Inilah Penyebab Ternodainya Ujian Nasional itu

Kliping

Suatu potret kecil pemaksaan kehendak yang membuat banyak tindak kecurangan dalam hal ujian nasional:

Dikutip dari Kaltim Post Cyber News 21 Maret 2007:

SAMARINDA- Ujian Nasional (UN) tahun ini sekaligus menjadi ujian tersendiri bagi kepala sekolah, khususnya di Samarinda. Kebijakan Kepala Dinas Pendidikan Kota Samarinda Mugni Baharuddin yang mengancam akan mencopot jabatan kepala sekolah apabila perolehan tingkat kelulusan UN berada di bawah 50 persen, justru ditanggapi dingin Ketua Musyawarah Kepala Sekolah (MKS) SMA Suardi. Pernyataan Mugni, menurut Suardi lebih kepada upaya peningkatan mutu pendidikan secara menyeluruh.

Besoknya dilakukan penyangkalan oleh atasan yg lebih tinggi dengan nada diplomatis, namun masih menyiratkan akan niat agar pesanan prosentase kelulusan tetep dilakukan”, kutipannya dibawah ini, dikutip dari Kaltim Post Cyber News 22 Maret 2007:

SAMARINDA – Pelaksanaan ujian nasional (UN) bulan depan sudah di depan mata. Di daerah tertentu, persiapan menuju UN bahkan menghasilkan peringatan dari kepala Dinas Pendidikan yang mengancam mencopot kepala sekolah yang siswanya tak lulus lebih dari 50 persen.

“Kinerja kepala sekolah tidak bisa hanya dilihat dari hasil ujian nasional. Harus dilakukan penilaian menyeluruh bagaimana mengelola sekolahnya dengan baik,” sebut Kepala Dinas Pendidikan Kaltim Syafruddin Pernyata ketika dikonfirmasi Kaltim Post, kemarin. Ia dimintai komentar seputar adanya daerah yang mengancam kepala sekolah akan dicopot dari jabatannya jika tidak berhasil membawa anak didiknya lulus UN. Misalnya, Samarinda.

Dijelaskan, UN dilaksanakan untuk memperoleh gambaran pelaksanaan pendidikan sesuai standar nasional, karena pemerintah memang berkeinginan meningkatkan kualitas pendidikan di Tanah Air.

“Sehingga siswa lulusan di kabupaten tertentu yang terpencil sekalipun, kualitas lulusannya akan sama dengan siswa dari Jakarta. Kalau tidak ada UN, nanti siswa lulusan Kaltim hanya cocok untuk Kaltim,” jelasnya.

Sesuai dengan ketentuan dari Menteri Pendidikan Nasional, UN tidak terkait kinerja kepala sekolah. “Tapi kalau ada bupati atau wali kota yang ingin mempertimbangkan kinerja kepala sekolah, silakan. Tapi bukan hanya hasil UN yang jadi acuan,” jelasnya.

Nampak sekali bahwa pendidikan dijadikan ajang politik kepentingan sehingga ancaman secara langsung atau pun tidak langsung dijadikan senjata. Penterjemahan praktek di lapangan biasanya adalah pembentukan “Tim Sukses Busuk”.

Satu potret buram dunia pendidikan di mana saya terlibat di dalamnya (sebagai guru biasa bukan kepala sekolah) yang tidak punya kekuatan untuk menghilangkan praktek penodaan itu.

41 responses

  1. Memang sistem penddidikan kita yang udah salah kaprah dari dulunya. Ganti menteri berubah nama sekolahnya. Dulunya SMA terus ganti menteri jadi SMU. Lha nah… sekarang ganti menteri lagi jadi SMA lagi.. waduh pusiinnggg….!.

