Ganjil itu Sekarang Sudah Lazim

“Ujian jaman dulu adalah ujian yang ujian. Ujian jaman sekarang (ujian nasional) adalah bukan ujian”. Meskipun banyak yang benar-benar mengikuti/melaksanakan ujian. Karena takut tidak lulus ujian maka proses belajarnya yah tetap begitu-begitu saja. Tetapi ini justru dimanfaatkan pihak LBB untuk mengeruk uang siswa yang ingin lulus ujian. Jaman dulu sangat jarang ada pemberian tambahan jam belajar alias les atau les privat atau bimbingan belajar. Semua pembelajaran dilakukan dengan serius di saat bersekolah.

Guru jaman dulu akan marah saat melihat siswanya menyontek saat ujian. Guru sekarang malah ada yang membiarkan bahkan memberi tahu jawaban saat ujian nasional. Motifnya apa lagi kalau tidak demi dan demi yang jelas-jelas tidak manusiawi. Bahkan dengan cara dan teknik apapun ia lakukan. Dengan dalih ah… yang lain khan juga melakukan itu, maka ada semacam kelaziman dalam melakukan tindak yang tidak mendidik itu. Tapi kalau saya amati pada saat ujian biasa, guru-guru yang semacam itu geram dan garang sekali kalau melihat siswanya menyontek. Berbeda sekali khan?! Tapi begitu ujian nasional mengapa banyak yang melakukan pembohongan secara berjamaah?!

Kalau itu menjadi budaya, maka pendidikan di negeri ini harus segera di bongkar. Sebab kalau pembohongan dalam soal ujian maka pembohong-pembohong pun akan semakin banyak terlahir dari hasil didikan yang penuh kebohongan. Duuuuh…!

25 responses

  1. melakukan pembohongan secara berjamaah?!

    walah ngeri pak. lha terus gimana tuh kelanjutan kasus pembohongan berjamaah itu pak, maksudnya tanggapan guru-guru lain?

  2. Sepertinya hal ini masih berkaitan dengan salah satu kalimat di tulisan Pak Urip sebelum ini:

    Mungkin ini hasil kuliah yang dominan mengejar nilai dulu,

    Semua “kekacauan” ini terjadi karena semua berorientasi pada nilai
    Sampai saat ini di negara kita bilangan-bilangan yang tertera pada daftar nilai siswa (apalagi saat kelulusan) memiliki kasta tertinggi
    Beginilah jadinya kalau pengukuran kualitas pendidikan hanya sebatas lembaran kertas saja…
    Sebenarnya susah juga menanggapi masalah ini..karena apa yang dilakukan para guru dan siswa tsb hanyalah sekedar mencoba berpikir realistis (–> nilai adalah sebagainya). Tetapi sayangnya pikiran realistis tersebut tidak diwujudkan dengan cara2 yang idealis (baik)…
    Kerusakan kalau sdh menjadi suatu sistem ya kayak gini ini

  3. degradasi moral ?
    pergeseran nilai-nilai ?
    orientasi target ?
    sistem yang amburadul ?
    atau ?

    Padahal mau kemana bangsa ini berawal dari dunia pendidikan….

  4. Betul pak Urip, kayaknya pendidikan sekarang sudah terseret arus komersialisasi yang sayangnya mengabaikan nilai-nilai kejujuran dan moralitas. Saya ingat waktu jaman saya SMA di akhir tahun 80 an, tanpa ikut les ini itu dan hanya mengandalkan belajar di kelas saya bisa lulus ebtanas dengan nilai yang baik. Dan waktu itu rasanya kecurangan pada waktu ujian boleh dibilang tidak ada.

  5. Guru sekarang malah ada yang membiarkan bahkan memberi tahu jawaban saat ujian nasional

    Mindset guru yang harus dirubah kali pak, bukan bertumpu pada hasil tapi lebih kepada proses belajar mengajarnya. terlepas dari faktor sengaja atau tidak, tapi memang sistem pendidikan di negeri inilah yang amburadul. Dinas P&K sebagai lembaga yg seharusnya bertanggung jawab, ada kesalahan sistem disana.

  6. Sayangnya, bagi guru yang berprestasi mendidik murid-muridnya dengan sukses dengan cara yang jujur, dan ketika 7 muridnya meraih the best seven dalam try out UAN beberapa waktu yang lalu, sang guru ini malah dicurigai melakukan kecurangan. Padahal, itu adalah murni hasil sang anak didik. Nggak dihargai, malah dicurigai. Walah.. serba salah!!! Benar salah.. salah pun tambah salah.. Endonesaah.. endonesaaah….

