya dulu sempat saya tulis, bagi yang suka eksperimen penampilan sih cocok, tapi kalau isi wp.com lebih ok. Maaf lho rekan blogger yg makai blogger 🙂 bukan menjelekkan atau memperovokasi untuk mutasi ke wp.com, tapi saran saya coba settingnya di buat ringan gimana? sehingga kita lebih sering saling mengunjungi.”

  14. terserah kepala sekolah pak…

    “Berarti gak boleh sembarangan milih kepala sekolah yah?”

  15. Waduh Gimana yah Uan tgl sebualn laghe. mo ngasih komnt negh gimana yah kami ini sebagai siswa nasibnya malang benar. setiap tahun gonta ganti kurikulum cuman biar jadi kelinci percobaan departemen pendidikan.coba dong tolong ngerti nasib kami bapak menteri jangan terlalu kejam dong. hik hik

  16. iya nih , kasian siswa siswi sekarang,
    bukannya mereka bodoh2 tapi klo begini yg bodoh jadi kelihatan pinter

    ribett amattt

  17. mohammad charles

    hehe… tambahin aja persyaratannya untuk lulus ujian, yaitu nilai nyanyinya / main musiknya harus minimal 7,5 (hehe… *guru bidang study musik mode on*, http://www.becanda.com)

  18. Saya bingung mau tulis apa? Tapi menurut saya, mbok jangan kejam2 ngasih standar kelulusan, ya memang baik kalo mau niru negara tetangga, tapi klo siswanya gak mampu pada bae umuk cara desanya. Makanya, apa gak bisa di pertimbangkan lagi dulu? Sebelum semuanya terlambat.

  19. Bagaimana nanti dengan nasib anak-anak kita yang nanti tidak lulus pada UAN ini siapa yang patut di salahkan? Guru? Metode Pembelajaran? Kurikulum?

  20. Bagaiman dengan standar kelulusan? Jangan kita menganut budaya meniru-niru terus dan standar kelulusan ini kan di tiru dari negara tetangga sedang anak kita gak mampu? makanya ,apa gak bisa dipertimbangkan lagi?

  21. Saya kasihan dengan nasib siswa kita sekarang. Terus mau jadi apa mereka nanti

  22. Inilah penyakit bangsa Indonesia, selalu takut dengan kegagalan, ujung2nya toleransi, kasihan, kekeluargaan, dst. Tidak heran kalo daya saing Indonesia SANGAT MEMBLE. Terbukti jelas misalnya di Olahraga.

    Gagal itu biasa dan harus dianggap hal yang biasa. Bila diolah secara positif kegagalan dapat mendorong orang untuk meningkatkan kemampuannya.

    Kalo gagal mau jadi apa? Banyak. Memangnya kalo berhasil juga mau jadi apa?

  23. Gimana nech, temen gw MTK nya 4.8 masa ga lulus,…padahal nilai standar az 4,25…tapi temennya yang cuma 4.02 bisa lulus, gimane nech pa GURU

  24. Alowwww gw LULUS…Horeeeee

  25. Menurutku Standart nilai kelulusan ditentukan oleh bidang studi tertentu itu tidak adil. kenapa?
    kita belajar sekian tahun yang diujikan 3 bidang studi untuk SMA.

    Gimana kalo DPR juga diadakan UNAS.
    biar mereka juga meraSAKAN apa yang kita rasakan…

  26. ui,,,

    mKiR dunKz kLo mu naeKkan standaR KeLULUSan !!!!
    Punya otaK gagg siH ???

    Jgn KoRupsi aJa ianK tau !!!

    mkir Jg dunK nsb para Penarus bangsa !!!

  27. Nilai standar kelulusan dinaikkan?
    gak pa-pa kok!
    Biar ada kemajuan!
    SDM lebih berkualitas!
    Lebih rajin belajar dan berdoa saja! Niscaya Tuhan mendengar..
    Itu baru jalan…
    Bukannya komentar menolak nilai standar kelulusan dinaikkan!

  28. […] 4 Maret 2007 Pendidikan , Ujian Nasional 27 Komentar Berikut ini ketentuan yang akan diterapkan untuk kelulusan ujian nasional, dikutip dari Prosedur […]

  29. sebenarnya urusan standar minimal itu tidak menjadi masalah ketika sdm guru sendiri mumouni dalam artian, mengerti perkembangan pendidikan sekarang. sehingga dalam mengaplikasikannya ke siswa, siswa mudah mengerti. minimal guru mampu menguasai metode pembelajaran, dan alankah baiknya satu minggu sekali metode itu berubah, katakanla minggu pertama metodenya ceramah, minggu kedua diskusi, minggu ketiga jigsaw dll. jadi pada intinya jangan hanya dibebankan ke murid saja. jadi semua harus berusaha ke arah yang baik dan hentikan nepotisme dan kolusi, seperti guru mengajari murid ketika ujian…….gitu.pentingkan kualitas pendidikan bangsa…jangan gengsi sekolah