  2. Hadooh, kasian aku bacanya, kalau dunia sekolah saja sudah seperti ini morat maritnya apalagi yang di atasnya, gimana yah ….. aku jadi bingung

  3. Yoi, itulah potrek sesungguhnya. Masalahnya apakah guru tetap mau dijadikan sansak? Berapa persen sih guru yang kuat imannya tidak mau bertindak curang dan berprilku busuk? Jangan tanya yang lain, tanyai diri Sampeyan. Kalau demi kelulusan UN aja curang, Insya Allah, Allah SWT akan memberi hukuman sekarang juga tidak usah menunggu sampai Hari Pembalasaan. Memeperbaiki pendidikan dimulai dari individu-individu guru yang beriman. Bukan mengaku-ngaku beriman, sholat atau ke gereja, tetapi curang dalam praktek pendidikan. Ingat, bagi munafikin sedemikian neraka weil ganjarannya. Inti pendidikan adalah objektivivas, jujur.
    Selamat merenung

  4. Seharusnya yang di perdebatkan bukan berapa jumlah kelulusannya, namun lebih kepada mutunya. Menurut saya ujian nasional tidak bisa di jadikann sebagai patokan bahwa siswa itu pinter atau tidak.

    Saya berharap debat masalah ujian nasional ini tdk lagi di ributkan, tapi mari meributkan soal mutu. (maaf kalau salah)

  5. Dalam manajemen modern, memang diharuskan seorang manajer untuk mencapai target. Jika tidak, ya harus diganti. Tapi apakah dunia pendidikan dapat diperlakukan seperti itu? Saya kawatir, jika iya, maka murid dijadikan objek eksploitasi. Kita akhirnya menjadi bangsa robot.

  6. Ckckck, parah 😦
    Yang kasian itu adalah, sudah belajar banyak mata pelajaran tetapi kelulusan hanya ditentukan oleh segelintir mata pelajaran. Kenapa gak belajar segelintir pelajaran itu saja ya? Aneh.

    Intinya kurikulum kita yang payah. Percuma memiliki guru yang baik/bagus dan murid yang pandai jika kurikulum tetap seperti sekarang ini. Apalagi lebih mementingkan tingkat kelulusan dibandingkan mutu. Bah .. kapan mau maju pendidikan Indonesia?

  7. waduuuuhhh…makin parah aja ya???

  8. kalau saya jadi pimpinan parpol, bakalan mengkampanyekan pak urip jadi menteri deh…hehehe…

  9. apa2 kok ga ada yang beres to, bener2 miss management yo

  10. 🙂 semoga kedepan praktik semacem ini ndak ado lagi. kasian juga muridnya nanti, jikalo belum layak lulus sudah dilulusken.

  11. ancam mengancam jabatan memang sudah sampai tingkat sekolah…gajah berkelahi pelanduk mati di tengah, siapa gajah? siapa pelanduk?

  12. pantesan bapak-ibuku padha prihatin, mas… jebul ngeri tenan politisasi pendidikan indonesia ki, ya? sampek tekanannya pun jadi hirarkis…

  13. weh, itu sih bukan hanya memperkeruh reputasi pendidikan indonesia, malah sudah menjerumuskan pendidikan indonesia yang amburadul ini ke arah kehancuran massal.
    Kalo semua kepala sekolah melakukan apa yang diperintahkan oleh Kadinas Diknas Samarinda itu, tidak bisa dibayangkan efek sampingnya. Ini sih kayak memicu reaksi fusi kehancuran pendidikan di Samarinda.

  14. waw…
    harusnya kepsek yang diturunkan dari jabatan itu yang engga bisa ngelulusin siswa dengan mutu yang ‘cukup’.

    waah, pemerintah juga maonya enak aja, mao ningkatin mutu pendidikan cuman lewat UN dan subcd saja… kalo kata saya sih, mendingan kalo mau ningkatin mutu, harus pake trik “Heart To Heart Theory”… pasti ngebekas kalo berhasil xD

    so, be carefull

  15. ayo dong pak…apa jadi kepala sekolah tidak bisa dilakukan percepatan?? biar idealismenya bisa terlaksana….

