Kalau Guru “Sekolah Favorit” Mengajar di Sekolah Saya?

Seberapa besar faktor guru berpengaruh dalam peningkatan kualitas hasil belajar siswa? Pada tulisan kali ini saya tidak berniat melakukan analisa sampai menunjukkan prosentase pengaruh guru itu. Sekedar ingin mempertanyakan benarkah guru berperan utama dalam peningkatan kualitas belajar dan hasil belajar siswa.

Berikut gambaran sekolah saya.

  • Terletak di luar kota, minim sarana transportasi umum
  • Total hanya 9 rombongan belajar atau sekitar 300 siswa dan 24 guru,
  • Terdapat 3 program (IPA, IPS, Bahasa)
  • Status sekolah negeri dengan sarana seadanya
  • Halaman sekolah separoh becek kalau hujan, berdebu kalau kemarau, kegiatan pembangunan terhenti karena sekolah dilarang meminta sumbangan pembangunan dari orang tua.
  • Kondisi input siswa (didominasi oleh lulusan SMP/MTs yang tidak bisa diterima sekolah lain karena nilainya tidak sesuai standar yang diminta sekolah, atau memang masuk karena takut tidak bisa diterima disekolah lain)
  • Kondisi keuangan orang tua siswa menengah ke bawah.

Kemampuan guru mengajar di sekolah saya tidak berbeda dengan sekolah lain, ini hanya keyakinan sebab belum pernah dilakukan penelitian perbandingan. Tapi karena kondisinya seperti di atas akhirnya kemampuan guru banyak kurang teroptimalkan. Tahun lalu 7 siswa tidak lulus ujian nasional, sebelumnya selalu lulus 100%. Setiap kenaikan kelas selalu ada siswa yang tinggal kelas karena pretasi belajar siswa yang memang tidak bisa ditolong.

Suatu ketika saya pernah mengajar di sekolah lain (real teaching disela suatu kegiatan) yang kondisi siswa-nya lebih baik. Tanggapan siswa sekolah itu terhadap pengajaran saya positif, siswanya bersemangat. Mungkin karena yang mengajar sebelumnya bukun guru kimia asli sehingga mereka surprise saat saya ajar. Waktu terasa pendek sekali padahal 2 jam pelajaran. Secara spontan siswa meminta saya mengajar di kelasnya kembali. Saya senyum saja. Senangnya saya mendapatkan respon yang baik di depan siswa sekolah ini.

Tapi mengapa di sekolah saya sendiri keadaannya berbeda, siswa cenderung pasif setiap saya mengajar. Pengulangan materi pelajaran sering saya lakukan, diminta bertanya jika tidak mengerti siswa gak ada respon. Saya tanya ke rekan guru lain, kondisinya sama juga. Setelah saya amati dengan cukup cermat faktornya adalah mereka tidak memiliki cukup modal untuk belajar kimia. Banyak sekali materi prasyarat yang semestinya dipahami ternyata tidak ada di siswa. Mulai dari konsep matematika sampai dengan konsep kimianya sendiri. Oh ya, saya saat ini mengajar di kelas XI IPA mengajar kimia.

Pernah saya bersama temen berandai-andai, bagaimana yah seandainya guru-guru sekolah yang favorit/unggulan mengajar di sekolah/kelas kita dengan keadaan apa adanya seperti sekarang ini? Apakah ada perubahan yang drastis? Atau bagaimana seandainya kita (saya dan temen saya itu) yang mengajar disekolah yang unggulan dengan fasilitas lengkap, apakah lantas siswanya menjadi payah seperti siswa kita sekarang ini? Saya berhayal lagi suatu ketika ada progam pertukaran guru antar sekolah. Mungkin itu bisa memberi nuansa baru di dunia persekolahan.

36 responses

  1. hmmm, Guru favorit, yup aku jadi inget masalalu, sebenarnya aku benci ama ni guru karna waktu smu kelas 1 cw 1 biologi di kasih merah sama dia, jadi dendam kesumat deh, bukan ngebantai ni guru, tapi ngebikin dia nyesel ngasih nilai 5, ternyata di cw 2 biologi ku 9, wew dari 5 ke 9 kaget loh…dan semenjak itu aku jadi suka biologi.

