Ujian Nasional dan Isu Pemilu 2009

Membaca editorial pagi Media Indonesia pagi ini (2 Juni 2007), rupanya ujian nasional sangat penting untuk dijadikan salah satu program yang sangat krusial dan strategis untuk tawaran selama kampanye nanti. Betapa tidak, ternyata presiden Indonesia ternyata tidak memihak kepada rakyat. Tentang Ujian Nasional telah terjadi pelanggaran undang-undang yg dilakukan pemerintahan sekarang. Yang menggelitik dari editorial pagi Media Indonesia ini adalah pesan untuk memilih presiden dan wapres yang akan memprogramkan penghapusan praktek ujian nasional seperti sekarang ini.

Tetapi hal ini masih memungkinkan buat presiden SBY di akhir masa kekuasaannya untuk membuat rombakan sistem pendidikan terutama dalam hal ujian nasional. Ini tentu jika pak SBY masih berharap untuk menjadi presiden kedua kalinya. Setidaknya hal ini menebus kesalahannya dalam berbagai persoalan yang ditimbulkan akibat kebijakan pembantunya sang menteri pendidikan.

Sebenarnya kalaupun tidak mau dikatakan salah sama sekali, bahwa ujian nasional ini bisa berjalan mulus, tapi vonis akan ketidak lulusan itu sangat berat dirasakan yang berakibat pada tindak kecurangan disana-sini. Kecurangan yang dilakukan para siswa dan beban pihak sekolah. Semua itu karena hanya berharap untuk lulus maka berbagai tindak kecurangan berjenjang dilakukan mulai oleh siswa, pihak sekolah dan kejenjang yang lebih tinggi. Apalagi kalau tidak untuk menyelematkan jabatan/posisi dan juga “asal bos senang”.

Sulit untuk berharap tentang kejujuran yang bisa dilakukan pihak siswa, orang tua, pihak sekolah dan pejabat pengambil kebijakan jika selama ini sistem ujian nasionalnya seperti saat ini. Kewenangan guru soal hak untuk meluluskan atau tidak meluluskan siswanya telah dirampas pemerintah. Sementara fasilitas pendidikan belum ada pemerataan sehingga ketimpangan2 itu tidak bisa di gebyah uyah dalam soal standarisasi nilai kelulusan ujian nasional. Sekali lagi jika ada capres dan cawapres yang memiliki keperdulian sejak sekarang terhadap carut-marut ujian nasional ini, maka ini akan menjadi pertimbangan penting dalam menentukan arah pendidikan lebih jauh arah pembangunan manusia.

Please donk….ah…

Iklan

33 responses

  1. Masih kurang juga korbannya,
    Kalau pendidikan di jadikan komoditas politik ya begini jadinya

  2. padahal 2010 udah dekat…. boro2 pendidikan berbasis kompetensi…. standar kelulusan aja masih jadi masalah…. hapusin aja SMU, SMP….buat kayak dulu lagi…kejuruan mulai SLTP

  3. masalah pendidikan menjadi hal yg terus diperdebatkan dari tahun ke tahun.. gimana pendidikan kita maju..
    dana 20 % buat pendidikan aja blum terealisasi.
    apalagi masalah standarisasi…

  4. wahhh.. dunia pendidikan masih jauh dari harapan

  5. Ini kalau bukan ahlinya memimpin lembaga yang berada di luar bidangnya. Anak sekolah, guru, dan lembaga dianggap mesin ekonomi yang harus terus kerja dan langsungmenghasilkan yang bisa dijual. Apa bisa dalam dunia pendidikan?