  7. Duuuuuuuh
    *ngurut dada*
    Susah juga ternyata….

  8. Ketika ulangan, guru bisa ngamuk kalau siswanya nyontek tapi di UAN, kok ada yang begitu, ya…? 😦
    Atau… karena UAN tidak melibatkan guru secara emosional? Jadinya guru tidak punya tanggungan atas proses pengujian, yang penting melaporkan hasil (nilai, angka)? Lalu proses penyelesaian masalah tidak termasuk yang diujikan?

    Atau lagi… dalam sebuah ujian, jangan-jangan penilaian (yang disederhanakan dengan peng”angka”an) setara dengan penghakiman?
    Guru + siswa sama-sama melihat UAN adalah beban kredit yang bisa berakibat pembunuhan karakter (baca: mateni pasaran)?

    Makin banyak pertanyaan, makin bingung menjawabnya mulai dari mana… saya sudah cekelan tapi kok tetep bingung ya, Mas…? 😦

    note: saya juga guru lho, Mas… yen mingGU tuRU… πŸ˜€

  9. Salam Kenal dari bloger pemula, iya pak guru..memang dunia pendidikan di negara kita ini lagi morat-marit. sistemnya ga pernah tetap selalu ada perubahan (klo perubahannya baik sich gpp..nah ini…tau sendiri dech) atau mungkin ini konspirasi agar masyarakat indonesia teteup bodoh yach? Buktinya banyak orang-orang pinter kita yang dibajak negara lain dengan alasan penghidupan yang layak. Nah dinegeri sendiri tinggal yang idealis dan yang sisa-sisa rata2 penjadi pendidik karena terpaksa. Eh ditambah pejabatnya pada korup……..!! Dunia pendidikan Indonesia, dimana engkau? masa mo bodoh terus bangsa ini. 😦

  10. Bangsa ini sudah benar-2 rusak. Sisi mana sih yang sekarang bisa di bilang baik.

  11. » prayogo:
    sisi blogger yg mau mengupas kejadian2 ‘budaya’ nyata spt yg ditulis pak guru dkk, dan masih banyak lg kebobrokan lainnya
    semoga kita semua makin melek

    jalan keluarnya? usul? saran?

    apakah pendidik2 spt pak guru urip dkk pernah mendiskusikan hal ini dg sesama guru di sekolah?
    hasilnya gemana ya?
    apakah klpk yg mendukung ‘kejujuran’ lbh banyak?
    apakah ada ide nyata yg dipraktikkan di sekolah?
    (dl sering denger keluhan yg sama dari orangtua yg guru jg.. πŸ˜€ )

  12. Hmm… sepertinya perlu ada revolusi di bidang pendidikan.

  13. #Dani Iswara:
    Saya yakin sudah lengkap dibahas A sampai Z-nya pak. Tapi, seperti halnya dialog di metrotv dan sctv, pada akhirnya solusi yang konklusif pun akan menguap sia-sia. Perlu energi yang sangat besar untuk bisa menjadikan sistem yang lebih baik. Tak semua bisa berjalan dengan ideal seperti yang diharapkan. Terlalu banyak faktor yang mempengaruhi, baik teknis dan non teknis. Pada akhirnya saya hanya berharap (meskipun klise), semua bisa memperbaiki mulai dari diri kita sendiri dan lingkungan kita sendiri. Hal yang kecil ini, belum tentu bisa kita perbaiki. Kalau idealis kita bilang keadaan seperti ini tidak sesuai, ya kalau bisa kelas kita dan sekolah lingkungan tempat bekerja kita tidak sama seperti itu dan berjalan seperti yang ideal menurut kita. itu saja saya rasa, sudah memerlukan kerja yang amat keras. πŸ™‚