  2. Tidak pak. Paling berperan adalah kondisi siswanya. Sekolah favorit (mungkin karena siswanya yang pandai-pandai) sangat terkondisi untuk belajar bersama, saling bergesekan/berdiskusi dengan efektif, bersaing sehat yang membawa kondisi yang bagus. Malah cenderung guru sekolah dari sekolah favorit manja karena muridnya gampang menyerap materi.

  3. Ini murni pendapatku, tidak ada data statistik yang mendukung…

    Menurutku, ada dua faktor utama yang mempengaruhi kegiatan belajar-mengajar. Satu, Guru… dua, rekan belajar…

    Guru yang baik mampu menghadirkan suasana yang kondusif untuk belajar, mulai dari suasana keterbukaan untuk bertanya-jawab, berdiskusi bahkan mungkin sampai berdebat. Makanya proses itu disebut belajar-mengajar, bukan belajar-diajar… hehehehe…

    Rekan belajar yang baik juga mampu menghadirkan suasana yang kondusif untuk belajar, memberikan semangat kompetisi yang sehat, kemampuan untuk memberi ide dan mendapat kritik… dan lain-lain…

    Faktor lainnya yang tidak terlalu dominan (menurutku) adalah ‘raw material’ (asal-muasal murid), ruangan kelas, kecanggihan media pengajaran.. dan lain-lain…

    Dari pengalamanku sebagai pelajar, kelas dengan jumlah murid yang sedikit jauh lebih baik dan efektif daripada ‘kelas besar’…

    Menurutku (lagi), Pak Guru jangan hanya mengkhayalkan adanya program pertukaran guru antar sekolah … tapi juga pertukaran murid antar sekolah.. πŸ™‚ diharapkan muridnya nanti bisa membandingkan kondisi dan membawa hal-hal yang baik kembali ke sekolah asal… kalau pertukaran murid sih udah ada.. bahkan sampai keluar negeri. Ini salah satu contohnya… πŸ™‚

  4. mungkin mereka pesimis, jadi apa ya kalo sudah lulus nanti?
    mereka tidak tahu walaupun kimia nantinya tak terpakai jika mereka sudah bekerja, tapi khan bisa utk mengasah otak dikit ya pak guru.

    btw, pak guru, aku lagi serius nih. bikin modul belajar bhs perancis (tapi masih permulaan/belum selesai). bisa tuh muridnya disuruh buka-buka. Gratis lagi!!!

    utk konversasinya : apa skype di Indonesia udah lancar? aku lagi mau atur jadwalku dulu.

    tks sebelumnya.

  5. guru favorit murid indonesia adalah…
    1) Jarang masuk, sehingga sering jam kosong.
    2) Kalaupun datang, paling ngasih tugas trus ditinggal entah kemana
    3) Nilai bonus, nggak akan kasih nilai merah
    4) Kalau ada yang nilai jeblok, si murid disuruh ke rumah bawa oleh-oleh
    5) Ataupun dia buka les privat di rumah dan dijamin dapat nilai minimal 9 bagi yang ikut les sama dia.

  6. Pak Guru saya setuju kalau diadakan perbandingan guru sekolah ‘yang dianggap’ favorit mengajar ke sekolah ‘yang dianggap’ kurang favorit dan sebaliknya, jadi kita bisa tahu faktor yang mempengaruhi tingkat penyerapan siswa terhadap materi. Kemudian setuju juga usul Goio, setelah gurunya ditukar sekarang giliran muridnya, kita bisa lihat lagi faktor pengaruh dari lingkungan belajar terhadap penyerapan materi.
    tapi tentu saja perlu orang-orang yang berpikiran terbuka yang mau menerima usul dari kita. sebab saya takutnya pak guru usul hal ini ke guru sekolah lain tanggapannya sudah bermacam-macam, capek lah, repotlah, orang iseng-iseng lah, orang salah kirim lah….

