Soal Ujian Nasional dan Kelulusan, Guru Dipaksa Jadi Pengkhianat

Coba pikir apa untung-nya kalau tidak membantu meluluskan siswa. Pikir pula apa ruginya membantu meluluskan siswa. Demikian inti pembicaraan yang dilontarkan Kepala TU baru di sekolah kepada saya diselah waktu istirahat pertama.

Kepala TU di sekolah saya yang baru ini sebelumnya adalah kepala TU di sekolah yang sebelumnya tahu persis triks sekolahnya sehingga semua siswa lulus ujian nasional. Prinsipnya yah seperti tulisan di alinea awal tulisan saya ini.

Dia cerita dampak positif setelah sekolahnya lulus 100% awal tahun ajaran kemarin pendaftar di sekolah tersebut membludak yang biasanya hanya 60% dari jumlah yang barusan. Dampak negatifnya tidak terlihat dia bilang tidak ada. Iya tidak terlihat seketika itu. Ini dipandang keberhasilan sekolah di mata sang kepala TU tadi. Sementara sekolah yang terpandang karena cukup banyak tidak meluluskan siswa, jumlah pendaftarnya menurun. Para orang tua pun tidak ingin sampai anaknya tidak lulus karena para guru tidak mau membantu meluluskan.

Saya tidak kalah sengit menanggapinya, lah kami yang hari-hari mengajar kan untuk membuat otak siswa berisi, lah kok siswa yang otaknya kurang berisi dibantu diluluskan juga, maunya apa coba, di mana letak keadilannya. Seperti saya mengajar kimia, menemui siswa di kelas X ternyata diminta menghitung pembagian suatu angka untuk perhitungan pada konsep mol yang sederhana saja mereka gak bisa. Inilah akibat hasil pengkhianatan di sekolah saat kelulusan di level SMP itu. Kalo memang semua bisa diakali dengan cara seperti itu yah sudah gak usah ngajar serius saja. Kemudian masalah tidak jujur, saya pikir benar juga, hampir semua lini yang ada di Indonesia semuanya selalu ada ketidakjujuran.

Rupanya pandangan yang seperti itu kebanyakan juga ada di benak para kepala sekolah, para kepala dinas, bahkan juga kepala daerah. Pernah suatu ketika dalam rapat koordinasi dengan seluruh kepala sekolah di suatu kabupaten seorang kepala dinas pendidikan dan pengajaran menyampaikan keinginannya agar semua kepala sekolah bisa “meningkatkan tingkat kelulusan disekolahnya masing-masing”, tanpa ada penjelasan lebih lanjut dengan cara apa. Lalu hal ini ditafsirkan keliru oleh para kepala sekolah. Ditindaklanjuti dengan “pembentukan tim sukses busuk” yang mengharuskan guru terlibat untuk tindak busuk itu juga. Ada yang terang-terangan membentuk tim sukses ada yang tidak langsung.

Inilah kebohongan berjenjang yang berkaitan dengan ujian nasional dan kelulusan. Guru pun beberapa di antaranya mau juga jadi pengkhianat. Alasannya ini karena keterpakasaan itu. Demikianlah pengakuan beberapa guru. Inipun melanda tidak hanya sekolah-sekolah umum, tetapi terjadi juga di madrasah-madrasah. Padahal kebanyakan guru di madrasah itu adalah yang mengerti akan hitam-putih dalam berprilaku yang dilakukan saat ujian nasional. Mereka itu kesehariannya mengajarkan persaoalan agama, tiap Jum’at berkotbah di atas mimbar jum’at. Tapi toh tetep saja mau melakukan tindak dalam hal ujian.

Mereka berpikir keliru, berpikiran sempit. Lho ini membantu siswa. Kalau siswa tidak dibantu sementara kinerja guru gak beres juga, bahkan kadang mengajar tidak serius, sesekali ijin gak bisa ngajar karena urusan anak sakit atau dirinya sakit. Bahkan mereka mempertanyakan apakah kerja kita sudah bagus sehingga mau membiarkan siswa tidak lulus ujian. Lalu apakah kita mau melimpahkan kesalahan kita yang tidak mengajar secara serius kepada anak-anak. Yang akibatnya siswa tidak bisa mengerjakan soal saat ujian akhir itu.

