Fluktuasi Keperdulian

Saya seorang guru biasa untuk kimia dan TIK (ini sebagai pelajaran tambahan yang saya ajarkan). Tentang jabatan kepala sekolah tak terpikir sedikitpun untuk mau menduduki jabatan itu. Saya akan sangat menikmati sebagai guru. Keseharian saya adalah kebebasan saya. Kecuali dalam hal mengajar, saya selalu berusaha selalu on time dan selalu mencoba untuk mengajar sebaik-baiknya dengan gaya saya sendiri.

Di luar itu saya cenderung untuk tidak mau ambil pusing. Ini mungkin kejelekan saya di mata teman-teman saya dan pimpinan saya. Tapi kadang ketidakmauan untuk tidak ambil pusing juga muncul. Ini merupakan tabiat setiap makhluk yang disebut manusia. Keperdulian yang saya maksud di sini adalah keperdulian dengan sekolah tempat saya mengajar, yang dari situ saya menghidupi keluarga.

Dulu waktu pertama kali saya masuk jadi guru PNS dengan semangat tinggi mau perduli dengan kondisi sekolah, hampir setiap ketemu teman sekantor yag dibicarakan adalah soal bagaimana memajukan sekolah. Bahkan kadang merasa jemu sendiri. Tapi yah namanya guru di situ dunianya maka setiap pembicaraan tak kan pernah lepas topik sekolah. Tapi sayang komunikasi yang terjalin antara kepala sekolah tidaklah mulus. Ia telah membuat jarak dengan kami, tetapi ia sangat akrab dengan seorang guru saja. Senyumpun kadang terkesan ia paksakan.

Akhirnya banyak pemikiran-pemikiran brilian menurut saya tidak bisa terealisir. Akhirnya yang ada hanyalah kekecewaan belaka. Tapi kecewa jelas gak berguna malah berdampak buruk bagi jiwa. Akhirnya kamipun semakin berani untuk mengungkapkan kekesalan di forum rapat. Bahkan kadang sampai menunjukkan ketidakbecusan yang memang sudah tidak usah diungkap saja semua sudah tahu. Mungkin karena itu pula saya di tendang dari sekolah itu. Tapi itu adalah keberuntungan bagi saya.

Akhirnya dengan lega saya pun berpindah tempat tugas dengan pimpinan yang menurut saya jauh lebih arief dan demokratis. Bisa mengajar sesuai dengan latar belakang pendidikan saya. Tapi kepala sekolah yang saya tinggalkan itu sungguh mujur mendapatkan guru-guru yang memiliki kepedulian yang tinggi, meski guru-guru baru itu menuntut kelonggaran-kelonggaran di selah waktu mengajarnya.

Kini dengan menikmati pekerjaan keperdulian pun ada meskipun tidak stabil. Semoga rasa itu terjaga. Sehingga sebagai guru tidak sekedar menjadi pengajar tapi semakin mendekati sebagai pendidik. Walaupun kadang ada suatu hal yang membuat semua keperdulian itu memudar seketika. Hal kebohongan dalam pendidikan.

18 responses

  1. PERTAMAXX!!
    mmm….guru itu adalah pahlawan tanpa tanda jasa. berbanggalah anda bekerja sebagai guru. karena guru itu akan selalu diingat murid2nya.
    *biasanya lho!*
    HIDUP GURU!!!!

  2. kedua. baru kali ini ada di urutan 3 besar. dijaman sekolah dulu, ga pernah bisa ranking big 3 hehehe… paling hebat 10 (yg ke 9) besar. dimanapun tmpt mengajar, guru adalah guru. yg di gugu dan ditiru.

  3. Saya melalui blog ini ningin menyampaikan uneg-une kepada pemerintah tentang tidak adanya Remedial UN 2007. Dan tidak diundurnya UN 2007…Karena Indonesia baru saja tertimpa bencana yang terus menerus…Untuk para guru, Saya mengucapkan Banyak Terima Kasih telah mengerahkan semua kemampuannya untuk berusaha meluluskan anak didiknya…Bravo Guru!!!

