Degradasi Pengetahuan, Guru, dan LPTK

Ini perasaan saya, bahwa setelah hampir 12 tahun selesai kuliah S-1 Pendidikan kimia dengan IPK pas-pasan, ternyata rasanya banyak yang menguap begitu saja. Rasanya cukup banyak pengetahuan yang dijejalkan di otak, tapi entah mengapa saat ini banyak yang hilang begitu saja. Pernah saya dengar bahwa jika setelah 5 tahun lulus kuliah kebanyakan banyak orang yang mengalami degradasi, pengetahuannya seakan-akan hilang. Lebih-lebih bila ilmu pengetahuan dan pengalaman itu tidak pernah diterapkan atau digunakan. Mungkin ini hasil kuliah yang dominan mengejar nilai dulu, 🙂 .

Sebagai guru rasa-rasanya (hehehe lagi-lagi… rasanya) bahan hasil perkuliahan dulu lebih dari cukup kalau sekedar untuk mengajarkan materi pelajaran kimia di tingkat SMA atau bahkan SMP. Serasa banyak hal yang tersia-siakan terkait materi/bahan perkuliahan dulu. Nyatanya selama mengajar kimia tidak diperlukan ilmu kimia yang tinggi atau mendalam. Memang lulusan S-1 Pendidikan Kimia selain dipersiapkan untuk mengajar di SMA juga dipersiapkan untuk melanjutkan ke jenjang yg lebih tinggi. Faktanya hanya beberapa saja yang berkesempatan untuk melanjutkan ke jenjang yg lebih tinggi. Kebanyakan hanya menjadi guru di tingkat SMA atau yg lebih rendah. Lalu kalau orientasinya lulusan akan menjadi Guru mengapa harus berjibaku belajar dengan tingkatan yg tinggi?

Menurut saya sepertinya di LPTK (Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan) perlu adanya pemikiran ulang terkait silabus perkuliahan, sehingga keilmuannya lebih mendalam. Dulu di PS Pendidikan kimia bahan kuliah 75% adalah materi kimia murni sisanya untuk pendidikan dan pengajaran. Mungkin porsi kependidikannya mesti lebih banyak. Juga perlu diajarkan tentang langkah-langkah dalam menyikapi perubahan kurikulum yang terus berkembang sehingga tidak tergagap saat menjadi guru.

Mungkin akan lebih baik lagi jika LPTK membuat program yang memang dikhususkan untuk pendidikan guru SMA, pendidikan guru SMP, pendidikan guru SD. Jadi tidak diniatkan untuk melanjutkan ke jenjang lebih tinggi. Biar saja mereka yg akan melanjutkan ke jenjang lebih tinggi berusaha menyiapkan diri sendiri. Sebab dengan begitu maka penguasaan bahan ajar di masing-masing jenjang akan lebih matang. Fokusnya pun akan lebih baik, terutama untuk mencari inovasi-inovasi di dunia pengajaran bidangnya. Tidak seperti kebanyakan guru sekarang, mengajar apa adanya, sangat jarang yang mau berinovasi, monoton, pengajaran menjadi menjenuhkan siswa.

Powered by ScribeFire.

Iklan

18 responses

  1. Mungkin ini hasil kuliah yang dominan mengejar nilai dulu

    ah… memang pak, kebanyakan kita dulu seperti itu, nah sekarang serasa menanggung akibatnya, mudah-mudahan sistem dan rasa ketakutan ndak lulus kita dulu tidak terulang kembali ke generasi penerus

  2. Sama Pak…saya juga mengalami dan merenungkan hal tsb.
    Sepertinya dulu memang terlalu berorientasi pada nilai…
    BTW saya malahan lebih parah nih Pak…baru juga 3 tahun lulus eh sdh banyak yg lupa

  3. saya…udah lupa semua, hehehe…kelamaan jadi ibu rumah tangga kali yaaa…

  4. apa yang rekan-rekan alami, kayaknya aku alami juga. apalagi penmghasilan jadi guru yang tidak cukup untuk kebutuhan hidup. jangankan untuk menambah ilmu dan membeli buku untuk membeli rokok aja payah hehehehe…. mungkin guru hanya sekedar pelengkap penderitaan aja

  5. Ah masak sih… 5 tahun setelah selesai kuliah akan mengalami degradasi… Berarti tahun depan saya harus siap-siap angkat koper ke seri B atau divisi II dong… 🙂

  6. Untungnya saya kerja juga di IT meskipun gak semua ilmu kepake heheh..paling gak masi inget lah..^ ^

    oia saya kira di LPTK itu sudah ada semacam pengelompokkan..seperti guru smu smp ato sd di atas itu..tyt gak ada ya ..