  16. Sebabnya menurut XXXX: kepala dinasnya malu kalau di daerahnya banyak siswa yang XXXXX lulus.

  17. Agak sedikit berbeda pendapat : Kalau saya jadi kepala Dinas, malah saya akan mencopot semua Kepala Sekolah yang gagal meluluskan siswanya kurang dari 75%. Kalau saya sebagai menteri, saya akan mencopot semua kepala Dinas yang di wilayahnya tidak bisa siswanya lulus kurang dari 75% juga.
    Kalau saya jadi kepala sekolah, saya juga akan mencopot guru yang membiarkan muridnya tidak bisa lulus sampai di bawah 75%.

    Kalau saya juga jadi guru, saya akan mencopot murid yang tidak memiliki buku sampai 75% dari jumlah buku yang dibutuhkan untuk belajar atau menggantikannya dengan 75% buku pelajaran di perpustakaan bisa dipinjam untuk dipelajari.

    Kalau saya jadi murid, saya juga harus mengunakan waktu 75% saya selama bangun untuk belajar, bukan untuk dugem, bukan untuk ha..ha.. hi..hi…

    Tapi, kalau karenanya dilulus-luluskan, sebenarnya kita sedang membohongi diri sendiri, orang tua murid.

    Kaltim adalah salah satu propinsi “superkaya” di Indonesia.

    Dan setiap tahun, prosentase itu harus ditingkatkan sampai batas kewajaran.

  18. TOLAK UJIAN NASIONAL!!!

  19. Jadi buat apa ada ujian???

  20. Gak usah ngurusi sekolah kalau sekolah cuman dijadikan ajang politik dan lahan untuk cari receh. Kalo begini institusi sekolah bukan lagi tempat yang mencerahkan …tapi penjara kebebalan.

  21. lawan aja yang gak bener…

  22. Ya, ujian nasional. Saya kebetulan guru yang memegang mata pelajaran yang diujikan. Disuruh ngeles, ada sedikit kemauan. Lha apa pembelajaran selama ini dianggap kurang berhasil apa? Kalau guru sudah ngajar sesuai kurikulum , dengan persiapan yang sempurnya – menurut ukuran saya – tapi masih harus memberika pelajaran tambahan apa bukan pemubaziran.
    Ujian nasional yangmenjadikan kepala sekolah terancam, ya lebihbaik semuanya jadi guru saja. Enggak usyah ada kepala sekolahnya. gimana?

  23. Untuk rekan semua.
    Ibarat tubuh, pendidikan di negeri ini sepertinya sudah gak karuan lagi bentuknya, dimana-mana penuh cacat. Kalaupun terlihat bagus itu hanya polesan dipermukaan aslinya tampangnya mengerikan. Mari kita bangun opini dengan penuh harap untuk adanya perbaikan, demi keturunan kita semua.

  24. sebetulnya kalau memang yang berkaitan dengan birokrasi (baca guru, kepala sekolah, kepala dinas dll) yang masih punya atasan tidak bisa diharapkan, seharusnya elemen lain yang bisa diharapkan

    masyarakat bisa menggalang opini untuk menyadarkan para orang tua murid. Orang tua murid yang sadar bisa menekan/mempengaruhi komite sekolah/ BP3/ IKA (ikatan alumni). BP3/Komite Sekolah/IKA bisa menekan sekolah atau atasannya sekolah untuk berubah walaupun sesedikit mungkin.

    Masuk akal nggak ya?

  25. Hahahaha!Motau yang lebih ternoda? Ujian pada sekolah terbuka! Bayangkan! Jawabannya dikasih tau sama panitia dan saya tidak asal bicara karena saya orang dropouter dan nyoba ikut!

  26. so stop UNAS aja….
    coz kreativitas siswanya terbatasi begitu juga dengan guru kan?

  27. kasian ya, sekarang semuanya terbebani, muridnya, gurunya, kepala sekolahnya, orang tua juga.

