Pengawasan Ujian Nasional oleh Pemantau Independen

Saya sebenarnya tidak ingin lagi menulis tentang ujian nasional. Tapi kemarin baru saya temui fakta berdasarkan pengakuan dari seorang teman yang terjadi di sekolahnya tahun lalu. Dan ini merupakan kenyataan tentang salah satu kekurangberesan pelaksanaan ujian nasional. Mengapa ujian perlu diawasi/dipantau. Jawaban yah karena diharapkan tidak terjadi kecurangan selama proses ujian sehingga hasilnya benar-benar akurat. Tapi di beberapa tempat harapan itu jelas tidak tercapai karena pengawas/pemantaunya sengaja tidak mau mengawas karena “disuap”. Pengawas yang saya maksud ditulisan ini adalah pemantau independen itu.

Modus-nya adalah sebagai berikut. Tahun lalu di daerah saya pengawas independen ujian nasional dilakukan oleh beberapa kampus perguruan tinggi swasta yang kredibilitasnya saya sendiri meragukan. Sebagai pengawas ujian nasional dipakai mahasiswa-mahasiswa dari kampus tersebut. Bahkan ada sekolah yang mengetahui hal ini lalu meminta kepegawasan ujian dilakukan mantan siswanya saat di SMA dulu.

Sementara di sekolah lain ada yang tidak kenal dengan pengawas independen. Maka oleh pihak sekolah haru melakukan triks-triks yang sangat lazim, yaitu pendekatan kemananusiaan. Hari pertama dilakukan penjamuan secara khusus. Untuk melakukan pengenalan tetang sedikit jati diri pengawas independen itu. Pulangnya dilakukan salam tempel (diselipkan sebuah amplop entah berapa rupiah isinya). Sore harinya tim sukses busuk sekolah melakukan kunjungan pribadi ke rumah sang pengawas independen untuk melakukan pendekatan. Tentu saja dalam kunjungan tersebut tidak dengan tangan kosong. Di sini tidak dibicarakan sedikitpun terkait pengawasan ujian yang dilakukan sang pengawas independen itu. Besoknya meskipun tanpa diminta perlahan-lahan pengawasan nyaris tidak dilakukan lagi bahkan terkesan dilakukan pembiaran… “Manusiawi sekali”.

Maksud dari semua itu adalah agar tim sukses busuk ujian nasional itu bebas berkeliaran untuk membantu siswa baik secara langsung maupun tidak langsung. Lebih gilanya lagi pengawas ruang (yg mengawasi siswa di kelas saat ujian nasional) “tidak tahu atau tidak mau tahu”. Nah modus yang dilakukan ini jelas secara fulgar atau terbuka. Kalau melakukan kecurangan melalui SMS itu jelas dilakukan secara sembunyi-sembunyi.

Modus lainnya adalah dengan menyipakan beberapa tim sukses busuk di suatu ruangan dengan tujuan scanning jawaban siswa dan melakukan penggantian jawaban yang salah berdasarkan jawaban tim sukses busuk tadi. Tentu yang ini dilakukan sesaat setelah ujian berlangsung. Semestinya begitu setelah waktu habis jawaban siswa harus dimasukkan ke dalam amplop dan di tutup. Tapi dengan alasan untuk melakukan pengecekan terhadap data siswa sekolah meminta untuk tidak menge-lem amplop tersebut.

Inilah salah satu modus penyebab rusaknya sistem ujian nasional seperti yang pernah saya tuliskan sebelumnya. Saya yakin banyak sekolah yang masih melaksanakan ujian dengan tingkat kejujuran yang tinggi. Tapi prilaku sekolah dengan “tim sukses busuknya” itu jelas sangat menyalahi prosedur operasional ujian. Sayangnya hal semacam ini sulit untuk mencari barang bukti tindak kecurangan yang dilakukan selama proses ujian nasional itu. Sepertinya sistem ujian semacam ebtanas dulu masih lebih bagus dibandingkan sistem ujian nasional akhir-akhir ini.

Bagaimanakah cara mengubah pola pikir busuk pihak sekolah selama proses ujian nasional itu? Adakah sistem yang masih bisa dipakai untuk tidak dicurangi pelaksanaannya oleh para pihak sekolah?

Bagaimana menurut saudara?