  4. Sehingga sebagai guru tidak sekedar menjadi pengajar tapi semakin mendekati sebagai pendidik.

    Guru memang pendidik koq Pak. Tapi justru peran sebagai pendidik ini yang membuat tanggung jawab guru sangat besar. Selain tanggung jawab pengajaran, juga tanggung jawab thdp siswa, dan yang lebih berat lagi : tanggung jawab pendidikan di negeri ini.

    *selamat peduli* 🙂

  5. betullll!!!!!!!!!

    kepedulian dan KESADARAN! yang mahal itu!

  6. Ada fluktuasi itu bagus Pak,… daripada ga ada semangat kepedulian sama sekali…

  7. wah, ada pak guru curhat

  8. saya suka sekali kepedulian bp pendidikan 😀 ,tapi apa betul yang lebih sulit itu sebagai pendidik? bukan pengajar?

  9. Wah kalau ada hal kebohongan dalam pendidikan. Ini yang perlu di waspadai. bagaimana nanti jadinya kalau dalam hal pendidikan banyak hal yang bohong.

  10. Mas Urip sudah mengajar ilmu kimia dengan profesional, menurut saya bentuk kepedulian mas dalam bentuk lain. Tidak selamanya ‘ikut camput’ diluar bidang kompetensi kita sering membuat kita frustasi.

    Untuk mengubah lingkaran kepedulian, kita lebih dulu mengubah lingkaran pengaruh kita. Insya Allah, secara perlahan kita dapat mempengaruhi lingkaran kepedulian kita.

    Terima kasih mas, sudah mengabdikan jiwa dan hidupnya di dunia pendidikan. Saya lihat, blog mas selalu TOP on The Top yang diakses oleh pembaca. Mudah2an, dengan rahmat tersebut, mas dapat lebih meluaskan lingkar kepeduliannya.

  11. selamat dan good luck di tempat barunya..mudah mudahan mendapatkan apa yang dicarinya ..

  12. Lingkaran kepedulian memang berada pada lingkup minat dan perhatian. Saya senang ke sini, karena merasakan Pak Helge berada pada lingkup kepedulian yang tinggi dalam “mengamalkan” ilmunya. Semangat berbagi yang tak pernah putus. Di blog, kita bisa mencurahkan yang ada dan diinginkan berbagi dengan lainnya. Dalam dunia nyata, kita terikat oleh kontrak sosial yang mengungkung, yang mengamati kita hitam dan putihnya tanpa bisa dipahami seluruh avatar (eh latar belakangnya).

    “Saya” merasa memiliki saya dalam blog, dalam dunia lain, konflik antar peran membuat saya harus seperti yang mereka ingini. Tentu saja tidak ada salahnya, tapi kebebasan berpikir memang berbeda ya dengan kebebasan berbuat.

    Terimakasih lho atas komentar Mas Helge. Saya malah tidak bisa selalu bisa melempar umpan, apalagi kalau tidak punya kompetensi atau minat. Membaca juga nggak bisa scanning secepat Pak Helge.

    Melaju terus ya Pak, dengan segala kepedulian yang ada.

  13. Pengajar dan pendidik, emang beda pak?

  14. Masih bagus ada fluktuasi pak saya malah lebih parah rasanya udah ngak peduli selain mengajar

  15. “Walaupun kadang ada suatu hal yang membuat semua keperdulian itu memudar seketika. Hal kebohongan dalam pendidikan.”
    Apa maksudnya?

  16. PAk Urip ini memiliki ke[edulian yang tinggi..tidak hanya kepada para anak didik tetapi juga kepada para blogger. Kepedulian itu adalah ilmu yang senantiasa dibagi2kan…
    Kapan bagi2 uangnya Pak? hehehe
    Bercanda Pak…

  17. oooooo, begitu ceritanya….makasih atas ilmunya yah