  7. Bisa sama bisa beda bung! Buktikan aja lah bung! Panggil mereka dan liat hasilnya!! Hanya mo komentar gitu… πŸ™‚

    Salam Senyum

    Haqiqie Suluh

  8. Biasa tuh mas, barang baru selalu diminati antusias… heh he maaf loh ya mas bukan bermaksud guru disamakan dengan barang… maaf πŸ˜€

  9. hmm…..mungkin bisa jadi masukan yang kreatif nih buat Diknas di sini. Siapa tau aja guru negeri yang ngajar di Xaverius or sekolah favorit lainnya disuruh mengajar ke sekolah antah berantah. Nggak perlu lama-lama cukup 1 semester aja.

    Kl berhasil, artinya emang si guru benar-benar jago. Baik jago di ilmu pengetahuannya maupun jago utk membangkitkan semangat belajar siswa.

    Kl tidak, ya …. namanya juga usaha…he..he..he…

  10. hehehehe di kota saya pernah ada ide rotasi guru, cuman gagal terlalu banyak yang protes, dan kalau di lihat yang protes itu dari sekolah te o pe

  11. saya dulu sekolah di SD Inpres loh pak temboknya masih papan lapangannya juga masih dari tanah yang penuh debu kalo hujan becek dan bocor. tapi lumayan juga temen2 saya juga banyak yang berhasil masuk SMP favorit di tengah kota.
    saya rasa guru di sekolah faforit belum tentu jadi guru favorit yang bisa mengajar dimana saja.

    tapi yg saya pikir sekarang kenapa fasilitas pendidikan masih sangat payah di negeri ini

  12. Lho..Bukannya guru favorit sudah mengajar di sekolah bapak?

  13. Vote HelgeDuelbek for guru favorit!!!!

    Sebenarnya lingkungan itu lebih berpengaruh dari gurunya. Kalau di kampusku mahasiswanya terkondisi untuk bersikap aktif gara-gara sering terpaksa belajar sendiri, dan sebagian mahasiswanya memang tergolong cepat nangkap pelajarab dan ada kultur belajar bareng.
    Waktu harus jadi asdos di kampus lain baru kerasa kalo kulturnya beda banget. Mahasiswa yang diajar cenderung manja, minta disuapin terus. Tapi ya gimana lagi, kulturnya beda…

    Jadi bener kalo kita memilih sekolah favorit, soalnya lingkungannya (teman belajarnya) mendukung, bukan soal fasilitas atau yang lain.

  14. Sepertinya bapak adalah guru favorit di sekolah, coba waktu dulu saya masih SMA ada guru seperti bapak yang mengerti tentang IT sayangnya tidak ada.

  15. wakakakakaka….SMA nya jaman kapan jokotaroeb? jaman kerajaan majapahit emang blm ada IT, he..he..he..
    IT masuk indonesia aja baru tahun 90 ke atas….
    itupun baru terlihat akan booming di tahun 95…..

  16. Pertama niat siswanya, kedua niat gurunya, ketiga niat kepala sekolahnya, keempat niat masarakatnya, kelima niat dunia usahanya, keenam niat pemerintahnya, ketujuh … apa ya? Dst.
    Klau semuanya mendukung pasti OK, kadang guru juga perlu rolling – biasana enggak mau – antar sekolah. Enggak usah jauh-jauh, sekolah bertentangga saja deh. Pasti kesuntukan dalam mengajar bisa berkurang. Jangan seperti di sekolah saya – sudah 10 tahun – gurunya itu-itu saja, kecuali guru baru, kepala sekolah ya sama saja segitu tahun juga kira-kira. Apa ya nggak boseeen tuh.

  17. Pedang dari bahan baja yang kuat harus diasah oleh intan yang terbaik.

    Tembaga disepuh emas akan tetap juga tembaga, sepintas mengkilap namun tetap tembaga.

    Namun yang payah … seng berkarat … bersama seng karatan.

    Namun, manusia memiliki peluang kedua-duanya. Dalam manajemen, ada ungkapan, tidak ada anak buah yang bego, kecuali manajer yang tolol.

    Ada cerita dalam dunia kerja, untuk memasukkan benang pada jarumnya dibutuhkan orang telaten, tidak perlu pintar. Terbukti, orang pintar lebih cepat memasukkan, tapi tidak tahan mengerjakannya secara terus menerus, berhari-hari, berbulan-bulan. Jadi Boss pabrik tekstil itu memilih orang-orang yang “nyaris idiot”. Susah memasukkan, tapi tekun.