Inilah yang dijadikan pembenaran tindakan membantu kelulusan saat ujian nasional itu. Lalu saya tanggapi, apakah kinerja guru pernah diukur sehingga mengatakan kinerja guru gak bagus, apakah kinerja yang gak bagus itu semua guru dalam satu sekolah. Padahal kinerja guru itu bukanlah faktor utama dalam penentuan kelulusan murni. Keadaan input yang tidak memenuhi syarat, kondisi lingkungan, terbatasnya sarana belajar, dan masyarakat juga punya andil toh.

Akhirnya pembicaraan terhenti karena saatnya jam mengajar, saya harus mengajar TIK untuk kelas XII bahasa.

44 responses

  1. ini adalah sebuah fenomena yang berlaku dari tahun ke tahun dan turun temurun. Saya tau persis alur dan jalan cerita seperti yang diungkapkan mas urip di atas. Karena kebetulan ibu saya adalah seorang guru dan pernah menjadi kepala sekolah.
    Lulus adalah harga mati bagi para siswa yang tanamkan sejak dini baik oleh guru maupun oleh orang tua dan lingkungannya. Ketidaklulusan anak di dalam UAN adalah sebuah aib, malapetaka, ketidakbecusan, dsb di mata masyarakat kita.
    Masyarakat kita, terus terang, blm terbiasa menghadapi kekalahan secara nyata (walaupun dalam kenyataan kita kalah terus). Tapi keangkuhan dan kesombongan di dalam kehidupan bermasyarakat memaksa masyarakat kita berbuat segala sesuatu untuk membuat siswa lulus.
    Sebenarnya, saya mendukung supaya kelulusan siswa tidak ditentukan dengan melihat UAN sebagai parameter utama. Banyak siswa yang pintar di dalam kesehariannya mendadak jadi bego ketika menghadapi UAN. Segala macam faktor mempengaruhi kemampuan berpikir seseorang ketika menghadapi UAN.
    Saya pingin panjang lebar lagi nih, tapi ntar aja yah, soalnya takut jadi ikut ngblog di sini. he..he..he..
    kl ada waktu silakan mampir ke website saya mas urip..matur nuwun..

  2. tetep lurus ya pak urip…jangan takut untuk beda.
    prinsip pak urip di atas sudah bagus kok, andai semua guru berfikir begitu.
    ah, yang penting maju terus pak.

    btw, itu kepala TU punya blog kagak? hahaha..
    biar dihujat rame2. ups!

  3. ku dukung pak guruuuuu….!!!!

  4. […] tertarik sekali dengan apa yang dibahas di dalam blognya mas urip nih, tentang soal ujian nasional dan kelulusan, guru dipaksa jadi pengkhianat. Sebenarnya ini adalah persoalan klasik di dunia pendidikan Indonesia. Dan menjadi lebih antik lagi […]

  5. Kalo di fakultas saya, orang yang menulis hal seperti ini oleh pak dekan akan dibilang sebagai orang yang “pesakitan”… Bisanya kok hanya “mengeluh” dan “menyebarkan” aib…

    Dan karena saya ikut “ngerasani” dekan saya, maka saya pun termasuk “pesakitan”….

    Jadi kita berdua pak, adalah orang-orang “pesakitan”… 😀

  6. Dilema!, ya saya mengakui itu pak, jadi gurupun tidak hanya mendidik anak didik, tetapi juga mendidik para orang tuanya, memberikan pengertian kepada orang tuanya, apalah arti kelulusan kalo melempem dan bego, sehingga mereka tidak bersikap negatif terhadap sekolah yang tingkat kelulusannya rendah. walah tambah berat aja tugas sampeyan pak.

  7. Benar Pak Urip, hasil negatifnya akan terlihat beberapa tahun kemudian. karena ada oknum yang hanya melihat hasil tapi tidak menghargai jerih payah para guru yang sungguh-sungguh mencurahkan hatinya untuk mengajar. Saya dukung hasil kelulusan ASLI tanpa rekayasa.

  8. Ih bapak ini, aib saya kok disebar-sebarkan…
    Saya kan hanya mengajak ke kebaikan toh, menguntungkan semua orang.
    Guru untung, sekolah untung, murid juga untung
    Yang rugi dengan cara “kelulusan” ini siapa coba?

