Haruskah Jadi Guru itu Diniatkan Sejak Mula?

Tulisan ini teridekan dari komentar Pak Ersis di blognya menanggapi salah satu pertanyaan. Ketika ditanya berapa persen kah orang yang menjadi guru sekarang karena cita-citanya mulai dari kecil? Ia menjawab bahwa menjadi apapun tidak mesti diniatkan sejak awal, yang terpenting adalah bagaimana menjalaninya, karena ini soal pilihan. Dicontohkan bahwa orang yg jadi presiden menteri, pembobol bank, koruptor juga sebelumnya tidak diniatkan sejak kecil. Bahkan manusia terlahir pria/wanita tidak turut meniatkan. Yang terpenting adalah bagaimana menjaga/mensiasati agar jadi apapun itu dijalani dengan benar dan bersungguh-sungguh.

Jawaban yang menurut saya itu sangat cerdas dan benar adanya. Memang seandainya bisa diniatkan seperti itu tentu akan lebih baik lagi. Tetapi penyesuaian diri setelah menjatuhkan pilihan jauh lebih penting. Sebab hasilnya akan nampak. Kinerja menjadi apapun akan terlihat setelah proses menjalani berlangsung. Apakah seorang guru layak ngajar ataupun tidak ini juga menjadi bagian dari proses itu. Persoalannya sekarang mengapa sampai saat ini ditemukan banyak guru mulai SD-SMA (bahkan mungkin dosen juga) yang tergolong “payah” setelah sekian lama menekuni pekerjaannya.

Berdasar pengalaman melihat rekan-rekan guru sekitar saya dan juga saya sendiri ada beberapa sebab kepayahan itu.

  • Tidak mau selalu belajar
  • Kurangnya pergaulan untuk share pengalaman
  • Merasa apa yang diketahuinya sudah cukup jika harus mengajar bidangnya
  • Tidak mau mengikuti perkembangan yang terjadi
  • Bersifat tertutup untuk hal-hal baru
  • Eksplorasi diri yang sangat rendah
  • Tidak mau mencari metode alternatif
  • Tidak adanya pengawasan/kontrol terhadap kemampuan selama menjadi guru
  • Tidak tahu harus berbuat apa untuk bisa memperbaiki diri dalam pekerjaannya
  • Lepas dari tujuan semula untuk menjadi guru, seolah-olah guru adalah pekerjaan rutinitas belaka, bahkan mengajarpun tidak ada persiapan dan asal masuk kelas.
  • Anggapan siswa tidak tahu apa-apa dan dipandang sebagai botol melompong yang bisa diisi apa saja otaknya. Siswa tidak dipandang sebagai ‘manusia’ .
  • Siswanya sendiri tidak tahu bahwa dirinya di sekolah sedang belajar, sedang mengubah diri yang tadinya tidak tahu menjadi tahu, terkesan asal naik kelas dan lulus. Suatu kebiasaan yang menjangkiti kebanyakan siswa di pedalaman bahkan di perkotaan.

Daftar di atas masih sedikit, tapi itu yang muncul saat menulis ini. Jadi mengubah proses yang sedang berjalan ini yang sering tidak guru lakukan.

Jadi bisa saja sejak kecil atau saat menjatuhkan pilihan masuk fakultas keguruan ia telah berniat untuk menjadi guru, namun setelah tercapai niatnya profesionalitas hilang karena keadaan dan lingkungan. Masih mending kalau ada pandangan bahwa guru itu lebih pinter atau tahu duluan semalam sebelum waktunya mengajar. Daripada tidak tahu apa-apa yang akan diajarkan kemudian siswa disuruh mencatat isi buku pelajaran. Tidak dipungkiri hal ini masih saja terjadi di beberapa tempat.

Jadi proses untuk selalu meningkatkan atau setidaknya menyesuaikan diri mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi inilah yang terpenting. Tidak hanya cukup diniatkan saja lalu menjamin kualitas diri guru.