  7. saya mengalami dua kurikulum yang berbeda ketika kuliah, hihihih abis kuliahnya kelamaan, kurikulum lama dan berganti kurikulum tahun 90, di kurikulum lama sifatnya lebih praktis ke pengajaran, nah di kurikulum baru (90) nampaknya lebih diarahkan ke aspek teoritisnya, mana yang lebih baik saya ngak jelas, cuman kelihatan mahasiswa sekarang lebih pinter aja lulusnya cepet ngak kayak saya heheheh

  8. Nah, ini kenyataan. dan guru berumur biasanya kan yang merasa mapan, ilmunya juga mapan, dan sulit menerima pembaruan. Mudah-mudahan kita nggak gitu, ya???
    Saya juga merasa ketika kuliah bekal ilmu kependidikannya sangat kurang. Waktu tes kompetensi, bidang evaluasi saya jeblok sekali. Sampai sekarang kalau bikin evaluasi merasa kerepotan. Tapi saya lebih suka menyampaikan kepada siswa hal-hal yang berhubungan dengan kompetensi mereka. Sekedar improvisasi agar pengajaran menarik. Dan sukses kata guru-guru lain – ge er juga nih – termasuk salah satu guru pavorit.

  9. Saya juga merasakan begitu, pengetahuan yang diperoleh di kuliah, berangsur-angsur menguap, tergantikan dengan pengetahuan lain yang diperoleh di tempat kerja dan masyarakat. Baru ngeh lagi pas baca-baca buku kuliah dulu. Kayanya harus sering2 belajar ulang jika tidak ingin pengetahuan kita menguap.

    Dulu saya kuliah di T.Kimia, trus kerja di pabrik yang memproduksi Polimer, sepertinya sejalan, tapi yang saya rasakan kurang dari 40% pengetahuan yang saya peroleh di perkuliahan yang bisa langsung di aplikasikan di pekerjaan, sepertinya ada gap yang cukup jauh antara dunia pendidikan dengan aplikasi di lapangan. Itulah sebabnya kenapa banyak perusahaan yang hanya menerima karyawan baru yang sudah berpengalaman, karena bisa mengurangi Training Cost.

    Entah sekarang, apakah kurikulum berbasis kompetensi bisa mengurangi gap tersebut.

    Eh… kok jadi curhat, mudah2an nyambung.

  10. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan hal yang sifatnya teoritis. Ada yang pernah dengar teorinya De bono, six thinking hat.
    Dalam pembelajaran praktis hal tersebut sangat berguna bagi siswa saat melakukan refleksi setelah selesai dengan satu unit pembelajaran.
    Guru kita semua hebat, tapi harus lebih mau terjun ke dalam situasi yang bersifat praktis.Agar semuanya tidak berhenti menjadi wacana.
    Mengejewantahkan sebuah teori atau pendekatan pendidikan agar bisa dilaksanakan didalam kelas (from theory into practice) adalah kerja besar yang tidak pernah selesai.
    Hidup Pak Urip, jadilah pembelajar sepanjang hayat..

  11. Menurut saya kok soalnya satu: gaji. kalo mau kualitas guru kita bagus, ya gajinya diperbaiki donk

  12. Otak manusia memang terbatas kok pak. Ibarat hard disk. Ketika sudah penuh, maka file2 yang lama mesti dihapus dulu sebelum memasukan file2 yang baru. Sehingga sulit untuk dapat menampung semua memori sejak kecil hingga tua bangka. Yang pasti, moment2 penting biasanya lebih lama bertahan.

  13. pak urip yang ‘haus’ ilmu pengethuan aja merasakan ini, gimana yang cuma kerja santai2 dengan gelar2nya itu ya? 😕

  14. Banyak benernya Pak…

  15. iya, ya…? guru kan siswa juga…. 🙂

  16. Ah wajar saja kalau banyak yang lupa. Karena ketika bekerja orientasi permasalahan leboh fokus. Tidak sebagaimana kalau kita kuliah, hampir tiap semester materinya ganti. Lagian siapa yang sanggup menguasai semua ilmu yang pernah kita peroleh di S1,lha wong dosennya aja banyak & mereka aja juga lebih fokus pada 2 -5 mata kuliah. Jadi menurut saya ya normal-normal saja.

  17. ini semua salah sapa,apabila terjadi degradasi?
    sedangkan dalam perkuliahan dengan kurikulum yang kurang menyengkan dan kurang pas dengan praktek lapangan yang terjadi.
    bahkan mahasiswa yang melaksanakan PPL tidak sesuai dengan ilmu yamng didapat di bangku perkuluiahan.
    bahkan di perkuliahan tidak hanya kurikulum yang menjadi faktornya,
    selain itu banyak faktor lain seperti kebijakan kampus yang tidak mendukung dengan siswa, sarana, informasi dll.
    jadi salah sapa??????????????????????????????????????????

  18. salam kenal……tukeran link yukkkkkkk