  6. […] lain, cara pandang mengenai Ujian Nasional ada di sini. Kita tahu kearifan adalah fosil sudah menjadi fosil.  Menegakkan kebenaran adalah menegakkan […]

  7. AARRGGHH…
    kesel liat pemerintahan indonesia
    gak maju2…
    *sigh*

    ndang lulus, rek! 😛

  8. ya gitulah kalo pendidikan sudah jadi komoditas politik. makanya bangsa kita gak bakalan maju-maju. Lihat tetangga kita Malaysia. dulu dia belajar ama kita sekarang terbalik kita yang belajar sama dia.

    oh ya temen-temen yang punya contoh soal olympiade matematika dan sain smp tolong dong kasih tau dimana saya bisa donlot.
    or kirim juga boleh ke emailku : semar_mendem94@yahoo.com

  9. Pak, masalahnya karena lulus-taklulus ditentukan oleh UN ya? Memang betul sih, sangat terasa tidak adil. Karena nilai toh tidak menggambarkan semua. Bisa saja (selain mencontek) karena sedang sakit atau dirundung masalah makanya jadi jelek nilainya.

    Tambah kacau yang membongkar masalah justru dikecam. Berarti pendidikan yang harusnya jadi ‘ajang pembenaran’ justru menjadi ‘ajang kesalahan’. Gimana ini?

  10. gak masalah kalau mau ada UN, asal standar+soalnya dibedakan antara sekolah dengan status terpencil lagi ndeso yang fasilitasnya terbatas dengan sekolah standar nasional apalagi sekolah bertaraf internasional trus diberi kesempatan ikut ujian perbaikan bagi yang gagal (tapi jangan lama2 ntar basi). kasian yang udah sekolah 3 tahun, begitu enggak lulus, trus ikut ujian kejar paket, ehh ternyata ijazahnya juga kejar paket. padahal dari awal masuk kan pengin lulus dan memperoleh gelar alumni sekolah tersebut bukan alumni kejar paket.

  11. ada hal yang masih menjadi pertanyaan saya. Pada UAN 2006 lalu, sejumlah siswa yang dikenal pandai dan berprestasi, bahkan sudah diterima di beberapa perguruan tinggi terkemuka, justru mengalami kegagalan dalam UAN. Meskipun segala sesuatu dapat terjadi, sangat sulit dipercaya anak-anak yang sehari-harinya berprestasi, justru gagal dalam UAN. Dan komentar dari Wapres justru tidak memberi dorongan semangat, tetapi semakin memperburuk suasana dengan menuduh mereka yang tidak lulus karena malas dan lain sebagainya. Apakah benar demikian, atau nasib baik sedang tidak berpihak pada mereka? Fenomena apa ini? Sebagai orang tua, ada kekhawatiran menjelang tanggal 16 Juni ini. Tapi saya berusaha pasrah, anak saya telah berusaha selama 3 tahun di SMU, saya telah menanamkan nilai kejujuran padanya, dan Insya Allah dia juga tidak terlibat “pembagian” sms (gerakan fajar menjelang UAN). Saya masih memiliki keyakinan, Allah akan memberikan yang terbaik bagi yang berbuat kebaikan. Amin3.

  12. Repot juga dengan sistem pendidikan di Indonesia.

    Kadang dalam ujian semesteran aja ada guru yang memberi bocoran kepada muridnya agar dianggap guru tersebut berhasil mendidik muridnya karena muridnya berhasil menyelesaikan ujian dengan baik.

    Bahkan nilai harian yang disetorkan kepada DIKNASpun penuh manipulasi agar dianggap sekolahnya yang terbaik karena nilai muridnya bagus semua.

    hanya Allah yang dapat menyadarkan semua orang-orang di seluruh Sekolah dan DIKNAS di Indonesia.

    Amin Ya Robballamin

  13. Seharusnya UAN itu tidak bisa menjadi patokan atas kelulusan siswa sekolah karena apa ?
    1. Matapelajaran disetiap sekolah berbeda baik bukunya maupun pengarangnya, jadi di Indonesia tidak ada standard risasi buku, yang harusnya seragam, jika terjadi seperti ini akan banyak terjadi ketimpangan terutama adanya kolusi dan diharuskan memakai buku ini. Perkara tidak sampai disitu akan terjadi kolusi lagi antara penerbit dan sipemakai, seperti ini akan terjadi mata rantai yang selalu berkesinambungan. Akhirnya pendidikan kita tidak sehat MURID SEMAKIN BODOH, yang kasak kusuk semakin kaya.