  9. kita semua terjebak di dunia industri dan kapitalis, betulll??? bahkan dunia pendidikan pun kena imbasnya…

  10. setuju sama venus….berani ngelawan kapitalis??

  11. Biar lulus semua, ya diluluskan saja. Caranya….?

    Caranya ga usah pake trik-trik segala, ga usah ada manipulasi, ga usah ada bocoran macam-macam, dan yang terakhir ga usah ada ujian nasional. Hehehe…..

  12. @ Aragone79: Iyah saya sudah mampir blog-nya keren dan langsung sigap menanggapi tulisan ini. Hanya beberapa menit saja selesai. Terimakasih
    @ Antobilang: Sayang dia pegang mouse saja masih kikuk je.
    @ Anung: Silahkan dukung sampean jadi guru juga syaratnya, hayo berani?
    @ Alief: Apa untungnya yah dekan ngomong gitu, apa ruginya kita sebagai pesakitan 😀
    @ Peyek: Sebenarnya bisa saja tidak dilema asal sudah terkondisakan … *halah…* 😀
    @ Anaksultan: Sayang banyak yang tidak siap untuk itu pak.
    @ dnial: Iyah yah siapa yang rugi? 🙂
    @ Venus, Passya: 😀 kapitalis itu apayah? *mode o’on*
    @ Mathematicse: Hehehe bener gak buang-buang uang negara yang jumlahnya buanyak, terus gak bikin nanbah dosa. 😀 Tapi…?

  13. Itulah Indonesiaku, kita menghargai orang kaya, bukan orang pintar.
    Kemudian, orang pintar, harus seperti Omar Bakrie, sederhana dan penuh pengabdian.

    Dan ini sejalan juga dengan makin perlente dan gayanya Ulama….

    Pak Urip, pada semua itu, ada yang kita tidak punya :
    Etos, spirit membangun, spirit untuk jujur. Tidak peduli sesholeh apapun beragama. Tapi begitu bersikap dan bertindak, bangsa kita sangat miskin etos/spirit/jiwa yang punya kebersihan hati…

    Agor juga sama, tapi setidaknya sedang berusaha terus keluar dari lingkaran persetanan ini.

  14. Bagi saya sebagai guru mending biarkan aja anak-anak apa adanya, kalu diajak mikir untung rugi, bagi guru ngak ada untungnya membantu anak dalam ujian, mau anaknya lulus 100% alhamdulillah, ngak lulus 100% ngajar lagi aja. Hanya biasanya bagi para pejabat kan ada yang dipertaruhkan tuh yaitu gengsi jabatannya, sehingga dari level bupati/walikota sampai kepsek, harus mempertaruhkan kinerjanya jabatannya dimata masyarakat. Jadi biasanya yang maksa harus lulus 100% itu ya para pejabat itu.
    hehehheheh CMIIW
    tumben kok komennya panjang

  15. betul itu pak…jangan diluluskan kalo berotak nol! gak peduli anak setan ato anak preman

    hidup guru yang lurus!

  16. lha khan negeri ini negeri dagelan toh pak urip ??

  17. *sebagai seorang murid saya mengatakan*

    lebih baik kaga lulus kalo emang engga mampu buat lulus daripada harus lulus tapi *blank* di jenjang pendidikan berikutnya.
    sebenarnya sih, daripada dikasih trik licik kayak gitu… mendingan dari sejak kini dikasih PELAJARAN dan PENDIDIKAN yang tepat buat si murid. Trus, kalo ngajar murid, harus pake metode yang efektif (saya belum tahu efektifnya kayak gimana).

    tapi… itu sih gimana pikiran orang indo aja yang pasti mengarah ke tujuan, tak peduli apapun caranya dan dampaknya… itulah pola pikir orang indonesia secara mayoritas.