    Saya punya pengalaman yang cukup menyedihkan, adik saya tahun kemarin gak lulus UNAS, yach mungkin dia kurang belajar atau malah bisa dibilang kurang beruntung, teman2nya yang biasa masuk 10 besar pun ada yang gak lulus, mungkin saya pun jika disuruh ngulang bakalan gak lulus juga. Atau kalau kita coba sama tu menteri tuk coba ikut UNAS, saya yakin dia juga bakal gak lulus deh.

    Pengalaman pribadi, nilai bukanlah segalanya, walaupun nilai juga punya arti yang juga penting, dan saya paling benci dengan gaya belajar model SMA yang mesti duduk dari jam 7 pagi ampe jam 1 siang cma tuk dengerin guru nerangin, bikin otak jadi buntu dan bikin orang-orang model saya ini jadi bego’ kayak robot yang membawa bakul, semua pelajaran dijejalin padahal gak semuanya saya sukai dan gak semuanya saya butuhkan nanti dan satu lagi semuanya hanya bersifat umum…

  28. Ini baru sekolah smu sampai ke bawah, gimana kalau PT. Di model UAN sebelum dinyatakan lulus menurut universitas, jadi tambah ruwet khan.

  29. pendidikan, politik, agama, pemerintahan, aparat atau apalah yang ada di Indonesia ini yang ga busuk… ga ada kan….

    busuknya indonesia udah kelewat busuk…
    jd org2 indonesia banyak yg ga sadar klo dah ikut membusuk
    karena terbiasa nyium busuk ga bisa bedain mana busuk mana ga busuk

    ga nyambung??? mungkin otak ini jg dah ikutan busuk

  30. sebagai pelajar yang aat akan hukum, norma yang ada, baik dan rajin menabung *lho?*

    aku sangat prihatin dengan sist.pendidikan indoneisa. yg dipikirin pemerintah udah bagus banget tapi pas gawenya banyak juga pemerintah *pihak yg lain* yang cule-cule. ya ….
    jadi rusak deh

  31. wah, hampir sepuluh tahun saya hengkang dari sekolah menengah, ternyata keadaannya sama menyebalkan juga yah… Belajar lama dan banyak, hasilnya hanya ditentukan dari beberapa jam dan beberapa pelajaran. Bisa dipolitisasi pula.

    Misalkan ideku ditampung sama petinggi pendidikan nasional, aku pengen nantinya, kelak jika anak-anakku sekolah, sekolahnya seperti ini :
    1. Ga kebanyakan pelajarn (banyak banget siyh plajaran yang ga penting).
    2. Dari SMP, udah diarahin, minat anak2nya kemana. Misalkan kalo seneng natural science, fokuskankan ke natural science. Trus ‘tantangin’ otak mereka dengan lomba2 atau expo. pasti lebih seru.
    3. Kalo mao nyebrang jurusan, sangat flexibel bangets. Misalkan jebolan IPS yangmau masuk FK, ya dibolehkan dunks… Trus bikin ‘kelas penyesuaian’ biar bisa ngikutin pelajaran2 di sekolah kedokteran.
    4. Tanamkan orientasi ‘mandiri’ untuk apapun bidang ilmu yang digeluti siswa. Jangan tanamkan mindset : lulus dengan nilai baik, kuliah dengan IPK bagus, kerja jadi pegawai di pershn besar dan pekerjaannya ga memanfaatkan kompetensinya di bangku kuliah.
    5. Ujian jangan pake metode pilihan ganda. suruh bikin esay dengan memanfaatkan semua ilmu yang udah didapet secara integral.

    🙂 bingung juga neyh … langkah konkret kita (yang notabene udah ga di sekolah menengah) bisa apa yah???

    ps : ide2 itu bersumber dari mengikuti kajiannya Bu Ratna Megawangi Sofyan Djalil, Ibu yang in charge dalam dunia pendidikan, khususnya pendidikan anak usia dini.

