Ketidaklulusan Ujian Nasional Sudah Mulai Lazim

Hari ini saya melihat siswa-siswa saya dengan berbagai rona wajah. Hari ini adalah pengumuman kelulusan siswa SMA/MA. Delapan puluhan siswa mengikuti ujian yang akhirnya didapati 7 siswa yang belum lulus. Bagi saya itu adalah hal wajar, mengingat kondisi siswa, sarana, guru yang ada. Bagi siswa yang tidak lulus sekilas mereka biasa saja, barang kali mereka memang benar-benar menyadari akan kemampuannya. Tidak tahu bagaimana di sekolah lain.

Mengingat di sekolah saya tahun lalu jumlah siswa yg tidak lulus adalah 7 orang juga, jadi sepertinya itu adalah hal biasa. Meskipun kekecewaan sudah pasti dirasakan bagi siswa yang tidak lulus itu. Mungkin mereka telah sadar bahwa dirinya tidaklah bodoh, mereka hanya kurang serius dalam hal belajar. Tentu ini harus dijadikan bahan evaluasi juga buat semua pihak yg ada di sekolah terhadap ketidaklulusan siswanya.

Saya katakan lazim karena di sekolah saya tidak ada kejanggalan, misalnya siswa yg kesehariannya dipandang mampu kemudian tidak lulus. Semoga budaya tidak lulus bukan lagi dipandang ke-anehan, tapi justru kelaziman. Justru aneh bila ada sekolah yang siswanya tidak rajin belajar, guru dan sarananya apa-adanya, tiba-tiba lulus 100%. Meskipun ini banyak terjadi di sekolah-sekolah di daerah yang jaug dari pengawasan saat ujian.

Bila ada suatu sekolah yang demikian sudah dipastikan pasti terjadi ketidak beresan selama proses ujian atau setelahnya. Sepertinya ketidaklulusan adalah momok yang yang membawa aib bagi pihak sekolah dan diri siswa. Pandangan yang tidak 100% benar. Lebih tidak benar lagi bila ada sekolah yang guru-gurunya ikut sibuk mengerjakan soal demi membantu siswanya saat ujian.

Selamat buat siswa Indonesia yang telah lulus, bagi yang tidak lulus mesti sabar untuk belajar lagi. Itu adalah konsekwensinya demi perbaikan mutu pendidikan.

18 responses

  1. Mudah-mudahan begitu Pak.

    Dulu juga katanya, kata orang-orang jaman dulu, tidak lulus sekolah itu biasa. Dan tak masalah.

  2. Shobirin Saerodji Syakur

    betul Pak, memang namanya ujian ada yang lulus dan tidak lulus, lazim sekali. cuman karena selama ini hal lazim tersebut tidak dibiasakan jadinya sekarang ketika kembali lagi ke lazim ya kita-kita (para guru dan orang tua) ini jadi “adaptasi” lagi.

    ah … lama kelamaan nanti juga jadi lazim lagi …

  3. horeeee….adik saya lulus pak! 😀

    kesian juga liatin tingkahnya beberapa hari belakangan, kayak orang tegang gitu. apalagi pas hari sabtu ini, nungguin amplop lulus belon nyampe², ampe ga napsu makan daripadi (kesian yah).
    skarang udah lulus, malah kebingungan mo kuliah dimane. hahahahaha

    *lho kok jadi curhat di blog pak guru :p

  4. kalau diskul saya malah mantan ketua OSIS-nya tidak lulus.
    padahal anaknya pinter.
    Lha itu saya bingung ? hehe….

  5. Assalammualaikum Wr.Wb

    Pak, saya mau bertanya bagaimana hasil UNAS th 2006/2007 apakah meningkat?Pak apakah kita bisa melihat hasil UNAS melalui internet?dan saya minta situs yang bisa memberitahukan hasil UNAS.
    Saya kira ketidaklulusan itu memang lazim, sehingga kita semua harus berusaha semaksimal mungkin dengan belajar…..belajar…..dan trus belajar jangan sampe kita mengandalkan bantuan dari teman, kita juga harus berusaha dan berdoa okkkkkkkkkk!!!!

  6. Ngga’ lulus juga ngga’ pa-pa, meski sebagian orang melihat itu hina. Tapi yang penting khan apa yang telah kita miliki tinggal gimana kita makainya. Ngga’ lulus ? It’s Okay.