Iklan

32 responses

  1. harus pak…secara katanya semua kerjaan harus didahului dengan niat…katanya 😛

    “Lah kalau sudah terlanjur niatnya jadi gimana? 🙂 “

  2. nambahin, sistem penggajian PGPS (pintar genius penghasilan sama) halah

    PGPS = Pinter “Go-Blog” Penghasilan Sama

  3. Saya pikir itu merupakan suatu keharusan, jadi kalau memang niatnya sudah tulus pasti kerjaan itu akan berdampak sangat positif.

    Tapi kadang sayang, tidak sedikit dari kita menjadi guru merupakan “keterpaksaan” karena kebutuhan ekonomi. Oleh sebab itu banyak guru yang hanya mengajar tetapi tidak mendidik. Karena memang tidak ada basic dari bawah, tidak ada niat dari awal.

    Niat perlu di tancapkan di dalam hati sejak dini, Karena itu pengaruhnya akan sangat positif.

    “Hehehe saya belum jadi pendidik, masih jadi pengajar, itupun kadang kurang begitu sungguh-sungguh, makanya Indonesia payah”

  4. pokoknya, sekali lagi, HIDUP GURU!!! *ngeyel*

  5. Coba di telaah, berapa banyak guru yang benar2x dari hati nurani. Aku kira nggak banyak; aku lebih percaya kalau profesi guru itu sekarang lebih kepada “daripada nggak dapat kerja” daripada “saya ingin memajukan bangsa”. no offence untuk guru-guru yang benar2x ingin memajukan bangsa.

    “Sepertinya memang begitu”

  6. walaupun pak guru “mungkin” tidak niat jadi guru, tapi terpaksa jadi guru, saya lihat pak guru adalah guru yang baik. karena orang yang baik adalah orang yang bisa manyadari kelemahan diri sendiri dan bisa mengoreksi diri sendiri.

    pak guru, tetap semangat ya

    “Niat saya sih sejak awal kuliah di FKIP jelas jadi guru, saya sadar itu. Cuman untuk memelihara niat agar selalu jadi “guru” ini kadang sering timbul tenggelam, kadang ada kejenuhan, kadang sangat kuat gairah mengajarnya, begitu masuk kelas melihat keadaan siswa lalu melorot lagi”

  7. Haruskah Jadi Guru itu Diniatkan Sejak Mula?
    Wah, jawabanya agak susah menurut saya, yang saya belum tahu kata “Mula” yang bapak maksud, apakah sejak bayi, sejak mau masuk TK, sejak SD atau sejak seseorang memilih profesi sebagai Guru. Menurut saya, Guru sebagai profesi adalah sebuah pilihan, bukan keterpaksaan atau kebetulan, jadi pada saat memilih profesi sebagai Guru itulah niat harus dimantapkan.

    Saya sendiri bukan Guru (profesi)jadi gak tahu banyak seluk-beluk profesi Guru, tapi apapun profesi kita, memang harus diniatkan dengan sungguh-sunguh dan dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab.

    Sebenarnya sih semua dari kita ini adalah guru (bukan dalam arti profesi), setidaknya guru untuk diri sendiri dan untuk keluarga.

    Kira-kira begitulah komentar saya.

    “Mangan kupat dicampur klopo,
    Menawi lepat nyuwun ngapuroo…”

    Hehe.. eling cak Kartolo rek.

    “Bener, meneguhkan niat ini yang kadang hilang timbul pada diri guru, akhirnya amburadul pengajaran. Parik-ane koyok-e wis reflek yo cak, bisa muncul begitu saja”

  8. Susah mendifinisikan sebagai guru? tergantung pribadi sih….. nyatanya banyak banget yang pingin jadi guru… tuh liat pendaftaran guru PNS, ya ampun… Masyalloh… apa karena bayarannya, panggilan, pilihan, niatan, kebetulan, keterpaksaan atau karena tuntutan ijazah entahlah… itu semua kita kembalikan pada pribadi masing2.