  14. Apa mau dikata. Demikianlah sekelumit gambaran dunia pendidikan kita.
    Kualitas pendidikan kita semakin tertinggal. Pendidikan kita semakin tidak berkah.
    Gimana mau berkah, la wong saat mau masuk sekolah dasar aja udah pake sogok menyogok segala.
    Bermacam alasan dikemukakan oleh pihak sekolah, kekurangan bangku, usia belum cukup 7 tahun (walaupun cuma kurang 1 bulan) dan segala macam alasan lain.
    Bahkan guru TK pun selalu mencari cara untuk terus mengeruk uang dari orang tua murid.
    Ya.. banyak keganjilan memang dalam dunia pendidikan kita.
    Murid2 tidak lagi bisa diharapkan untuk menghormati para guru.
    Zaman dulu, murid selalu bersembunyi jika melihat sepeda yang dikendarai guru dari jauh.
    Zaman sekarang?
    Murid akan menyerempet sepeda motor sang guru dengan mobil BMW-nya, karena dia merasa punya andil besar supaya sang guru bisa beli sepeda motor.
    Keganjilan demi keganjilan semakin lazim terbentang di depan kita. Terus kita mau apa?
    Apa sumbangsih kita agar bisa mengurangi keganjilan demi keganjilan tersebut?

  15. Apanya yang salah, ya, sehingga menimbulkan kondisi seperti ini ? Budaya hedonis, permisif sebagai akibat peranan media-kah ? Tak cukup memang dengan sekedar menyalahkan. Semoga masih banyak pendidik seperti Pak Urip, Wak Guru, dll.

  16. mumet mikirkan pendidikan kita, kayak benang kusut semakin kita cari kar penyelesaian semakin tambah ruwet, malahan kemarin UNAS di gugat sampai tingkat MA, anehnya pemerintah malah kalah gugatan,…susah…memang…..

  17. pusing dengernya πŸ™‚

  18. Bapak termasuk guru yg bagaimana?

  19. adakah pembaca “islam” minoritas, pls … ?

  20. Untuk semua:
    Duh banyak tanda tanya … nanti saya jawab dengan postingan saja deh.

  21. iih aku geli n merasa aneh. kog sekarang segala UAN atau UN dipermasalahkan? udah deh temen2 guru nagajar aja yang bagus tak usah ikut2an protes gini protes gitu cuma ngabisin energi aja, lebih baik kita gembeleng siswa2 kita agar jadi pintar. Dulu juga ada ujian nasional ngak ada eribut2, lulus bagus…. ngak lulus nasib punya guru geblek.

  22. Maaf …. sudah lama saya absen karena sibuk persiapan LCEN ITS.
    Itu namanya guru kencing berdiri murid kencing berlari. Lebih parah lagi bisa menjadi guru kencing berlari murid kencing lompat tinggi. Yang paling parah, guru kencing berdiri murid kencingi guru. Salam eksperimen pak.

  23. Bagaimana guru bisa terus mengajar dengan baik, kalau pada akhirnya apa yang diajarkan itu tidak berguna (kasarnya begitu)? Kenapa repot-repot belajar fisika, kalau pada akhirnya tidak bermanfaat setelah siswa menamatkan sekolah? Bergunakah ilmu fisika ini bagi anak-anak nanti? Begitu yang sering saya tanyakan pada diri sendiri setiap kali mengajar dan anak-anak menunjukkan ekspresi yang ‘aneh’. Buktinya, untuk lulus dari SMK (tempat mengajar saya), fisika sudah tidak masuk dalam hitungan… Sedikit yang mau peduli akan fisika (setiap menjelang UAN, jam fisika ditiadakan karena siswa harus KONSENTRASI mempelajari tiga mata diklat yang di-UAN-kan.

    Oke, sepertinya ini sudah agak jauh menyimpang… Maksud saya sebenarnya ingin mengomentari pak Feriansyah di atas. Menurut saya, tugas guru itu TIDAK HANYA SEKEDAR mengajar. Menurut saya, guru itu bertanggung jawab untuk membimbing anak-anaknya menjadi LEBIH baik. Dan, teman-teman guru yang mempertanyakan sistem kelulusan itu sedang berusaha memenuhi kewajibannya…

  24. buat apa siswa repot-repot belajar fisika,kimia dan biologi kalo udah lulus jadi cleaning servis,coba bayangkan,ada tidak orang ngepel lantai pake rumus fisika,biologi dan semacamnya.
    sangat disayangkan jika ilmu yang sudah susah-susah di tuntut selama bertahun-tahun disekolah tidak berguna,
    saya juga pusing,buat apa saya belajar dengan susah payah kalo ilmu yang saya dapatkan di sekolah tidak berguna buat masa depan,dan bahkan ilmu tersebut engga menjamin seseorang dapat kesuksesan hidup.
    menurut saya
    cuma skill/keahlian yang dibutuhkan,buat apa orang pintar-pintar menghafal rumus kalau tidak punya skill,ujung-ujungnya pasti nganggur
    tanya kenapa?