    Jadi apa yang dapat kita simpulkan ya?…..

  18. Namun, apakah di sekolah yang serba minim fasilitas lalu kita anggap semua siswanya dari tembaga atau di sekolah yang serba ada, semuanya adalah emas!?

  19. Terimakasih semua atas tanggapan dan komentarnya.

    Saya kira pro-kontra dengan berbagai sudut pandang dalam hal ini tidak akan terhindarkan. Namun buat saya semua itu adalah masukan berharga, untuk kembali mempertanyakan pada diri saya apakah sudah serius mengajar, walaupun siswa yang saya ajar minim “modal” belajar. Konon jika dilakukan tera ulang mereka tidak mungkin duduk di kelas saya sekarang. Barang kali itu dampak dari yang semestinya tidak naik dinaikkan, yang semestinya tidak lulus kemudian diluluskan juga. Sekolah tempat saya mengajar adalah penampungnya. Namun bisakah saya mengubah singkong menjadi keju atau mengubah besi jadi emas. Saya kira harus mencari ilmunya dulu untuk bisa itu. πŸ™‚

    Salam.

  20. besi jadi emas? sepertinya tidak mungkin tuh pak, kecuali muridnya itu anak bapak sendiri, yang setiap hari ketemu muka di rumah, diawasi setiap hari mesti belajar, digembleng lah istilahnya. Lah kalau cuma ketemu di kelas, yang ada murid tidur-tiduran aja guru cuma diam mau giamana mengubah tabiat?

    menurut saya yang utama dari kemajuan prestasi murid itu adalah dari diri murid itu sendiri, kedua dari komunitas kelas itu, ketiga baru dari gurunya.

    Guru gak bisa ngajar, asal muridnya niat belajar, bisa cari sendiri masukan-masukan dari buku-buku lainnya.

    Guru sangat jago ngajar, muridnya gak ada niat belajar sama aja dengan nol besar.

    Usul saya, mungkin anda bisa mencoba melamar menjadi guru di sekolah lain yang lebih oke? Mencoba tidak pernah salah, kan?

  21. memang jarang ada guru kayak sampeyan pak, menilai sampai faktor psikologi segala, he..he..he… Jadi pengen duduk kayak murid lagi pak, untuk penyegaran, memang ide bapak boleh juga pak.

  22. Saya bisa memahami, lantaran kondisi kalteng mirip tempat kami.
    Dengan kondisi seperti 7 item di atas, tanpa campur tangan positif tingkat struktural di atasnya, rasanya mustahil bisa optimal kendati gurunya dari sekolah favorite. Jangan-jangan malah stress menghadapi kondisi “apa adanya”. Bisa dibayangkan, guru favorit yang biasa ngajar di sekolah favorite dan interaksi aktif, tiba-tiba diminta berhadapan dengan kondisi di atas. Belum sebulan mungkin sudah gak krasan.
    Pak Urip adalah guru hebat, beruntung para murid. Sayapun beruntung dapat cipratan ilmu, tapi gak bayar SPP. hahaha

  23. sebenarnya, kalo menurut saya faktor GURU itu cukup berarti. Tapi, bagaimanapun juga PELAJAR-lah yang paling berarti…
    percuma kalo ada guru, tapi ngga ada objek yang diajarkan
    percuma kalo ada pelajar tapi ga ada guru yang ngajar

    jadi guru dan pelajar itu saling membutuhkan… yang lainnya cuman sebagai pelengkap keberadaan guru dan pelajar.

    kalau menurut saya, mengapa tidak dicoba *gebrakan psikologis* ke muridΒ² anda ??

  24. @ Winerwin: Itulah yang saya maksud lewat busa kata saya dalam tulisan ini. Kalau ndaftar di sekolah di daerah saya mah sulit pak.
    @ Peyek: Halah Cak mestinye njenengan yo tetep jadi guru biar bisa lebih baik. πŸ˜€
    @ Cakmoki: Tersanjung deh saya. Emmm saya sedang mencari keadilan yg hanya bisa menggugat lewat tulisan di blog cak. Termasuk gugatan adanya proyek sekolah model/unggulan. Ini adalah ketidakadilan yang nyata untuk memenuhi nafsu pohak tertentu, sehingga sekolah tempat saya tidak mendapat perhatian.
    @ irfan: maksudnya gebrakan psikologi itu gimana yah? πŸ™‚ BTW sudah siap2 ujian belum? sukses selalu man.