    2. Kata presiden kita harus melek Komputer, OK sekarang sudah pada melek, yang kami sayangkan INTANSI yang memeriksa hasil UN sampai 1 bulan kenapa ?, katanya sudah komputerisasi kenyataan kembali kezaman batu, ternyata sampai sekarangpun PELIT banget WEBSITEnya hasil UN saja belum diberitahu. Sebenarnya kerjanya apa saja sih, sampai 1 bulan memerik hasil UN, apa mengasih kesempatan kepada orang yang sekiranya siapa bisa merubah angka.

    3. Semua itu permainan, sebenarnya tidak perlu ada UN hanya menghabiskan Uang Negara. Kembali seperti dahulu meskipun pakai mesin TIK tetap lebih cepat dari pada pakai komputer malah lebih Lambat.

    4. Kasihan pendidikan Indonesia menjadi permainan oknum-oknum yang mengeruk keuntungan, biaya sekolah lebih mahal, gimana orang miskin sekolah biaya masuk SMA saja bisa jutaan, kalau ada hasil tidak masalah.

    5. Sekolahan di Indonesia seharusnya ditiadak masalah sekolah UNGGULAN, yang berhak menyatakan SEKOLAH UNGGULAN adalah ada kreterianya, jadi yang mengawasi UNGGULAN atau bukan serahkan kepada ORANG-ORANG INDEPENDENT, kalau orang INDEPENDENT masih bisa di SOGOK, bubarkan saja tidak perlu ada sekolahan, belajar masing-masing.

    6. Di kita ini orang kaya yang mendapatkan uang hasil dari pendidikan atau kepintaran paling cuma 25%, sisanya 75% TIPU SANA TIPU SINI., makanya sekolah itu tidak perlu pintar-pintar tidak bisa kaya. Contoh seperti peserta pemenang OLYMPIADE FISIKA dan MATEMATIKA gimana mereka tidak pintar dan mengharumkan nama bangsa, tetapi nasib mereka kasihan tidak mendapatkan fasilitas yang memuaskan.

    Sekian sampai sini saja, nasib yang tidak lulus UN bisa berdampak ke pada POLITIK.

    Wassalam,
    Care Study

  14. k`lo mo hasil yang bekualitas, tingkatin dulu kualitas yang buat dunks. k`lo dah kualitas metode yang dihasilkan pun akan b`kualitas hasilnya moga juga ga jauh2 dari kualitas. k`lo belum b` kualitas kan masih ada usaha untuk menjadi b`kualitas_Yuks maju berzama-zama_(^_^)

