Busa Kata dalam Kalimat

Kalimat dipenuhi dengan kata tak berguna, sering mengaburkan tujuan utama maksud yang akan disampaikan lewat kalimat itu. Semestinya kata yang terhambur keluar dalam suatu kalimat membantu memperjelas pesan yang akan disampaikan. Tapi sayang kata itu tidak juga mampu memperjelas pesan yang dimaksud. Inilah yang namanya busa-busa kata.

Bahasa tulis adalah susah-susah gampang dan gampang-gampang susah. Tapi toh semua bisa diedit. Tapi mengapa busa kata tetep ada? Ini adalah kejadian yang menimpa hampir semua tulisan saya di blog ini. Mungkin ini mencerminkan suatu kekurangcepatan dalam hal belajar dan instropeksi tulisan sendiri atau apa. Emm seperti inilah belajar bersepeda di blog masih harus jatuh bangun.

Mengapa busa kata selalu ada? Sepertinya ini kebiasaan buruk. Yah kebiasaan itu sulit untuk tidak dilakukan. Apa tujuannya saya menggunakan busa kata, itu usaha menyampaikan maksud lho. Ada kekhawatiran tidak terpahami oleh pembaca. Puih… sebodoh itukah para pembaca tulisan di blog ini, TIDAK KHAN?! Lantas kenapa masih dilakukan juga? Khan gak ada polisi yang jaga?! 😦

Ok deh lanjut belajar bersepedanya, ups… yak… eit… nah… asyik… hei… awas… dug… dubragh… makanya hati-hati. πŸ˜€

26 responses

  1. Sy kira yg ada cm busa sabun doang…ternyata ada jg busa kata. Jd inget dulu kalo ada pelajaran mengarang indah. Pasti banyak banget pake busa kata dan tulisannya gede-gede spy bisa 2 halaman penuh karangannya, jd gurunya yg pusing…nih anak mo njelasin apa to kok karangannya ga karu-karuan πŸ˜€

  2. namanya juga belajar pak, boleh donk sekali-kali salah (apa tiap kali ya), mungkin bisa berbagi dengan pak/bu guru bahasa πŸ˜€

  3. Belajar terus. Busa kata pelu dalam keadaan tertentu – kalau semuanya lugas, ya seperti saya. Kaku dan “sungguh terlalu”?!

  4. eh.. bahasa indonesia-nya aja dulu waktu esde dapat 6 ha ..ha ..ha…! harus kursus lagi nih..!

  5. ngga apa-apa pak urip, berbusa atau tidak yang penting semua tulisan bapak penuh makna dan pengajaran

  6. Yah semoga saja ‘sepeda’ untuk belajar selalu tersedia dan tidak harus beli sendiri, dan badan selalu sehat walafiat. Perlu proses panjang.

  7. busa kata? wah untung ndak busa mulut pak alias muncrat! he…he…he… iya pak saya sendiri jujur belajar dari tulisan bapak, bapak merasa masih sering pakai busa kata lha apalagi saya..

  8. Bagus Pak…, saya juga sering mengeluarkan busa kata. Mending ngeluarin busa kata, daripada ga pernah berbusa (alias ga punya karya tulis)… Heheheheh..

  9. kadang memang sulit menggunakan kalimat singkat dan padat

  10. Pantesan ada istilah udah di omongin sampe ber busa-busa ga mempan2 juga, hehehehe…

  11. hahaha..setahu saya berbusa mulutnya kalo abis minum racun pak..
    hehe

  12. tanpa busa noda ya ga belajar.. hehe

  13. Busa-busa kalimat, duhhhh, saya paling sulit menulis bagus. Soale biasa to the poit *alasan* hehehe
    Bersepeda bersama pak guru dan blogger, sip lah

  14. Alkisah pernah ada seorang kawan yang menuliskan surat sedemikian panjangnya kepada seorang sahabatnya hanya karena ia tidak punya cukup waktu untuk menuliskan surat yang pendek.

    Pernahkah kita semua mengalaminya? Memang rasanya dulu waktu kecil, kita bersusah payah untuk menuliskan karangan agar dapat sedemikian panjangnya, bagaimana dengan sekarang? dapatkah anda semua menuliskan sesuatu dengan ringkas, pendek, tanpa menghilangkan sedikitpun makna yang ingin anda sampaikan. Itulah mengapa hingga ada sebuah cerita seperti dalam quote saya diatas, sebab menulis pendek dan ringkas itu susah.

  15. @ Mathematicse: Bener daripada gak nulis… bisa sakit perut πŸ˜€ kebanyakan baca gak pernah nulis, kalau pakai teroi berak mungkin busa itu sama dengan mencret yah πŸ˜€ sori jorok
    @ Passya: Orang batak biasanya lugas khan?! salut!
    @ Evy: Hehehe alias karena kebanyakan ngomong. BTW asal tetap senyum saja yah
    @ Antobilang: Kalau ada busa kata dalam kalimat ada juga sabun kata dalam kalimat…
    @ Anang: Khas komentar pendek penuh makna, tanpa noda πŸ˜€
    @ Cakmoki: Ok cak tetep selalu menunggu pencerahan soal kesehatannya, biar sehat terus.
    @ Ken Reidy: Kalau dilihat transisinya dari kecil hingga sekarang, pasti ada saat kita bisa menulis tidak pendek dan tidak penuh busa khan… kapan yah… saat jatuh hati.

