Target Kelulusan yang Menghancurkan Pendidikan

Pemerintah daerah (pemda), sekolah selalu menetapkan target prosentase kelulusan tiap tahunnya. Motifnya variatif. Yang terburuk adalah pamer, ingin mendapatkan kesan baik di masyarakat, bahwa selama kepemimpinannya “mutu pendidikan” lebih baik. Bahkan ada yang berprinsip jujur hancur-curang cemerlang. Itulah penghancur pendidikan.

Realitas bahwa tidak sedikit kalau kepala sekolah punya mindset keblinger itu, demikian pula pimpinannya yang lebih tinggi. Hal itu akibat yang atas menekan yang ada di bawahnya. Modus-nya seperti banyak sudah diketahui adalah mulai dari kecurangan di level pelaksanaan ujian di sekolah hingga manipulasi pada tingkat administrasi pada pihak yang berwenang mengeluarkan hasil ujian.
Pencederaan terhadap pendidikan yang sistematis…

Banyak sekolah yang telah menyelenggarakan try out ujian nasional mendapatkan hasil bahwa siswa yang mampu melewati standar yang ditetapkan untuk lulus itu jumlahnya berkisar 50-an % saja. Tetapi dengan ujian nasional resmi kelulusannya ada yang capai 100%. Lagi-lagi ada faktor negatif yang bagi kita-guru sudah bukan rahasia lagi. Mengapa pembohongan publik mesti terjadi?

Demikian parahnya kondisi pendidikan di negeri ini. Memang angka tegasnya tentang kecurangan selama ujian itu tidak ada, tetapi sebagai guru kita semua tahu kondisi di tempat kita mengajar. Kemampuan kita sendiri mengajar di kelas bagaimana kita tahu persis. Persoalan atau kendala selama proses pembelajaran kita juga tahu persis. Sedemikian parahkah sebenarnya mental “bermutu” di negeri ini?

Pembenaran-pembenaran terhadap tindak curang dalam ujian seolah-olah sudah lumrah. Siapakah yang bisa mengubah keadaan ini?

Alasan keterbatasan sarana akhir-akhir ini sudah mulai teratasi walau belum merata. Tapi guru sering kurang memaksimalkan sarana itu. Misalnya adanya internet di sekolah guru enggan menggunakannya. Alasannya sibuk dengan beban mengajar yang 24 jam pelajaran itu, belum lagi tugas melekat lainnya. Banyak media pembelajaran yang bisa diaplikasikan di kelas yang bersumber dari internet, sayang guru tidak banyak mau memanfaatkannya. Suatu instropeksi dalam diri guru itu penting, tapi banyak yang merasa dirinya telah layak mengajar, cukup dengan apa yang ia kuasai atau ia pahami. Guru merasa cukup. Akibatnya mindset-nya tidak berkembang dan tertutup. Jika sudah demikian, kitalah yang membuat pembohongan itu akan terjadi dan berkelanjutan. Dalam hal ini mental guru untuk tidak mau majulah penyebab-nya.

Target kelulusan yang dipenuhi dengan tindak curang hakikat-nya adalah cerminan mutu moral bangsa ini. Mulai dari pelaksanaan di sekolah hingga tingkat teratas.

Semoga ke depan di negeri ini pendidikan Indonesia menjadi JUJUR, sehingga kita tidak kenyang hanya dengan kebohongan, kehebatan semu.

16 responses

  1. @Target kelulusan yang dipenuhi dengan tindak curang hakikat-nya adalah cerminan mutu moral bangsa ini. Mulai dari pelaksanaan di sekolah hingga tingkat teratas.

    saya sebagai guru, 100% setuju pernyataan ini!!!

    @nswr: Sebegitu menyedihkannya pendidikan kita.

  2. knapa gak sekarang merubahnya??? knapa harus nunggu ratu adil dulu?? kita ini sebenarnya pelaku2 pendidikan, bukan hanya siswa, guru dan dan penyelenggara sekolah.. tapi keluarga, dan maysarakat jg sangat menentukan peradaban bangsa ini, terutama orang tua, kalo tidak mau anak2 pandai bohong lantaran disekolah jg diajarkan utk berbohong, ya jgn masukkan anak ke Sekolah, didik aja di rumah. semua kita adalah pelaku pendidikan, berikan teladan yang baik kpd anak2 bangsa ini…

    @nswr: kembali ke masalah mendasar yah 🙂

  3. Saat ini banyak juga guru yang hanya mengejar target kelulusan saja. sementara siswa tidak dibimbing dengan baik, wal hasil muncul cara-cara instan seperti: mencari bocoran soal, curang saat ujian, hingga ada yang MOU dengan pengawas UAN. Semoga ini lebih jujur di tahun2 mendatang dgn presiden baru tentunya…..Tehnik SEO wordpress