  15. Ketertutupan informasi dalam penerimaan siswa baru PSB membuka peluang terjadinya manipulasi, khususnya dari aspek pungutan biaya pendidikan. Kondisi ini memperparah kerugian masyrakat, terutama mereka yang tidak mampu secara ekonomi (Kompas, 29/6/2007). Jika sekolah konsisten dengan MBS, maka pungutan sekolahpun harus jelas dan itupun harus mendapat restu dari komite sekolah.
    Merujuk pada Amanat UUD 1945 Pasal 31 ayat 1 dan 2, bahwa (1) setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan, (2) setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya. UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 5, ayat (1) menyatakan bahwa “Setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu”, dan pasal 11, ayat (1) menyatakan “Pemerintah dan Pemerintah Daerah wajib memberikan layanan dan kemudahan, serta menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu bagi setiap warga negara tanpa diskriminasi”. Dalam konteks ini, pada prinsipnya sekolah didirikan sebagai upaya untuk meningkatkan akses masyarakat, khususnya siswa dari keluarga miskin atau kurang mampu terhadap pendidikan yang berkualitas dalam rangka penuntasan wajib belajar sembilan tahun
    Situasi perkembangan pendidikan kita sekarang, menunjukkan salah satu rutinitas yang menarik bahwa pada setiap permulaan tahun, hampir di seluruh Indonesia penerimaan murid baru senantiasa menjadi topik yang hangat. Sebabnya ialah, jumlah calon murid yang mendaftar jauh lebih banyak daripada kemampuan daya serap sekolah-sekolah yang ada. Persoalan ini, pada umumnya lebih hangat di tingkatan SLTP dari pada SD, lebih hangat ditingkatan SLTA daripada SLTP, dan yang paling hangat adalah di tingkatan perguruan tinggi; karena jumlah tingkatan pendidikan yang lebih tinggi tidak sebanding dengan jumlah lulusan atau sering disebut dengan piramida terbalik. .
    Pada masa depan, persoalan ini nampaknya akan lebih hangat lagi, oleh karena pertambahan penduduk jauh melebihi pertambahan kemampuan fasilitas. Maka persaingan untuk mendapat kesempatan melanjutkan pendidikan akan makin keras lagi. Mengambil istilahnya Darwin “Siapa yang kuat dialah yang menang/diterima” apabila hal ini tidak diimbangi dengan kebijakan pemerintah yang komprehensif nampaknya penulis sekali “tidak yakin” kalau cara yang dipakai selama ini tetap dilakukan.
    Kebijakan yang ditempuh sekarang, karena tidak mungkin seluruh calon itu dapat ditampung, maka diadakanlah seleksi dengan pokok pikiran bahwa hanya murid yang tergolong terbaik saja yang akan diterima. Artinya hanya yang cerdas, pintar, dan mempunyai komitmen akan perkembangan bangsa ke depan dari pada menampung semua siswa yang belum tentu juntrungnya, sehingga efektivitas dana pendidikan yang selama ini dikeluarkan tidaklah sia-sia.
    Cara seleksi yang dilaksanakan sejauh sampai sekarang ini menjadi sangat menyimpang dari tujuannya yang semula itu. Setiap orang mengetahui bahwa di sekolah-sekolah diadakan berbagai ujian, ada ujian/ulangan umum, ada ujian semester, dan ada ujian akhir yang lebih umum disebut NUN atau UPM. Dalam hal ini, keinginan untuk melanjutkan pelajaran, NUN itulah yang seyogianya sebagai ujian akhir, ternyata bukanlah yang terakhir, melainkan ujian seleksilah yang terakhir.
    Nampaknya kasus ini merupakan suatu argumentasi yang minor, karena sekalipun dengan tes-tes yang telah di standartkan, dengan nilai objektivitas, reliabilitas dan validitas yang tinggi, senantiasa akan ada pengecualian-pengecualian, sesuai dengan tingkatan keprcayaan yang dimaksud, sehingga mungkin saja seorang yang terpandaipun akan kalah juga. Pendirian seperti ini dalam kebanyakan hal dapat diterima, akan tetapi mengingat bahwa bahan ujian seleksi murid baru belum pernah di standartkan, maka cara seleksi itu harus ditinjau lagi. Disamping itu adalah pada tempatnya, pengecualian-pengecualian yang mungkin terdapat pada tes-tes yang telah di standartkan, seharusnya dipertimbangkan juga, sehingga tidak akan terdapat keadaan yang ekstrem seperti halnya tidak lulusnya seorang murid yang terpandai.
    Kebiasaan membuat ujian seleksi, bersumber pada dibutuhkannya kualifikasi tertentu oleh berbagai instansi, seperti halnya oleh AKABRI. Kualifikasi itu dahulunya terutama bersifat jasmani dan IQ. Sekarang, kita semuanya ikut-ikutan mengadakan ujian seleksi, tetapi kualifikasi yang kita kehendaki tidak tentu rimbanya.
    Bagaimanapun juga seleksi penerimaan siswa baru harus dibuat. Akan tetapi jangan dengan ujian seleksi sebagaimana biasa dilakukan sekarang. Ujian seleksi adalah satu kali moment opname. Karena dibuat oleh masing-masing sekolah sehingga sangat bersifat lokal dengan nilai bahan ujian yang diragukan, berhubung dengan standar ujiannya tidak pernah dibuat, dan karena telah ada ujian-ujian semester dan EBTA, ujian seleksi patut ditiadakan! Sebagai penggantinya, harus dibuat satu cara seleksi yang lebih baik dan lebih adil.