  18. kalo sudah berkhianat, bebarti g pantes disebut guru lagi…tapi makelar UAN 😀
    kalo alasanya terpaksa, memang yang maksa sapa? kepsek, ato keadaan. kalo kepsek yang maksa, sikat aja tuh kepsek 😀 tapi kalo keadaan, berarti yang berwenang wajib memperhatikan kesejahteraan guru, bukan malah kesejahtreraan DPR 😀 tapi tetep, kepseknya disikat juga 😈

  19. @ agorsiloku: Mungkin saya saat ini berada dalam lajur untuk berusaha seperti sampean pak.
    @ kangguru: Bener, dan itu telah saya tulis lagi dari kliping suatu daerah
    @ oon: terimakasih.
    @ wandira: iya yah… kalau kita gak ndagel jadi gak lucu seperti tukul itu.
    @ irfan: penghalalan segala cara tinggal tunggu kehancuran
    @ kakilangit: se7 banget

  20. […] keduanya membahas tentang “korupsi” terselubung DPR, disambung dengan membaca tulisan pak guru ini, tentang nasib guru yang harus rela “diperkosa” keadaan. Aku jadi berfikir kalau […]

  21. nggg… jangan2 aku termasuk yang terpaksa diluluskan 😥

  22. Prediksi soal ujian nasional sangat relevan dengan pemberian segala materi yang berkaitan dengan soal tersebut. Terutama masalah adanya standar kompetensi lulusan yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Namun, pada kenyataannya, setiap siswa mempunyai talenta dan pemikiran yang relatif sama, yaitu ingin lulus ujian walau bagaimanapun juga. Yang menjadi kendala dalam hal ini adalah kekhawatiran seorang Guru terhadap anak didiknya. Mereka cenderung lebih agresif dan was-was ketimbang anak didiknya. Apakah memang harus begitu?????. Sementara jika kita bersikap biasa saja, seolah kita tidak mempunyai tanggung jawab terhadap mereka. Sebenarnya, yang kita harapkan semua itu apa yach…….??????. Lulus atau meluluskan diri ??????? Klo dipikir, kita sebenarnya membuat kelulusan yang terobsesi dan terstruktur. Siapa yang salah?????????

  23. Ikut nimbrung pak. Semoga brhasil lagi kirim komentar.
    Ada sebuah sekolah yang favorit di salah satu kota di pulau sebelah timur pulau tempat pak urip mengajar (bingung ya?), melakukan praktek yang memalukan. Tiap wali kelas bertugas membetulkan jawaban murid yang salah ketika UAN agar semua bisa lulus dengan nilai bagus. Katanya biar status sekolah favorit tidak tercoreng.
    Dan guru yang membeberkan masalah ini akhirnya dimutasi.
    Kesimpulannya,
    1.orang melakukan segala cara agar tercapai tujuan, pantas kita jadi negara miskin, seperti tulisannya bu dokter.
    2.Berani menanggung resiko sebagai pembela kebenaran. InsyaAlloh ini yang disebut jihad.
    3. Kita maunya yang gampang-gampang. Mengatasi masalah bukan dari akarnya,jadi ndak bisa tuntas. Prinsip yang dianut,kalo gigi sakit,cabut aja giginya, jadi kalo sakit kepala,apa kepalanya dicabut?
    Kalo pengen putra bangsa kita pinter,
    1. Sediakan buku gratis,biar murid tidak perlu beli buku.
    2. Sejahterakan guru, biar guru tdk pusing cari obyekan biar dapur tetap ngebul,sehingga guru bisa mengajar dengan tenang dan bisa terus belajar dan menambah wawasan dan juga ngeblog.
    3. Perbaiki sarana dan fasilitas sekolah, biar murid tdk hanya pinter,tapi juga trampil.
    Dan masih banyak yang lainnya.
    Maaf,kepanjangan. Lagi emosi nih.

  24. […] Nasional. Beberapa topik terangkat sangat menyedihkan (baca : memprihatinkan), misalnya “Guru Menjadi Penghianat” atau “Penyebab Ternodanya Ujian Nasional“. Sisi tentang ujian nasional diberikan […]

  25. Kalau bangsa ini mau baik, perangi, jangan beralasan. Mulai dari diri sindiri. Hapuskan pendidikan ‘korup’ dari guru atau birokrat pendidikan korup. Dasar bajingan, tu.