    @nswr: Sekolah dengan adanya tradisi-budaya “UN” pendidikan semakin kehilangan arah menuju perbaikan yah

  4. ikutan coz…,

    buat kang kezsakral u cm emosi, ok tu hak u. tp mang susah ni mstinya mendiknas yg plg beeerrr…tanggungjawab.

    qt tao smua, antar pengwas UN smua dah didoktrin oleh ks msg2 gar dlm mngwsi psrta UN ga blh ketat (hrs mmbri ksmptan pd psrta UN utk saling bantu) gila ga coz, ketika q protez, pa kt ks…? jwb’y : KALAU IDEAL JANGAN DADAKAN…..!!! kata beliau sambil melintir kumisnya yg cm 11 btg itu.

    so…………..?????????????!!!!!!!!!!!!!!!

    @nswr: Itu real… tapi g semua sih, menyedihkan memang kondisinya.

  5. silaturrahmi semoga bawa berkah 🙂

    @nswr: Nggih pak 🙂

  6. Ah … kalo aku: yang penting anakku bisa berjuang untuk hidup … percuma sekolah tinggi-tinggi dan lulus dengan nilai terbaik … tapi tak bisa apa-apa!

    @nswr: Sejatinya pendidikan memang dijalani untuk bisa “bertahan hidup” hidup layak. 🙂

  7. Semoga tulisan mas Urip bisa membuka mata pemerintah untuk lebih peduli dalam pembangunan pendidikan di daerah dan juga membangkitkan semangat para guru untuk lebih “memperkaya” pendidikan di Indonesia melalui berbagai sumber baik offline dan online.

    Jabat erat.

    @nswr: Sy salut dengan sifat nasionalisme orang Indonesia yang satu ini… walaupun tinggal di negeri Jepang tetap membantu setiap anak dan guru dalam mempelajari kimia. Sajian lewat chem-is-try.org-nya sungguh menarik untuk dibaca. Sebuah gagasan cemerlang dari bibit yang hebat memang.
    Tulisan saya merupakan kegelisahan saya, hanya baru tataran gelisah, belum banyak berbuat. Terimakasih mas Soetrisno…

  8. […] …. … .. . Tak tahu harus ngomong apa kalau sudah menyangkut hal ini, yang jelas rasanya sedih dan kecewa melihat mental anak-anak yang “terasah” sedemikian rupa di tengah kekej…… Mulai Senin saya mengawas di sekolah lain, dan saya justru berharap ada sesuatu yang bisa […]

  9. “Pembenaran-pembenaran terhadap tindak curang dalam ujian seolah-olah sudah lumrah. Siapakah yang bisa mengubah keadaan ini?”

    saya sepakat dengan yang ini. Efeknya sangat berpengaruh pada kondisi prikologis siswa. karena tahu dia dimanja, maka sang anak terkesan santai saja. “Ah, ngapain susah-susah belajar, pasti lulus juga,” celoteh mereka membuat saja garang.. gerrrrrrrrr

  10. Percaya nggak, bahwa menteri pendidikan di Inggris saja mengatakan bahwa dirinya tidak percaya dengan kecerdasan gandanya Thomar Armstrong?!!?!?!?!?!?!?!!!!????!?!?!?

  11. Aku bru sja ikutan UN….sy jg kurang senang sbnrnya,hal itu trjd di daerahku…Ini hnya memperburuk pendidikan kita,,yakin dah pasti sulit mju2 klo dibiarin terus
    negara lain udh mental baja,masa mw mental tempe terus,disuapin yg instant2.
    Terbukti yg survive di TO-TO itu cenderung yg bermental doank

    Ya Alloh smg aku lu2s

  12. Ya musti dilakukan perubahan , saya yaqin ada yang tidak seperti itu…walalu sedikit semoga bisa menjadi banyak…
    Ikut silaturahmi..pak Urip

  13. Perlu adanya reformasi dalam bidang pendidikan secara mendasar, mulai dari rekrutmen tenaga pendidik dan kependidikan, rekrutmen kepala sekolah serta, pengawas, kepala dinas dst. Tanpa itu semua pendidikan kita akan tetap terpuruk, berapapun dana yang digelontorkan pemerintah. terbukti dana2 bantuan kesekolah selama ini hanya memperkaya orang-orang tententu dan tidak menyentuh pada peningkatan kualitas

  14. Iya, gara-gara dikejar target jadi melakukan segala cara,, semoga dunia pendidikan kita diberikan yang terbaik y

  15. wahh semakin sulit saja tahun sekarang