  16. Tentang sistem pendidikan dan janji SBY banyak dibahas dalam buku ini. Semoga Anda dapat menarik banyak manfaat dengan membaca buku ini:

    JUDUL BUKU: Janji-Janji & Komitmen SBY-JK (Ed.2), Ternyata Hanya Angin?
    PENULIS: Rudy S. Pontoh
    PENERBIT: Boki Cipta Media, Jakarta
    PERANCANG SAMPUL: Ledi Raja
    EDISI: Edisi Kedua
    ISBN: 978-979-17267-0-2
    TEBAL: xxvii + 214 halaman
    HARGA: Rp 58 ribu
    SITUS: http://janjisbyjk.blogspot.com/
    VIDEO: http://video.google.com/videoplay?docid=5082121726125137105
    EBOOK: http://www.driveway.com/c4u4b1u2l3
    EMAIL PENERBIT: bokicipta@gmail.com

    CATATAN: SBY-JK= Susilo Bambang Yudhoyono – Jusuf Kalla (Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia).

    Buka situsnya dan simak testimoni dan silang komentar mengenai buku ini dari para tokoh dan pembaca: Prof. Dr. Siti Musdah Mulia, M.A (Aktivis), Usman Hamid (Koordinator Kontras), Ratna Sarumpaet (Aktivis dan Seniman), Sys NS (Ketua Umum DPP Partai NKRI – Negara Kesatuan Republik Indonesia), Prof. Dr. Amran Razak, SE, MSc (Guru Besar FKM Universitas Hasanuddin Makassar), Vera T. Tobing, SH (Advokat pada Kantor Pengacara Vera Tobing & Patners Jakarta), Dr. Taruna Ikrar, M.Pharm., Ph.D (Founder CFIS, Jepang), Ahmad Ushtuchri, SE (Pimpinan Pondok Pesantren di Bekasi), Prof. Dr. Maizar Rahman (Gubernur OPEC), Mohammad Aqil Ali, SH (Advokat pada HWS & Partners, Wisma Kemang, Jakarta Selatan), Andi Alfian Malarangeng (Juru Bicara Presiden RI), M. Farhat Abbas, SH (Advokat pada Kantor Pengacara Farhat Abbas & Rekan), Ratih Sanggarwati (Artis dan Pengusaha), Josephine Mathilda (Aktivis Persaudaraan Poso), Wimar Witoelar (Tokoh Terkenal), Muhammad Ikbal, SH (General Manager PT BBS), Mulyani Hasan (Penulis dan Wartawan Bandung), M.Dahlan Abubakar (Staf Pengajar Fakultas Sastra Unhas Makassar), Dedeng Z (Staf Pengajar Fak. Hukum UNSRI), Dr. Anwar Wardy W, Sp.S, DFM (Badan Narkotika Nasional), Abd. Farid, SH (Jaksa pada Kejaksaan Negeri Cikarang), Zikroen Habibie (Aktivis Forum Poso Bersatu), Ardian Arda (Sekretaris Umum DPD I HMPII), Sopian (LG Electronics Indonesia), Wahyu Kuncoro, SH (Konsultan Hukum di Tangerang), Lambertus L. Hurek (Redaksi Berita di Radar Surabaya), dll.

  17. gak usah takut ujian nasional, yang penting belajar…seperti kata lagu. masih ada waktu.