    “Sepertinya kalau gt motifnya bisa multiple. Hanya kekuatannya adalah berat kemana itu yang tahu pribadi. Saya dulu daftar jadi Guru PNS karena iseng untuk kepastian penghasilan, meskipun saya saat itu di atas angin walaupun tidak jadi guru PNS. Lah setelah jadi Guru PNS gaji cuma 212 ribu, padahal saya punya penghasilan les privat 500 ribu saat itu. tapi saya tetep pilih jadi guru PNS. Ini adalah pilihan”

  9. Klo sekarang sih banyaknya guru adalah solusi akhir pak. Mungkin mayoritas guru2 muda berasal bukan dari pendidikan guru. Tapi klo untuk masalah kompetensi sih saya rasa gak ada salahnya, karena setiap orang dapat bereksplorasi masing-masing.
    Hanya saja kadang guru2 senior yang memang pendidikan awalnya sebagai guru menganggap remeh guru2 yang niat awalnya bukan menjadi guru. (semoga pak urip tidak demikian :-D).
    Tapi klo penilaian saya sih no problemo pak, asal sang guru bisa menjalankan tugasnya sebagai guru dan si peserta didik mendapatkan hasil yang memang pantas dia layak disebut guru pak.

    “Setuju mas”

  10. Ya, harus pak. Harus diniatkan untuk mencari nafkah dan mengabdi, harus dua-duanya. Karena siswa bukan robot, tapi mahluk hidup berakal.
    gitu kan pak guru?. Jadi jangan kaya saya, dari awal sudah takut tidak dihargai, jadi mabur, cari profesi lain…. nggak ikhlas namanya…

    “Yah gitu deh… Lho emangnya dulu kuliah di keguruan gitu yah?”

  11. Waktu SMA dulu, melihat guru-guru praktek (anu, saya lupa apa sebutannya, semacam kuliah kerja praktek ke sekolah-sekolah mgkn). Dan saya perhatikan, sebagaian besar dari mereka “ga niat” mengajar.

    Waktu itu saya mikir : “Duh, gimana kalo mereka nanti ngajar anak saya?” (haiyah, masih SMA dah mikir anak? Hihi).
    Dan serta merta saya berpikir, berapa orang sih yg benar-benar bercita-cita jadi guru? Bagaimana kalo saya tidak akan menemukan guru yg berdedikasi d zaman anak saya nanti? Gimana… wuah..makin serem deh pikiran.

    Tapi membaca tulisan Bapak ini.. Saya jadi tercerahkan. Semoga banyak guru-guru lain yang seperti Bapak.

    “Mudahan mereka yang PPL itu telah mengubah sikapnya, menjadi guru yang baik. Wah saya ini masih kacau juga lho”

  12. Wah, kebetulan saya jadi guru awalnya bukan karena niatan saya sepenuhnya.
    Saya dulu sekolah di STM Telekomunikasi tetapi setelah lulus sang bapak tercinta ingin ada regenerasi sebagai guru sehingga saya disuruhdianjurkan kuliah ambil jurusan Pendidikan Matematika. Awalnya sih males tapi tdk tahu kenapa lama-kelamaan saya enjoy kuliah di situ yang akhirnya saya juga enjoy jadi guru Matematika. Ternyata pilihan ortu tepat …

    “Orang tua sampean saya acungin jempol deh. jarang lho orang tua yang jadi guru kemudian menyarankan anaknya untuk jadi guru. Anak saya cita-citanya juga pingin jadi guru. Semoga nantinya telah ada perubahan yang lebih bagus terhadap profesi guru ini.”

  13. yang penting niatnya jadi Guru= diguGu lan ditiRu… bukan Guru=waGu tur saRu…

    “Kalau saya kadang wagu dan saru je… piye jal”

  14. Lepas dari tujuan semula untuk menjadi guru, seolah-olah guru adalah pekerjaan rutinitas belaka, bahkan mengajarpun tidak ada persiapan dan asal masuk kelas

    Yang itu tidak relevan dan signifikan (halah… kayak Jarwo Kuwat), Pak Guru, secara tidak semua guru mencita-citakan diri untuk menjadi guru dan tujuan seseorang menjadi guru bisa berbeda-beda. Siapa tahu tujuan semula jadi guru hanya agar bisa dapat status bukan pengangguran.