  25. di mana-mana rumput tetangga kelihatan lebih hijau Pak πŸ˜€
    wajar kalau ada guru tamu kelihatan lebih menarik. Kalau rutin bertemu lama-lama bosan juga πŸ™‚

  26. Dulu waktu saya masih sma ada seorang guru dari sekolah paling favorite dijakarta yg mengajar juga sma saya (dia ngajar sejarah), trus terang kami bosan mendengarnya, tidak menarik, disamping itu dia sibuk membanggakan sma favoritenya didepan kita sampai saya mual mendengarnya. Ada juga guru baru disekolah saya kebetulan ngajar sejarah juga, trus terang diajar sejarah dengan guru baru tersebut sangat menarik bagaikan menceritakan dongeng ke kami. Semua murid suka cari dia mengajar dan otomatis berpengaruh pada nilai mata pelajaran sejarah kami. Dan kami teramat sangat kehilangan ketika dia diterima menjadi dosen di sebuah universitas negeri paling favorite di jakarta.

  27. Apakah guru yang mengajar di sekolah favorit itu automatis guru yang baik?
    Apakah guru yang ngajar di sekolah des itu automatis guru yang jelek?
    Menurut saya, yang penting (tanpa nomer urutan jadi sama pentingnya):
    – murid
    – guru
    – interaksi guru-murid (termasuk kemampuan guru untuk merangsang keinginan murid untuk maju dan untuk mengembangkan kemampuannya) dan murid-guru (termasuk kemampuan/keinginan murid untuk merangsang keinginan guru untuk menjadi guru yang baik dan merangsang keinginan guru untuk mengembangkan kemampuannya yang nantinya akan dituangkan ke wadah penerima: murid dan masyarakat)
    – interaksi guru-ortu dan ortu-guru
    – interaksi murid-ortu dan ortu-murid
    – pemaparan masa depan murid
    – pengoptimalan pemenuhan kurikulum dengan bahan-bahan/alat-alat yang ada
    dst., dst.
    Jadi: ini semua multi faktoriel dan perlu kerja sama dan keinginan dari semua pihak.
    Biarpun guru dari sekolah favorit ngajar di sekolah mas helgeduelbek, tapi kalau “sarana-sarana”nya nggak beres ya pasti nggak ada efeknya.
    Tapi kalau anda dan rekan-rekan bisa membangkitkan semangat murid anda, ya ada harapannya.
    “Mosok nerimo di lokne cah sekolah ndeso ora iso opo-opo, ra ngerti lor kidulle wong urip jaman sak iki? Ayo dibuktikan, bahwa otak kita nggak kalah dengan otak orang yang uangnya miliaran!”
    Mungkin gitu???
    πŸ™‚

  28. Trus, kalau gurunya yang dari sek. favorit datangnya naik Porsche gimana? πŸ™‚

  29. Menurut saya memang menjadi guru di sekolah favorit tugasnya lebih mudah. Dengan materi siswa yang masuk merupakan siswa unggulan ya dengan sedikit usaha saja siswanya sudah mau belajar keras. Sementara di sekolah non unggulan perlu usaha luar biasa keras untuk meningkatkan motivasi siswanya. Jadi Pemerinyah sebenarnya perlu usaha keras juga untuk meotivasi gurunya agar bekerja lebih keras. Dan sayangnya hal ini yang tidak terjadi…

  30. sampeyan bikin semangat dong itu murid sampeyan… mungkin perlu metode yg lain buat mengajar (atau memberi motivasi) mereka. apalagi belum tentu semua murid suka pelajaran kimia.