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

Berikut ini adalah prosedur kerja pemantau independen tingkat sekolah/madrasah untuk UN 2007 yang tidak jauh berbeda dengan tahun lalu:

  1. Sebelum UN Dilaksanakan
    • mempelajarai Peraturan Menteri dan POS UN;
    • melapor kepada Penyelanggara Ujian Nasional di Tingkat Sekolah/Madrasah;
    • mengikuti rapat-rapat yang diselenggarakan oleh Penyelanggara Tingkat Sekolah/madrasah;
    • menyaksikan dan menandatangani Berita Acara Serah terima bahan ujian dari Penyelanggara Ujian Nasional Tingkat Kabupaten ke Sekolah/madrasah;
    • menyaksikan dan menandatangani Berita Acara Penyimpanan bahan ujian dari Penyelanggara Ujian Nasional Tingkat Sekolah/Madrasah kepada petugas keamanan penyimpanan;
    • memeriksa kelayakan dan keamanan penyimpanan bahan ujian.
  2. Selama UN Berlangsung
    • memantau pelaksanaan UN di sekolah/madrasah;
    • menyaksikan dan menandatangani serah terima bahan ujian dari Penyelanggara Ujian Nasional Tingkat Kabupaten/Kota ke Sekolah/madrasah;
    • menyaksikan serah terima bahan ujian dari Sekolah/Madrasah kepada para pengawas ruangan ujian;
    • memeriksa dan mencatat soal-soal cadangan di tingkat sekolah;
    • memonitor pelaksanaan ujian di sekolah;
    • mencatat kejadian-kejadian penting sebelum, selama dan sesudah ujian;
    • menyaksikan serah terima LJUN dalam amplop yang telah dilak dari pengawas ruangan Penyelanggara Ujian Nasional Tingkat sekolah;
    • mendampingi, menyaksikan dan menandatangani Berita Acara serah terima LJUN dari sekolah ke Penyelanggara Tingkat Kabupaten/Kota.

—o0o—

12 responses

  1. pertamax!!!!
    pendaftaran pemantau independen sudah dibuka belum sih?
    tahun ini aku pengen ikutan … tahun lalu gak bisa karena masih ada kuliah 😦

    lumayan lho … tahun lalu dapetny 200 K
    belum kalo disogokkasih ama skulnya 😀

  2. Ck.ck.ck. Ini salah satu bentuk korupsi di bidang pendidikan. Menghalalkan cara busuk untuk mendapatkan keuntungan sesaat. Maka hancurlah dunia pendidikan kita karena sistem sudah tak dapat dipercaya.

  3. suap-menyuap itu sudah jadi kebiasaan pa susah dihilangankan tapi pernah lo dibeberapa sekolah menaati Peraturan tanpa ada suap, banyak siswanya yang tidak lulus, apa ada cara untuk menyemangati anak2 untuk rajin belajar?

  4. *Kapingpat*
    Kalau pake pemantau independen, berarti nambah biaya lagi dong pak, pemantau independen kan musti dibayar, trus dananya darimana? Asal gak dibebankan ke siswa sih OK2 aja, gitu, Ganti!

  5. Luthfi: Seperti sih sudah… tanya panitia UN daerah setempat saja.

    Doetyea : Negara hancur perlahan karena pendidikan sudah banyak bagian yang hancur/busuk. Nunggu pengambil kebijakan di belalakan matanya saja.

    Jokotaroeb: Selama ini sih memompa semangat anak dilakukan tapi itu saja tidak cukup tinggal manajemen belajar dan mengajar saja yg bisa merangsangnya, ini prosesnya panjang.

    Abahapis : Jelas nambah, dana dari pemda setempat jadi tidak membebani siswa secara langsung, kecuali selipan amplod dari sekolah ada.

  6. kalo boleh usul buat pemantau independen :
    9. Menyegel sampul jawaban dengan stiker hologram di dalam ruang ujian

  7. masak sieh… mpe sgitunya… wah..wah.. kl saya lebih setuju pengawas independent juga melalui seleksi yang ketat.. dan benar profesional dunk

  8. Hmm..jika demikian adanya, siswa2 pun ogah untuk belajar sebab sdh ada tempat bergantung.
    Memecahkan persoalan ujian nasional sepertinya ngga ada cara lain selain menghapuskan sitem ujian nasional untuk kelulusan SMA dan menggantinya dg parameter penyetandaran mutu pendidikan yang lain, misalnya jumlah kredit yg sdh diambil, nilai ujian akhir sekolah, sikap/perilaku siswa. Kalau toh mau tetap ujian, ujian di level provinsi saja, toh sejalan dg OTDA.

  9. Oke bgt, pak guru …. UAN tahun ini mungkin banyak bocor nya lagi, asal tahu saja ada sebuah sekolah, yang guru bahasa Inggrisnya cuman tamatan PGA tapi rangking mata pelajaran bahasa Inggrisnya nomor satu UAN tahun lalu di sebuah kabupaten di kalimantan Selatan …

  10. jgn ktat2 yh….he,,he,,neyo inside!!!

  11. Umh.. Ternyata ‘kecurangan’ kita sebagai pihak penyelenggara pendidikan (sstt… atau korban kebijakan pemerintah) sudah segini PARAHnya ya… sampai-sampai harus ada segala muacam ‘tim pemantau independent!!’ huekhuekhuek… NGAPAIN SI…REPOT-REPOT SEGALA kayak gini… Umh…tapi… lumayan juga si… bagi-bagi rezeki sama ade2 kita yg dari tim pemantau. hehe,,,1000x…..

  12. pengawas independen mencatat siswa yg ketahuan nyotek gt ga si ???