  7. Alhamdulillah juga Adik saya pun lulus 🙂

    Semua kebijakan yg diambil pemerintah itu punya trade-off (dilema). Namun bagi saya, kebijakan UAN : Lulus/tidak lulus. itu adalah realtif lebih baik daripada kebijakan 100% siswanya lulus. 🙂

  8. sepertinya memang lazim tapi hal itu belum bisa diterima baik oleh orang tua dan guru pada umumnya..apalagi oleh anaknya sendiri…momok kelulusan menjadi masalah besar untuk mempertahankan harga dirinya di depan teman-teman, orang tua dan guru….guru-guru juga akan sangat sedih bila mengetahui anak muridnya tidak lulus….gimana seharusnya?…..apa ini bisa di bilang lazim????

  9. Masukin juga blog saya di lingk Blog Guru ya?

  10. Masukin juga blog saya di lingk Blog Guru ya? http://www.mahdy.wordpress.com

  11. Waduh! Kalau menurut saya Kelulusan Ujian Nasional itu hukumnya suNNah yaitu kalau Lulus balasannya ya rasa bangga kalo nggak lulus ya mau gimana lagi setidaknya hal tersebut bisa dijadikan bahan pelajaran untuk menapaki jenjang kehidupan yang lebih tinggi, lagian kan nggak Lulus itu nggak dosa. Tapi itu semua Pak,tergantung persepsi setiap orang

  12. yap sekrng semakin parah saja..
    di kupang kelulusan 0%..
    saya sebagai murid sj prihatinn..

  13. Kalau sekolah kami UN 2007 ini nggak lazim alias nggak ada kecurangan sehingga nggak ada lulusannya. Kalau tahun-tahun sebelumnya terus-menerus ada kecurangan maka lulusnya pun 100%. Hal ini terjadi karena saya baru tahun pelajaran 2006/2007 ini menjabat sebagai kepala sekolahnya. Jadi saya masih mau lihat apa yang akan terjadi ke depan, maju atau mundur sekolah tersebut tergantung pada orang tua murid mau menyekolahkan anaknya disekolah yang jujur tapi susah lulusnya atau mau masuk sekolah curang yang gampang lulusnya. Kalau masyarakat memilih sekolah curang yang gampang lulus, maka tammatlah pendidikan di negeri ini.

  14. POLISI MASUK SEKOLAH, ANUGERAH ATAU BENCANA??

    Saya…guru tak bisa dipercaya…

    Setengah terpana saya melihat seorang polisi yang masuk sekolah dengan menenteng senjata apinya mengawal guru yang membawa soal, sungguh hati ini terenyuh, sebagai seorang pendidik saya merasa dicampakkan, betapa sang guru, sudah tidak dipercaya lagi sebagai orang jujur di negeri ini…Hari berikutnya saya melihat kawan-kawan di televisi mengatasnamakan Komunitas Air Mata Guru menangisi temen guru lain yang berbuat curang, betapa aku tersentak, sebegitu rusakkah moral para guru sampai tidak takut terhadap polisi?

    Entahlah apakah ini gugatan ataukah keluhan, dilamunanku muncul rentetan kata kata,…siapa sebenarnya yang tahu kondisi anak didik dikelas? apa sih maunya para birokrat yang memberikan kewenangan kurikulum tingkat satuan pendidikan kalau nasib anak ujung-ujungnya ditentukan hanya tiga hari dengan materi yang itu-itu juga? benarkah anak di jakarta dan di luar jawa mampu berkutat dengan soal diatas angka 5? kalau memang para guru tidak dipercaya, jujurkah para birokrat disana?

    Lamunanku semakin beranjak tinggi, ah seandainya bukan UN sebagai penjegal siswa yang berprestasi dibidang non 3 pelajaran itu, seandainya sekolah sebagai penentu kebijakan kelulusan, ah seandainya UN hanya sebagai parameter keberhasilan sekolah oleh pemerintah, seandainya UN diganti dengan uji sertifikasi siswa berprestasi masuk universitas, seandainya para guru mempunyai sikap mulia seperti komunitas para guru, seandainya para guru tidak merasa tega melihat anak yang sudah berkutat 3 tahun, yang jujur, yang sopan, yang tertib, yang begitu hormat, yang suka bermusik, yang suka meneliti, yang suka menggambar, yang penari, yang pecinta budaya pribumi yang hobby pramuka, paskibra, bela bangsa ternyata terjegal hanya karena tidak mampu berhitung dan ngomong bahasa orang, tentu tidak harus pak polisi repot-repot masuk sekolah, tidak perlu ada kecurigaan antar guru, tidak perlu ada kepala sekolah yang dipecat akibat terlalu sayang pada anak-anaknya…