  16. hehehe…busa kata? emang ada, pak? wah sampeyan ini bisa aja πŸ˜€

  17. Untuk menghindari adanya ‘busa2’ kata dalam sebuah kalimat, lebih baik memecah sebuah kalimat menjadi kalimat-kalimat pendek. Kalimat-kalimat pendek sebagai penjelasan dari kalimat utama lebih menarik dibaca dan akan lebih mudah dipahami. Tidak seperti penggunaan kata-kata yang panjang untuk menjelaskan inti kalimat. Tentunya penulisan kalimat-kalimat pendek juga harus memperhatikan supaya jangan sampai ada kalimat yang redundant….gimana pak setuju tidak? πŸ˜€

  18. Wah, dua hari ini saya dapat nasihat mirip dari dua orang yang berbeda. Pertama di blognya herman tentang “tamak dalam bertutur kata“, sekarang disini dapat lagi.

    Sepertinya saya beneran harus mulai mengurangi busa-busa itu deh…

    *berbusa-busa*

  19. @ venus: Nyatanya ada tuh disetiap tulisan saya.
    @ Tedytirta: se-7 πŸ™‚ wah ngikuti gaya siapa nih pertanyaan ini.
    @ Wadehel: Hehehe tulisan ini untuk instopeksi diri saya om…

  20. Dalam Kimia, ketiadaan/sedikitnya busa, bukannya bisa mencirikan kesadahan air, yg krg baik k-lo dipake mncuci baju alias bisa memboroskan deterjen?

    *cth kalimat yg penuh busa :-)*

    Terimakasih evaluasinya Pak, kena buat saya.

  21. Tapi kan kadang busa yang menyamarkan itu merupakan bagian dari sebuah strategi untuk ngetes ketelitian dan kecerdikan pembaca, inggih to mas? πŸ™‚
    Asal busanya nggak membikin “buta” dan bisa mendorong rekan-rekan untuk menggunakan bagian tubuh yang diantisipasikan berguna untuk berpikir itu (untuk rekan-rekan yang pria: bukan yang di bawah, lho!), kan nggak apa-apa to?
    Kalau semuanya jelas dan bisa dimengerti tanpa mikir banyak, yaaah, nggak ada debat-debatan seru lagi, dong!?
    Makanya seruan saya: Mas Wadehel, mas Tajib, Mas Helgeduelbek, dll.: jangan terlalu dikurangi busanya, nanti mulut kami bisa jadi berbusa-busa karena jadi nggak bisa mikir sehat lagi!!

  22. Short, and not so sweet!

  23. busa kata itu manusiawi pak..
    tujuannya macem2..
    biar dikira pintar, dikira hebat, dikira penting…
    tapi kebanyakan, busa kata itu untuk memperindah,’memperharum’…

  24. Numpang nimbrung nih Pak…
    Wah, kena saya! Maklum Pak, masih belajar…
    Itu dia masalahnya Pak, kata-kata saya cenderung berbelit-belit, bertele-tele, dan berulang-ulang. Itu dia masalahnya Pak, kata-kata saya cenderung berbelit-belit, bertele-tele, dan berulang-ulang. Itu dia masalahnya Pak, kata-kata saya cenderung berbelit-belit, bertele-tele, dan berulang-ulang. Kata Sto, itu karena “sang penulis takut pembacanya tidak menangkap maksud dari sang penulis sebenarnya”. Kata Sto, itu karena “sang penulis takut pembacanya tidak menangkap maksud dari sang penulis sebenarnya”. Kata Sto, itu karena “sang penulis takut pembacanya tidak menangkap maksud dari sang penulis sebenarnya”. πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚

    *pramur’s state : langsung menunjukkan keburukan diri sendiri*
    *pramur’s state : langsung menunjukkan keburukan diri sendiri*
    *pramur’s state : langsung menunjukkan keburukan diri sendiri*

  25. Kalau saya, Pak Guru, paling susah untuk busa-basi. Makanya kalau bertamu saya nggak mau muter-muter, langsung saja saya sampaikan maksud saya. Padahal, orang Jawa itu biasanya busa-basinya mengambil waktu 75% sendiri dari total waktu bertamu.

    Eh…, ini tentang busa kata ya? Apakah busa kata itu yang menyebabkan kalimat menjadi tidak efektif? Banyak pengulangan kata atau penggunaan kata-kata yang tidak perlu? Saya baru denger busa kata dari Pak Guru jee…

  26. istilah ‘busa kata’ nggak pake te – em (β„’) pak? biar khas gitu