  26. agorsiloku:
    Pak Urip, pada semua itu, ada yang kita tidak punya :
    Etos, spirit membangun, spirit untuk jujur. Tidak peduli sesholeh apapun beragama. Tapi begitu bersikap dan bertindak, bangsa kita sangat miskin etos/spirit/jiwa yang punya kebersihan hati…

    Betul sekali… terutama kalau sudah masuk lingkar pergaulan yang cara berpikirnya seperti itu. Justru yang berusaha lurus yang ‘ditendang’ keluar. 😦

    Sisi buruk negara ini yang entah kapan akan terkikis. Contohnya ya seperti komentar Mas/Pak Madsyair di atas itu…

  27. pratiwi yusuf evelyn

    Sebagi guru tidak perlu repot-repot bantu kelulusan murid. Murid sekarang udah pintar-pintar. Pintar bohong, pintar nyontek, banyak akal bulusnya. Jadi menghadapi ujian nasional bukan masalah lah buat murid, apalagi yang banyak akal. Tidak usah berubah identitas menjadi pahlawan dengan tanda jasa, cukup pahlawan tanpa tanda jasa aja. Kalau ketauan gimana? Gaji hilang, pekerjaan hilang, jasa juga ikut hilang.

  28. fenomena bangsa kita….
    sudah mendarah daging…
    pendidikan dasar kita yang sudah hancur dan tidak punya kreativitas…
    gimana kamu bapak jadi menteri pendidikan aja..???

  29. wah ternyata ribet juga ya persoalannya… UAN tadinya dibikin utk menaikkan kualitas tetapi ternyata disikapi dengan mengambil “jalan pintas” kaya gitu.

    kalau gitu memang mental kita yang sudah rusak ternyata… mau dibikin aturan yg paling bagus sedunia akherat juga pasti bakalan diakalin ya? hahaha…

  30. Benar bang…kadangkala guru itu siperas untuk meningkatkan prestasi murid. Dinas semaunya gue !! yang penting “proyek” mereka kinerjanya 100 %. Ini acapkali terjadi tiap tahun. Coba tanyakan “konsep” pada orang P & K, pasti nggak ada yang tau. Tapi coba tanya “proyeK”…hapalnya luar kepala 🙂

    Bagus nih…tulisannya…

    Aku punya tulisan baru nih…mungkin ada manfaatnya untuk adik2 kita…tolong di informasikan juga. Thanks.

    Salam hormat
    ttd
    Ooyi

  31. SETUJU!!!
    Terus… Setelah semua uneg-uneg ditumpahkan, langkah yang kita ambil untuk memperbaiki ini apa? Apa perlu kita boikot, dengan tidak menyelenggarakan UAN? Karena setahu saya, pada waktu workshop pendidikan di Bali dulu (lupa tahunnya, sudah lama sih…), masalah UAN ini sudah dibahas dan disampaikan kepada presiden (katanya). Tapi, tetap saja ada yang namanya UAN.
    Jadi, apa yang akan kita lakukan?

  32. saya mau tanya aja, bagaimana dengan kepala sekolah sampean? apa ingin membentuk tim sukses juga?……..

  33. mau tanya aja, bagaimana dengan kepsek sampean, apa sudah bikin tim sukses busuk?……….

  34. ok dweh.. ak stuju bgt…
    chayyooo pak….!!!!

  35. ok!!!pak q jg ikt dkung nech,,,,he,,,he,,,ktanya GURU sbgai teladan bag murid???k gtu ??? mna harga dri gru klo gt ms ikt2an crang,,???so klo gtu muridnya d ajarn yg nggak baek donk??duh gmn nech nasib pnerus bangsa yang qt bngga2kn ini??/msa mo jdi PENJAHAT smw???hee..jgn d anggap bercnda lho..he,,,

  36. tetap pegang idealisme Om ..karena guru itu di gugu lan ditiru …guru kencing berdiri aja murid nya akan kencing sambil berlari. lah kl guru jd penghianat …muridnya mo jd apa hayoh? pendidikan itu kan membebaskan.