    Mas kl ada info un aku dikasih tau ya…

    ini blog ku ; rasydprabawa.wordpress.com

    matur nuwun

  18. peduli pendidikan

    hadohh masalahnya aja di dunia pendidikan sekarang aja kepala sekolah nya aja korupsi gimana pemerintahnya?pikirin dulu tuh yang mendidik baru deh silahkan kalo mau ngadain uan. bagaimana nih negara mau maju ya?harusnya dunia pendidikan juga diperiksa sm KPK. Ayo KPK periksa tuh smp-sma yang dijakarta banyak tuh yang korupsi. sedih melihat bangsa yang penuh dengan KORUPSI

  19. EVERYBODY…
    Apakah pantas hasil belajar selama 3 tahun hanya ditentukan dalam 90 menit saja? Itu sangat tragis bila kita pikirkan secara mendalam. Bukankah kita belajar untuk pandai, bukan untuk mendapatkan gelar atau jabatan. Bagaimana kualitas individual masyarakat Indonesia dapat maju jika pendidikan hanya dijadikan sebagai syarat untuk mendapatkan pekerjaan, bahkan peghidupan yang layak..???????

    (^_^)

  20. Menurut gw gak penting banget UAN klo ujung2nya gak da artinya..
    Buat pa ujian Nasional segala klo pemerintah ja gak perduli ma masa depan Negaranya sendiri..
    Gak da artinya sekolah pake Ujian Nasional..tapi negaranya gak pernah sadar dan maju…
    “capek deh’

  21. Dalam 6 pelajaran untuk UAN???
    Lebay tuh pemerintah??
    Bagi gw yang penting tahu pelajaran n ngerti tentang pa yang dipelajari..gak perlu pake UAN segala..
    Masa sih..hasil belajar 3 tahun hanya terpaku pada 6 mata pelajaran agar lulus!!!!!!!gmana yang selalu jadi juara basket?Voli? n yg lainya?tapi,waktu ujian mereka gak ada ujian basket??ujian Voli??
    gmana???
    pemerintah mang gak pantes buat bikin peraturan kayak gitu..tapi sama ja banyak soal yang bocor??

  22. Klo Boleh Ngasi saran mending UN ga usah di adain…. Bikin stress aja mana cmn dikasi waktu 3 hari untuk ngerjain soal yg dipelajari selama 3 tahun. negara pinginya tau beres aja ga liat keadaan pendidikan negara sendiri tiap tahun ganti kurikulum. buku yg bekas kaka kelas g bsa di pake karena ga ada matery yg sama.ada juga cmn dikit …. kerja pemerrintah ngapain aja sih~…. ga liat, emangnya semua sekolah di Indonesia sama fasilitasnya sampai” materi UN di sama ratain aja …..
    dah ilangin aja UN biar sekolah yg mutusin layak ngganya siswa lulus ataw ngga, krn cmn guru tersebut yg tau gmn kondisi murid tersebut negara urusin aja krisis ekonomi yg ga ada kelarnya (klo bisa buku materi di sama ratain se indonesia biar kurikulumnya ga acak-acakan tiap tahun)

  23. eh… gara gara pemilu 2009 UN di pajukan jadwalnya Arrgh makin stress gw

  24. yaelah masa UN masi ada , Gote ah mendung skull di luar negri klo masi kaya gini jd warga negara Indonesia susah..

  25. yang jelas un tuh udah kebukti bikin stress semua orang
    khususnya pelajar2 di indonesia
    kalo mau ngukur tingkat pendidikan di indonesia, un tuh gag bisa dijadiin tolak ukurnya…
    buka mata lebar2 donk!!!!!
    kalo masii ada nyontek, buka buku, atau bocoran, gmana bsa ngukur kualitas pendidikan???
    yanng ada ngukur kretifitas anak untuk MEMBOHONGI DIRINYA SENDIRI, ORANG LAIN DAN TUHAN…
    ok lah, boleh ada un…
    tapi jangan dijadiin SATUSATUNYA SYARAT untuk lulus sekolah donk…

    PERNAH GA PEMERINTAH MIKIR SAMPE SITU??????