  15. Kakek dan Bapak saya dulu juga mengatakan seperti kata pak Ersis.
    Beliau dan kerabat lainnya mengatakan: dimanapun melanjutkan cita-cita, harus dilandasi kesungguhan.
    Omong-omong kesungguhan itu termasuk niat nggak ?

    “Sepertinya lebih dari itu pak kalau kesungguhan, niat khan… kadang hanya niat setelah proses berlangsung bisa saja lain”

  16. Guru geografi SMA saya cewek, cakep, pintar lagi. Saya senang melihatnya he he, tapi sayang ketika itu sudah bersuami..ha ha ha ha. Tapi, nilai saya selalu OK untuk pelajarannnya –walaupun di sudah bersuami. Saya pun pernah berniat jadi guru, karena senang melihat guru itu. Tapi yang terjadi malah sbaliknya hik hik hik..

  17. Soalnya dari dulu sampai sekarang lagunya masih sama “Oemar Bakri Oemar Bakri … Pegawai Negeri” ….

    Gimana bisa maju bangsa ini …
    .. .. . Ini global thingking ya …

    Katanya 20% dana APBN akan dialokasikan ke sektor Pendidikan … Mana ?
    Makanya …
    Jangan salah milih waktu PEMILU …
    Pilih Partai yang berani teken kontrak politik sama persatuan Guru …. Kalau menang PEMILU, Anggaran untuk Pendidikan naek 100% ….

    Lho … darimana emang anggarannya … dari dengkul ?
    Dengkul ndasmu ….
    Kesejahteraan mu yang berlebihan iku yang perlu dikurangi ….

    Jalan-jalan keluar negeri, mobil dinas mewah, rumah dinas dan perabotan kelas satu dst …. Dasssarrrrr ….

  18. Jawaban untuk judul jelas tidak harus kan Pak. Krn terkait dimensi waktu.
    Yg penting, niatnya lurus dan sungguh2. Krn ini ada dlm “kendali” setiap guru. Motivasi naik turun jg wajar. Bahkan, “stress” sekalipun tdk lantas selalu bermakna negatif. Dlm berbagai profesi wajar aja stress muncul. Apalagi guru… he.. he..
    Tp, k-lo mau jujur, usulan Aa gym boleh jg tuh agar gaji guru lebih guedhe dr gaji Presiden. Supaya jadi guru, “benar2 niat”.

    Salam Kenal. 🙂
    *yg optimis profesi guru ke depan bakal makin dihargai*

  19. Didalam kehidupan ini, tidak ada yang mutlak. Maksud saya, dalam hal niat jadi guru .. mungkin ada yang niat ada yang enggak. Ketika saya masih kecil. Saya selalu terpesona dengan guru. Orang yang mau berbagi ilmu. Sehingga saya berniat jadi guru jika sudah besar.

    Sejalan dengan waktu, saya ingin jadi seorang arsitek. Karena saya kagum dengan bangunan2 yang indah2. Saya berkeinginan untuk membangun salah satu yang fenomenal.

    Tapi, ternyata jalan hidup berkata lain. Saya gagal masuk Fakultas Teknik / Arsitektur. Malah nyasara ke Fakultas Ekonomi. Terus, lulus dari Fakultas Ekonomi, saya tetap niat jadi guru untuk mahasiswa alias dosen. Dilalah, lowongan untuk dosen Manajemen full house yang ada hanya untuk dosen Studi Pembangunan.

    Akhirnya, saya terdampar jadi profesi sekarang yang benar2 tidak pernah saya niatkan. Saya setuju dengan pendapat: “Yang terpenting adalah bagaimana menjaga/mensiasati agar jadi apapun itu dijalani dengan benar dan bersungguh-sungguh.” .. karena saya sadar, saya ini hanya pemain sandiwara dari grand design pencipta alam.

  20. Saya yang baru punya keingingan jadi guru setelah dewasa ini karena suka membaca tulisannya pak guru masih ada kemungkinan ngga ya?

  21. Terkadang jadi guru itu karena “kecelakaan”. Nggak diterima dimana-mana akhirnya supaya ada maka masuk Fakultas Keguruan. Padahal niat sebenarnya bukan disitu. Terlebih parah lagi kalau akhirnya jadi malas-malasan disitu.