    jaman SMA dulu, saya paling gak suka sama pelajaran kimia karena saya gak suka sama cara mengajar guru itu (meskipun menurut teman2 saya guru itu bagus). nah harusnya sebagai guru (menurut saya) kita harus juga tahu gelagat setiap murid kita: “suka gak mereka sama mata pelajaran ini?”. kalau misalnya gak suka, sebagai guru kita juga harus cari tahu “kenapa mereka gak suka?”, apa karena kita ngajarinnya terlalu ngebosenin, susah dimengerti oleh mereka atau karena mereka gak ngerti dengan apa yang diajarin karena kemampuan otak mereka yang pas2an, atau mungkin ada alasan lain.

    saya lihat, justru sampeyan punya tantangan yang menarik untuk digali lebih jauh dengan murid sampeyan yang “loyo” itu. hebat kan kalau sampeyan bisa membuat yang loyo itu menjadi tidak loyo lagi.

    mungkin sampeyan ngajarnya pelu pake kuku bima TL mas… hahaha…

  31. salam untuk semua,

    saya raudhah, mengajar Biologi di sekolah favourite di Malaysia.Saya sangkal pendapat yang mengatakan guru-guru di sekolah favourite manja, tak bagus dan kurang cabaran. Kami mempunyai aim yang agak tinggi untuk mempastikan bilangan yang cemerlang sampai ke tahap yang paling tinggi. Kami perlu mencari cara agar semua pelajar cemerlang. Tidak bagi guru di sekolah yang bukan favourite, task nya hanya unuk melihat % lulus sahaja…:) salam perkenalan dari Malaysia

  32. Saya gak bisa komentar banyak, karena hampir semua yang ingin saya tuliskan, sudah termuat dalam berbagai komentar terdahulu. Tapi kalau menurut saya, yang terpenting adalah KEYAKINAN guru itu sendiri. Kalau para guru sudah gak yakin anak-anaknya bakal sukses, bagaimana mungkin mereka (anak-anak itu) akan sukses?
    Guru saya dulu pernah mengajarkan bahwa mengubah tembaga menjadi emas itu TIDAK MUSTAHIL.. La wong, mengubah arang jadi intan aja bisa dilakukan kok. Yakin saja, seperti kata Aragone, paling tidak sudah usaha…

  33. Salam kenal,
    Banyak hal lain juga yang mempengaruhi penyerapan pengajaran.
    Dari sebuah tulisan dosen UGM pada Kolom Kita di Kompas, saya membaca bahwa 15’an tahun yang lalu, di Fakultas kedokteran UGM dicobakan modul pendidikan ‘problem based’ yang pada uji kompetensinya, FK-UGM menduduki peringkat atas dari 7 FK lain yang diuji-cobakan pula di di Asia, Australia, Afrika, Eropa dan USA.
    Ketika krisis ekonomi melanda, akhir 90’an posisi ini melorot hingga posisi ke-dua terbawah, sedikit lebih baik dari Rusia. Kesimpulan yang ditarik, kepercayaan diri mempengaruhi daya serap pengajaran. Kondisi saat itu yang tidak stabil, langsung-tidak langsung memang mempengaruhi.
    Mungkin ini sebab bangsa kita makin mundur, banyak siswa belajar bukan hanya tanpa kepercayaan diri, tapi juga ketakutan langit-langit akan runtuh menimpa kepala.

  34. jangan sampe standar pengajaran yang telah kita (para guru) tetapkan pada awal tahun ajaran menjadi sia-sia setelah beberapa bulan saja anda mengajar. Biarkan selama satu dua tahun para siswa memahami kartakter anda yang perhatian, berdedikasi tinggi, dan selalu siap membantu siswa. JAngan sampe siswa yang tidak mau belajar dan mendapatkan hasil yang diinginkan itu anda memberikan predikat tuntas atau nilai katrolan. Biar dia yang mikirin bagaimana supaya mencapai ketuntasan Anda hanya sebagai fasilitator saja jika para siswa anda tidak memanfaatkan fasilitas anda sebagai guru dengan baik yah sudahlah…. satu dua tahun nambah di sma kan ga pa pa, biar ilomunya dapet dulu gitu…..

    salam kenal

    fauzi

  35. Janganlah menyerah dalam mengajar teruslah bertahan,buatlah murid-muridmu mengerti apa yg anda ajarkan.Buatlah murid anda semangat ,bila jam pelajaran.
    lakukan metode-metode untuk memberi semangat murid-murid anda.

    salam kenal dariku
    Rohmah