  26. bener bgt…buat apa kalo gtu qta sekolah 3 tahun..knapa gak masuk skul 3 hari doank jaw???kan malah ngirit duit…

    q karang gey nempuh pendidikan di amrik..jd exchange student gtu…
    pelajaran Indonesia lebih susah dibanding sini…lebih pinter2 anak indonesia…

    tapi knapa harus ditentuin UAN doank???

    harusnya gak cuma UAN tapi semua aspek…jadi nilai rapot dari kelas 1 harus mempengaruhi…gagal UAN belum tentu gagal lulus…kalo nilai rapotnya bagus..kan bisa jaw orang bodo lulus UAn orang pinter malah gak lulus…pada setuju gak??????

  27. Pakar Pendidikan (Ngakunya hehe)

    Pendidikan di Indonesia memang masih mencari jati dirinya. Saya rasa, Laskar Pelangi Movie bisa dijadikan bahan pertimbangan para pembuat kebijakan di dunia pendidikan Indonesia.
    Kita lihat di sana:
    1. Guru harus bisa memberi semangat untuk maju. (tidak hanya sekedar memberi materi).
    2. Agama tidak bisa dipisahkan dari kehidupan sehari-hari.
    3. Budayakan gemar membaca.
    4. Kreatif dengan tidak mengekor ke budaya barat.
    5. Setiap anak sebenarnya mempunyai minatnya masing2 co. budaya, matematika, sejarah, dll.

  28. nischa_zieza@yahoo.com

    STRESSSSSSSS !!!!! UAN dimajuin …. benar2 udah kebangetan tuch pemerintah.

    gini nich akibatnya kalo pendidikan udah tercemar sama politik …
    masa gara2 pemilu, UAN sampe dimajuin…

    di sekolah2 banyak materi yg belum selesai, gimana coba ???
    semester ganjil ini aja harus selesai 5 bab, gila bgt kan, siswa2mya aj belom tentu ngerti !!!

    mendingan UAN dihapus aja dech coz ngerepotin doank, repot duit, repot tenaga, repot pikiran, pokoknya repot dech,,,
    semua dibikin pusing dari murid, guru, orang tua, tetangga, n keluarga oh iya,,, temen juga.

    KEJAMNYA PEMERINTAH !!!!! KALO GA LULUS KAN BUANG2 WAKTU, UANG N TENAGA AJA, PALING DAPET IJASAH PAKET, CAPE DECH !!!!!

    kalo kaya gini siapa coba yg mau tanggung jawab ?????????????

  29. msa’ udh bljr slama 3thn,klulusannya hny ditentukan slama 3 hri?
    pmerintah tw apa soal kemampuan murid?
    yg tw kemampuan murid tu ya guru yang ngajar.
    msa’ ada murid yg brprestasi tiba2 wkt uan ga lulus?
    kan ga msuk akal!
    oke klo pmerintah yg buat soal.
    tp jgn mrugikan murid2 yg brprestasi dlm bljr lah.
    dah brp byk korban gra2 ni smua?
    ksian tw!
    shrusnya pmerintah tu brpikir dampak ke dpnnya jg.
    jgn mentang2 pmerintah,mreka jd ngatur hidup pljr Ind.
    ga ngrasain uan ky’ gni sih!
    sbelum mlakukan ssuatu,pikirin jg efek ke dpnnya gmn!
    jgn main ngambil kputusan lgsg aj!

  30. lagi-lagi generasi muda (yang mestinya jadi penerus di masa mendatang) yang jadi korbann…
    bagi murid, UN bukanlah suatu masalah yang mudah, jadi ya butuh persiapan. intinya, ya gak nyambung aja kalo gara2 pemilu ujiannye kite2 yang jadi maju. andai pemerintah bisa tau kalo kita berteriak dalam diam.. wohaii!
    truss. kalo kita gak siap UN dimajuin gmana??
    bgmn dgn indonesia selanjutnya?
    dan,
    APA KATA DUNIA????

  31. pendidikan juga penting…!!!!!!

  32. Jangan politisasi ujian nasional hanya untuk kepentingan pribadi, golongan. Pikirkanlah rakyat yang sedang menderita, jangan tambah beban mereka.

  33. Anak didik/siswa = bahan baku yang akan diproses menjadi barang jadi