  37. ada usulan …
    semoga menjadi bahan pertimbangan …
    bagaimana bila tidak ada yg tidak lulus … artinya semua bisa bersekolah dan semua bisa lulus !

    coba lakukan metode penempatan level pada setiap sekolah ..
    artinya … dengan adanya “placement test” tersebut akan diketahui kemampuan masing2 siswa …
    nah “placement test” ini betul betul menjadi “saringan” untuk mengelompokkan siswa seperti metode penjurusan sekolah misalnya IPA atau IPS … namun ini dilakukan dengan sasaran yg lebih luas !

    selama ini, siswa yg memiliki kemampuan rata-rata, kurang, atau yg pinter dicampur aduk disamaratakan dalam satu kelas yg bisa mencapai 40 orang bahkan lebih ! sudah begitu, guru yg mengajar pun sama. artinya, guru yg mengajar anak pintar tidak dibedakan saat menangani anak yg biasa-biasa saja !

    nah … yg perlu dibenahi di sini adalah kualitas guru yg mengajar … artinya, dibutuhkan guru yg khusus untuk ‘menangani’ siswa yg masuk dalam kategori kurang, rata2, atau yg punya kemampuan di atas rata2! metode pembelajarannya pun berbeda ! juga, siswa yg berada dalam satu kelas harusnya tidak mencapai angkat 40. sekitar 15 hingga 20 orang sudah ideal !

    masih banyak ide yg laen …
    ntar tak sambung lagi … !

  38. […] kalian berhasil lolos dari jeratan Ujian Akhir Nasional (UAN), silakan kalian tentukan tujuan kalian. Mungkin saja IPDN […]

  39. Epsensyah, Jaktim

    kalo kita lihat siapa sih guru itu sebenarnya, kayaknya udah punya pandangan yang bagussssssssssss aja. guru itu suri tauladan, contoh akhlak, dsb. bahkan guru dapat membatu orang yang terbelakang. sekarang aku masih kuliah ambil jurusan guru. waduh, kalo lihat serita diatas kayaknya tantangan akhlak bgt yah, tapi aku akan berusaha terus sampai ketidakjujuran di dalam sekolah jadi hilang perlahan-lahan. hidup guru, tanpamu bangsa runtuh. mau bukti. coba aja 1 tahun guru demo. pasti negara kering ilmu. ayo buat yang mau jadi guru dukung aku yah………….

  40. bwd mR.stone dooR,
    Cayo tyuz,,,

    mKsH msKn nx,,

  41. bwd bu’ iRa,

    mKsh bwd nsHt nx,
    tntg UN…

    cPet maRRied yagH,,,

    n bwd anag” sma dhy one,
    Jgn ptus aSa,
    OPTIMIS !!!!

  42. YANG SALAH ATAS SEMUA KEBOHONGAN INI ADALAH

    MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL

    DIA TELAH MENGELUARKAN ATURAN YANG TIDAK BENAR DENGAN ALASAN YANG TIDAK BENAR.

    MENTERI MAUNYA LAPORAN BAGUS AJA KEPADA PAK PRESIDEN

    PECAT SAJA MENTERI PENDIDIKAN “BAMBANG SUDIBYO” DIA BODOH SEKALI.

    DENGAN ATURAN SEPERTI, MAKA YANG IKUT BERDOSA ADALAH:
    1. PRESIDEN KARENA SETUJU
    2. MENTERI PENDIDIKAN, MEMBUAT ATURAN
    3. GUBERNUR, INGIN DAERAHNYA DIKATAKAN MAJU
    3. BUPATI, IDEM GUBERNUR
    4. KEPALA DINAS PDK, TAKUT DIPECAT BUPATI
    5. KEPALA SEKOLAH, TAKUT DIPECAT KEPALA DINAS
    6. GURU YANG IKUT TIDAK JUJUR/PANITIA, TAKUT SAMA KEPALA SEKOLAH
    7. PARA PENDUKUNG KEBIJAKAN INI, TAKUT KEPADA DIRI SENDIRI

    PADAHAL PRESIDEN SAJA TAKUT SAMA RAKYAT
    LALU KEPADA SIAPA KITA HARUS TAKUT? TENTU HANYA KEPADA ALLAH SAJA

    JADI BUANG ATURAN INI, UAN PERLU

  43. Untunhnya masih ada guru yang punya pandangan seperti mas urip. Saya juga merasa dikerdilka oleh ulah guru2 pengkhianat seperti yang as ceritakan. dan sya pikir efek domino yang ditimbulkan bukan hanya terjadi saat 5 atau 10 tahun mendatang, tapi siswa2 hasil dari pendidikan pengkhianat itu jugakelak pasti!!! akan merongrong bangsanya sndiri dengan ketidakjujuran baru yang lebih besar dan dasyat…