  32. Terlepas dari kualitas soal ujian dan mekanisme yang diterapkan, saya pribadi adalah orang yang setuju dengan adanya ujian nasional, bukan ujian di level sekolah semata. IMHO, alasannya panjang lebar saya tulis di blog saya, tapi intinya, mesti ada satu equal passing grade bagi semua orang, jadi gak subyektif dan gak bisa masing-masing sekolah obral kelulusan…

  33. Yang goblok itu di Jakarta, Surat Keputusan Bersama Kepala Dinas Pendidikan Menengah dan Tinggi Prov. DKI Jakarta ama Kepala Kanwil Depag DKI JaKarta Nomor 01 Tahun 2007 mengenai juknis pelaksanaan UN/US di Provinsi DKI JAkarta beberapa substansinya keluar dari Permendiknas Nomor 45 TAhun 2006 tentang UN 2007.

    Dari Permendiknas 45 ada 3 tahapan secara hirarkis, penilaian akhir, un, dan us. bila itu diikuti maka beban belajar siswa jadi lebih berkurang karena semua pelajaran tidak terkonsentrasi dalam waktu yang sama. apalagi jaman ktsp ini pelajaran kan jadi lebih banyak, dimunculkannya pelajaran yang aneh-aneh jadi bikin beban belajar siswa jadi buanyak banget.

    Di “skb tolol” itu tahapannya cuma dua un dan us jadi pada un 3 pelajaran sisanya (6 sd 8 pelajaran) dikumpulin di us baik tes praktik maupun tees tertulis.Udah gitu skbnya
    1. dikeluarin kira-kira 40 hari menjelang un………
    2. ngatur-ngatur segala jumlah dan bentuk soal us, bayangin
    di permendiknas kaga……….
    3. dikasi tau ke kepala2 sekolah SMA/MAN bahwa ini revisi
    dari BSNP….(ngibul banget)

    Semoga orang-orang yang tersebut segera mendapat petunjuk dari Allah

  34. halo bapak menteri yg baek hati,, gini lho bapak knpa standar kelulusan harus tinggi ???
    apa untuk memajukan pendidikan kita,, coba bapak befikir sejenak,, andaikan ada sebagian anak ada yg tidak lulus ujian,, tentunya mereka tidak akan bisa meneruskan ke jenjang yg lebih tinggi ( ke fakultas )
    apa kah itu tidak menambah penggaguran di negara kita,, setau saya indonesia adalah produsen no 3 didunia untuk masalah pengguran,, nah bagaimana menurut bapa ???? Bapak pasti menjwab, “tentunya itu salah anaknya sendiri knapa tidak belajar “…..
    maka teman di daerah saya akan menjwab : “bagaimana ga belajar, dengan fasilitas yg kurang ( didaerah saya ini masih banyak sekolah yg tertinggal) buku-buku yg sekrang mahal “.
    coba bapak liat sendiri ke dareah saya di BANJARMASIN, bapak pasti nya akan meneteskan air mata klo bapak sudah melihat kondisi sekolah saya yg begitu kurang akan fasilitas belajar mengajar.
    saya hanya menghimbau ke pada bapak bagi anak yg tidak lulus tetap dapat ikut ujian paket C untuk tahun 2007 ini ( saya dengar sich tahun ini tidak ada ujian paket C ) jadi sebaiknya dibuat ada saja, biar anak-anak yg tidak lulus masih mempunyai semangat untuk menempuh masa depan yg lebih baik…………………………

  35. kalau anda hanya melihat permasalahan ujian nasional secara sederhana, maka saya sangat setuju bila anda memaki pejabat kepala dinas, kepala sekolah dan guru seperti tsb di atas. Tetapi masalahnya, kita harus melihat permasalahn ujian nasional ini secara komprehensif atau menyeluruh agar tidak sesat dalam memberi penilaian.
    Untuk diketahui, bahwa Ujian nasional dilakukan agar siswa didik di seluruh Indonesia memiliki “standar pengetahun yang sama”. Permasalahannya adalah apakah pemerintah telah melakukan “pemerataan dan standarisasi” di luar ujian nasional?, jawabannya pasti belum.

    cobalah anda merenung sejenak, lihatlah apakah infrastuktur bangunan-bangunan sekolah di Indonesia yang kaya ini sudah standar?, yaitu memiliki kelas-kelas yang baik, tidak pengap dan luas, apakah juga terdapat lapangan olah raga yang representatif, lab komputer dan multimedia, lab MIPA, perpustakaan yang layak, kantin sekolah, lab bahasa, ruang kegiatan siswa, hall serbaguna, UKS, ruang ibadah, taman-taman sekolah? dan lain-lain. pasti jawabannya belum.

