Mengapa Kita Tidak Pintar?

Sebuah renungan diri

Apakah aku tidak bisa membaca tulisan? Bukankah aku tidak buta huruf?!

Katanya buku adalah sumber ilmu pengetahuan, sehingga aku akan jadi banyak tahu. Apakah aku tidak punya buku atau apakah aku tidak sanggup membelinya?!ย 

Katanya buku adalah sumber ilmu. Atau kita punya buku tapi tidak berusaha tertarik untuk membacanya? Lalu untuk apa kita memilikinya?

Kalau tidak tertarik lagi, berikan saja kepada orang yang memerlukan. Atau aku kesulitan menemukan orang yang berminat dengan buku yg ku punya tapi ku cuekin itu. Atau memang tak ada lagi orang yang punya ketertarikan dengan suatu tulisan di lembar-lembar bersih tanpa dosa.

Berapa buku yang aku punya? Tidak sedikit-kan? Berapa buku yang isinya benar-benar ku kuasai, ku pahami isinya sepenuhnya? …Tidak satupun? Pantas saja aku tidak pintar. Buku dibeli atau dimiliki bukan untuk dipajang saja kan?!

Anda… pembaca tulisan ini, tidak seperti saya khan?

6 responses

  1. hhm saya juga tidak pintar nih pak…kasus spt dibawah ini saja mau cari yang prkatisnya ๐Ÿ˜‰
    pak mohon maaf, tutorial untuk membuat seluruh judul tulisan dimana yah pak, terimakasih bantuannya…

  2. Maaf baru terdeteksi ada komen di sini. Saya mah buatnya manual aja, satu persatu. ๐Ÿ™‚

  3. saya pernah ketemu tulisan dinding yang bagus pak,

    “JIKA ANDA BISA BACA KORAN SETIAP HARI, ANDA BISA BACA 1 BUKU SETIAP BULAN”

    setelah refleksi diri, menurut saya benar juga kata2 itu.

    dan bisa ditambahkan juga sekarang pak: “jika anda bisa nonton tv X jam tiap hari, maka…”
    “jika anda bisa fb-an X jam tiap hari, maka…”

    beberapa hari kemarin saya ikut training pak krishnamurti, beliau sudah tidak menonton tv selama 18 tahun.
    saya baru mulai lagi nih. dulu pernah 4 tahun berhasil tidak menonton acara tv yg tidak bermanfaat. sekarang saya tidak punya tv.

    ๐Ÿ™‚

  4. Wou… lama kita tak saling kunjung nih pak? Semoga sukses. BTW Perlu kejelasan soal tulisan panjenengan itu. Lanjut dan ditulis aja yah bak, terimakasih telah berbagi.

  5. ๐Ÿ™‚
    oh maaf pak jika tulisan saya tidak memahamkan.
    yg saya pahami dari tulisan bapak adalah sebuah motivasi untuk memperkaya ilmu dengan membaca, terutama dari buku2 yg sudah kita beli -karena, praktiknya banyak dari kita yang sekadar tertarik buku, membelinya, trus menyimpannya, entah membacanya kapan.

    berkaitan dengan realita yg seperti itu, saya pernah membaca sebuah tulisan di atas, yaitu “jika anda bisa membaca koran setiap hari, maka dalam satu bulan, anda sebenarnya bisa membaca 1 buku” -saya ungkapkan dengan bahasa lain agar lebih pas.

    yg saya tangkap dari tulisan tersebut adalah, jika waktu yang kita gunakan untuk membaca koran setiap hari kita alokasikan untuk membaca buku yang (terlanjur) kita beli (dan terlanjur kita simpan) itu, maka insya Allah dalam 1 bulan, kita bisa menghabiskan 1 buku.
    jika saja 1 buku itu berisi 1 ilmu penting, insya Allah setiap 1 tahun kita mempunyai 12 ilmu baru yang penting yang mendukung profesi kita.

    realitasnya, yg saya lihat di banyak tempat, membaca koran menghabiskan waktu sekitar 15 menit sampai 45 menit. menurut saya, itu waktu yang cukupan buat membaca -katakanlah- beberapa halaman dari sebuah buku. sehingga, menurut saya, tulisan dinding yg saya baca itu benar juga.

    parahnya, masyarakat kita juga **terpaksa** menonton (berita) tv yg notabene beritanya juga mirip dengan yang telah dibaca di koran. berapa waktu yg kita gunakan untuk menonton tv? jika dijumlah dengan waktu untuk baca koran, begitu banyak waktu yang kita gunakan untuk menyerap informasi yang **belum tentu** sepenuhnya bermanfaat bagi kita (bikin kita lebih pinter).

    bagaimana jika kita alokasikan saja waktu baca koran dan nonton tv itu untuk baca buku yang jelas eh insya Allah bikin kita lebih pinter?

    btw, bukan berarti info di koran dan tv tidak bermanfaat bagi kita. ada yg bermanfaat, ada yg tidak. nah, yg harus jadi kompetensi kita adalah memilih lalu membaca/melihat info yg bermanfaat dan (merelakan) mencuekkan info yang kurang bermanfaat.

    preferensi kebermanfaatan suatu informasi tiap orang bisa jadi berbeda-beda. Anda bisa jadi menganggap suatu info bermanfaat, sedangkan saya tidak. begitu juga sebaliknya.

    apakah isu ribut2 manohara bermanfaat? tergantung siapa yg melihatnya.
    apakah info kasus prita bermanfaat? tergantung siapa yang akan memanfaatkan info tersebut.

    ketika seseorang hanya membaca info2 yg bermanfaat bagi dirinya dan mencuekkan yg tidak begitu bermanfaat bagi dirinya, insya Allah, ia akan men-save sekian menit setiap hari.

    waktu yang ter-saved itu bisa ia gunakan untuk membaca buku2 yg (terlanjur) ia beli itu.

    menurut saya demikian.

    CMIIW

    ๐Ÿ™‚

    saat saya ikut training pak krishnamurti, beliau menekankan bahwa kita seharusnya menjadi pengendali hidup kita sendiri, jangan sampai terkendalikan oleh media. salah satu manifestasinya ya itu: memilih tontonan/bacaan yg memang bermanfaat bagi kita dan mencuekkan yg tidak bermanfaat bagi kita. dengan demikian kita mengendalikan hidup kita sendiri, tidak dikendalkan oleh media.
    karena itu beliau tidak menonton tv selama 18 tahun. mungkin maksudnya adalah tidak menonton acara tv yg kurang bermanfaat bagi beliau.

    saya dulu juga pernah berusaha tidak menonton acara tv yg tidak bermanfaat saat masih kuliah. hasilnya memuaskan. selama masa itu, saya bisa baca buku rata2 500 halaman setiap bulan. itu buku di luar materi kuliah.

    begitu pak.

    bagaimana? mohon maaf jika syarahnya kurang jelas.

    salam sukses

  6. Terimakasih atas penjelasannya… mudah diterapkan buat kita yg berniat untuk serius dan komit memperdulikan bukubuku kita