    PERCAYA PAK! SAMPAI SAAT INI GURU MASIH MENJADI KOMUNITAS NEGERI YANG BERMORAL, YANG EMPATI, YANG INGIN MENSUKSESKAN TUJUAN PENDIDIKAN NASIONAL, IKHLAS BERKARYA, RELA BERGELIMANG PELUH, YANG SIAP MENCETAK GENERASI PENERUS SEBAGAI CALON PRESIDEN, MENTERI PENDIDIKAN, BAPAK GUBERNUR, BAPAK KANWIL, KEPALA SEKOLAH, PARA TPI, PARA POLISI…SEKOLAH TINGGI YA NAK, YANG JUJUR, YANG MAMPU BERBUAT BIJAK, JANGAN SEPERTI BAPAK DISINI…CUKUP BAPAK SAJA YANG JADI GURU…

    Lamunanku buyar ketika seraut muka dengan gemerincing perhiasan muncul tiba-tiba di depan mata, “Pak, katanya PSB sudah dibuka ya? saya mau daftarkan anak, tapi gratis ya pak, kan katanya sekarang sekolah itu gratis?””Alhamdulillah, iya Bu, sekarang pemerintah sudah banyak membantu kita, jadi anak Ibu tinggal ikut test saja besok”.”Aku meraih anak kecil itu dengan pandangan iba, “kamu nanti mau jadi apa nak, ayo cerita sama bapak”, Insya Allah dana BOS masih mencukupi untuk menghantarkan masa depanmu, tapi tolong ya nak, Bapak mohon jangan tertawakan Gurumu ini yang nanti pulang pake motor butut lain daripada Ibumu yang sanggup bayar tujuh kali lipat dari SPP tahun lalu…

    Aam Amarullah
    Be A Best Teacher Or Nothing

  15. Salam Kenal,

    Semoga dengan komunitas ini semakin memperkuat, memperkokoh, meningkatkan profesionalitas, kesejahteraan, penghargaan, kejujuran, keikhlasan, figuritas, keteladanan, kemapanan guru indonesia

    Mohon di list
    http://www.amroe-cakep.blogspot.com
    atau ada syarat untuk link pendidikan saja?

    Makasih

    Be A Best Teacher or Nothing

  16. Tidak lulus memang sebuah kelaziman. Tapi,……..biar bagaimanapun tetap menyakitkan. Saya tetap masih bertanya-tanya, “kenapa sih kelulusan hanya dilihat dari tiga mata pelajaran?” Rasanya sangat tidak adil.
    Apalagi kl terjadi kisah seperti yang diceritakan nays. Kisah-kisah seperti itu sering sekali terjadi. Kadang dah diterima di perguruan tinggi ee……ternyata ga lulus.
    Bagaimana kalo sistem kelulusan di ganti?
    Setuju????

  17. Yang tidak siap tidak lulus bukan hanya muridnya kok, guru dan sekolahnya juga tidak siap. Buktinya banyak guru dan sekolah melakukan kecurangan-kecurangan supaya muridnya lulus,seperti banyak dimuat diberbagai media massa.

    http://rohadieducation.wordpress.com

  18. argumen mutu pendidikan dilihat dari ujian nasional saya rasa salah kaprah. ujian nasional hanyalah menangkap potret sekilas dari sebagian kecil performa siswa. kalau argumen mutu yang anda ajukan, maka mutu yang anda maksud adalah mutu dalam mengerjakan standardized testing. bukan mutu dalam emngungkapkan apa yang ia pahami dai apa yang telah dipelajari. paradigma assessment telah jauh berkembang daripada sekedar standardized testing, yang bias dan diskriminatif.

    standardized testing adalah bentuk regulasi yang paling mudah, baik dalam tingkat pengambilan kebijakan, maupun dalam bentuk pertanggungjawaban publik akan hasil belajar. namun bukanlah bentuk yang paling baik, dan juga bukan bentuk yang paling adil. karena itu untuk menentukan kelulusan dari ujian nasional, dengan semua argumen baik dan buruknya, adalah kebijakan yang sangat keliru. esensi belajar dari kegagalan yang dicontohkan melalu cara-cara yang tidak adil, bias dan diskriminatif, bukanlah merupakan sebuah contoh yang baik. bukankah demikian?

    salam pendidikan,
    iwan