    Kemudian renungkanlah, apakah para gurunya telah memiliki kemampuan dan kompetensi atau standar yang sama di seluruh Indonesia?, apakah juga jenjang pendidikan mereka telah standar?
    lihatlah, para guru sekolah kita di Indonesia untuk level SMP dan SMA saja belum mencapai 30 % yang bertitel sarjana, sedangkan yang lainnya adalah lulusan setingkat SMA, D1, D2, dan D3, dimana para lulusan pendidikan itupun masih bisa digradasikan lagi, dari yang berkualitas rendah sampai baik. belum lagi bila dilihat dari guru-guru SD nya.

    Sedikit lagi, cobalah anda lihat apakah para orang tua siswa di seluruh Indonesia relatif memiliki tingkat ekonomi yang sama?,sehingga mereka semua relatif sanggup membeli buku-buku pelajaran yang dibutuhkan, memiliki kamus atau buku-buku pendukung lainnya?, jawabannya pasti belum. Pemerintah saja tidak sanggup memberikan buku pelajaran secara gratis kepada semua siwa di seluruh Indonesia, kalaupun ada, tahun ini baru diberikan satu bantuan buku gratis dari dana BOS.

    Satu lagi, yang jangan pernah kita lupakan. Bahwa tidak setiap siswa memiliki kemampuan dan daya tangkap yang relatif sama dalam pelajaran. Ada yang memilki kelebihan dalam bidang seni, tetapi lemah dalam bidang eksakta, ada yang unggul dalam bahasa tetapi lemah dalam matematika, ada yang memiliki keunggulan dalam praktek melukis, musik, olah raga, tarik suara dan tari, tetapi lemah dalam teori-teori atau konsep-konsep pelajaran.
    Lalu apakah mereka harus divonis “bodoh” karena mereka tidak lulus salah satu dari mata pelajaran yang di UJIAN NASIONALKAN? jawabannya pasti tidak.

    Kepandaian manusia, menurut saya terus berubah dari waktu ke waktu, ada yang ketika SD atau SMP nya kurang pintar, tetapi pada saat SMA atau perguruan tingginya ternyata berprestasi, dan seterusnya. Jadi pem”vonis”an kepada siswa yang tidak lulus ujian nasional sebagai “anak-anak bodoh” adalah SALAH BESAR.
    Silahkan diadakan ujian nasional, bila standarisasi pendidikan dari semua aspeknya telah relatif sama atau tercapai. Bila belum, tolonglah pak menteri, jangan memaksakan diri.

    Jangan baru bisa memberikan bantuan BOS satu buah buku pada siswa, pemerintah sudah menganggap layak menyamakan kualitas siswa dan sekolah di seluruh Indonesia, wah, masih jauh pak.

    Coba Pak Bambang Sudibyo sebagai menteri pendidikan Indonesia saat ini, satu minggu saja mengajar matematika dan bahasa Inggris di pinggiran kota kita, bisa dipastikan pak menteri akan “stress”, ternyata tidak mudah mengajar para siswa untuk menjadi pintar, belum lagi bila tayangan negatif TV, kekerasan, pornografi,obat-obatan terlarang,pergaulan bebas, budaya permisif dan yang lainnya terus menggerus kehidupan mereka, maka kemamuan dan kemampuan belajar siswa akan terus tergerus pula, yang ujung-ujungnya adalah munculnya kemalasan dan kontraproduktif.