    Pilihan itu Tanggung Jawab…. iya nggak Pak ?

  22. Ya memang harus niat, jadi bener2 ingin mendidik spy muridnya pinter ya pak? Guru juga musti kreatif sptnya, untng murid bapak punya guru kreatif spt panjenengan 🙂

  23. Kalo kata mama saya, da ada guru yang kaya memang… Tapi da ada juga kok guru yang miskin… Kalo memang mereka ada yang selalu terlihat susah, memang karena faktor sikap dan sifat yang berbeda dalam memperlakukan uang..

    Begitu pak..

    Tapi soal niat ga niat jadi guru…
    *JEGREK!*

  24. @ Mr.Tajib: Coba kenapa sampaen saat itu tidak putuskan untuk jadi guru?
    @ Maiden: Wah khas wong jawatimur itu, kalau ungkapannya gitu.
    @ Zaki: Itu pendapat saya juga, yang penting begitu kita terjun dan berkubang dalam pengajran yah harus serius.
    @ Erander: Yah itu dia yang harus tetep dipelihara.
    @ Ichsanmufti: Yah kalau pingin ngajar di yayasan tertentu.
    @ Fertobadhes: Sepertinya kebanyakan guru seperti kali yah? urusan tanggung jawab kayaknya bukan prioritas diri.
    @ Senyumsehat: Pokoknya guru harus profesional, itu tuntutannya. Kalau saya ini guru yang wagu tur rodo saru 🙂
    @ Superman: Yah bener sekali itu. Tapi bayangkan kalau guru SD golongan 3, anaknya 2, 1 kuliah diluar daerah, 1 lagi SMA, sementara dia kerja sendiri, istrinya murni Ibu RT. bagaimana dia bisa ngatur keuangan, apakah bisa kaya kalau gak ada oprekan lain.

  25. Menurut saya sih, tergantung situasi dan kondisi. Kadang ada saatnya sesuatu harus dipaksakan. Lah, kalau ternyata semua orang ternyata ga ada yang mau jadi guru? hehehe. Salut deh pokoknya sama bapak ibu guru di luar sana. Btw, salam kenal pak!

  26. Saya pada mulanya gak ada niat jadi guru, tapi seiring berjalannya waktu tersangkut jua di dunia perguruan ini, lama-kelaman suka atau tidak suka maka perguruan ini pun menjadi kepingan2 puzzle yg membentuk suatu pola -meski belum utuh. Saya mulai belajar dan mengkondisikan diri untuk bisa menjadi guru dan juga bisa mendidik. Mohon bantuannya ya pak dan bu guru seniors, terimakasih untuk pencerahannya

  27. met siang pak guru…punya niat belum tentu bisa terwujud ..kayak aku nich dari kecil punya niat pingin jadi guru ternyata jadi pembantu..hayo gimana nich pak

  28. tai nita jadi guru tetap ada sampai sekarang bahkan sampai di hari tua yah walau guru di dalam keluarga nanti hehehehheh

  29. maksud aku niat untuk jadi guru tetap ada buat pak guru tetep semangat jadi guru tanpa tanda jasa yooooo

  30. Biarin telat koment juga ya….

    Sewaktu saya SMP, saya terpikat ingin jadi guru (gara-gara ada guru Fisika saya yang hebat banget: ngajarnya enak, deket sama siswa-siswanya, pinter lagi…, dll).

    Sewaktu saya SMA, saya juga makin terpikat ingin jadi guru (gara-gara kagum sama guru Matematika saya yang sangat berwibawa, keren, pinter, …., dll).

    Alhamdulillah, sekarang kesampaian keinginan saya itu (jadi guru deh…).

  31. saya sedang meneliti tentang motivasi lulusan SMA yang memilih FKIP Matematika sebagai lanjutan studinya. Apa ada bentuk angket yang sudah diakui validitasnya? kalo ada tolong kirimim ke email saya ya..trims sebelumnya

  32. Great boys95aa403c444afb6dd5c0e2e06a832b2b