    Ujian nasional adalah pemaksaan politis, sehingga harus dihapuskan. Wajar jika kepala dinas, kepala sekolah dan guru bertindak seperti itu, karena mereka tahu persis kemampuan dan kualitas para siswa-siswanya. Bila dipaksa secara apa adanya, maka saya yakin hasil ujian nasional kita besok-besok hari akan jeblok, paling-paling hanya 20 % YANG LULUS.
    sudah siapkah pemerintah menerima kenyataan ini, yang tidak lulus adalah 80% atau lebih?, jawabannya pasti tidak. Pengangguran akan semakin bertambah, masalah sosial pasca ujian akan semakin rumit.
    Jadi menurut hemat saya, tidak perlu ada ujian nasional, cukup berdayakan dan standarkan dahulu “input” dan “proses” pendidikan kita seperti yang saya sebut di atas, dengan demikian akan muncul “output” pendidikan yang bagus. Kalau sudah seperti itu, silakan adakan ujian nasional pak. ok

  36. Saya ikut prihatin, dari wacana diskusi ini.

    Dari TK, SD sampai PT tidak ada satupun, baik dari pihak penyelengara pendidikan sampai guru atau samapi dosenpun yang mengetahui dan mengerti arti pedidikan secara konkret.

    Banyak guru dan pendidik hanya tau cara mengajar saja, tidak sampai mereka faham bahwa anak dalam masa tumbuh kembangnya diberikan konsumsi dengan akhlak atau moral dan kemampuan akademis yang bermanfaat untuk dijadikan sebagai seorang yang ahli di bidangnya.

    Dengan tanda kutip: anak didik memerlukan suatu kontrol dan kemdali sampai dia menjadi manusia yang diharapkan sebagai manusia yang trampil. Contohnya saja masalah belajar, sekolah mana yang konsen dapat menciptakan anak didik sampai menguasai bidang studi yang mereka peroleh dari sekolah. Umumnya anak sekolah dalam menghadapi UNAS tidak diperoleh dari belajar di sekolah, tapi mereka masih mengandalkan privat atau les tambahan di luar.

    Hampir semua sekolah demikian, kecuali sekolah yang tingkat komersialnya tinggi yang biasanya dgn iming-2nya dapat membuat si anak didik pintar dgn beberapa bidang studi. Bahkan ada sekolah yang membuka klas istimewa dimana si murid dapat dimahirkan dgn beberapa bahasa sekaligus. Memang si orang tua bangga dgn kemampuan anak, tapi mereka tdk menyadari kalu hal demikian merupakan perampasan kecerdasan intelektual anak. Lantas untuk apa anak nantinya bila bisa cas cis cus mengucapkan beberapa bahasa, tapi tidak tau apa kegunaannya?

    Sekian dulu komentar saya, klau diteruskan nggak tau sampai mana berujung. Yang jelas antara pemerintah, penyelenggara, masyarakat belum ada yang sadar akan keberadaan generasi mendatang. Yang mereka pikirkan hanya berfikir atas keberadaannya “dapatkah kekayaan saya bertambah”.

    Kita belum sadar atas tanggung jawab kita sebagai manusia di atas generasi saat ini. Ada tanggung jawab atas perilaku kita, ada tanggung jawab peda lingkungan di sekitar kita dan ada tanggung jawab terhadap generasi mendatang.

    Terima kasih, mudah-mudahan diskusi ini dapat berlanjut.

  37. […] kelas. Dan hari ini saya, dengan mata kepala sendiri melihat bagaimana suasana pengumuman kelulusan UAN yang membuat banyak pihak tersiksa itu. Alhamdulillah, sekolah tempat saya mengajar, dari 12 SMP […]

  38. salam perubahan
    untuk referensi pemilu kunjungi; http://www.politikusbusuk.blogspot.com

  39. salam perubahan
    untuk referensi pemilu dan politisi kaltim dan nasional kunjungi; http://www.politikusbusuk.blogspot.com